A Cold Frozen Heart

A Cold Frozen Heart
Eps. 48 Kedatangan dr. Aura Cloe


__ADS_3

Suasana tampak canggung satu sama lain. Tatapan Raysa tampak semakin memanas untuk pria menjadi saingan cintanya itu, yang masih berstatus sebagai suami pujaan hatinya.


Hubungan mereka juga cukup rumit, tidak menutup kemungkinan jika banyak orang yang bergosip tentang diri Nayla. Seakan takdir memang tentang bermain di dalamnya, entah ingin memisahkan ataukah sebuah kerikil di dalam hubungan mereka.


Aufal, masih memiliki perasaan pada gadis itu. Dirinya pun masih ragu untuk melepaskan sosok gadis yang telah lama ingin di nikahinya itu, setelah statusnya menjadi suami gadis itu dua tahun lalu dia masih berjuang, agar gadis itu kembali mencintainya, namun perasaan tidak bisa di paksakan hanya karena status pernikahan mereka. Dirinya pun salah, karena memilih menikah tanpa persetujuan gadis itu.


Nayla hanya menginginkan secepatnya agar hubungan pernikahannya dengan Aufal segera berakhir, karena dia tahu akan banyak bahan gosip tentang hubungan mereka. Dia bisa melihat tatapan yang ingin menerkam satu sama lain di kedua orang yang tengah bertanding di depannya.


Jemari-jemarinya bermain di atas laptopnya, dia kembali menyusun kata menjadi kalimat, kini dia kembali menulis paragraf novelnya.


Sesekali, matanya menatap pria yang tengah berlomba itu. Kemudian dia mengambil buku sketsa miliknya dan mulai mencoret di atas sketsa itu. Seorang gadis tengah melihat apa yang sedang dia lakukan dari arah belakangnya.


“Gambaran yang bagus,” kata gadis itu.


Nayla mendongkakkan kepalanya, melihat siapa yang mengatakan hal itu. Seorang gadis asing dengan bola mata berwarna biru, dan berambut keemasan. Untuk beberapa saat mata Nayla memandang gadis itu.


“Raysa...” panggil gadis itu sambil membawakan sebotol minuman ke lapangan.


Nayla hanya bisa menatap gadis yang tengah berlari ke arah pria miliknya itu. Tatapan tidak suka dengan kehadiran gadis itu. Bahkan, gadis itu tidak segan untuk memeluk pria itu.


Seperti ada ribuan jarum yang menusuk hatinya, perasaan yang sama seperti dia melihat pria itu bersama dengan Naomi dua tahun lalu. Tatapan mata Aufal terarah padanya, dia menyadari jika gadis itu tengah mengepal erat tangannya menahan amarah kecemburan.


Pertanyaan demi pertanyaan tengah terlintas di pikirannya, tentang gadis yang baru saja datang itu, dan tentang ke akraban gadis itu dengan Raysa. Bahkan pria itu tidak melihat ke arahnya.


Aufal berjalan ke arah Nayla di ikuti dengan tatapan mata milik Raysa. Seakan pria itu tahu, tujuan dari Aufal.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Aufal saat menghampiri Nayla.


Nayla hanya tersenyum ingin menyembunyikan apa yang tengah di rasakan olehnya. Memang, sejak dulu dia pandai menyembunyikan apa yang tengah dia rasakan.


Pertandingan kembali di mulai. Nayla memilih memakai Earphonenya dan kembali menulis, dia tidak ingin terganggu dengan teriak gadis yang baru saja datang itu. Rasanya begitu sakit melihatnya.


Kalimat demi kalimat menjadi paragraf, kini dia telah menulis beberapa halaman. Walaupun dua tahun dia tidak menulis, namun keahliannya belum juga hilang masih sama seperti dulu.


Kegelisahan di hatinya kini sedikit demi sedikit mulai reda. Walaupun, perasaan itu di simpannya di dasar hatinya.


Pertarungan antara Aufal dan Raysa di tengah lapangan, karena tengah bertanding permainan bola basket.


“Jika kau membuatnya sedih seperti tadi, aku akan membawanya pergi menjauh darimu,” kata Aufal memperingatkan Raysa.

__ADS_1


“Apa yang kau bicarakan,”


“Ingat ini baik-baik. Kau tidak akan bisa bersama dengannya, tanpa tanda tangan penceraian,”


Raysa hanya sedikit mengerti dengan apa yang di katakan oleh pria itu.


Gadis yang baru saja datang itu, masih saja menempel pada Raysa, bahkan ketika Raysa menghampiri Nayla.


“Kau menulis lagi?” tanya Raysa.


