
Keduanya tampak akrab di tengah kesunyian tempat. Walaupun itu hanya sebentar, Mercy dan Rey mengobrol, bahkan itu kerjasama dan memberi kepercayaan. Sang killer masih bisa dibujuk alias berhati fleksibel, tidak sok kuasa alias mahluk yang tetap terus belajar.
Mafia dengan skill antiragu nan tegas, skill rata-rata seorang pemimpin, tapi rendah hati segera masuk kendaraan usai menaruh nosel.
Bregh!
Brmm! Brrmgh!
Begitu Mercy duduk di kursi belakang, Rey menstarter. Si agen FOS membawa gadis yang dicarinya tersebut keluar pom. Rey pun patuh tampaknya mengerjakan yang Mercy suruh.
Nguueng!
Mobil sudah melaju 100 km/jam di tengah aspal pembelah hutan. Tentunya mereka bukan kabur, ada kepentingan yang tak bisa ditunda. Rey cukup menyakinkan dalam hal ngebut, bahkan lebih hapal kemampuan 'lain' sedan yang di setirnya hingga Kijang di tengah jalan itu lebur disorot red-halogen, penerang multifungsi.
Craash!!
Mercy tak melihat gangguan tersebut, duduk terfokus pada kalung. Ternyata Rey pun mengawasi, tidak terburu menunjukkan indentitas.
Bahkan di gudang itu, Rey membuat lingkaran untuk Mercy. Sang killer diketahui, telah dipastikannya membawa artefak. Tanda tersebut berhasil menjawab pertanyaan Mercy hingga killer berharap mendapatkan lingkaran lainnya lagi.
Sekalipun mereka tak pernah bertemu, Rey tahu jati diri Mercy lebih dari sang killer sendiri.
Nguueng!!
Desingan lewat bagai mesin F1 di depan tribun penonton. Jarum yang Rey lirik menunjukkan angka 120 km/jam. Siapa sebenarnya maling nyasar ini? Dia tampaknya taat pada pembunuh sekarang, mendadak Alfonso di arena jet darat itu.
Lahan luas di pinggiran jalan mencirikan tanah di luar negeri, yakni ladang Gandum. Namun traktor pe-manen di sisi lahan berkain Merah-putih. Entah di abad berapa ini saat seorang petani nasionalis bekerja lembur bertemankan lampu traktor seterang "ledakan".
Jalanan apa pula, hingga sejauh ini sedan antitembak anteng meluncur, belum juga melibas kerikil sebutir pun.
Brrrmgh..!!
Rey menderukan mobil saat di persimpangan, bahkan sambil berbelok. Apa-apaan, menggas tapi laju sedan pelan melenggang di tingkungan. Benarkah adat di lahan pertanian harus begitu? Jika iya, mungkin ini abadnya UFO crop circle. Rey juga mungkin memang iseng, hingga dia tak melihat lelehan tubuh dekat persimpangan itu mengepulkan asap tipis.
Nguueng!!
Hari telah fajar, langit samar benderang birunya di atas sana. Ke mana sebenarnya tujuan mereka, sudah semalam larut menempuh kiloan jarak masih juga ngebut hingga pertanian Gandum ini. Perjalanannya menghabiskan bekal makan dan minum.
Mercy menyandari pintu mobil dengan kepala agak menyembul di luar jendela. Barang bundar di tangannya masih di amati, bukan karet gelang, kawat di situ glowing. Kemudian saat Mercy membalikkan ke posisi "ekor" nyala lingkaran padam. Mercy balik kembali ke posisi "kepala", tepi permukaan si benda berkelipan.
Pagi telah tiba, menerangi aspal pertigaan yang agak lapang. Mobil meluncur pelan menghampiri belokan, menuju sebuah patok kotak pos. Rey menghentikan aktivitasnya di sini, membuat Mercy yang tengah santai mengerutkan kening sebab mobilnya berhenti.
"What's up?"
Rey hanya melirik Mercy, belum menjawab. Dia kembali memperhatikan kotak surat di sana. Rey biarkan Mercy membungkuk mengamat sosok transparan yang tampaknya mencegat.
"Siapa nih?"
"Sel..!"
Rey memanggil begitu Mercy turun dari mobil.
Bregh!
Mercy menutup pintu sedannya sambil memandang objek dengan diam dan seumur hidup membunuh baru lihat "arwah". Dia tak hanya gentar lawan musuh, tapi juga ingin tahu, tanpa ada takutnya.
Sosok tembus pandang menatap mereka dengan gusar dan tak suka, bolak-balik menunggui kotak pos.
__ADS_1
Mercy terjalar hawa panasnya, mendengus karena tatapan "arwah" kesiangan tak juga bersahabat.
"Marcel, tunggu..!"
Rey yang sudah ikut turun, merentangkan tangan di depan dada Mercy, sang killer datang dengan wajah sangarnya menghapiri wanita muda CGI.
Zwwtth!
Sang bayangan melesat pergi, perempuan asing itu segera terbang menghilang tanpa berkata-kata.
"Gak di sini, Sel. Tunggu tanggal maennya, lo belum siap."
"??!"
"Kita dah nyampe kok. Lo mau liat bawaan lo khan?"
"Siapa kalian nih? Pesuruh Erika?"
"Gue jins. Lo intel di alam kami."
Mercy makin tegang dengan jawaban barusan. Dia sadar akhirnya semalaman sudah semobil dengan mahluk halus, bukan utusan bintang hatinya. Mercy agak kecewa.
