
Di luar hujan deras! Nayla masih menatap laptopnya dengan sejuta pertanyaan apa yang harus di tulisnya! Beberapa kali dia mengetik, beberapa kali itupun dia menghapus ketikannya!
Dia tidak tahu, apa yang harus di tulisnya untuk mengawali naskah terbarunya! Rasanya hambar, ketika dia menulis naskah romantis!
“Aku butuh banyak waktu untuk menulis naskah ini,” kata Nayla saat bertemu dengan Editor beberapa waktu lalu!
“Oke. 3bulan bagaimana?”
“6bulan. Aku butuh 6bulan,” kata Nayla.
“Oke. Setuju,” kata Editornya.
***
Suasana kampus begitu ramai seperti biasanya!
“Nayla,” panggil Laura sambil membawa jajanan.
“La.... Em. Jika genre romantis di satuin dengan Thiller atau crime. Bagusnya tokoh-tokoh Pemain berprofesi sebagai apa?”
“Emang buat apa sih, nanya kayak gitu. Aneh deh!”
“Orang nanya, jawab dong! Jangan balik bertanya kayak gitu,”
“Pemerannya detektif, atau polisi. Atau Gangster gitu,”
“Em. Gitu yaaa... Oke. Thank you! Aku pergi dulu, thanks yaa,” kata Nayla sambil pergi meninggalkan Laura.
***
Wilayah Perbatasan...
Para prajurit negara tengah berlatih, ada yang berlari-lari, ada yang latihan menembak. Begitu banyak aktifitas latihan mereka. Padahal saat itu hujan. Seseorang tengah memperhatikan mereka, dia adalah Rasya.
Sebuah laporan masuk, untuk diberikan kepada kapten tersebut. Matanya mengamati berkas-berkas tersebut!
“Bukankah dia gadis itu?”
Rasya hanya terdiam.
“Kau tidak memberitahu soal pekerjaanmu saat bertemu dengannya?”
Pria itu hanya terdiam lagi!
“Kau tidak memberitahunya ya,”
“Bagaimana aku bisa memberitahunya, sedangkan aku...”
“Kau menyukainya?”
“Tidak, tapi aku tidak merasa takut berdekatan dengan dia,”
“Terus...”
“Mungkin karena aku bertemu dengannya sudah seperti itu. Sebenarnya, aku ingin memanfaatkannya, untuk menyembuhkan penyakitku ini,” kata Rasya.
__ADS_1
“Apalagi pernikahanku sebentar lagi,” kata Rasya.
“Tapi...”
“Aku tahu,” kata Rasya sambil menerawang jauh ke depan. “Tapi, aku juga tidak bisa terus menerus menjauh darinya di saat pernikahanku dengannya sudah dekat, aku harus mengobati penyakit ini,”
“Bagaimana jika terjadi sesuatu. Bagaimana jika kau benar-benar...”
“Tidak. Aku tidak mungkin menyukai wanita lain selain dia...”
***
Sebuah pesawat tengah landing di sebuah bandara. Seorang gadis dan beberapa orang lainnya tengah sibuk dengan barang-barang mereka! Mereka adalah para relawan yang datang membantu di perbatasan. Bagi Nayla datang menjadi sukarela adalah bagian dari menulis naskahnya dengan mendapatkan referensi.
Beberapa mobil datang menjemput para relawan tersebut!
Perbatasan adalah tempat paling di jaga karena terdapat konflik. Begitu banyak warga yang terluka.
Sepanjang perjalanan yang terlihat hanyalah hutan, lautan, serta suasana alam yang sangat indah! Beberapa kali Nayla mengambil foto daerah tersebut.
Sebuah Kam ada di depan mereka. Terdapat beberapa tenda, beberapa rumah, serta fasilitas medis.
Nayla menurunkan barangnya, beberapa orang berjalan ke arah mereka. Mata Nayla tertuju pada orang yang di kenalnya, Nayla hanya membisu melihat hal itu. Nyatanya, pria yang mengatakan memiliki urusan negara tengah berada di Perbatasan!
Pria itu—Rasya melihat Nayla seakan tidak mengenal Nayla.
Nayla merapikan pakaiannya di tenda.
“Nayla...” Panggil seseorang membuat Nayla terkejut melihat hal itu.
“Aufal,” Nayla terkejut melihat Aufal berada di Perbatasan. “Bagaimana kau ada di sini?” tanya Nayla.
“Ya seperti itulah,” kata Nayla.
Aufal Akrai adalah mantan pacar Nayla 3th yang lalu. Dia telah menikah, itu adalah yang di ketahui Nayla dan itu juga yang membuat hubungannya dengan Aufal berakhir.
