
Kesekian kalinya, mereka kembali beristirahat. Wajah lesu, rambut acak-acakkan. Apalagi mereka belum mandi selama mereka berada di tempat itu.
“Rasanya, aku tengah membawa kalian ikut mati,” kata Nayla sambil bersandar di dinding gua itu.
“Apa kau baru sadar sekarang,” kata Raysa menimpali perkataan Nayla seakan tengah mengejek atau tengah membuat gadis itu marah.
“Kami yang ingin ikut kok,” kata Moesa.
“Bagaimana kalian bisa bertemu?” tanya Nayla mendekat ke arah pada gadis berambut Bob itu
Memang aneh, selama ini Nayla belum pernah melihat Kurnia dekat dengan seorang gadis selain dirinya dengan Naomi, jadi ketika kehadiran Moesa di dekat kakaknya dia merasakan gadis itu sangat spesial bagi kakaknya.
“Hhhmmm... Saat itu aku mengira dia tengah menculik anak kecil, nyatanya dia tengah menemani anak itu mencari ibunya,” kata Moesa menjelaskan.
“Aku masih awal masuk ke dalam pelatihan militer, dan bertemu dengannya lagi karena dia yang melatih kami,”
“Kau menyukai kakakku?” tanya Nayla tiba-tiba.
“Dia?” Moesa seketika terkejut dengan pertanyaan itu. Sejenak dia terkekeh, seakan apa yang baru saja Nayla tanyakan adalah sebuah lelucon. “Ahaha. Tidak, aku tidak akan menyukai pria menyebalkan itu,” kata Moesa.
Hm. Aneh, hubungan Moesa dan Kurnia tampak baik-baik saja, seperti saling menyukai.
“Siapa akan menyukai pria itu, pria yang selalu menggangguku, mengerjaiku,” gerutu Moesa. “Eee... Maaf aku... aku... tidak bermaksud...” Moesa baru ingat, jika Nayla adalah adik kandung dari pria yang tengah di kata-katainnya itu.
“Tenang saja, aku tidak akan mengatakan padanya. Aku bukan gadis yang suka mengadu kok,” kata Nayla sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Apa kau benar-benar tidak menyukai kakakku?” tanya Nayla lagi dengan serius, wajahnya sangat berdekatan dengan wajah Moesa seakan tengah mengintimidasi gadis itu.
Walau keadaan tidak terlalu terang, Nayla bisa melihat jika pipi gadis itu tengah merona dengan pertanyaannya.
“Mungkin dia malu mengatakannya padaku,” kata Nayla membatin.
“Jika sulit di jawab, tidak perlu di jawab,” kata Nayla sambil mengela nafasnya. “Bagaimana jika aku mengatakan jika kakakku menyukaimu?”
“Ahaha... Itu tidak mungkin,” kata Moesa membantah. “Baginya, aku ini hanya sebatas orang yang di isenginya,” kata Moesa.
“Gadis ini cukup bodoh,” kata Nayla dalam hati.
Nayla melihat kakaknya dari kejauhan, dia sangat yakin jika kakaknya menyukai gadis di sampingnya itu. Sejak pertama bertemu dua tahun lalu, kakaknya itu sangat dingin tidak se hangat dan tidak se pandai Raysa dalam bergaul karena itu, sahabat terdekatnya hanyalah Raysa saja.
“Aku telah menyukai seseorang,” kata Moesa.
“Seseorang?” tanya Nayla ingin menyakinkan apa yang dia dengar.
“Aku masuk di dalam militer, karena berharap aku akan bertemu dengannya. Tiga tahun yang lalu, aku pernah kecelakaan dan seseorang menyelamatkanku. Saat itu, aku baru masuk SMA, aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi aku mengambil sesuatu dari tangannya,” kata Moesa.
__ADS_1
Moesa mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah gelang berwarna silver, di dalam gelang itu terukir Elvy. Nayla hanya bisa terdiam.
Nayla pernah dengar sedikit kisah tentang kakaknya itu dari Raysa.
“Dia pernah punya kekasih, siapa yang sangka saat dia pulang ingin melamar gadis itu selingkuh dan dia melihatnya tapi gadis itu tidak mengakui jika dia tengah berselingkuh,” kata Raysa saat dia tengah berbicara dengan Nayla.
“Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan kita, apalagi hewan peliharaanmu entah lewat jalan mana. Kita harus menemukannya,” kata Moesa sambil beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya melanjutkan perjalanan.
Nayla memilih berjalan di belakang bersama dengan kakaknya. Dia ingin mengobrol lebih lama dengan kakaknya itu.
“Apa kau menyukainya?” tanya Nayla tiba-tiba pada pria di sampingnya itu.
Kurnia salah tingkah dengan pertanyaan itu.
“Eee... Ka... kau...”
“Ku anggap kau menyukainya,” kata Nayla sambil tersenyum. “Aku bisa tahu, kau menyukainya walaupun kau selalu menjahilinya. Menjahilinya hanyalah alasanmu agar dekat dengannya, bukan begitu?” tanya Nayla.
“Aku tidak tahu,” kata Kurnia.
Nayla menepuk jidatnya sendiri.
“Dia menyukai seseorang, namun gadis itu telah meninggal lima tahun lalu. Namanya, Elvy. Setahun tahun kemudian dia bertemu dengan gadis yang begitu mirip dengan kekasihnya sejak SMA. Mereka menjalin hubungan sekitar setahun, dia belum bisa melupakan kekasih masa SMA nya itu. Bagi seorang gadis yang tahu, jika dia hanya di lihat dengan wajah orang lain membuatnya sangat terluka, seperti itu Kurnia pikirkan. Dia berusaha untuk menyukai dan menerima gadis itu, bukan karena memiliki wajah yang sama dengan Elvy,”
“Apa kau menyukai gadis yang menghina dan meninggalkanmu?” tanya Nayla menatap tajam ke arah Kurnia.
