
Entah apa yang Jihan lakukan. Tanpa angin utara-selatan tiba-tiba dia menggigit 'kompas'-nya. Mungkin menyimpulkan diary miliknya dapat jadi senjata juga, jadi mencobanya dengan gigitan. Akibatnya di luar dugaan, 'kompas' tersebut malah melekat-padu dengan gigi Jihan.
"Nah tuh lepas," kata Marcel. "Gimana bisa nyelap gitu sih?"
"Gue liat si Bonin mencet 'kompas'-nya sampe bisa ngembang kayak gitu. Nih secret juga kayaknya punya gue. Pas gue coba gigit, gak efek," terang Jihan membahas "power glue"-nya. "Beton si Bonin khan ada di tangan dia. Red-stone gue ada di perut, makanya gue makan aja nih alat."
"Gue lagi survey sama Gizi ke tempat kunti lari itu. Jejak Jhid keputus di sana. Itu lima taon kebelakang."
"Mending kita minta nerjemah aja sama Luna," kata Nina. "Kita telat."
"Iya. Gue juga ada perlu sama Luna soal cave way. Kemungkinan gua ini yang mutusin jejaknya si Jhid."
"Ya udah kalo gitu para kakak sekalian, ayo kita cabut ke sana, nemuin Luna. Gue ngalong banget gara-gara timeline bolong, pengen namatin Ge Te A, Metal Gear Solid lima, belum Tomb Raider Survive, terus jug-"
"Heup! Lo tau Grand Thief Auto nih lagi jalan multiplayer. Trus juga online. Ada yang nonton malahan. Bagusan game ini Ukhti," komen Marcel.
"Gue kurang suka kalo game detiktif tuh, Sel."
"Detektif. Gak asyik kumaha, sih? Nih gue pegang bedil. Ada tembak-tembakannya. Mumet gimana?"
"Gue jomblo, Kak."
"Bentar gue nge-pack dulu," Jihan melangkah sambil memasukkan 'kompas', jalan melewati Marcel, dia juga membiarkan Gizi beringsut masuk tubuhnya.
Patung Rusa sudah selesai dipadatkan.
Jihan yang sudah memungut padatan langsung memindai si batu permata, menyinarinya dengan gummer.
"Sori deh kalo gitu. Ntar juga ngalamin sampe ngedadak halu, Nin. Gue sama Jihan lagi naik banget."
"Haa? Beneran kakak nih maen sama si Judes?"
Marcel diam tak menjawab, membiarkan pipinya merah-merah dipandangi Nina.
"Gue juga harus cohab sama siapa ya Kak? Pengen coba-coba."
Marcel makin bingung, dia tak ingin Nina meniru jalan mereka. Ingin jawab, tapi menunduk mencari kalimatnya terlebih dulu. "Mm.. mm.."
Jihan yang sibuk memindai batu, segera memberitahu hasil kerjanya. "Perhatian semuanya. Nih batu dibekuin enam taon yang lalu sama Ratu. Apa mungkin Jhid ngebuntutin Ratu ya? Atau dia telat, ketinggalan sampe nyasar?"
Marcel yang sedari tadi pegang bedilnya, menyimak laporan Jihan, langsung membidik ke depan.
Jihan yang ada di hadapan si petapa berdiri menghalangi sorotan, kemudian menoleh ke belakangnya.
"Lo nembak apaan Beb? Gak ada siapa-siapa juga."
Marcel turunkan Arc-nya, mengurungkan niat atas kepekaan yang terpicu dari instingnya. "Gerakan di sana tuh mungkin emang pengintai Han. Mending kabur gitu? Sebelum dia manggil balad dan kawannya?"
"Ya udah. Mending gitu, biar hemat waktu sama tenaga, Beb."
"Spear!" seru Marcel. "Tapi mereka mikirnya kita lagi nyari tempat tinggal. Kita diincer sebagai penjajah. Kolonial."
Thaang! Sear menancap di lokasi agak jauh, mendarat di lingkaran batu jajar.
"Biar aja, Sel. Gue duluan kakak-kakak. Jangan pake lamaaa!"
Seperti yang diperkirakan Marcel, sebaris kabut tiba-tiba muncul di jauh sana dan sedang bergerak maju. Marcel segera pergi sambil mengajak Jihan. "Itu para kuntinya, hayu buru. Cabut, Han!"
"I-iya. Itu mah halimun, Beb."