"Iya gue yang bikin lingkaran di tangga sama di gudang sekapan. Karena gue tau lo sering bawa surat tanah."
Rey kemudian menghampiri mobil. Mercy hendak bicara padanya tapi telat, sehingga akhirnya ikut jalan di belakang Rey.
Ssrr.. rrt!
Tanpa minta ijin, Rey menggoreskan kukunya di pemukaan kap mesin. Dia membuat lingkaran seukuran tutup galon.
"Surat tanah?"
"..??!"
Mercy menatap Rey penuh tanya. Tapi lagi-lagi Rey bicara sambil pergi.
"Kita dah sampe, di sana aja sekalian jelasinnya."
Rey ternyata masuk lagi ke dalam mobil.
Bergh!
Mercy tak mau tertinggal, harus segera bergerak dan ikut. Dia tampaknya sudah lupa dengan kecewanya bertemu Rey, kerena menolong Rey sama saja akan ada Erika versi ghoib. Mercy tutup pintu mobil setelah duduknya.
Bregh!
"Sertifikat. Warisan Pnin. Tapi Pnin udah bukan golongan yang pergi tadi."
"..?!!"
Lagi-lagi Mercy bingung, topik sehari-harinya adalah soal Macan, Naga, kawasan teritori, geng dan uang. Tiba-tiba dia harus mengerti nama dan jenis jins.
Brmmh..!
Rey menstarter piston mesin, mobil pun segera bergerak. Dia bawa Mercy masuk tikungan di situ yang tampaknya jalan menuju sebuah rumah pemilik ladang. Rey segera buka suara lagi sambil menyetir pelan mobil yang ditumpangi.
"Tenang. Ada Erika kok di sana juga," kata Rey, tanpa melirik lawan bicaranya. "Erikarisma."
__ADS_1
"Hhh.."
Nama tersebut sedikit melegakan Mercy di ketegangannya membawa artefak. Dia kembali fokus pasang kuping. Namun Rey sudah konsen menyetir dan duduknya terantuk-antuk.
Mercy ingin sekali Rey membahas panjang cerita sang bintang. Sang jins tahu nama lengkap idolanya. Mercy senang sampai ke pipi-pipi, dia ingin jadi bodyguard sang artis kotanya itu.
Tanah yang mereka lalui berbatu dan membuat ban mobil berdebu mengepulkan debuan kering yang lebih ringan dibawa udara. Mercy tak peduli, dia hanya diam dalam duduk manisnya menerka-nerka kata "bawaan" yang dilontarkan Rey.
Lima menit terundak-undak batuan, terlihat di depan sana sebangun rumah papan khas Mexico. Atap gentengnya bercerobong, halaman depan alias beranda rumah dihuni kursi panjang dari kain, sofa, berpagar kayu tipis alias jajaran papan.
Tampaknya bangunan tersebut sedang ditinggalkan pemiliknya. Entahlah sepi demikian mungkin juga karena si penghuni rumah sedang tidur. Mereka berdua akhirnya sampai juga di tujuannya ini.
"Hhh.."
Interior rumah tak begitu banyak perabotan, Mercy merasakan hawa yang bersahabat di dalam sini. Isi rumah banyak perabot, tapi ngepas dengan luas ruangan. Dapur, ruang makan, dan ruang santai berada di satu tempat. Kenal tapi seperti baru melihatnya.
Rey sibuk membuka karpet, memindahkan kursi dan meja untuk menunjukkan sesuatu di balik lantai. Dia sama lelahnya dengan penampilan lebam serta lecet di sekujur tubuh, pakaian dekil juga kusut lagi. Rey tak pedulikan penampilannya, beres geser-geser dan pindahkan perabot dia buka penutup ukuran peti mati.
Nnrrkkh..!!
"Sel," kata Rey. "Ini. Sini liat."
Mercy yang sedang asyik melihat-lihat lemari dipanggil. Dia segera mendekat, demi apa semalaman nge-ride bersama mahluk halus. Mercy pun melihat isi dari kotak seukuran peti.
Jreeng..!
Mercy langsung terdiam, sekilap kilauan kaca pelindung memancar. Kotak kaca itu berisi senapan hitam yang belum pernah dilihatnya. Mercy perlahan-lahan jongkok mengamati saking takjubnya.
"Nih lah arc electric yang lo cariin itu."
Mercy berdiri dengan nafas naik-turun, gemuruh sambil mencari-cari sesuatu. Dia jalan ke arah kursi, mengambilnya, minta Rey menyingkir, kemudian..
Swuung..!
Getrakh!!
Prakhh..!!
Kaki kursi hancur begitu dibantingkan pada peti kaca. Rey yang berdiri dekat situ merapatkan dua bahunya sambil tutup kuping. Sementara Mercy berkerut kening hantamannya tak sedikitpun menggores permukaan kaca.
Jreeng!
Kotak tersebut tetap berisi bedil, benda elegan nan langka senilai berlian, tapi masih terkurung.
"Hhh, hhh.. hhh.."
Saat nafasnya makin memburu, Mercy cabut pistolnya dari bawah ketiak, serta merta langsung menembaki kemasan yang mengurung senjata,
Dorr!! Dor!
Jdor!
"Aarrh!!" teriak Rey, jongkok menutup dua kuping sambil tutup mata.
-
-
__ADS_1
-