A Cold Frozen Heart

A Cold Frozen Heart
Eps. 27 Terikat Perjanjian — Nayla


__ADS_3

CERITA INI VERSI NAYLA


.


.


"Aku tidak tahu, takdir apa yang tengah Tuhan berikan padaku, atau Tuhan kembali ingin mempermainkan perasaanku dengan menghadirkan dirinya"


— Nayla Putri Adelia —


.


.


Aku menghabiskan waktu sambil membaca buku di perpusatakaan untuk mencari bahan referensi untuk novel. Beberapa gelas kafein sudah ku minum, beberapa novelpun telah selesai ku baca, dan aku belum menemukan ide.


“Permisi... Maaf. Perpustakaan sudah mau tutup,” kata seorang wanita padaku.


“Aa... aku akan pergi sekarang,” aku bergegas memasukkan laptop ke dalam tas, dan melangkah keluar dari perpustakaan.


Kendaraan masih ramai, karena saat itu sudah sore, ada yang baru pulang kerja dan ada yang melakukan aktifitas lainnya.


Ketika seorang penulis kehabisan ide, dia akan merasa frustasi.


Jam menunjukan pukul 16.39pm. Aku memilih untuk jalan kaki dari pada naik kendaran, karena lebih banyak berpikir ketika jalan kaki. Aku terlalu banyak melamun, hingga tidak menyadari jika di belakangku ada sebuah pengendara motor dan langsung menyambar tas yang aku gunakan.


“Copet...” teriakku sambil berlari mengejar pengendara motor itu.


Aku berusaha untuk mengejar pengendara motor itu, menyebalkannya tak ada yang membantuku mengejar atau menolongku.


Nafas sengal-sengal karena mengejar pencopet itu, untung saja aku melihat mereka lagi berada di depan sebuah toserba sambil memegang tasku.


“Akhirnya aku mendapatkanmu, dasar maling,” kataku sambil memukul pria itu. “Kembalikan tasku,” kataku lagi sambil merebut kembali tas miliku. “Dasar maling,” kataku lagi sambil memukul pria itu.


“Aa... Aa... Aa...” rintih pria itu. “Bukan aku pencopetnya,” kata pria itu.


"Sudah tertangkap basah, tapi masih juga mau berbohong,” kataku sambil kembali memukul pria itu.


“Apa yang kau lakukan?”


Seorang pria datang sambil membawa sebuah minuman kaleng. Aku masih saja terus memukul pria itu.


“Ah, jadi kalian berhenti disini dan pura-pura membeli minuman,” kataku. “Cop...”


Tiba-tiba mulutku tidak bisa berteriak karena di tutup oleh pria yang ku pukul sedari tadi.


“Kita cek saja CCtv di sana,” kata teman pria itu.


Aku menurui apa yang mereka kaakan untuk melihat rekaman CCtv, untung saja toko itu punya kamera Cctv.


Wajah memerah, dan memalingkan muka adalah pilihan yang tepat, karena begitu malu menuduh orang yang salah. Padahal orang itu telah membantuku untuk mengambil kembali tasku yang di ambil kedua preman.


Aku merasa jika aku tengah di tertawakan oleh mereka, atau mereka bisa saja membawaku ke kantor polisi karena memukul orang yang tidak bersalah.


“Aku minta maaf... Pakaian kalian begitu sama,” kata Nayla.


Nayla bisa mencium bau mesiu dari tubuh kedua pria itu.


“Bukannya aku sudah bilang, sebaiknya kita tidak memakai pakaian seperti ini lagi,” kata temannya. “Lepas masker itu, kita benar-benar seperti preman,” kata temannya sambil membuka masker temannya itu.


“Kau....”


Aku begitu terkejut melihat pria yang melepaskan maskernya itu.


“Cowok angsa itu...” kataku tiba-tiba karena teringat kejadian saat dia dikejar angsa dan menceburkan dirinya ke sungai.


Temannya yang mendengar apa yang baru saja aku katakan tertawa terbahak-bahak mendengar sebutan yang aku gunakan. Terlihat, wajah pria itu begitu merah merona, mungkin karena dia malu aku mengatakan hal itu.


