
Di sebuah rumah makan yang tampak berantakan, Mercy membaca berita transmisinya. Dini hari di Cidekat, dia telah sampai pada titik radarnya tersebut dan jongkok di depan pohon.
Banyak bangkai bus dan mobil pengunjung di halaman parkir namun telah karatan, tampak sudah lama alias tak ada yang membereskannya hingga Mercy bertanya-tanya saat tiba di tempat sepi dan sunyi tersebut.
Mercy menapaki aspal. Mobilnya mengikuti di belakang. Dia berjalan dengan wajah tak gairah. Dengan AE di pegangannya, si gadis tampak elit bersama benda canggih itu. Tapi Mercy manatap jalanan dengan mata menerawang, sedih hati.
Tin!
Sedan di belakangnya kembali "menegur" Mercy, udara di situ dingin jadi Bro Car memintanya naik.
Mercy tetap bergerak membawa langkah di sepanjang jalan sepi itu. Dia mungkin memikirkan berita yang baru didapatnya, dan hal itu membuatnya tampak makin buntu, seperti terpaksa. Mercy lalu mengaitkan tali bedil ke punggungnya sambil terus berjalan membiarkan sedannya memanggil.
Hutan kecil yang dilewatinya melalui jalan raya tersebut tidak ada penerangan, banyak jangkrik. Mercy sekalipun belum peduli apa yang meledak di kejauhan sana, suara apa di sekelilingnya. Namun Bro Car tetap setia mengikuti tanpa lupa berklakson.
Tin..!!
Night walking mungkin pernah Mercy lakukan, sampai dua jam ini kakinya masih stabil bergerak. Dia meneguk air mineral yang diambilnya di mobil, dan sudah tak bersenjata karena tadi sudah disimpannya kembali dalam sedan.
".. gak tau apa gue bisa, Sel. Lo gak apa-apa khan?"
Subuh telah datang, Mercy menapaki jalan sepanjang malam. Saat ini dua kakinya terus bergerak walau tampak lelah. Hanya kesunyian dan bunyi klakson yang tetap menemani, di situ juga rumah-rumah tinggal puing agak ditutup daun menjalar.
Bruugh..!
Mercy ambruk, sedan yang menyorotinya pun berhenti. Beberapa kilo berjalan Mercy tak kunjung sampai maupun istirahat. Dia kelelahan dalam dinginnya hari. Bisa jadi Mercy mungkin mengantuk hingga kening dan wajahnya menumbuk aspal.
Jalan tersebut sepi tiada orang melihat selain bangunan dan puing rumah bekas terbakar. Langit agak biru terang di ufuk timur, semalaman menyaksikan si gadis hingga robohnya kini.
Jam terus berputar hingga pagi hari. Mercy terkapar di tengah jalan sambil tetap ditunggui sedannya yang setia.
Tesh..! Tessh!
Gludugg.. Gludugh!!
Srrhh!!
Hujan deras mengguyur jalan dan rumah-rumah hancur itu. Kilat-kilat menerangi siangnya di tengah siraman. Dedaunan, tanah, lokasi ini kuyup hingga tampak aliran di sisi jalan.
Di satu bangunan yang masih tersisa atap, Bro Car berhenti. Mercy berteduh sambil mendekap tubuhnya yang basah kuyup, dia mengigil.
Sendirian di tempat sunyi lagi hening, bahkan kini Mercy kedinginan, dia belum mau mengeluh.
Glu.. dugg!
__ADS_1
Kilat menyinari disertai suara langit, di keteduhan itu Mercy cuek mengunyah-ngunyah roti. Dia tampak lahap dalam kedinginannya, berjam-jam hanya meminum air. Mercy pun merogoh kantong belanja yang dia taruh, mengambil rotinya lagi, sarapannya pejuang gerilya.
Beberapa menit kemudian, Mercy sudah duduk bersandar. Dia teguk botol mineral, dan dia kembali menatap depannya dengan mata kosong menerawang. Lantai di situ dialiri air, Mercy jongkok di sebelah kantong bekal yang digantungkan di dinding.
".. Lo gak apa-apa khan?"
"Hikk.."
Mercy menyeka mata. Entah apa yang membuatnya terus melamun, tampak dia tak berdaya.
Airdrop yang masih terselap di kuping Mercy lalu bersuara.
"Sel, elo kenapa?"
"Hikk.. Uhuhuu.."
"Ya Allah. Ada apa Sel?"
"Gak ada.. apa-apa, Rey. Peng.. hiks.. pengen nangis aja."
Rey mengontek, rasa tak tenang pun diketahuinya. Namun kemudian dia hanya dapat sedikit jawaban karena Mercy yang justeru bertanya. Rey tak menjawab pertanyaan tentang persen portal yang dilontarkan si petapa, diam mendengarkan.
"Persennya pasti nambah kok. Dah inget, belum lokasi yang udah gue dapet?"
". . ."
"Gue pengen liat Kak Rei."
"Ya. Sabar. Jagain home gue di situ."
"Boleh tau gak.. soal Jihan?"
". . ."
Mercy mendadak bisu, tak menjawab. Ditanya soal begitu, dia langsung terdiam. Mercy bersihkan pipinya.
"Dia.. dia.."
"Iya..?"
"Dia kesel sama Raven mungkin. Makin ke sini dia makin mikirin gue sampai akhirnya mukulin, benci sama Raven, Rey.. Dia putus asa."
"Soal force ya?"
__ADS_1
"Iya.. Dia (Raven) juga sampai ngatain gue non-habitat. Hiks.. bikin dia (Jihan) terus inget sama omongan itu."
"Jihan nganggep lo pundung gitu?"
"Iya dia ngira gue berlarutan, dipikirnya minder. Kebawa umpan si Raven."
"Force nih riwayatnya dari Black Soul yang sering brutal ke gue. Kak Rei punya penetralnya. Ntar kita kasih ke Jihan."
"Hikh, kayaknya sih Gizi udah bahas penetral itu ke dia. Tapi keduanya malah jadi ngejarak."
"Dia (Jihan) jadi paradok ya?"
"Kayak gitu, Rey.. Pastinya dua-tiga bulan lagi dia bakal beda. Transmisi lain ke sananya pasti dari Gizi, bukan dari dia (Jihan)."
"Lo masih ngefans berat khan sama Erika di sini?"
"Banget."
"Apa Jihan pernah maen simul juga?"
"I-iya? Gimana lo bisa tau?"
"Gue ngerasain bekas kesedihan dia di sini. Sangat dalem sampe gue ngira nih emosi punya lo."
". . ."
"Ada pilu hebat di sini yang gak nenangin ati gue, Sel. Gue bingung, punya siapa."
"Hiks.. gitu ya?"
"Gue mau tanya, siapa gadis yang lo haluin pas semedi?"
". . ."
Mercy tak menjawab, rona kedua pipinya berubah merah.
"Jihan apa Erikarisma?"
"Hikk! Dua-duanya.. Uhu.. huu-uu."
"Dih, malah nangis."
-
__ADS_1
-
-