Di kediaman Luna, Jihan and friends muncul ala Antman, dari debu membesar jadi tubuh. Ketiganya masih berada di peron dengan perut masih tergelang benang merah.
"Nih dia tuan rumahnya."
Mereka mendapati Luna sedang mengelap kursi tunggu dibantu oleh Ghost.
Marcel datang menghampiri dua anak disista (dinas kebersihan stasiun) itu dibuntuti Jihan dan Nina.
Lingkaran merah di badan mereka hilang begitu mereka bergerak.
Sesampainya di depan tuan rumah, Marcel segera gunakan dua tangannya untuk 'bicara' langsung pada Luna.
Sedangkan Jihan dan Nina beda topik, jadi kedua lusid tersebut bicara pada Ghost. Mereka ada urusan mengenai bahasa parasas. Jihan menyodorkan buku kecil pada si bocah hantu abad Lectrin itu.
"Ghost? Hei..!"
Ghost yang sedang memandangi Marcel, melirik Jihan, dia meraih benda yang diasongkan, membiarkan objeknya empat mata dengan si tuan rumah.
"Iya. Dia emang gerilyawati yang bareng sama lo waktu itu. Marcelina."
"Apa dia sudah tahu soal cave way?"
"Emang buat masalah itu dia kemari, Ghost."
"Syukurlah.."
Tampak Ghost masih membuka-buka halaman buku dalam duduknya. Nina berada di sebelahnya. Sementara Jihan tetap pilih berdiri mewawancarai si bocah SMP.
"Kali aja kamu tahu huruf acak-acakan ini apa," kata Nina.
"Aku merasa ini hanya untuk penerimanya saja. Semacam bekal," terang Ghost, si tubuh asap.
"Tapi Ghost gue udah nyobain, gue banting-banting, gesek, pukul-pukul, gue masih gak ngerti juga," ucap Jihan.
"Hari kemarin, Luna bercerita padaku mengenai bekal ini."
"Oh ya?"
Jihan beranjak duduk di samping Ghost, rasa antusias membawanya mendekat. "Apa tuh kata dia? Gue pikir gak sekedar pesan, Ghost. Bisa jadi sebuah langkah antisipasi. Luna nyeritain apa ke elo?"
"Aku ingin kamu mengenakan ner-guard," pinta Ghos pada Jihan.
"Umm.. Oke deh."
Jihan langsung tahu apa yang dimaksud ner-guard. Dia segera menyentuh pusarnya, kenshin menjadi Jired tanpa harus berdiri dulu.
Qweetth!
"Udah nih. Terus apa?"
"Lihat saja, padan sekarang dengan bekalmu."
"Dengan buku ini maksud lo, Ghost?"
"Begitulah. Ini bisa disetir untuk mengisi ulang lightnov, bantu-bantu mereka yang kehabisan amunisi. Anggap saja ini Yoyo terbang," kata Ghost usai memberikan buku pada Jihan.
"Umm, jadi silau gini sih?"
Jihan mengamati diarinya sambil agak menyipitkan mata. Si benda sudah balik ke bentuk awal, kini jadi 'kompas' bercahaya.
"Tak hanya catatan, tapi juga merupakan alat tempur. Pesan aslinya, Pnin yang akan sampaikan sendiri nantinya pada kalian. Agar tetap rahasia."
Jihan diam membiarkan tangannya menampan.
Wrrhh.. Set!
Keping tebal itu ternyata memang bisa Jihan kontrol dengan pikiran. Sang 'Kompas' menggasing sambil mengambang. Jihan lalu sengaja lepaskan telekinetiknya, si benda langsung melekat ke jirah bagian tengah dadanya.
__ADS_1
"Mantap nih kalo gitu. Nih koin energi."
"Seperti itulah yang Luna ceritakan padaku."
Nguong!!
"Kalian liat nih, kayaknya lagi ada sesuatu."
"Ehh ada apa nih, Kak?"
"Apa Luna gak cerita soal Ekternal sama elo Ghost?" tanya Nina.
Ghost terdiam tak menjawab selain konsen melihat kereta.
Jihan ikut menoleh ke ujung rel yang Nina dan Ghost pandangi.
Kereta diesel datang membawa banyak orang dan sudah berjalan pelan di depan mereka.
Nguong..!!
Bunyi horn ini juga membuat Marcel dan Luna melirik.
Beberapa anak laki-laki dan perempuan duduk di atap gerbong.