“Ah, aku minta maaf,” kata Nayla.


“Berhenti tertawa,” kata Pria itu kepada temannya dengan tatapan tidak suka. Pastilah tidak suka, siapa yang akan suka di ejek dengan sebutan seperti itu.


“Maaf... Maaf... Sepertinya kalian punya sesuatu yang harus di bahas. Aku akan menunggu di parkiran,” kata temannya, sambil meninggalkan kami berdua.


Mungkin dia ingin memberikan ruang untuk aku dan temannya berbicara.


“Alan Aditya Rasya, panggil saja Rasya,” kata pria itu memperkenalkan dirinya.


“Hm. Nama yang keren untuk wajah seperti dia, cocoklah,” kataku membatin. “Nayla, Nayla Putri Adelia,” kataku memperkenalkan diri padanya. “Em. Soal kejadian tadi, aku benar-benar minta maaf,” kataku lagi sambil menundukkan wajah. “Dan, aku juga minta maaf soal kejadian di taman karena menertawakanmu. Aku tahu jika itu salah, tapi...”


Pria itu tertawa. Entah apa yang membuatnya tertawa.


“Aku serius,” kataku sambil memasang wajah tidak suka dengan apa yang dia lakukan.


Siapa yang tidak akan kesal, ketika kita sedang berbicara dengan serius, tiba-tiba di tertawakan, entah apa yang lucu dari apa yang kita katakan.


“Kemarikan Ponselmu,” katanya sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Aku masih merasa aneh, ketika dia meminta ponselku.


“Apa yang akan dia lakukan, andai aku tidak memukulnya tadi, aku akan langsung pergi meninggalkan pria ini,” aku membatin.


Akupun memberikan Ponselnya.


“Aku akan menghubungimu,” katanya sambil memberikan ponselku kembali kemudian pergi meninggalku yang masih mematung tentang, apa yang sebenarnya dia lakukan di dalam ponselku.


Ketika aku melihat kembali ponselku, aku melihatnya mengirimkan sebuah pesan ke sebuah nomor dan dia menamainya dengan nama Alan. Nomor yang di simpannya adalah nomornya sendiri.


Aku melihatnya tengah mengobrol dengan temannya, entah apa yang mereka bicarakan, beberapa saat kemudian pergi.


“Ah. Untung saja, laptopnya masih di temukan,” kataku sambil mengelus-elus tas. Tak ada yang lebih berharga selain isi di dalamnya, laptop, ipad, dan Handphone yang biasa aku pakai untuk menulis.


.


.


Kamar mandi adalah tempat favorit setelah seharian beraktifitas, apalagi di kelilingi oleh lilin aroma terapi yang menenangkan, serta buthtub yang terisi dengan air hangat membuatku nyaman, dan menghilangkan rasa lelah di tubuhku.


Sedari tadi, Ponselku selalu bergetar entah siapa yang mengirimiku chat atau yang menelfon di jam seperti ini.


Ku lihat beberapa panggilan masuk dari editor dan pesan dari nama yang agak asing, Alan.


Alan? Alan siapa? Apa aku pernah kenal dengan dia? Pertanyaan bodoh, dan aku tidak ingat jika aku pernah mensave kontak atas nama itu di hpku.


Kontak hpku, hanya terdiri dari 5 kontak saja, editor, bagian administrasi kampus, dosen, laura, dan kakak.


Alan : “Sudah sampai rumah?”


Aku : “Ini Alan siapa?”


Alan : “Kau memukulku tadi sore,”


Barulah aku ingat jika dia adalah pria yang tadi menyelamatkan harta berhargaku—laptop.


Terjadi beberapa percakapan chat antara kami berdua, hingga berakhir pada sebuah chat aku harus mentrakirnya makan sebagai rasa terima kasihku, dan dua hari lagi adalah rencana makan malam tersebut.


.


.


Aku memilih pakaian yang sopan, seperti biasa aku pakai. Pastinya celana jeans, kaos, dan jaket.


