
Gadis dengan piyama putih dan berambut panjang gaya horse tail, menyelinap masuk kamar. Di lorong tersebut sudah sepi, tak ada tamu maupun pegawai hotel lewat. Si gadis tak perlu lagi mengawas di situ, dia membuka pintu dan buru-buru bergerak ke dalam.
Setiba di ruang kamar ini, si penyelinap beristighfar mendapati seorang wanita sudah tergolek tidak bernyawa, terbaring menggenaskan.
"Hhh! Hhh..!! Ummph..!"
Kasur basah dan merah, di situ penuh darah. Leher mayat tersebut robek, pangkal lengan terkoyak, badan terbelah tepat di tengah dada. Isi rusuknya (jantung dan paru-paru) telah diambil. Kondisi sang mayat benar-benar mengerikan untuk dilihat.
"Hhh-hhh..!!"
Saat bingung begitu, dia melihat jendela. Di sana tirainya ternoda darah dan baru saja berkibar dihembus oleh angin, sedang terbuka, pelaku kabur lewat situ!
Wuutts!!
Wauw, gadis piyama langsung pergi dengan cara melesat, keluar lewat jendela gaya hantu. Dia menembus kain sekaligus kusen beton. Orangnya sakti, tapi entah kenapa dia ketakutan.
"Hhh.. hhh..!!"
Di udara ini dia kebingungan dan terus mencari-cari. Tubuhnya sedang mengambang, tapi harus ngebut ke mana lagi di Jakarta tahun 2966 ini? Banyak bangunan tinggi sejauh kemegahan kota.
Gedung penginapan yang berdiri di dekat dia mungkin bukan TKP pertama yang dikunjunginya. Bagian bahu piyamanya terlihat ada noda merah. Padahal tadi di kamar maut, dirinya belum menyentuh apapun. Terlebih tubuh si gadis sudah transparan saat ini.
Zwwitshh..!!!
Se-suar tanda memancar ke atas langit di kejauhan. Warna mata si gadis sama ungu dengan suar yang ada. Garis panjang yang nampak seperti laser kuat itu isyarat untuk dia yang sedang mengejar.
Wuutts!
Dia tiba di atap sebuah gedung dalam sedetik, yang mana sudah berdiri di samping sumber laser. "Bacain, Giz."
"Status soloter cardyceps, Tuan. Masih diinang parasas, organ tubuh yang dimakan, asupannya yang ke lima."
Ternyata dia punya kembaran. Wajah di sebelah gadis piyama muka dia juga, mereka sama. Keduanya beda karena pakaian dan golongan, majikan dan anak buahnya. Piyama dan Pilot mobil F1.
"Hhh.. hhh! Cepet banget nih si cardy. Hhh...! Udah yuk, Giz? Kita warning dia sekarang," ajak si majikan. "Hhh! Hhh.. Ngeri juga idup kaum soloter."
Mahluk yang mereka bahas tetap sibuk menggigit dan nguyah makanan di atas gedung seberang. Mungkin dinner malam. Kanibal? Di situ sang cardyceps memegang sebatang tangan, juga kemeja si pemuda terlumur darah.
Digh!! Gadis piyama jongkok saat mendarat di jarak aman dari buruannya. Dia menyentuh perut dan saat berdiri badan dirambati suite merah kira-kira jadi pakaian yang seperti ini:
"Malem, Long."
Krrach.. kraachh..!!
Lawan bicara mengunyah makanannya dengan enteng hingga bunyinya terdengar renyah tapi seperti becek.
"Dah lah, itu jijik tau. Manusia kalo laper tuh kasih sate, bukan jari cewek. Pergi dari sini, Buta Huruf!"
Si Pemuda berhenti dari acaranya. Lagi asik-asik makan diajak ngobrol. Dia menatap si petugas dengan wajah datar di posisi jongkok. Bagai anak sedang menghabiskan jagung penuh oli, ada liur merah serta remah daging menetes di dagunya.
"Denger. Udah kami larang, napa lo ngeyel nyarap di sini? Pergi gue bilang. Cari di You Forest sana, pliss. Nih bukan peternakan."
Sslllrp..!
"Ehh.. Lidah lo.." komen petugas, menatap lawan bicara karena melihat objek yang asing saat si pemuda menjilat bibir. "Kok nyala?"
"Fuhh!!"
Si cardyceps berdiri membanting makanannya, lalu meludah. Sementara pengganggu-nya cukup terkejut atas kemarahan yang ada, menatap ludah yang ternyata mengepul, medidihkan permukaan beton begitu dibuang empunya.
"Jijik ishh. Udah bunuh orang, bikin kotor juga lo. Dasar jorok!"
"Heeaa!!"
Si pemuda lari menuju target, membuat lawannya makin perangah, angkat alis.
"Wah apaan?"
Di antara mereka, tempatnya cukup luas, tak ada halangan. Maka dalam perjalanan tersebut tangan si pemuda terlihat aliran energinya. Urat-urat dia menyala di bawah permukaan kulit.
"Petromak alam.." komen si gadis, agak takjub. "Lo bener, gak boleh berduaan di tempat gelap."
"Heahh!!"
Set!!
Sampai di depan target, pemuda langsung mengayunkan kuku, mencakar. Petugas menjauhkan kepala dengan tenang.
"Heaa!!"
Set! Set!
Penerangan lokasi, di helipad tersebut kalah terang dengan nyala kuku si cardyceps hingga gerakan yang ada menjejakkan bias.
