Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
chapter up 010


__ADS_3

Jihan berhenti saat di depan Marcel, begitu juga kegiatannya meneguk air sambil jalan. Bibirnya tampak segar dan sudah basah.


Marcel terdiam menatap, begitu juga Jihan, sudah berhenti memutar penutup wadah.


Jihan hendak menyeka bibirnya tapi baru saja tangan bergerak dan terangkat dekat dagunya, Marcel menangkap tangan mulus itu.


Teph..!


Jihan belum juga berkedip.


Mata, hidung, dan kening Marcel, Jihan lihat, tapi lagi-lagi tertuju pada bibir atas si petapa yang juga ada bekas air. Warnanya pink, licin pernah lama Jihan kulum karena ada manis-manisnya.


"Ummh.."


"Mmhh..!"


Wadah air jatuh, tapi bukan tumpah..


Jihan dan Marcel bercumbu, entah siapa yang memulai, mereka sudah merapatkan badannya, saling mengulum. Lenguhan pun mengalun dan terdengar gemuruh di situ.


Masing-masing tangan mereka, melingkar di leher, tangan pasangan mengunci badan agar tetap rapat.


Kepala mereka agak serong dan tidak berubah posisi lagi. Keduanya betah di posisi tersebut, tanpa lenguh yang terburu.


Pipi Marcel masih bersemu merah karena tangan Jihan sedang di "gundukan" dadanya, jemari sang lusid bergerak-gerak.


Tangan Marcel naik ke situ, mengunci jari-jari Jihan dengan jemarinya. Jihan tak lagi memijat-mijat.


Tangan Marcel yang satunya mengendap ke bawah perut Jihan. Tapi keburu dicegah dan Jihan menyatukan jemari agar tangan si petapa tak "ngelayap" lagi.


"Uu..mmmh.."


Kepala mereka berganti posisi.


"Mmh.. hh.."


Nina masih berada dekat pohon dengan pipi sama merah atas pemandangan yang ada, matanya mengarah pada tangan Jihan.


Nina lihat para kisser tak juga melepaskan ciuman.


"Hhwa.. aaa!!"


Jihan dan Marcel mematung.


Mereka bertiga selesai dengan tugasnya. Sudah ada lingkaran batu walau baru tiga ratus derajat. Sisanya itu mungkin masih on the way. Ketiganya sudah duduk menunggu sambil menonton forest teather di sisi lingkaran.


"Gue diutus kemari," kata Cepak sambil terus melangkah di antara para defenders. ".. senior gue yang suruh, dan gue juga senior."

__ADS_1


Di situ belum ada yang bicara sejak kedatangan Cepak, mereka batal pulang demi mendengarkan sang soloter.


Cepak hadir setelah Luna selesai memadatkan patung manusia pohon. Cepak berteriak saat munculnya di tempat Al Hood menghilang.


"Ini si cupu-nya, Kak?"


"Iya dia nih yang gagal kita rekrut waktu itu, Nin."


"Nanyain gue mau ngapain sih?"


"Gak tau."


"Nih cupu tau isi Internal, tapi buta kaum Eksternal."


"Namanya juga soloter anyar.."


"Dengerin lu-lu ini, gue ada sepuluh junior. Terus nambah tiga. Lo tau, gue kasian ama lo semua diharusin patuh. Bangun lah. Jangan pada ngiler sama sumber yang ada di sini."


Salah seorang yang terdekat menghela nafas. Dia berbalik pergi, yang mana laser merah di perutnya muncul memasukannya ke gerbong 7.


Swuutth!


Swuutth-swuuth! Dua orang menyusul dan sama-sama melesat menuju gerbong saat digelangi Epsi.


"Makanya.. Sampaikan ke dewan kalian, naikin harga jual, perih, dan keringat lu. Sampaikan pada mereka.. beratnya mendapatkan stone.."


"Minim kalo dirupiahkan. Lo semua recehan. Jerih payah kalian dikorup. Lo semua bakal tau tempat jualnya stone kalo ikut gue.


Dikit kerjanya. Dapetnya banyak, lima cewek gue, nempel terus, pangeran impian lu-lu ada di sini kalo kalean ikut gue.


Naikkan harga jerih payah lu."


Nina menyikut Marcel dengan dagu diarahkan pada Jhid. Si pikun sudah sibuk menyusun batu-batu. Marcel hanya minum dan kembali nonton.