Rasanya sudah sejam aku menunggu kedatangan pria itu, namun belum juga datang.


“Aku minta maaf, aku harus pergi sekarang,” katanya, membuatku terkejut karena dia mengatakan membatalkan makan malam kami berdua.


“Aku ada keperluan mendesak. Karena kau telah janji untuk mentraktirku. Aku akan menangihnya saat aku pulang,” katanya sambil kembali menghidupkan motornya, kemudian meninggalkanku yang masih mematung tanpa dia mendengar apa yang ingin aku katakan.


Pria itu menghilang dari padanganku.


.


.


Aku tengah berkemas pakaianku, ketika aku memutuskan untuk mencari bahan referensi dengan ikut sebagai relawan di salah satu tempat terpencil.


“Nayla. Kau serius akan meninggalkanku dan pergi ke sana?” Tanya Laura sambil mengeluarkan pakaian yang telah aku taruh di dalam koper.


“Aku harus pergi, kau punya mata kuliah yang harus kau selesaikan,” kataku sambil mengusap kepalanya.


“Bisakah kau tidak pergi?” tanyanya dengan nada manja.


“Aku harus pergi,” kataku.


Pesawat yang akan ku naiki akan berangkat jam 7 pagi.


Beberapa orang telah bersiap-siap di dalam bandara, dan kamipun melakukan perjalanan yang cukup panjang untuk sampai di sana.


Ketika pesawat telah mendarat, kami di jemput oleh beberapa anggota TNI menggunakan mobil mereka.


Sepanjang perjalanan yang terlihat hanyalah hutan, lautan, serta suasana alam yang sangat indah! Beberapa kali aku mengabadikan moment tersebut.


Sekitar 100 meter, sebuah Kam terlihat, beberapa tenda telah berdiri. Beberapa orang tengah mengangkut peralatan dan barang-barang lainnya.


Aku melihat seorang pria yang tidak asing tengah melangkah ke arahku. Pria yang beberapa bulan yang lalu mengatakan sedang ada urusan penting, ternyata berada di tempat ini dengan pakaian Tentara.


Aku menggembungkan pipiku, ketika dia berbicara seakan tidak mengenalku.


Pakaian yang ada di dalam koper, tengah aku rapikan di tempat pakaian yang mereka telah siapkan. Aku merasa bosan karena hal itu.


“Nayla...” sebuah suara mengejutkanku, dan suara ini tampak tidak asing. Suara ini adalah milik Aufal.


“Aufal,” Aku terkejut melihat Aufal berada di Perbatasan. “Bagaimana kau ada di sini?” tanyaku ketika melihat pria itu.


“Aaa. Aku relawan medis di sini,” kata Aufal. “Laura pasti tidak mengizinkanmu untuk menjadi relawan,” kata Aufal. “Dan kau ngotot untuk datang ke sini,” kata Aufal lagi seakan mengetahui segala tentangku.

__ADS_1


“Ya seperti itulah,” jawabku pendek.


Sekitar beberapa menit kami berdua mengobrol, walaupun sebenarnya aku tidak ingin mengobrol dengannya.


“Tidak apa-apa, menghindar terus bukan hal yang baik,” kataku membatin.


.


.


Pemandangan yang indah untuk sebuah tempat di pedalaman dan perbatasan. Udara yang sejuk, sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah alam yang hijau, seperti tidak tersentuh oleh tangan jahil manusia


“Jadi hal mendesak yang kau maksud adalah menjaga perbatasan?” kataku menghampiri seseorang yang tengah berdiri di tepi pantai. “Kapten Raysa,” kataku lagi.


“Em. Seharusnya aku memberitahu soal...”


“Tidak perlu, aku sudah mengetahuinya saat kau menolong mendapatkan tasku. Bahkan pakaianmu saat itu beraroma Mesiu. Aku beranggapan jika aroma Mesiu karena kau adalah seorang Polisi. Tapi, polisi tidak memiliki aroma Mesiu yang kuat. Tidak seperti tentara yang tiap saat berlatih dengan bom serta latihan menembak,” kataku memtong perkataannya.