Set! Set!
"Ya Allah, gesitnya.." ucap petugas sambil mengelak dan terus mundur.
Set! Set!
"Stop!"
Makin mundur si petugas makin dekat dengan ujung helipad.
Set! Set!
Syu.. uuut!!
Karena terus diserang sampai ujung pijakannya itu, si gadis langsung melayang ke bawah, masuk ke gawang kaki penyerang. Tubuhnya persis jatuh kepeleset miring dan lancar nyelosor.
Hyuung..
Gerakan tadi mirip daun kering terbawa angin, sliding jumping, nyerodot untuk terbang jungkir, kepalanya di bawah lalu putar badan di ketinggian dan..
Digh!! Petugas mendarat sambil jongkok.
"Kenalin.. gue Jired."
"Arrgh!! Huaaarrgh!!"
Ketika sibuk mencari targetnya, cardyceps balik badan dan langsung marah mendapati Jired baik-baik saja.
"Hooaaarggh!!"
"Ehh.."
Pemuda langsung lari dengan kesetanan, ditambah gangguan di kepala yang mulai ditumbuhi tumor.
"Astaghfirullah."
Brrggrh.. ggrtth...
"Hoaarrgh!!!"
Menyadari ketakterdugaan, Jired mundur pelan sambil tetap memperhatikan kenshin cardyceps yang bermutasi jadi zombie glowing.
Tak hanya tangan yang menyala, kaki si pemuda sudah merah membara. Tapak kakinya membekas di lantai. Rambut cepaknya tumbuh spontan hingga dia jabrik ala gembel.
Gubragh..!!
Saking terburu-buru, si jabrik ayan tersungkur jatuh. Namun tubuhnya sedang tak stabil dia langsung meronta-ronta di lantai helipad.
"Hoaarrg..!!"
"Njir.. kasian ihh, kejam banget parasas dia. Maksain gitu malah jadi gak akur. Euurgh!"
"Aaarrgh..!! Arrgh!"
Pemuda terus mengerang-ngerang diinangi parasas. Banyak tumor tumbuh di bagian tubuh lainnya, lutut, betis, bahu, leher.. ditambah hawa panas yang terpancar.
"Ck! Hii.. salah elo juga sih, ah! Dah telat."
"Aarrg! Hooarrg.. hoaarrgh!"
Jired tak komentar lagi, dia menggaruk-garuk kepalanya. Kacak pinggang sebelah atas mutasi yang ada, yang berlangsung di sembilan meter sana.
"Kepaksa deh gue lightnov. Lo soloter baru, makanya masih mual jadi kanibal. Bius penyakitnya dengan segera."
Jired berjalan menghampiri si zombie jabrik yang masih glowing kepanasan. Tangan kanan petugas pun ternyata bisa bersinar walau terjadi di luar kulit. Dia melangkah sambil mengeluarkan Lightnov, bola energi.
Di detik yang sedang berlangsung, terdengar notice waktu. Lampu suite si gadis menyala merah tanda suatu pemberitahuan.
Didiit!
"Nah pas waktunya. Boarding mau di-close. Euurgh!!"
Blugh!!
Sesampainya di depan si mutant asing, Jired jongkok membenamkan bola pembius pada kening.
Gwii.. diit!!
Klee..pek!
Pemuda ayan langsung diam tak bergerak begitu Jired memegang kepalanya. Tubuh tersebut kaku menjadi patung keramik putih. Objek berhasil dibekukan atau dibius petugas.
Swwshh!!
Kepulan asap yang mengudara dari patung tersebut kemudian menjelma jadi si pemuda berkemeja bersih. Seorang soloter.
"Lo mau ngomong apa sekarang? Sampein," kata petugas.
"Gue? Hahaa!!"
"Iya. Elo! Napa?"
"Mana si tangan cupu, hah?"
"Dia sibuk. Bukan anak lapangan."
"Kalian dua orang paling g*blok!"
"Kami gak maksa, mau gabung sama mereka ini tuh pilihan elo. Tapi kalo mereka masih nyarap di sini, gue ambil putusan. Ngebius. Mereka gak bakal mau ngosumsi makanan yang wajar, lo bakal terus muntah!"
"Gue pasti balik dengan lebih baik. Fuuh!"
Jihan cepat mengelak saat si pemuda meludah ke arahnya.
"Anjrit.. Jorok sia, ih. Gak ada sopannya."
Swuuth!!
Si pemuda melesat pergi tanpa peduli kalimat petugas. Saking cueknya, Jired jadi terbawa emosi.
Saat Jired hendak terbang dan ingin melampiaskan geramnya, tiba-tiba..
Ckiiit!!
Sekelebat hitam berhenti di depan Jired sambil merentang satu tangan, posisinya memunggungi.
"Ehh.. Luna.."
Mahluk yang menyetop si petugas mengenakan tudung hitam, postur tubuhnya setinggi anak SMP.
"Masih ada tiga belas detik. Dia ludahin gue. Gue pengen jotos mulut dia."
Luna masih diam di pose tersebut, tetap mencegat.
"Hhh..!! Ya deh. Sabar. Istighfar.. Astaghfirullah."
Bocah tudung mengacungkan jempolnya. Dia lalu melihat patung keramik yang berada di bawahnya, kemudian jongkok. Luna menyentuh benda kaku tersebut, patung langsung menyusut jadi mutiara.
Zwiiitt! Gliitt!
