Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
chapter up 42


__ADS_3

Marcel lanjut mencium Jihan dengan tangan meraba pipi si teman. Dia jelajah rambut Jihan mulai dari jambang hingga terasa ada halus di sela jemarinya tersebut. Marcel diamkan tangannya, dia sembunyikan di balik rambut panjang Jihan.


"Hhh.. hhh.. Aaagh..!" engah Marcel, ada remasan di satu p*yudaranya, pijatan tersebut hadir seiring belaiannya di pipi Jihan tadi.


"Napa, Beb?"


"Sisain, Sayang."


Jihan senyum, betapa senang mendengar sebutan tersebut dari si elok, tangannya dibiarkan di situ, di gundukan kenyal yang lebih "terasa" ketimbang miliknya.


Lalu Jihan menempelkan badan serapat mungkin ke tubuh Marcel, mengungkap dengan aksi yang sepertinya ingin bersatu raga bersama si teman.


Tanpa disangka, Jihan mendapat dekapan yang lebih erat.


Keduanya melenguh bersamaan. Entah apa yang dirasakan mereka saat saling peluk dan mendekap. Mungkin sebuah bahasa tubuh para kisser yang ingin terus nempel, curah hati.


Siang hari di depan pagar bangunan tingkat, Jihan dan Marcel sampai. Seorang pria yang ber-PDL satpam keluar dari posnya. Kedua sahabat datang dengan motor matic yang Marcel setir, Jihan segera turun menghentikan obrolan mereka tentang Nina.


Di depan satpam..


"Assalamualaikum, Pak."


"Walaikumsalam, Neng. Ada apa, silahkan kalo mau tanya-tanya. Bapak hapal daerah sini."


"Ehh, gini. Kami mencari rumah temen. Alamat nomor satu a, jalan sini. Kami liat pagarnya nih, ada nomer tujuan."


"Ouh jadi mau ketemu Adek Tuan?"


"Iya Pak. Sanin namanya, Pak," angguk Jihan.


"Adek Tuan ada. Silahkan. Bawa masuk motornya ke sini, di parkiran dalem aja Neng."


Jihan mengidegkan kepala pada Marcel yang sedang menunggui.


Marcel menuntun masuk maticnya ke halaman garasi yang dibukakan satpam. Dia turunkan besi standar motor di sebelah matic tuan rumah.


"Adek Tuan minta saya supaya Neng-neng ini ke tangga saja. Silahkan lewat situ."


Di ruang besar ini, keduanya disuruh naik tangga. Jihan dan Marcel segera meninggalkan bapak tersebut. Dan dari tangga itu sudah terdengar musik dance.


"Dia di sini."


"Iya. Nih lagu dugem, Beb."


Jihan lanjut mengikuti Marcel menapaki anak tangga usai keduanya berdiskusi sebentar.


Di tengah jalan, seorang gadis 24 tahun turun menapaki tangga, dia segera berpas-pasan dengan mereka.


"Kakak! Kak Jihan. Kiraen masih di bawah. Ayo naik, Kakak-kaKak."

__ADS_1


Si gadis daster balik arah, mengajak Jihan dan Marcel.


"Njir, lo seksi Nis kalo di basetime," komen Jihan.


"Mumpung cuti, Kak. Sante gini enaknya masak-masak, nyobain resep mbak Canteen."


"Lo kayak ngejamu tamu negara," kata Marcel. "Padahal beduk magrib belom cetar, Nis."


"Tau aja. Aku kadang minta Pak Yuswar mesen online kalo Nina yang minta."


Mereka sampai di lantai atas. Musik sudah dipadamkan, di altar mesin dance itu Nina juga sedang mengelap-lap muka.


Selesai mematikan gamenya, Nina menghampiri Jihan dan Marcel yang masih berada di mulut tangga.


"Aku tinggal dulu ya? Kalian harus nyoba Canteen-nya rumah kami."


Nisa alias jins pergi meninggalkan tamunya di ruang ac ini. Dia tampak seperti kakak saat bersebelahan dengan Nina, majikannya yang masih belasan tahun, anak SMA.


Nina masih kacak pinggan di depan tamunya. "Dua orang barbar plus anti-bubar. Gue salah ngundang gak sih?"