"Iya nih sukarelawan defenders. Tapi pada mau ke mana?" tanya Nina.
"Jaga pager!" jawab seorang penumpang yang mendengar obrolan.
"Hay semua, gue ikutan dong! Biar rame!" teriak Jihan.
"Lo yang jalan! Kita jaga ranah!" balas salah seorang yang berdiri di pintu gerbong saat lewat.
"Haa? Ada apa ya, Kak..? Jangan-jangan Luna mau pergi ke pedalamannya."
"Iya gitu? Gue baru tau, Nin."
"Nih pernah kejadian pas rumor Delapan Malapetaka nyebar di komunitas. Gate ini gak bisa ditutup, harus di-defens Kak," kata Nina.
"Dulu yang defens nih pager, berapa orang emang?"
"Satu," jawab Nina singkat, mengantongi 'kompas'-nya.
Setelah kereta berhenti, penumpangnya mulai pada turun. Mereka membawa senjata dan jirah perangnya masing-masing. Tampak seperti hero-hero Hollywood dan Jepang yang hendak perang.
Jumlah mereka sekitar 150-an orang.
Nguong!!
"Hei. Keren, met jemput ya. Ati-ati."
Seorang gadis bertopeng datang menyapa Jihan. Tapi dia langsung pergi melewati, sementara kulit tubuhnya berkilatan cahaya dalam balut baju piyama.
Jihan pergoki si penyapa langsung turun menyeberang rel.
Ternyata para penumpang sedang berkumpul di peron pertama.
Mungkin si penyapa akan ikut briefing, nimbrung dulu bersama lusid lainnya di depan ruang pengawas itu.
"Hani! Ayo jalan..! Lo naik," kata Marcel di jendela gerbong.
"Ehh..!"
Nguuoo.. oong!!
"Nina gimana, Beb?"
"Gue jaga di sini, Judes," kata Nina dan dia langsung berbalik pergi menuruni peron. "Lo cepetan sana, naik gerbong, Kak!"
Kereta perlahan mulai bergerak maju. Klakson berikutnya mungkin menandakan bahwa kereta akan berangkat lagi, akan segera bergema.
Jihan tampak bingung.
"Apa yang kamu pikirkan sekarang?" tanya Ghost. "Naik saja dulu, Kak Hani."
"Oke deh. Eh, iya. Thanks ya Ghost. Lo tau di mana Luna sekarang ya?"
Saat Jihan cari Luna, menyapu pandang, dia tak ada di barisan defens. Saat mendongak ke atas, ke tepian kanopi peron, langit siang sudah terik, tak nampak lagi jirah raksasa di atmosfer sana.
"Dia nyetir," kata Ghost.
"Wooy, cepetan!" teriak Marcel, nongol di lubang jendela.
Di pintu kereta, Jihan sudah diam berdiri menatap pasukan defens memenuhi beranda stasiun. Dia lihat di sana Nina ikut barisan. Jihan masih heran apa yang sedang terjadi di Internal.
"Pada sibuk gini orang-orang. Mau kerja bakti gitu? Apa mau bakar-bakar sampah? Ada apa ya?"
Kereta sudah membawa Jihan pergi meninggalkan stasiun, sedikit demi sedikit kecepatan lajunya meninggi hingga sudah cukup jauh dari stasiun.
Nguuee.. eeeng!!
Sambil mengiringkan rambutnya, di lawang pintu gerbong Jihan dapat melihat rumah-rumah dan bangunan lainnya. Tapi dari rumah yang terdeka sampai yang ada di kejauhan, Jihan tak mendapati satu manusia pun beraktivitas.
"Bumi kapan nih? Apa bukan planet.. Anj*ng!"
Badan Jihan kejang saat Marcel sentuh pundaknya.
"Sori. Hhh-hhh!"
"Hhh.. hhh.. Kaget, njir."
Jihan dan Marcel berjalan di lantai gerbong kosong yang tak berkursi. Mereka masih di gerbong terakhir. Langkah mereka tampak cepat. Mungkin keduanya harus segera prepare sebelum sampai di tujuan.
"Sugar red. Lo matiin dulu uniform-nya. Kita mau silent ke Eksternal. Soal pager, biar defenders yang ng-attack."
"I-iya, Beb.."
Di pintu sambungan gerbong tersebut, selesai bicara Marcel lanjut berjalan membiarkan Jihan menyentuh perutnya.
Jihan harus menutup jirah-nya, tapi di situ juga Jihan masih kepo dengan pemandangan di luar kereta.