Usai diambil, mutiara tersebut disodorkan pada petugas.
"Oh iya. Lupa. Tengkyu. Mayan dikit gini kalo dikumpulin khan bikin kenyang," Jired mengambil batu yang asongkan dan membahas nilainya.
Swuutth!
Luna melesat terbang tanpa pamit. Di udara tersebut dia menghilang, lapisan mengkilap menyisakan bekas tembusnya. Dia pergi tidak lewat kabut seperti gaya si pemuda, tapi sama-sama tidak terlihat lagi.
Dii.. iiit!!
Waktu pun habis, Jakarta yang penuh bangunan tinggi dan megah tampak tergeser posisinya dari pandangan Jired. Tapi ternyata itu di-kemudi-kan oleh suite yang membawa pemakainya pindah masa.
Swwshh..!!
Sekeluarnya dari bola besar, petugas Jired menyentuh perutnya. Suara baju karet mengerut pun terdengar seiring terhisapnya suite oleh pusar si gadis, mirip bunyi resleting. Orangnya kembali terbalut piyama.
Dia keluar dari gumpalan awan seperti diperbesar ukurannya. Kemampuan terbangnya masih ada, Jihan bergerak maju dengan tubuh masih mengambang, float move mirip kuda laut. Usai mengganti bajunya, dia mendarat di trotoar khusus, berjalan menghampiri ruang kotak tak berpintu yang berjarak 3 meter di depannya. Jihan segera duduk, membuka laci mejanya.
Namun saat meja berbunyi.
Ti.. lilit!!
__ADS_1
Dakh! Jihan langsung menutup notice, seperti orang yang menepuk nyamuk di meja. Lalu wajahnya tampak greget.
"Eeurggh! Tiga satu..! Tutup deh."
Permukaan meja masih menayangkan menu screen, tidak berganti. Jihan mungkin telat merespon hingga dirinya langsung kesal keduluan petugas lain. Terlihat ada seseorang melesat masuk portal.
Aula segi enam adalah tempat yang besar, di tengahnya terdapat bola awan berdiameter 369 meter yang tak lain portal waktu, bukan mesin simulator.
Di sini juga terdapat tiga trotoar yang melingkar bentuk heksa atau tempat tunggu. Letaknya pun seperti anak tangga dan pada dindingnya memiliki rongga kubus.
Sebintik sinar meleset keluar dari tubuh petugas. Objek tersebut lalu menjelma jadi si gadis, tak lain Giziania. Baju yang dikenakan sang mahhal (mahluk halus) warepack mirip pilot F1.
"Demikian boarding terakhir. Hamba ke Kafetaria."
Wuutts! Sang jins melesat tanpa menunggu jawaban.
"Siap, Ndan.." sahut Jihan yang sedang mangamati benda bulat, masih diam di kursinya dengan 'kompas' berjarum banyak.
Jihan menguncang-guncang kompas. Dia amati kembali jarumnya tak berubah ataupun bergerakan. Sudah polos, tidak ada angka maupun huruf, "beku" juga. Dibaliknya kaca yang sama. Kompasnya persis peleg sepeda, banyak jari-jari.
"Koin apaan sih nih barang..?"
Jihan putar benda yang disidiknya ke meja. Kompas berputar seperti koin. Saat dipandangi, sedetik, dua detik, sampai si objek berhenti, jarum-jarum yang ada tetap diam. Jihan mengambilnya dan kembali diguncang-guncang dalam genggaman.
Gadis piyama lalu menaruh barang tak jelas itu di meja. Jihan bersandar, lanjut memandanginya. Dia menghela nafas karena tak bisa apa-apa atas 'maenan' yang asing itu, baru melihatnya seumur hidup.
"He, ngapain?"
"Gabut."
"Sama. Gue baru dapet satu batu. Makan yuk?"
"Duluan War. Gizi ke sono barusan."
"Lo mau dipesenin apa? Biar sekalian pas lo dateng tinggal amm," tawar Mawar yang memang tak sengaja melihat Jihan betah duduk mirip orang nunggu jam buka.
"Ketoprak meat ball."
"Pasti."
Mawar melangkah pergi tanpa komentar panjang. Bintik putih yang melayang-layang turut serta meninggalkan Jihan. Yang ditinggalkannya tetap duduk memandang benda yang ada di meja.
Jihan memang telat ambil misi atau keduluan lusid lain, namun bukan masalah serius. Esok hari Boarding atau daftar misi akan kembali tersedia melaporkan deteksinya. Karena parasas tak pernah kenyang, masih mengajarkan rekrutan mereka jadi kanibal.
Kompas di situ membuat Jihan diam seribu bahasa, kepo. Tak ada petunjuk lanjut tentangnya. Benda mati ini masih dianggap 'hidup' oleh Jihan.
Rrrhh!!
Kompas berputar sendiri. Jihan diam memandangi, tidak terusik atau pun kaget karena dirinya sedang bertelekinetis. Alat tersebut mendadak 'ngerem' dan langsung diam berdiri, tapi jarumnya tetap tak satupun ada yang ter-sentrifugal.
Kriu..uukk..
Suara cacing terdengar.
Jihan berjalan melewati banyak meja di Kafetaria. Rata-rata semua orang yang ada di sini pakai piyama. Selain itu, Jihan juga tak beralas kaki, ada lusid lainnya yang berpapasan dengan Jihan, nyeker dan saling lewat. Tak lama sampai di meja tujuan, Jihan menggeser kursi kemudian duduk.