"Gak, Bonin. Tuh kompas biar aja dulu sama anak Snail. Kita mau nebeng lab."


"Ha, lab apaan?"


"Lab syuting, Bonin. Studio. Lo kayak gembel nyasar bingung gini. Kita butuh info soal sounder sutradara. Nih command ada kaitannya Nin, sama Kencana. Kita dateng tuh bukan mau nyita rumah lo."


"Lo positif jago drama queen. Makanya kita hadir buat kursus sounder. Belajar jadi sutradara."


"Boleh. Tapi mbak Asma dewan ter-killer. Enik yang punya skill, dia (Asma) yang ngamuk-ngamuk ntar."


"He Sanin. Kita dah we a mbak Aas," kata Marcel. "Belum dibales, killer begitu dia juga sibuk, masih nulis naskah opeje kali."


"Belum dibales?"


"Sambil nunggu balesan. Kita mulai pelajaran dan materi sounder, Nin," bujuk Jihan.


". . ?"


"Iya. Kita mulai. Di sini atau di mana kelasnya?"


Nina masih menatap penuh selidik pada Jihan. Raut bingung bercampur jadi satu dalam wajah si Adek Tuan ini. Sebagai intel library, Nina merasa seperti sedang diprank.


"Datang-datang, degulin."


Tuing..!


Jihan pergi meninggalkan Nina ala preman di bumi Ultimate. Dia menuju kulkas yang lemarinya agak mirip shop-coin. Jihan tak peduli Nina kebingungan menatapnya.


"Kak, mending kita tunggu kompas aja."

__ADS_1


"Lo nungguin gue modar, kehausan.."


Setelah mendapatkan minuman, Jihan dan Marcel diajak Nina ke atap rumah. Di sana Nina menjelaskan efek dari kata keramat: KUN (jadilah).


"Ha, gak bisa diucapin di sini?" tanya Jihan.


"Silahkan dicoba. Ini protokol utama yang diucapin mbak Een pas nyiptain Server di ruang Panti, di mana semua dewan meeting."


"Gue coba ya. Bismillah.."


Sllpph!


Jihan hendak mengucapkan sounder word, tiba-tiba bibirnya langsung diselap jaring-kapas. Saat sumpal tersebut dia lepas, benda di tangannya Jihan amati.


"Njir dapet masker gratis. Nih kayak serat kapas, karet yang yang cepat kering. Ada si Tom Holland gitu di sini?"


Jihan menyapu pandang ke genteng-genteng rumah yang sebagian besar gedong dan bertingkat-tingkat. Tidak ada orang yang didapati selain bangunan bisu sekitar rumah. Jihan kembali menatap sumpalan di genggamnya, jaring tersebut menguap dingin jadi angin.


Whhss..


"Kecuali jadilah. Translate nih verbal arab-nya sensitif di basetime. Bisa mengacaukan tata waktu dan penghuninya. Katanya sih.. kiamat," jelas Nina, guru kursus pratik ilegal tersebut.


...****************...


- 😁 kayaknya seru kalo mereka udah segrup, jadi trio cetar


nb:


hai reader tercinta, berhubung kegiatanku di out-net nambah, dah punya jam kerja lainnya, jadi belakang ini cuma bisa update sedikit.


mau up banyak, tapi gak ngeh juga kalo nyepam gak jelas. Soalnya buat dibaca lagi sama aku sendiri.


Selama belum ada saran, kritik, atau masukan dari pembaca, novel gak bakal aku remake.


Sabar ya, nunggu up-nya. Belum ada garis besar, rangka cerita masih dipikirkan demi mencapai 300.000 kata.


Jadi genre novel ini bukan kerjaan santai, dan pasti aku bakal up sesempat mungkin tiap harinya.


Mending dikit-dikit daripada sekaligus tapi penghasilan gak pernah pasti.. kalo urusannya menarik banyak pembaca, genre "doremon" ini udah gak banyak diminati. Mending jadiin hobi, santai gak nge-deadline.


jadi mohon sabar ya nunggu up-nya.. 300k word itu intinya ada di rangka cerita, pasti jenuh baca uraiannya sekaligus.


. . baru mencapai 63 ribu kata di bab ini.


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2