"Hani!" panggil Marcel saat berhenti di pertangahan gerbong. "Fast..!"
Saat sudah menyusul dan berjalan di sebelah Marcel, Jihan menanyakan pemandangan yang dibingungkannya.
"Beb, di luar sana tuh apaan sih, gak ada orang."
"Emang kosong. Ntar deh di Ekternal kalo emang mau liat penghuninya."
"Trus kalo loncat, turun kereta, bahaya gak?"
"Ya danger. Nih perbatasan."
"Gitu ya?"
"Tapi masih bisa keakses sama Server buat keselamatan lusid. Lo ngapain loncat? Mau renang?"
"Gak. Bukan sih, napa nih planet dijejeli bangunan dan rumah kosong. Hening kayak pemakaman gitulah."
__ADS_1
"Boros xmatter. Lagian Luna gak butuh pemandangan yang hidup-hidup, yang bergerakan. Makanya nih Bumi jadi polos, gak ada kehidupan manusia di sini. Dianya emang belum mau."
"Kita beneran ya mau jemput? Tapi mau nemuin siapa?"
"Jhid. Dia penting lantaran dia kuncinya si Black Soul. Sekarang masih aman di rumah Pnin. Tapi dianya, ke sana tanpa ijin Luna."
"Nyelonong?"
"Iya. Lewat cave way yang dipikir miliknya itu. Tuh palsu, bukan gua McWell. Harusnya gak arah sana dia."
"Jadi beneran dia tuh lagi ngikutin jejak Ratu?"
"Iya. Tapi gak nyadar sekitarnya. Lo tau khan geng-nya Dlang?"
"Terusin."
"Luna masih nyisir sisa kawanan para spion. Mereka masih ngumpet dan sembunyi-sembunyi dari dia. Aksi mereka tuh baru keliatan lagi sekarang. Cave way ini."
"Yang ngehapus jejak Jhid itu ya, Beb?"
"Iya. Dia niatnya tuh mau datengin tempat-tempat para pengintai Internal berdasar catetan Pnin ini, Han. Padahal sudah ada Rei di lapangan."
"Berarti Ratu tuh lagi bantuin Luna nyari para mata-mata?"
"Iya. Tanda yang Pnin taro di timeline kalian berdua tuh, kata Luna nunjukin keberadaan lokasi, dan nomand-nya para spion. Tapi sekarang, yang gak aman nih si Jhid."
"Iya juga. Trus napa diserahin tugas ngurung Top Qarrat coba?"
"Dia digadang-gadang bisa bangunin Rey dari koma. Sekaligus namatin riwayat Black Soul. Rey sama Jhid ini harus duet. Tapi Rey-nya belum siuman. Maka sambil nungguin waktunya tiba, Jhid gak boleh keluyuran dulu."
"Jadi tuh aki-aki bisa duet ya sama sodara ultahnya Ratu?"
"Iya. Moga aja bisa angus si Black Soul. Biasanya, sub-dewan akurat baca jejaknya Indri, Han."
Krrrttkh..!! Ggrrkkh..
Di stasiun dua peron, Marcel mengamati batang akar yang baru keluar membelit lokomotif. Dia sedang patroli di lokasi yang misterius ini, di mana sudah banyak akar yang tumbuh melilit bangunan, memblokade rel depan, lagi gelap. Dia pergi melayang meninggalkan tanaman monster tersebut.
Marcel mendarat di halaman jalan depan stasiun. Dia menutup pedang yang dipegangnya lewat handle bawah.
Craang!
Marcel diam membiarkan mahluk dengan kulit merah menyala membelitkan akar yang lentur ke tubuh Al Hood. Bahkan dia mengawasi sekitarnya lagi, melihat ujung jalan dan menengok ke arah belakanh. Marcel mengambil senapan yang masih menggantung di punggungnya.
"Grrooadh..!"
"Luna berat kalo pingsan. Percuma juga kalo dibawa terbang. Lo ikutin aja lampu guide dari tanduk lo itu. Gak perlu bicara di Eksternal nih. Gunain hawa psikopat lo kalo ketemu golongan yang masih lestari."
Marcel membidik tanduk Pnin yang sedang diraba-raba pemiliknya.
"Heh.. Diem dulu."
"Grroadh," seru Pnin, menatap Marcel. "Greaaddgh.."
Dziiieew!!