"Baso Kupat murah juga, Han. Banyak lagi.." kata Mawar tanpa melepas kesibukannya makan bihun bumbu kacang.
"Ya. Kita mah ngirit aja pas digit boarding dikit. Nih Ketoprak aslinya, lho."
"Gue nyobain yang kuahnya nih.. aduh.. satu sendok masih nempel rasanya."
Jihan senyum sendiri sambil menyentuh meja. Permukaan perabot bereaksi begitu disentuh mengeluarkan sepiring Ketoprak Meat Ball. Jihan menarik kursinya dan mengambil sendok dalam wadah yang ada di tengah meja.
Sementara yang duduk di sebelah kiri Jihan, tetap sibuk menge-tap menu, sedang mengulum permen. Wajahnya memang persis Jihan, tapi sosok berbaju F1 ini jins qorin.
"Tadi lo kenapa Han? Muka-nya rada-rada kesel. Gue tanya ke Gizi, katanya kalian lagi dikepo sama benda antik."
Selesai bertanya, Mawar menyuapkan makanannya lagi.
"Ya bukan antik lagi, War. Nih kompas emang mistik gak ada obat. Gue banting, gosok-gosok, jarumnya mati gak pernah gerak sama sekali."
"Kompas yang lo maenin tadi?"
"Iya."
Jihan sudah mengaduk makanan, perutnya lagi "rusuh". Alarm tersebut bunyinya ketutup suara mereka, Jihan menyuapkan sesendok terlebih dulu, kemudian mengaduk ketopraknya lagi. Kini dia tenang memasang kuping untuk lanjut diskusi dengan temannya yang juga lusid.
"Kiraen legend stone. Nemu di mana tuh?"
"Legend stone. Kelas pearl aja gue ampir telat, War," Jihan menjelaskan job dasar tersebut, lalu tangannya memutarkan wadah sendok - garpu. "Ngejogrok di ruko terlantar. Timeline gue bocor. Gizi yang nemu. Liat aja."
Gwiit..!!
Layar transparan muncul di tengah meja, Jihan menyuapkan sendok usai menyalakannya. Mawar pun turut menonton tayangan yang ada.
Sore itu beres bekerja, Jihan berhenti di depan sebuah toko jam. Dia masih terbalut seragam, lokasi toko tak jauh dari gedung Citymall. Di situ juga jalanan sedang ramai. Di trotoar itu Jihan menatap ruangan toko.
Ketika Jihan sudah berjalan masuk, si penjaga toko cuek tak menyambut. Bapak tersebut diam berdiri baca berita online, sedang manteng ponselnya. Jihan pun tak peduli, matanya sudah sibuk melihat-lihat barang yang terpajang.
Di situ benda yang dijual aneh semua, si bapak sedang memamerkan produk UFO.
"Nih jualan jam apa peleg sepeda, Pak?Banyak amat jarumnya?"
"Demikian. Hamba menunggumu, Tuanku."
"Giz?" tatap Jihan dengan kening berkerut.
Pemilik toko berjalan masuk ke dalam. Dia tak bicara, pergi begitu saja meninggalkan etalase yang berisi gelang-gelang.
Jihan lanjut melihat-lihat sambil kacak pinggang. "Gak kedefinisi gini rukonya. Pagi masih nampangin papan kontrak. Sejak kapan dibuka."
"Lihatlah apa yang hamba temukan. Timeline kita telah lama bocor, Tuanku," kata Gizi yang jongkok di depan kompas, memberitahu Jihan yang baru masuk menyusulnya.
Objek yang Gizi bahas adalah benda satu-satunya di ruang kosong, di dalam ruko yang terlantar ini.
"Apaan nih, Giz? Kompas?" tanya Jihan mengamati barang yang dipungutnya.
"Aku telah sampaikan perihal ini pada dewan Asma. Katanya benar bahwa ini kebocoran timeline. Kita akan mencari tahu, Tuanku."
Gwiit!! Layar padam menghilang.
"Lo coba aja bawa ke Olive. Dia tau banyak produk kok. Gak bakal geleng kepala, Han."
"Tapi kok Mbak Asma gak ngomel ya?"
"Ngapain juga dia ngomel. Timeline-nya hak elo. Kalo kita ngubah basetime, baru berurusan sama dia."
"Tapi gak mungkin kita dapet ngedit basetime."
"Valid. Jarum gak gerak aja dah bikin lo mumet gini khan? Apa lagi basetime yang sensitif sama ucapan."
Gizi sudah terdiam sejak tadi. Dia Jihan sendiri, wajahnya persis majikannya. Gizi telah selesai makan, di meja tersebut piringnya sudah kosong hanya ada bungkus permen.
"Tuanku.." sebut Gizi agak pelan.
"Iya, apa Ndan?" tanya Jihan sambil menoleh ke sumber suara.
"Hamba rasa benda ini ada kaitannya dengan Pnin. Mungkin Nina pun mendapat yang serupa. Tangannya masih berkaitan dengan red-stone."
"Ya udah. Habis makan nih, kita temui Olive. Gimana??"
"Iya, Han. Sekalian buat validasi aja," kata Mawar. "Olive pasti tau."
Di sebuah ruang heksa yang begitu besar dan banyak orang, Jihan berjalan melewati bayangan batu. Benda bulat di atasnya itu mengambang di tengah ruangan, diorbit lingkaran putih. Ada tiga blizt di tiap dinding, kecuali dinding peron. Tempat ini halaman utama gudang.