Kami mengobrol di atas pasir sambil menikmati indahnya lautan yang membentang di depan mata.


“Siapa pria yang berbicara dengamu tadi?” tanya Rasya.


“Oh. Dia Aufal, petugas medis,”


“Kau mengenalnya?”


“Em. Sangat mengenalnya. “Dia mantan pacarku,” kataku membuat Rasya terkejut.


“Mantan pacarr?”


“Iya Mantan Pacar,” kata Nayla. “Dia telah menikah 3th lalu. Aku tidak tahu jika dia ada di sini menjadi rewalan medis. Kami bertemu sebulan yang lalu di acara reuni sekolah,” kata Nayla lagi. “Ah! Maaf, aku jadi curhat padamu,"


“Selain profilmu sebagai Relawan, aku di berikan sebuah dokumen mengapa kau berada disini,”


“Hhhmmm... Aku datang kemari untuk mengenal lebih dekat kehidupan prajurit di sini. Aku tidak bisa menulis jika aku tidak melihat melalui sudut pandang satu masyarakat saja,” kataku.


“Begitu ya. Pantas saja, kau takut kehilangan laptop karena kau tidak ingin naskah yang berada di dalam hilang,”


“Sebenarnya, aku ingin meminta bantuanmu selama aku berada di sini,”


“Bantuan?”


“Aku di tuntut harus menulis novel romantis,” kataku dengan terbata-bata.


“Tuntut saja mereka,” kata Rasya.


“Aku tidak bisa. Lagi pula, mungkin mereka yang membaca novelku agak bosan dengan genre yang ku tulis,” kata Nayla.


“Karena itu... Jadilah pacarku...”


Tiba-tiba, aku berkata seperti itu membuatku malu pada saat yang bersamaan. Mungkin pria yang sedang bersamaku itu, berpikir jika aku sedang gila karena menembaknya di hari pertama aku datang.


“Eeemmm... Sampai aku selesai menulis,” kataku terbata-bata.


Rasya tertawa. Membuatku menutup wajah karena malu dengan apa yang dia katakan. Tiba-tiba dia menceritakan rahasianya padaku, dan meminta bantuan.


“Aku punya rahasia,” kata Raysa. “Rahasia itu adalah, aku alergi terhadap wanita,” kata Raysa padaku.


“Tapi kau tidak alergi padaku,” kataku penasaran.


“Iya, itu anehhnya. Aku tidak alergi padamu, aku bahkan tidak takut padamu. Awalnya aku ingin meminta bantuan agar kau membantuku menyembuhkan penyakitku. Hanya kau dan salah satu temanku yang mengetahui hal ini,” kata Raysa.


“Oke. Kita sama-sama menguntungkan. Aku membantumu menyembuhkan penyakit, aku membantumu menulis novel. Tidak ada yang rugi. Kita sama-sama mendapatkan keuntungan,” kataku setuju.


“Cukup 3bulan saja,” kata Rasya. “Dan tidak ada yang boleh jatuh cinta,” kata Raysa.


“Hhhmm... Apa kita lagi syuting drama Full House? Membuat kontrak tidak boleh jatuh cinta,” kataku bergurau. “Apa dia kebanyak nonton drama, sampai dia mengatakan seperti itu,” kataku membatin.


Apa yang baru saja terjadi, tentang kontrak, hanya aku dengannya yang mengetahui hal itu. Pastinya sesuai dengan kesepakatan di awal. Dan, aku pun tidak akan melanggar hal itu.


————————To be Continued ————————


"Cerita ini sepenuhnya fiksi, Nama Karakter, Tempat, Organisasi, sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyata,"


Kritik & Saran dari para pembaca sekalian.


Baca juga :


- Something Lost


- Undercover


- Cinta yang Datang Terlambat


- Jiwa yang Terbagi


Terima kasih telah membaca karya saya yang tidak seberapa ini!

__ADS_1


Jika kalian menyukai novel ini tolong berikan Vote sebanyak-banyak untuk mendukungku. dan Jangan lupa klik ♥️ untuk selalu mendapatkan Update cerita selanjutnya.


__ADS_2