Si mahluk terdongak kepalanya saat ditembak. Mulut sang monster ternganga sambil menggoyang-goyangkan kepala. Gerakan tersebut membuat pundak Marcel bergetar.
"Groaah.. groaakh..!"
"Hhh-hhh..! Najis lo. Mending si Tompel."
Rrrikkh!! Pecahan tanduk meloncat dan mantul di permukaan tanah bagai makanan yang sedang digoreng. Bara tersebut makin bersinar. Setelah diamnya itu sang gading naik. Saking ringannya, Guide mengudara setinggi dada. Lampu tersebut bergerak ke depan.
"Dah. Tarik. Gue jaga di sini buat ngontek yang laen."
Grsekhh! Greskkh..!!
Tampak Hulk merah menarik bebannya bagai menyeret gedung, berat. Massa tubuh Luna tak seperti ukurannya yang di bawah 30 kg, menarik tubuhnya seperti menyeret kapal laut karatan.
Bunyi seret demi seret terus mengiring laju lampu penerang. Si benda pergi memandu Pnin meninggalkan stasiun, memasuki kota yang tampak modern namun sepi di malam hari ini.
Penerangan jalan cukup terang, persimpangan tersebut membuat fisik sang monster mengerut, bagian atas sudah berupa tubuh manusia, dua kakinya masih bercakar Raptor. Pnin tak mempedulikan badannya karena Guide sudah agak jauh di depan sana, menyeret Luna di aspal jalan raya.
Greskkh! Grreeskh..!
Saat Guide sudah tersusul, sang lampu tak juga bergerak di persimpangan kedua ini. Padahal tak ada satupun kendaraan yang menghalang atau lewat. Pnin menengok ke jalanan kanannya, ada beberapa remaja di kejauhan sana tengah mabuk bersama geng.
Sllpph!!
Sebatang panah kaca menancap di mata kiri Luna. Pnin yang melihatnya membiarkan, dia hanya mengibas tangan.
Takks!!
Prantang..! Taang..
Anak busur yang ditangkis Pnin jatuh di dekat TKP. Saking beratnya kaca yang melesat tersebut, kontaknya membuat kulit lengan Pnin ber-api, jejak sentuhan. Dia lihat lagi benda keras yang sudah tergeletak dekat trotoar, tidak terjadi apa-apa alias utuh. Begitu juga dengan mata Al Hood, anak vampir itu tetap tidur.
Ckiiit..!!
"He, mau ke mane lo heu? Masuk kaga bilang-bilang. Berani amat lo jalan di kawasan gue. Mau mampus lo, heu.. Cari mati?"
Bugh!
Whuung!! Bbrrakh!
Pria yang berhenti mengelebat, menghampiri Pnin yang sudah berupa manusia.
Korban gagang busurnya terlempar ke samping, menabrak pagar beton, si pemukul lalu mengamati Luna.
"Boneka ginian lo jual. Mana laku ada muka-haramnya gini. Dasar pemulung."
Saat masih rebah di puing runtuhan, Pnin mengamati kakinya. Sudah ada jari, berganti fisik jadi manusia batu yang mengkilap. Dia duduk mengamati piyamanya yang turut memerah, sekaligus memeriksa sisi badannya yang baru dihantam.
Ckiit! Si pemanah berhenti lagi di depan si gadis.
"Mau ke mane lo heu? Bayar dulu. Kalo kaga ada duit, mata, jantung, paru, sama ginjal lo taroannya. Ini kawasan gua!!"
Gadis keramik hanya memandangi si tampan. Entah mengerti atau tidak, dia tak juga menjawab selain duduk terdiam. Dia melindungi muka dengan dua tangannya, karena si pemuda memukuli lagi dengan busurnya.
"Gak usah liat muka! Cuci sana tampang lo!!"
Buukh! Bukh! Bukh!
Si pemanah melampiaskan muaknya tanpa ampun lagi. Dia gunakan busur logamnya untuk menghabisi kepala gadis yang dia sebut pemulung. Abang muda yang tampan tak suka dilihat.
Bugh!
Bugh..!! Bugh!
Perut si gadis diinjak, dia terus dihantam-hantam besi wajah dan tangannya. Dia tetap membisu dalam penganiayaan tersebut. Tampak kulit tangannya sudah robek dan terkelupas.
Crratt..! Praatt..!
"Gembel kotor! Borok! Tikus buduk! Muka celeng! Daging busuk!"
Bugh..! Bugh! Bughh..!!
__ADS_1
-
-