Terdapat lima belas pintu sentuh alias kaca hitam yang disebut blizt. Jihan mencari blizt yang tepi-nya bertanda putih. Saat ini berada di arah jam dua belas atau Utara, dia menyentuh permukaannya.
Claphh!!
Ruangan mendadak berubah luasnya, orang-orang menghilang dan berganti jumlahnya jadi sedikit, Jihan telah berpindah tempat. Di sini banyak benda-benda yang disimpan dalam rongga-rongga dinding. Orang-orang masih lalu-lalang, muncul dekat pintu sentuh, yang lain menghilang ala cahaya potret.
Di tempatnya, Jihan menyapu pandangan mencari tanda pintu. Dia segera melangkah ke arah jam lima atau Tenggara, diikuti Bintang Kecil, blitz yang dia cari ternyata ada di dinding seberang.
Claphh!
Lagi-lagi ruang heksa menyusut luasnya begitu Jihan menyentuh pintu. Di ruang ini dia mendapati kapal yang bulat, berkaki empat. Juga ada seorang anak perempuan yang sedang menekan-nekan remote, kapal tersebut berubah-ubah warnanya di depan si anak.
"Ngapain dia? Ngecat?" tanya Jihan, masih diam di tempat, mengamati Olive.
"Demikian. Namun Dewan telah selesai," kata Bintik Cahaya, berkedip-kedip warnanya.
Bintang Kecil bergerak menuju tangan Jihan. Sang bintik memutari jemari majikan, mengorbit. Dia Gizi, memberikan sebuah benda pada Jihan.
Zwiiitt!!
Sinar Kecil membengkak jadi sosok gadis
berbaju F1. Dan Gizi masih menggenggam tangan Jihan. Kepalanya agak menunduk.
"Kamu serius, gak mau bikin segel lagi?"
"Hhh. Demikian. Vacum ini hanya akan membuat rawan keselamatan Tuan Puteri (Marcel)."
"Ouh. Ya udah. Aku juga gak mau kalo qarrat nyentuh-nyentuh dia lagi."
Tanpa sepengetahuan, Olive sudah berada dekat mereka. Jihan dan Gizi menoleh, mendapati sang dewan. Olive sedang menyimak obrolan mereka, memegang pergelangan tangannya di depan badan.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya Olive.
"Iya, Olive. Pertama kami mau nyerahin vacum."
Jihan memberitahu soal pulpen berlampu mini yang ada di tangannya, alat tersebut segera dia sodorkan pada Olive. Sang dewan segera meraihnya. Jihan diam menunggu, sebab Olive tengah mengamati benda lancip tersebut.
"Kami akan simpan, Han. Gak ada yang bisa mengambilnya lagi selain kamu. Tapi soal tempatnya, kamu harus ketemu aku dulu. Ya?"
"Baik, Olive. Terus yang kedua.."
Jihan merogoh saku piyamanya, celana. Dia mengambil 'kompas'. Setelah didapat, benda berjarum banyak itu Jihan berikan pada Olive tanpa bicara sepatah kata pun.
Olive amati benda seukuran tutup galon di tangannya. Tak lama memberitahu bahwa barang yang dipegangnya adalah diary. Olive mengasongkannya pada Jihan, tapi dibiarkan mengantung.
"Diary?"
"Iya. Ini diary."
Jihan makin berkerut kening menatap Olive. Dia juga tak lanjut bertanya. Jihan abaikan asongannya.
Olive menekan remotenya sambil diarahkan pada 'kompas'.
Gliitt!
"Ehh," kaget Jihan, lucu sikapnya, pura-pura terkejut.
Olive menyodorkan buku mini itu pada Jihan. Akhirnya si pemilik mau mengambilnya. Olive juga menjelaskan sesuatu tentang kompas tersebut saat Jihan membuka-buka halaman.
"Kamu bisa buka visualnya ini dengan cara disentuhkan ke pusar, Han."
"Tapi kok.. di sini gak ada tulisannya, Live. Gambarnya Al Hood semua," kata Jihan di kegiatannya. "Maksudnya apa nih?"
"Begitulah, Han. Anggap aja pakar berikutnya. Ahlinya parasas."
"Maksud kamu, aku harus nemuin Luna gitu?"
"Iya. Jangan lupa. Buat buka covernya, kamu bisa menempatkannya di pusar. Begitu juga sebaliknya kalo mau nutup citra barang."
"Kalo bener nih milik parasas, pastinya ada sesuatu buat Luna. Makasih ya, Live. Valid juga nih dugaan kamu, Giz."
"Ini memang pesan Pnin. Ada lagi yang ketiga? Kalo mau validasi lanjut, kamu cek lokasi temuan di timeline Diandra. Jika toko itu terkondisi sama, berarti masalahnya ada di aku."
"Napa aku harus ragu sama kamu, Live? Aku percaya kok."
Olive menjawab pertanyaan Jihan bahwa dirinya manusia yang akan terus belajar, ingin bersungguh-sungguh dengan orang yang memerlukan dirinya.
"Ya udah, iya. Gak cuma kamu kok, mbak Asma juga bilang timeline aku bolong, ada bocornya. Kami pergi dulu, ya?"
"Met investigasi," jawab Olive, menggangguk kepala sambil tetap tersenyum ramah.
Di halaman utama gudang, Jihan dan Gizi mengobrol, mereka menetapkan tujuan.
