
Suasana Kam begitu riuh, Raysa baru saja sampai di perbatasan. Beberapa orang terlihat tengah sibuk latihan, ada yang mengangkat barang-barang.
Raysa bersiul-siul nampaknya begitu bahagia.
“Apa ada sesuatu yang membuatmu bahagia?” tanya Kurniawan.
Raysa tidak menjawab pertanyaan sahabatnya itu, tapi nampak jelas dari raut wajah Raysa, jika dia tengah bahagia.
Nayla melakukan aktifitas biasa, memberikan materi kepada para mahasiswa, gladi wisuda, dan menulis naskah terbarunya.
Beberapa kali Nayla terlihat tengah di kerumuni oleh para mahasiswa, yang ingin mendapatkan bimbingannya, atau sekedar berbasa-basi.
“Senior... Kau akan tetap mengajar kami?”
“Eem... Iya. Semester depan, bukan aku,”
“Yaaa...”
“Mengapa? Bukannya kalian tidak suka jika aku yang memberikan materi?”
“Bukan seperti itu, hanya saja jika Senior yang memberikan materinya seperti begitu nyata, membuat kami merinding,”
“Jika kalian ingin selesai dengan cepat, kurangi santai dan fokus pada mata kuliah umum serta mulailah menyusun tesis di semester awal,” kata Nayla.
“Jika ingin dapat pekerjaan saat lulus nanti, kalian harus magang di tempat yang kalian sukai. Kalian mengambil jurusan psikologi harus tahu dan bisa melihat kejiwaan mereka-mereka di sekeliling kalian,”
“Aku sering menonton drama korea, di sana terdapat profiller yang membantu dalam penyelidikan kasus, aku ingin seperti itu,” kata seorang mahasiswa.
“Menjadi seorang profiller tidak mudah, kita harus sejalan pemikiran dengan pelaku. Jika harus menempatan diri kita seperti pelaku itu sendiri jika berada di TKP,” kata Nayla. “Kalian akan mendapatkan banyak pengetahuan jika kalian menonton dan membaca hal-hal yang berhubungan dengan Investigasi,”
Waktu berlalu dengan sangat cepat, tanpa di sadari jika 3jam telah berlalu Nayla mengobrol dengan para mahasiswa itu. Bahkan, jumlahnya makin bertambah, ada yang pulang dan ada pula yang datang.
Di lain tempat, di waktu yang bersamaan. Raysa tengah menyusun sebuah laporan. Sesekali dia menghirup udara di sekitarnya, kemudian menghembuskannya dengan sangat kuat. Seakan ada beban yang tengah berada di hatinya.
“Sejak tadi aku memperhatikanmu seperti itu,”
“Tiba-tiba saja aku merindukan seseorang,” kata Raysa dengan nada pelan sambil menclose jendela windows yang berada di depannya.
“Naomi?”
“Tidak, gadis itu,”
Kurniawan terdiam.
“Semakin mengenalnya, semakin tidak ingin pergi jauh dari sisinya,” kata Raysa mengutarakan apa yang di rasakannya. “Padahal, aku berstatus sebagai calon suami seseorang. Lucu bukan?”
“Tapi... Begitu nyaman bersamanya,” kata Raysa.
“Ada yang bilang, rasa hadir karena selalu bersama. Lagi pula kau dan Nayla hanya pacaran kontrak, dan akan segera selesai ketik di selesai menulis novel terbarunya dan penyakitmu sembuh,”
“Saat mengetahui jika dia berjuang sendiri, bahkan saat dia tidak di anggap oleh keluarganya hanya karena dia anak angkat. Aku bahkan melihat sendiri bagaimana mereka memperlakukannya dengan tidak baik,”
“Sungguh... Aku sangat bersimpati dan merindukannya,” kata Raysa sambil melihat ke arah Kurniawan.
Siapapun yang merasakan ketika hatinya berdebar akan kalangkabut, ketika ingin menolak perasaan yang tengah bergejolak di hati. Baik dia seorang bos mafia, ataupun seorang tentara.
“Oh iya, aku mendapatkan beberapa laporan dari warga sekitar tentang sesuatu yang membuatku risau sejak kau pergi,” kata Kurniawan.
__ADS_1
Raysa yang tadinya santai, kini telah serius mendengarkan apa yang di katakan oleh sahabatnya itu.
_______________________________________________________
Suasana wisuda tampak begitu ramai, termasuk keluarga yang berdatangan memberikan ucapan selamat kepada mereka yang telah mendapatkan gelar tersebut.
Nayla hanya memperhatikan suasana itu dengan duduk di bangku taman. Sesekali ada yang datang memberikan ucapan kepadanya sambil membawa bucket bunga. Mereka adalah para junior, serta para penggemarnya.
Tiba-tiba sesuatu mengalihkan pandangan mata semua orang dan tertuju pada beberapa orang tengah berpakaian seragam, membawa bucket bunga serta hadiah.
"Coba lihat itu...” bisik seseorang pada temannya.
"Tentara datang di acara wisudaan,”
“Wajah mereka tampan-tampan. Seragam mereka cocok dengan wajahnya,”
“Seperti drama korea saja,”
“Nge hallu,”
Nayla hanya memberikan ekspresi wajah datar dengan kehadiran beberapa sosok yang tengah melangkah ke arah mereka itu.
