
Dari menit ke menit Jihan belum mengganti kegiatannya, dia bisu menatap jalanan, mungkin masih memikirkan materi kursus, jemuran, atau tugas yang diemban.
"Dipendam terus, ntar stress lho Kak. Apa Kakak lagi keberatan?"
Jihan tak menyahut.
Nisa mengintip penumpang lainnya di cermin kap.
"Nina sama Kak Mercy kayaknya cocok juga."
"Dah lah, diem.. Nis."
"Oh iya fokus. Fokus ke Kakak satunya ah. Damage-nya itu aduh," ucap Nisa. "Unch..!"
Mereka sampai di villa, sebuah bangunan yang cukup mewah dan asri oleh pohon-pohon setempat. Mobil pun berhenti di garasi yang sudah terparkir minubus yang sama hitam.
Bregh!
Jihan menutup pintu, turun lebih dulu. Dia menggeser pintu untuk Marcel supaya tidak ada yang mendahuluinya, tidak direbut lagi. Jihan tersenyum pada sang petapa saat melihatnya.
"Makasih," kata Marcel, kemudian membungkuk beranjak dari duduknya, segera keluar.
Jihan menuntun Marcel turun, memegangi tangan si petapa. Dia perlakukan Marcel selayak Cinderella terakhir di planet Bumi.
"Awas kejeduk, Beb."
"Iya gue lagi pake wig. Takut lepas," akting Marcel sambil pegang kepala, pura-pura menjaga botaknya.
"Hhh-hhh..! Dateng dari jauh buat ngamanin bahaya."
Usai Marcel turun, Jihan sandarkan Mercy ke pintu. Sementara Nina yang baru keluar, diam menunggu.
Jihan menatap kelopak mata Marcel di situ.
"Lo buayanya, Sayang," ucap Marcel, tampaknya tahu Jihan akan berbuat apa terhadapnya.
__ADS_1
"Aku bahaya ya?"
"Iya."
"Hhh.. hhh.."
Jihan pandangi bibir tipis di depannya dengan gemuruh yang ada, gairah terpendamnya. Dia lihat Marcel pasrah ditariknya ke situ, aura mafia si petapa tampak sirna. Jihan segera melabuhkan mulutnya, menikmati bibir paling langka dalam hidupnya.
"Dua barbar gak kepisahin, welcome my villa, Kakak-kakak," komen Nina sambil melangkah pergi. "Gue periksa mummy dulu, gue tunggu di te ka pe."
Cyiiuph..! Cyipph!
"Hhh.. hhh.. " engah Jihan saat melepas ciumannya. "Kamu..?"
Marcel langsung angguk-angguk, dadanya sama sedang naik-turun. "Hhh.. hhh.. Kok banyak ngelamun si, sekarang?"
"Kelitik.. hhh.. hhh, Beb. Pengen duluan, cuma kamu yang baru megang," kata Jihan membuka kancing celana jeans.
Jihan raih jemari Marcel tanpa melepas tatapan mereka.
Jihan cimut dan meng*lum bibir sebelum Marcel bicara lagi. Dia sudah menuntun tangan Mercy, lalu dibiarkannya jari mulus tersebut merayap ke balik celana. Jihan menaruh satu kaki di tangga lawang mobil, melapangkan jelajah.
Marcel memiringkan kepalanya, menyambut k*luman dan permintaan Jihan. Dia leluasa menggerakkan jari-jari di "situ" karena keinginan Jihan sendiri. Marcel tetap kuasai kecupan dan ciuman mereka.
"Aaggh.. Beb.. Ummgh!"
Menit kedua, tubuh Jihan tiba-tiba tersentak. Dia mendekap Marcel, memeluk si teman dengan erat sambil menggerakkan pinggul beberapa kali di pose tersebut.
Jihan turunkan kakinya, merapatkan pahanya, mencegat tangan Marcel agar tetap di "tempatnya".
"Uumh! Hhh.. hhh.. Hiks.."
"Hhh.. hhh.. Lagi gak?"
Jihan tengadah, matanya kembali terpejam, tak bisa menjawab pertanyaan orang kesayangannya.
__ADS_1
Di toilet villa, Jihan rebahan, dia juga menggosok bahunya alias mandi. Dia tidak ikut Marcel ke lokasi mummy, yang katanya seorang lusid juga, Nina juga yang temukan. Jihan menyanyi dengan deheman, raut wajahnya kalem sekarang.
Tok! Tok..!
"Kak Jihan..??"
"Ehh.."
"Gerimis turun, Kak. Jemput mereka yuk?"
"Iya, Nis! Gue tinggal showeran nih."
"Oh ya. Kak Jihan kalo mau makan lagi, aku siapin mie cup. Mau gak?"
"Elo sendiri gimana, napa gak keliatan makan?"
"Ya udah Kak. Aku buatin deh sekalian."
"Ouh.. Oke, Nis. Thanks ya. Maafin gue, yang gak tau apa-apa, nih."
"Doa dong Kak. Biar gak ujan.. mereka gak bawa raincoat soalnya."
"Iya! Amin, Nis," jawab Jihan.
Jihan memberikan spoon, lalu beranjak bangun dari bathtub. Sayang kulit punggungnya kehalang tubuh Gizi yang sedang membantu "pengantin" agar tak jatuh.
"Kita tega gini sama si Bebeb, Giz. Moga gak ujan."
"Amin, Tuanku. Semoga saja tidak cepat turun," kata jins berbaju pilot F1 ini, membiarkan tubuhnya kuyup karena Jihan sudah membuka selang "hujan".
-
-
-
__ADS_1