Cepak balik badan dan kembali berjalan-jalan mengabaikan lusid-lusid yang berkelebat pulang, diantar FinalCutter menembus gerbong 7.


Di situ masih banyak orang yang tetap bersedia mendengarkan aspirasi sang soloter.


"Gue kemari buat ambil alih kawasan Pnin ini. Sampaikan pada dewan kalian.. tantangan gue ini. Kalo gak dewan, lu semua juga boleh serang gue sekarang. Lu semua tau kalo gue serius gak lagi make stone. Serang gue.. Gue tantang lo-lo pada.


Makanya denger dulu.. Gue tau lokasi stone dijual mahal. Lo lo bisa ikut gue.."


Setelah Jhid beres, akhirnya mereka selesai membuat lingkaran batu bergaris penuh, dan diameternya sepanjang tinggi badan Jhid.


Si pikun menepuk-nepuk bekas debu dan tanah yang menempel di kulit tangannya. Dia menengadah, tampak langit sore menunjukkan pukul lima.


Di kala tontonan masih berlangsung, Jihan dan Nina memberikan buku kecil pada Jhid karena sang jins memintanya.

__ADS_1


"Eerggh.. Ngagetin aja..! Nih, ahh," protes Jihan yang pundaknya ditepuk, kembali berbalik untuk fokus menonton.


Jhid biarkan mereka lanjut menyimak rekaman sambil membuka lembaran pertama dari buku yang baru diterimanya. Dia cabut alat tulisnya yang terselip di sela kerah baju, lalu menaruh ujung pulpen.


Halaman diary yang ber-water mark wajah Luna tersebut basah dialiri isi pulpen, Jhid mendiamkan tangannya agak lama.


Wrruutth..!!


Tinta dalam diary langsung mancur menyembur, Jhid terjatuh saking kagetnya. Benda tadi sampai terlempar seperti meloncat dari tangan hingga ketiga lajang di situ refleks berdiri, bahu naik-turun.


Para gadis yang sedang asyik duduk, langsung protes. Padahal rekaman bisa dijeda dan sedang terkondisi diam saat ini.


Habis protes, Jihan juga kemudian jalan dan menjambak rambut Jhid sambil diputar-putar, si galak pun mendorongnya.


"Sengaja lagi, jadi urusan panjang lo," ketus Jihan, mengancam. "Lo ngapain sih?"


"Sori.." kata Jhid dalam duduknya, menaruh tangan di lutut dengan wajah bingung, tak berani melihat.


Mereka yang menonton bergetar pundak melihat Jihan kacak pinggang. Jihan juga mengarahkan tangan ke arah buku tergeletak. Setelah diari terpegang lewat telekinetiknya, Jihan lempar ke rambut Jhid sambil terus memaki-maki.


Tukh!


"Kerja sih kerja, gak usah mecahin jantung gini!"


"Iya, deh. Sori, Non. Gak sengaja. Tau, ah.. Bodo amat," timpal Jhid seraya memungut ballpoint, lanjut meneruskan kegiatannya.


"Sori, sori! Ta pecahin ndasmu tuh.." balas Jihan melogat-logat jawa, pundak pun bergetar. "Hhh-hhh..!!"


Marcel ikut merapat saat Jihan hendak pergi karena Nina juga turut datang.


"Mending kita liat aja, Han," kata Marcel sambil menggaruk-garuk kepala. "Kusut nih otak. Ntar deh gue lanjut habis nih aki-aki beres."


Di depan Nina, Jhid dalam duduknya tersebut segera menjawab pertanyaan sang gamer.


Melihat Jihan dan Marcel duduk menghadap Jhid, Nina ikut bersila sambil terus menyimak penuturan si pikun.


"Sini Beb, aku rapiin rambutnya," pinta Jihan menyentuh-nyentuh paha dalam lipat dua lututnya, karena dilihatnya Marcel masih garukan tak jelas.


Marcel menurut, segera membaringkan badannya di tanah dan menaruh kepalanya di pangkuan Jihan. Marcel tuntun tangan Jihan ke kulit kepala, sang lusid segera menggaruknya.


"Di sini khan ya?" tanya Jihan sambil memposisikan kaki lebih rapat dan dekat ke tubuh Marcel.


"Hu um," kata Marcel sambil turut memposisikan kenyamanannya, posisi badannya jadi agak menyamping.


Cwuuph!!


Jihan langsung ambil kesempatan, mengecup pipi Marcel.

__ADS_1


"Makasih, Sayang."


__ADS_2