"Kalo emang nih Pnin yang dibuang Nia itu, ya udah.. kita harus nemuin Al Hood, Giz. Biar kevalidasi."
"Tak ada komentar."
Kediaman Luna berada di perbatasan Internal.
Dulu masih harus dikawal Kisye untuk pergi ke rumah sang legend, tekniknya dengan cara merobohkan atap stasiun.
Sekarang lusid yang ingin meet bisa pergi sendiri ke rumah Al hood dengan cara mengontak Epsi, tidak perlu lagi nge-race terbang.
"Ehh.. Nih udah nyangkut, Giz," kata Jihan mendapati perutnya tergelang red-yard.
"Demikian. Ini tanda dia (Luna) sedang tidak berburu. Kami telah telah siap, Fiter. Antarkan kami ke.."
Saat Gizi bicara, pusaka Luna langsung membawa penumpangnya pergi. Di tengah lalu lalang orang, keduanya melesat ke atas, menembus langit-langit ruangan tanpa suara.
Jihan dan Gizi tiba di peron sebuah stasiun kereta, dan langit di sini berbeda karena sosok besar di atmosfer sana adalah jirah Ap Hood.
__ADS_1
Di sini tempatnya asri, bersih, dan sepi. Di sini juga tampak lima rel melintang, masih lompong dari kereta. Mereka berdua melihat-lihat sekitar, mencari Luna di depan ruang pengawas stasiun.
"Yang duduk di situ siapa ya, Giz?" tanya Jihan melihat lusid lain sedang manteng layar transparan di kursi peron.
"Salah seorang dari tim dev yang sedang menunggu temannya. Seed mendeteksi bahwa nama dia Hega."
"Oh anak laennya. Kita harus nunggu dia beres dong? Khan dia mau ketemu Luna juga, Giz?"
"Tidak, Tuanku, sampai temannya datang. Ada percakapannya di sini satu jam mendatang," kata Gizi sambil menempatkan jari di telinganya, menyentuh Speaker.
Keduanya masih terlingkar benang laser. Kembali dibawa berkelebat tanpa notif, menembus bangunan. Mereka berhenti di halaman parkir, depan stasiun, mendapati Luna sedang mencabut rumput-rumput di pinggir gedung.
Anak gadis yang sedang duduk membaca buku, segera sadar atas kehadiran dua tamu yang sudah berdiri di dekatnya.
"Ghost?"
"Hai, Jihan."
"Lo kok di sini? Nemenin kembaran lo? Apa lagi mandorin?"
"Aku sedang training kerja. Kau akan tahu pekerjaanku seperti apa di sini."
"Tapi.. badan lo jadi kayak asep gini sih?" bingung Jihan melihat tubuh Ghost persis hantu, tidak tersentuh.
"Ah lihat, Anak Langit telah selesai."
Jihan dan Ghost mendapati Al Hood sedang mencuci tangan. Dia berseragam orange, mirip pakaian napi. Gaya rambutnya persis Ghost, wajah, tinggi badan, Luna dan Ghost bagai pinang dibelah dua.
Beres mencuci, Luna melesat tembus pagar. Si pucat memainkan tangan alias berisyarat pada Jihan. Ghost ikut memperhatikan gerakan tangan Luna.
"Dia bilang, dia menyukaiku, ada teman bicara, dan aku mengerti apa yang dia isyaratkan," lapor Ghost.
"Kalian satu orang kayaknya, cocok gitulah," komen Jihan sambil merogoh saku celana. "Gue sama Gizi. Lo sama dia. Ini gue lagi nyidik buku Pnin. Bisa jadi pesan penting buat Internal."
Sambil menjepit bacaan di ketiak, Ghost menerima benda yang Jihan asongkan. Dia membuka-buka halaman. Jihan dan Gizi diam memperhatikan. Ghost berikan diari tersebut pada Al Hood, lalu menggerakkan tangan ke bahu, jari dia putar-putar di udara.
Luna buka-buka diary, mendapati wajahnya, si pucat tak berekspresi. Dia berikan lagi buku kecil itu pada Ghost. Luna mengetuk-ngetuk hasta dengan pergelangan tangan, tanda silang.
"Dia tak paham ini barang seperti apa. Jadi tolong katanya bukain, dia kehalang sama covernya."
Ghost menyodorkannya lagi pada Jihan.
"Oh iya. Gue lupa, belom dibalikin. Bentar ya, gue sulap dulu."
Drrtth..!
Ghost mengerutkan keningnya melihat diari tersebut berubah kenyal saat Jihan tempelkan ke perut. Buku saku tampak mengerut jadi kaca tebal berisi jarum penunjuk. Ghost mengamati 'kompas' ajaib di tangannya saat sudah Jihan berikan padanya, lalu disodorkan pada Al Hood.
Luna jepit pusat 'kompas', dia puter dengan telekinetiknya. Benda tersebut ter-spin, berputar persis mainan di online shop.
Rrrhh!
Sosok hologram merah terpancar menampakkan mahluk berkaki dua. Dia menunduk-nunduk ke arah Luna setelah menggerakkan tangan, berisyarat. Tak lama kemudian segera padam. Gwiit!
Rrrrrh!!
Luna percepat rotasi spin, 'kompas' tersebut tak memancarkan bayangan lagi. Akhirnya Luna hentikan. Set!!
Setelah 'kompas' dipegang Jihan, Luna men-diregen lagi pada Ghost, dadanya ditunjuk, kepalanya menggeleng. Luna juga melanjutkan isyarat, mengetuk-ngetuk punggung tangan dengan jari.