Rasya melihat Nayla tengah berbincang-bincang dengan seorang pria membuatnya mengurungkan niat untuk menemui Nayla.
Beberapa hari yang lalu, sebelum Nayla berangkat!
“Nayla. Apa kau serius? Kau hanya bercanda kan?”
“Aku tidak bercanda, aku serius!”
“Tapi...”
“Aku tahu... Aku hanya pergi menenangkan pikiranku dengan menjadi relawan di sana. Selama ini, aku hanya fokus dengan kuliahku, sekarang aku harus fokus me refresh kembali otakku,” kata Nayla sambil meyakinkan sahabatnya itu.
“Aku akan datang ke sana,” kata Laura.
“Ti...”
“Aku akan tetap datang,”kata Laura memotong perkataan Nayla.
***
__ADS_1
“Jadi hal mendesak yang kau maksud adalah menjaga perbatasan?” kata Nayla menghampiri seseorang yang tengah berdiri di tepi pantai. “Kapten Raysa,” kata Nayla lagi.
“Em. Seharusnya aku memberitahu soal...”
“Tidak perlu, aku sudah mengetahuinya saat kau menolong mendapatkan tasku. Bahkan pakaianmu saat itu beraroma Mesiu. Aku beranggapan jika aroma Mesiu karena kau adalah seorang Polisi. Tapi, polisi tidak memiliki aroma Mesiu yang kuat. Tidak seperti tentara yang tiap saat berlatih dengan bom serta latihan menembak,” kata Nayla.
“Disini suasana alamnya masih sangat terjaga. Begitu banyak turis dari mancanegara yang datang berkunjung di sini. Walaupun ini adalah wilayah perbatasan, mereka ingin menjajal keindahan alam di sini,”
“Seperti yang menjadi sandera beberapa waktu lalu bukan?”
“Ya. Indonesia di kenal dengan keindahan alam serta hasil bumi yang berlimpah, tidak menutup kemungkinan untuk mereka datang menyaksikan langsung alam Indonesia,”
“Eem. Apa jaringan disini jelek?”
“Ia, karena ini wilayah perbatasan jaringan cukup jelek. Akses internet tidak bisa di lakukan kecuali pergi ke hotel dekat sini atau ke kota,”
“Aku harus menghubungi temanku,” kata Nayla.
“Kau tidak bisa menggunakan Smartphone di sini, hanya bisa mengunakan Ponsel biasa saja,” kata Rasya.
“Siapa pria yang berbicara dengamu tadi?” tanya Rasya.
“Oh. Dia Aufal, petugas medis,”
“Kau mengenalnya?”
“Em. Sangat mengenalnya,” kata Nayla. “Dia mantan pacarku,” kata Nayla lagi membuat Rasya terkejut.
“Mantan pacarr?”
“Iya Mantan Pacar,” kata Nayla. “Dia telah menikah 3th lalu. Aku tidak tahu jika dia ada di sini menjadi rewalan medis. Kami bertemu sebulan yang lalu di acara reuni sekolah,” kata Nayla lagi. “Ah! Maaf, aku jadi curhat padamu,"
“Damai, tidak seperti di kota begitu berisik dengan suara kendaraan serta asap kendaraan yang berlaulalang dan juga asap pabrik,” kata Nayla sambil menghirup udara segar.
“Yaa seperti ini disini. Membeli bahan makanan sendiri, memasak sendiri, berburu, dan masih banyak hal yang di lakukan secara tradisional disini,"
“Karena itu, aku memilih datang kemari,”
“Selain profilmu sebagai Relawan, aku di berikan sebuah dokumen mengapa kau berada disini,”
“Hhhmmm... Aku datang kemari untuk mengenal lebih dekat kehidupan prajurit di sini. Aku tidak bisa menulis jika aku tidak melihat melalui sudut pandang satu masyarakat saja,” kata Nayla.
“Begitu ya. Pantas saja, kau takut kehilangan laptop karena kau tidak ingin naskah yang berada di dalam hilang,”
“Sebenarnya, aku ingin meminta bantuanmu selama aku berada di sini,”
“Bantuan?”
“Aku di tuntut harus menulis novel romantis,” kata Nayla dengan terbata-bata.
“Tuntut saja mereka,” kata Rasya.
“Aku tidak bisa. Lagi pula, mungkin mereka yang membaca novelku agak bosan dengan genre yang ku tulis,” kata Nayla.
“Karena itu... Jadilah pacarku...”
__ADS_1
Deg!
-To be continued-