“Siapa mereka Nay,” tanya Laura yang sedarui tadi menemani Nayla. “Kenalin dong,” kata Laura.
Tiba-tiba Nayla tertawa melihat tingkah beberapa orang itu.
“Kenapa kalian bisa ada di sini?” tanya Nayla.
“Kami di panggil di kantor pusat. Jadi kami datang kemari saat Kapten Raysa mengatakan jika dia ingin datang menemui anda,” kata Jufri.
Raysa lagi-lagi berhenti tepat 30cm dari gadis dengan balutan pakaian wisuda. Begitu banyak pasang mata tengah melihat ke arah mereka.
Wajah mungil milik Nayla menengadah ke atas agar bisa menatap Raysa yang begitu tinggi. Warna pink muda menghiasi bibir mungil gadis itu, lentikan bulu matanya yang panjang, tidak memakai bulu mata palsu. Make up natural, membuat gadis itu anggun dan sederhana.
Raysa mendekap tubuh gadis itu, dengan begitu banyak pasang mata yang melihatnya, termasuk anggota timnya.
“Aku merindukanmu,” kata Raysa berbisik. “Apa kau tidak gerah? Mengurai rambutmu?” tanya Raysa, sambil mengikat rambut gadis itu.
“Kau ingin membuatku malu?”
“Tidak, aku ingin mengatakan pada mereka jika kau adalah pacarku,”
Pria itu, masih terus memeluk Nayla. Seakan tidak mempedulikan siapapun yang berada di sekitarnya.
“Nayla...” panggil seseorang. Suaranya tampak tidak asing di dengar.
“Beraninya kau memeluknya di depanku,”
Raysa dengan cepat melepaskan pelukannya dan berdiri di dekat Nayla.
“Kak Reza...”
“Bibi...” panggil seorang anak berumur 5th pada Nayla kemudian berlari ke arah Nayla.
“Naomi...” nama anak yang di panggil Nayla membuat Raysa terkejut. “Mengapa kakak ada di sini?”
“Memberimu selamat,” kata Reza.
__ADS_1
“Apa aku terlambat?” sebuah suara seorang wanita terdengar.
“Editor Lee...”
“Selamat ya...”
Mata wanita paruh baya itu, melihat ke arah Nayla dan pria di sampingnya itu—Raysa.
“Apa kita hanya berdiri saja di sini?”
“Ah, sebaiknya kita ke rumah. Aku akan memasakkan kalian semua makanan,” kata Laura.
Raysa sesekali mencuri pandang ke arah Nayla, dia memberikan sebuah kode tapi Nayla tidak merespon apapun.
Mereka mengabadikan moment bahagia di hari itu, dan Nayla menikmatinya.
Rasanya sudah lama, sejak hari itu dia tidak merasakan kehangatan bersama, berbincang bersama, tertawa dan mengobrol seperti saat ini.
Nayla hanya terdiam, sesekali tertawa, sesekali bercerita. Raysa duduk tepat di sampingnya. Tatapan tajam melihat ke arah Raysa. Pastinya itu adalah kakak Nayla—Reza.
“Bibi... Darah...” kata Naomi—keponakan Nayla saat melihat darah keluar dari hidung Nayla. ”Hidungmu berdarah,” kata gadis cilik itu.
“Oh. Mimisan,” kata Nayla sambil menyeka darah yang keluar dari hidungnya.
Semua mata melihat ke arah Nayla. Benar saja, darah mengalir keluar dari hidungnya.
“Nay, kau tidak apa-apa?” tanya Laura mendekat, sambil membawa sekotak tisu.
“Ayo kita ke dokter. Kakak akan mengantarkanmu,” kata Reza.
“Tidak apa-apa, mungkin karena aku terlalu capek menulis,” kata Nayla mencoba menghilangkan rasa khawatir semua orang yang berada di hadapannya itu. “Kemarin sibuk dengan gladi bersih Wisuda, dan aku kurang tidur,” kata Nayla lagi.
“Benar-benar tidak apa-apa? Sebaiknya ikuti apa yang kakakmu katakan, kita ke dokter saja,” kata Reza mencoba membujuk Nayla.
“Tidak apa-apa. Sudah biasa seperti ini,” kata Nayla lagi.
“Sebaiknya kau segera Istirahat di kamar,” kata Raysa sambil memakainya jaket kepada Nayla.
“Jangan terlalu berlebihan memainkan peran pacaran,” kata Nayla berbicara dengan nada pelan kepada Raysa.
Seketika Raysa hanya terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Nayla. Bagaimana tidak, perkataan Nayla rasanya menghujam ke dasar hatinya. Seakan gadis itu secara tidak langsung menolak Raysa memberikan perhatian padanya.
——————— To be Continued ———————
“Cerita Ini Sepenuhnya Fiksi. Nama, Karakter, serta Organisasi yang muncul, sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia nyata”
Kritik & Saran silahkan tinggalkan komentar.
Instagram : dih_nu
Baca juga :
- Something Lost
Terima Kasih Telah Membaca!
Jangan lupa Vote jika kalian mendukung saya dalam menulis novel!
__ADS_1