Ghost segera sampaikan terjemahannya pada Jihan. "Ini clue sudah lama ada di garis waktumu, laporan dan isinya bukan untuk dia, tapi buat kamu."
"Terus apa ini juga Pnin yang ditelantar Nia?"
Ghost berisyarat pada Luna, kelima jarinya disatukan dan dibuka-buka. Dia mengiris-iris punggung tangannya, lalu mengambil satu irisan, mencapit-capit jari.
Luna langsung mengangguk.
"Iya. Katanya, memang bagian yang dibuang dari badan."
"Hhh.." hela Jihan. "Valid. Jam berapa sekarang Giz?"
"Tuanku, sepuluh menit sudah terpakai. Minggu pagi, pukul sembilan waktu basetime."
"Luna, Ghost, makasih ya. Kami pergi dulu."
Luna dan si hantu cilik membungkuk badan.
Tubuh Jihan agak tersentak, memeluk guling di ranjang. Dia beranjak turun dari pembaringan setelah close-mind tersebut.
Di depan lemari, Jihan buka kancing piyama satu per satu. Bayangan di situ menutup wajahnya, menanyakan aksi yang berlangsung.
"Lo ngapain? Swer Dian masih rapat sama tim dev. Nih gue; Nay. Lo mau adu size apa, eksib gini?"
"Pantesan budeg gue kontek di dalem. Ya udah gue salin dulu."
"Dua jam kalo lo emang mo nyeberang ke mari."
Jihan sudah terbaring di kasur dengan tubuh terbalut celana jeans longgar dan kaos. Casual style. Dia onmind lagi.
"Kamar gue..?" tanya Jihan melihat-lihat sekeliling ruangan, tubuhnya sudah transparan.
Di situ tak seperti kamar, banyak perabotan rumah tersimpan di ruangan, di gudang tepatnya. Kamar ini sekarang agak kotor dan berdebu. Hanya diterangi cahaya luar jendela, dari balik kelambu.
"Nih kamar gue khan Nay?"
"Welcome, Kunti rumah," kata Nay, suaranya Diandra, dan masih bersandar di pintu kamar. "Ortu lo bahkan masih sedih. Tapi nih timeline Diandra."
"Sedih gimana?"
"Ya terpukullah anak satu-satunya, anak kesayangan, bunuh diri di kampus dengan sebotol sleep death."
"Iya. Dian cerita, gue overdosis di kampus. Dah dikubur juga. Tapi gue baru tahu kalo ini yang dimaksud garis waktu itu, Nay."
"Istilah-istilah dari Server emang ribet. Terserah, lo namain apa nyaksiin ini di timeline kami. Lo wajib skinchar di ini masa. Orang yang kenal muka lo, ntar lari jerit-jeritan."
"Ya udah, Nay. Anter gue ke Citymall. Di sono ada ruko bekas toko jam. Gue harus ke sana biar valid, keminimalisir masalahnya di mana."
"Ke tempat gue dulu, pake skin. Bapak lo lagi tiduran di bawah. Cepet sini, kedenger ntar mewek lagi beliau."
Di tempat tujuan Jihan turun dari motor, mendapati rolling door ruko terpasang spanduk "DIKONTRAKKAN, HUB: XXX".
"Valid kalo gini," lamun perempuan bertompel, lalu menyorotkan kamera hapenya.
Nay menurunkan besi standar di pinggir jalan. Dia menghampiri si Tompel dan menanyakan perkembangan kasus. Nay hanya menerima ponsel.
"Liat sendiri visualnya nih, di timeline gue."
Nay segera sorotkan kamera smartphone ke spanduk yang ada. Tampak layar hape menayangkan sebuah toko jam, tidak ada spanduk iklan. Saat Nay arahkan kamera ke tempat lain, tak ada perbedaan soal tempat dan fisik bangunan. Dengan kamera tersebut, Nay bisa melihat situasi dan kondisi jalanan dua jam yang lalu.
Visual dari ruko itu berbeda. Dua jam yang lalu sedang buka, tapi pada jam segini rukonya sudah kotor, berdebu, dan sedang "disegel" iklan.
"Bolong gini timeline lo? Apa lo udah laporan ke mbak Asma?"
"Udah," jawab Pipi Tompel. "Mana coba, liat pake hape si Dian."
Nay berikan ponsel tadi ke pemiliknya. Dia merogoh saku jaket, mengambil gadget majikannya. Setelah dia ambil, Nay diamkan barangnya, mengamati jam.
Tompel mendekatkan ponselnya ke smartphone Dian, tampak ada perbedaan waktu yang mana selisihnya dua jam. Gadget tompel jam 09:17, handheld Nay jam 11:17. Lalu Tompel juga minta Nay mengatur mundur jam timeline-nya ke minus 120 menit.
"Ih, kepo amat lo ini sih. Udah jelas juga."
"Udah Nay, cobain. Gue bilang cepet samain ke timeline gue."
"Ntar gue diomel si Dian lagi. Dah bosen gue denger dia; jangan gitu, jangan gitu. Gak usah ahh. Punya elo aja robah."
"Coba sini."
Set!
Tompel menyambar hape dari tangan Nay. Yang dipaksa tak sengaja menoleh ke jalan, sehingga dia membiarkan Tompel.