“Raysa yang menceritakannya padaku, siapa lagi jika bukan dia,” kata Nayla sambil menatap gadis yang di depannya itu.
“Saat itu, kami baru pulang dari tugas pertama kami berdua pertama kali masuk ke dalam militer. Karena ingin menunjukan keseriusannya dia pergi memilih cincin untuk melamar gadis itu, dan dia melihat gadis itu tengah bermesraan dengan gadis lain. Dia marah, dan menghampiri gadis itu. Dia menghina habis-habisan kakakmu, dan dia tidak ingin hidup dengan pria miskin yang memilih jadi seorang tentara,”
“Jika kau tidak menyukainya, menjauhlah darinya. Jika belum yakin dengan perasaanmu. Jangan memberikan dia perhatian seperti itu,” kata Nayla dengan nada sedikit kasar sambil meninggalkan kakaknya itu.
Kurnia, terdiam. Dia tidak membayangkan jika adiknya mengatakan hal itu padanya. Perkataan yang adiknya katakan padana ada benarnya, namun terasa sakit di saat yang bersamaan.
Nayla menyusul Raysa yang di depannya. Raut wajahnya memperlihatkan ketidaksukaan pada sesuatu hal.
“Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu seperti itu,”
“Aaarrgghh...” teriak Nayla. Seketika membuat terowongan yang mereka lewati bergetar, bebatuan kecil jatuh dari langit-langit.
Bruk!
Sebuah batu mengenai Kurnia, yang tengah melindungi Moesa. Nayla menyadari jika suara besar akan membuat bebatuan di atas mereka jatuh.
“Kau baik-baik saja?” tanya Moesa.
__ADS_1
“Aku baik-baik saja,”
“Mengapa kau menolongku, batu itu tidak akan membuatku mati jika terkena di kepalaku,”
“Siapa juga yang menolongmu, kakiku tersandung jadi aku tidak sengaja memelukmu,” kata Kurnia.
Jelas-jelas dia menolong gadis itu, namun begitu gengsi untuk mengatakannya langsung.
Nayla menatap tajam ke arah kakaknya itu. Seakan dia bisa membaca jelas apa yang tengah terjadi.
Suara desiran air mengalir terdengar, seperti tinggal beberapa langkah dari mereka.
“Oh, suara air mengalir,” kata Moesa sambil melangkah ke depan.
Karena keinginan untuk melihatnya membuatnya terjatuh ke dalam lubang yang tingginya sekitar dua meter. Tanpa pikir panjang, Kurnia ikut terjun mengikuti gadis itu.
Nayla mencari sesuatu di dalam tasnya, berharap menemukan barang yang bisa membantu kedua orang yang berada di dalam itu.
Kengerian terlihat di dasar tempat mereka jatuh, tulang-tulang manusia, dan seekor hewan yang tidak asing bagi mereka. Hewan itu adalah Kylin, dia terluka mungkin karena terjatuh dan mengenai benda tajam.
Sebuah tali dari atas, yang di ulurkan ke bawah oleh Raysa, tali yang sering di gunakan untuk memanjat tebing curam.
Moesa dan Kylin lebih dulu naik ke atas, kemudian Kurnia. Terlihat luka di bagian kaki milik Kurnia membuat Nayla segera mengeluarkan kotak obat miliknya.
“Lorong ini jebakan,” kata Kurnia. “Di bawah sana banyak sekali tulang manusia,” kata Kurnia. Sebaiknya kita kembali, dan mengambil jalan lain.
Mereka mengambil jalan lainnya, lorong di sebelah lorong pertama yang mereka masuki. Namun, lorong itu, terdapat begitu banyak kelelawar membuat mereka keluar, dan memilih lorong yang satunya lagi.
Pilihan tinggal dua cabang terowongan.
“Kita berpisah saja, agar kita menemukan jalan,” kata Nayla.
“Sebaiknya kita berempat jangan berpisah, akan sangat membingungkan nantinya,” kata Moesa memperingati.
Ini adalah ketiga kalinya mereka masuk ke dalam terowongan. Perasaan lelah menjalar di sekujur tubuh mereka, apalagi ketika tadi tenaga mereka terkuras karena berlari saat kelelawar mengejar mereka.
Mereka beristirahat, Moesa bersandar di dinding terowongan itu. Tiba-tiba dinding itu hancur membuatnya bergelantung dengan memegang ke tanah, sepertinya mereka tengah berada di atas tebing. Ketika kurnia tengah berusaha untuk menolong Moesa, tanah yang dia pijaki itu runtuh. Membuatnya ikut terjatuh. Namun, dia masih sempat berpegang pada satu dahan kayu.
“Kembalilah, pasti yang terakhir adalah jalan keluarnya. Di bawah adalah air terjun. Kami tidak apa-apa,”
Moesa berpegang pada tangan Kurnia membuat beban bertambah, memungkinkan mereka akan terjatuh ke bawah.
“Lepaskan aku,” kata Moesa.
“Tidak, aku tidak akan melepaskan tanganmu,” kata Kurnia. “Aku akan melindungimu,” kata kurnia.
__ADS_1
“Kita akan jatuh,”
“Tidak bisa, aku tidak akan membiarkanmu terjatuh ke bawa sendiri. Karena aku menyukaimu,”