Nayla melirik gadis yang ada di dekatnya pria pujaannya itu. Seakan ingin mengatakan pada pria itu, agar memperkenalkannya dengan gadis berambut emas.


“Siapa dia...” tanya Nayla.


“Dia... eemm... dia sepupu jauhku,” kata Raysa terbata-bata.


Ada keraguan yang di baca di mata Raysa, seakan pria itu memiliki rahasia tentang gadis yang baru saja datang itu.


“Bukannya kau seharusnya duduk di dalam saja?” tanya Raysa.


“Seharusnya kau katakan itu sejak tadi,” kata Nayla dengan nada kesal, kemudian pergi meninggalkan pria itu sambil menepis tangan milik Raysa.


“Dia gadis itu bukan kak?” tanya gadis berambut emas itu.


“Kau membuatku dapat masalah karena kedatanganmu,” kata Raysa sambil melihat kearah gadis yang memanggilnya kakak.


Aura Cloe, namanya. Dia sepupu jauh Raysa yang baru saja datang dari inggris. Gadis itu keturunan Indonesia—Amerika. Dia anak dari tante Raysa.


Dengan sifat Aura yang selalu menempel dengan orang yang sangat di kenalnya membuat kesalahpahaman.


“Apa yang salah memelukmu? Semua orang di negaraku melakukan hal yang sama kok,” kata Aura.


Raysa menyentil dahi Aura.


“Di sini dan di sana berbeda. Sekarang aku harus bagaimana, dia pasti marah padaku,” kata Raysa sambil mengacak rambutnya sendiri.


“Di sini dan di sana berbeda. Sekarang aku harus bagaimana, dia pasti marah padaku,” kata Raysa sambil mengacak rambutnya sendiri.


“Haruskah aku membantumu menjelaskan padanya siapa diriku, lagi pula aku tidak suka padamu,” kata Aura sambil mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Kurnia tiba-tiba menghampiri Raysa.


“Kau melihat Nayla?” tanya Kurnia.


“Dia baru saja pergi ke kamarnya,” kata Raysa.


“Dia tidak ada di kamarnya,” kata Kurnia.


Raysa membulatkan matanya, kemudian berlari mencari gadis itu. Gadis yang sangat suka menghilang tiba-tiba, dan membuatnya selalu ketakutan.


Aura tahu, tentang perasaan Raysa pada gadis itu. Namun dia belum juga mengerti, bagaimana bisa pria itu memiliki hubungan spesial pada gadis yang pernah menjadi pasiennya di Amerika itu. Walaupun gadis itu, koma untuk beberapa bulan.


Kedatangan gadis itu, karena Aufal pernah meminta dokter spesialis jantung untuk merawat Nayla.


“Perkenalkan aku dr. Aura Cloe spesialis jantung,” kata Aura memperkenalkan diri pada Kurnia. “Aku datang jauh-jauh dari Amerika untuk bertemu dengan dr. Aufal,” kata Aura.


Kini Kurnia menyadari bagaimana adiknya itu menghilang, pasti karena kedatangan gadis ini.


“Ikut denganku, aku akan membawamu ke ruangannya,” kata Kurnia sambil menunjukan jalan.


Nayla tengah berada di ruang medis bersama dengan Aufal, Nayla menceritakan tentang kondisinya yang merasakan sakit terlalu sering.


Aufal menyadari hal itu, dia tahu ini adalah efek dari operasi waktu itu.


“Sebenarnya donor jantung lebih baik untuk saat ini. Tapi, kita belum menemukan donornya,” kata Aufal. “Aku sudah menelfon ke Amerika, mereka akan mengirimkan dokter untukmu. Kau ingin kembali ke Amerika bersamaku?” tanya Aufal.


Brak!


“Beraninya kau ingin membawanya,”


Raysa datang dengan penuh amarah sampai mendobrak pintu.


“Aku suaminya, aku berhak membawanya,” kata Aufal dengan nada tegas.


Nayla hanya terdiam, rasanya begitu banyak sandiwara di hadapannya. Dia hanya ingin hidup biasa-biasa saja tanpa drama. Nayla memejamkan matanya membuatnya tertidur di ruangan itu, dengan penuh perdebatan antara Raysa dan Aufal.


“Aufal, aku membawa dokter yang ingin bertemu denganmu,” kata Kurnia sambil masuk ke daam ruang medis, dibelakangnya terlihat Aura.


“Kenapa kita tidak bicara di tempat lain saja, dan membiarkan dia istirahat, sepertinya dia tertidur saat kalian berdebat,” kata Aura sambil melihat ke arah Nayla yang tertidur.

__ADS_1


“Aku ingin di sini,” kata Raysa sambil duduk di samping gadis itu.


__ADS_2