Si Tompel Pemaksa segera diulik setingan waktu di HH tersebut, miliknya sudah terselip di saku jeans. Semenit kemudian Tompel mengarahkan kamera ke depannya. Tapi..
"Ta.. daaa!"
"..?!!" Tompel diam kebingungan.
Di depan ruko, tahu-tahu sudah ada Marcel sedang berpose victori, mengacungkan dua jarinya. Marcel juga menjulurkan lidah, pasang muka random.
✌️😜
Nay menghampiri, ikut berpose. Dia berdiri manaruh tangan di bahu Marcel, tangan satunya mengacungkan tiga jari, pose metal.
Karena tanggung membidik mereka, di situ juga keduanya sudah berpose, Tompel segera menjepret lokasi.
Cekrek! Kedua gadis terabadikan jadi foto dengan latar toko jam UFO.
"Ya ampon, lo sejak kapan di sini Sel? Ngapain?"
"Liat coba bagus gak?" tanya Marcel, berjalan menghampiri. "Lo-nya bolot gue klakson."
Tompel melirik ke pinggir jalan, ada matic sudah terparkir di samping motor Dian. Marcel merebut ponsel dari tangannya, Tompel diam tak protes.
"Bagus nih kalo bertiga," komen Marcel, berhasil difoto dengan sweater gombrang dan celana jeans selutut. "Gizi lagi di mana, Han?"
"Dia ke tempat si pengontrak, mau nanya-nanya katanya soal toko ini, napa sampe pindah gitu."
"Ke mana tuh?"
"Dia di toko jam Harmoni, Sel," jawab Nay.
Marcel langsung memboyong, mengandeng Jihan ke pinggir jalan. Nay biarkan, sudah sibuk manteng HP, mengembalikan setingan waktu.
"Tungguin Nay, Beb," ingat Jihan saat Marcel menaikkan besi standar motor.
"Gak usah. Cepetan naik," pinta Marcel, sudah duduk dijok dan menstarter motornya.
Brrmm!! Brrmm!
"Nay! Lo mau ikut gak?"
"Duluan, aduh.. Duluan gih! Gue ngeset jam dulu!" sahut Nay tanpa melihat lawan bicara.
Tangan Nay tampak bergetar memegang ponsel Diandra, dia mungkin takut kena omel majikannya.
Tiin! Tii.. iin!!
"Iya sono duluan aja, gih. Duh.."
Tiiiin!!
Saat Marcel klakson lagi Nay tak melirik, tetap konsen, tak mau menyahut lagi.
"Kita tinggal yaa..!! Dadaaah!" pamit Jihan, tanpa dosa.
Brremmgh!!
"Apa kira-kira ada alasan lainnya selain tak ada pekerja, misalnya harga kontrak dinaikkan atau mungkin ruko kurang strategis?"
"Saya pikir ada tidak, Bu. Sudah sepi, tokonya selalu dia (karyawan) liburkan. Lebih baik ke sini lagi, sebelum Kakak saya menjualnya."
Dengan mengarahkan HP saja Jihan bisa tahu siapa sosok wanita yang sedang bicara, berpakaian formal serta secantik itu. Selain ketidaknampakan Gizi di layar kamera, dua jam lalu si pemilik toko sedang mengaduk kopi dan makan camilan.
Gizi masih tetap berbincang dengan si pemilik toko. Tompel alias Jihan menyudahi kegiatannya, memberikan HP dan memeluk punggung Marcel. Marcel masih duduk di sadel motor lalu dia selfie, menunggu Gizi selesai.
"Aduhai. Pencarian ini buntu, dia (pemilik toko) tak mengindikasikan suatu yang khusus. Kepindahannya atas inisiatif sendiri, Tuan. Tak ada petunjuk untuk membaca clue Pnin. Tak ada lagi yang bisa kita perbuat."
"Oh ya, Giz. Gue takut kalo crack ini ulah Jhid, nih pintasan. Dia gak ada di Panti, bolos nulis dan ngetik. Gue lagi sisir jejak-jejak dia sekarang."
"Jhid bolos, gak ada di Panti?" tanya Tompel, siapapun yang lihat wajahnya pasti ingin menampar biar stiker di pipinya lepas.
"Iya. Enik nugasin si Fitri buat nulis dan ngetik. Takut gue, kalo cerita Enik ada yang kelewat gimana? Astraler yang kena juga."
Nay memijit klakson, ketiga perempuan melirik kedatangannya. Saat berhenti di depan mereka, Nay mengacungkan sekantong makanan kuah. Tiga tamu timeline-nya kebingungan saat dia meninggalkan tempat.
Di rumah Diandra mereka duduk berlima. Ternyata Nay disuruh beli bakso oleh Diandra untuk menjamu teman-temannya. Semua gadis menikmati makanan kuah di kamar Diandra.
"Iya. Lepasin aja."
"Ahahaaa!! Dandanan srimulat."
"Gak, gak. Nih bukan skinchar masalahnya, tapi jeritan orang."
"Sama aja, orang kalo liat lo pastinya gemas."
"Bodo amatlah.. Yang penting kalaen puas."
"Wkakakaa..!"
Mereka tertawa dengan gaduhnya. Semenit dua menit, diam. Kemudian obrolan topik berganti ke timeline yang sedang dipusingkan.
Lalu Diandra menjelaskan sebab-akibatnya jika kebocoran tersebut Jihan biarkan, namun dampak yang ada tak begitu serius jika memang disengaja Pnin.
-
-
__ADS_1
-