Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
chapter up 002


__ADS_3

Penelusuran dilakukan untuk mencari saksi lainnya, yang mungkin tahu cara mengembalikan visual ruko. Pasalnya begitu Jihan masuk, berkunjung ke toko UFO, aktivitas di jalan raya dan orang-orang berhenti sejenak.


"Ke-pause beneran, Yan?"


"Ya waktu berhentilah Han buat nambal scene yang kepotong itu. Begitu juga pas lo ke luar toko, semua ter-pause kalo lo emang lihat ke jalan."


"Mata gue gelap bentar, Yan."


"Itu dia pause-nya, Han. Asma ngejaga indentitas lo bisa dengan banyak cara. Salah satunya ditambal pake adegan tamu yang datang tekan bel, lalu pemilik ruko bukain pintu. Atau apalah yang bisa dibilang scene buatan."


Hari pertama itu memang ada tukang parkir tak sengaja melihat Jihan membuka pintu ruko. Di situ juga ada orang yang beres menyeberang dan melihat kegiatan si gadis. Sore hari jalan raya cukup ramai hingga Jihan tidak tahu ada yang sedang memperhatikannya.


Jihan hanya berjalan masuk toko. Dia tidak membuka pintu ruko seperti yang orang lihat. Begitulah yang Jihan katakan.


Marcel menyebut kejadian tersebut sebagai crack. Walau itu suatu kebocoran di timeline, tapi masih membuat indentitas Jihan tetap aman dan terjaga. Sementara Nay menyebutnya auto fix.


Di ruangan kotak, Jihan duduk menunggu bel Boarding alias income. Dia buka-buka halaman mini book yang dikepo. Gambar di situ tidak berubah, tiap lembarnya terdapat watermark wajah bocah bertudung. Jihan tutup buku Pnin yang memang tak jelas, dia masih duduk meniduri siku kirinya.


"Lama amat."


"Tunggulah barang sebentar, Tuanku. Dia (Nina) belum menonaktifkan private live-nya. Hamba pikir mungkin masih dalam jadwal Boarding."


Gizi yang duduk di tepi meja menggaruk-garuk kepala majikannya. Jihan diam tak menanggapi. Gizi ganti acaranya, kini mengelus-elus kepala Jihan.


"Jam berapa sekarang, Ndan?"


"Hari Senin, pukul delapan malam lewat empat puluh lima menit, waktu basetime. Lima belas menit menjelang waktu tidurmu."


"Kita ngapain lagi ya.. Kita dah makan, dah kerja, stalking si Bebeb, nyatet sale, doa. Mau nyempetin bongkar buku, waktunya malah buntung. Cuma karena dikepo buku sampe kita gabut linglung, coba."


"Tak ada komentar. Hai Tuan Muda. Engkau datang lagi rupanya dengan perihal serupa."


"Aku pantang mundur Giz."


Mendengar seorang anak laki-laki datang, Jihan segera duduk bersandar. "Hei, gimana kalo gue gelarin elo pake nama Tesla?"


"Aku datang lagi buat ini, bukan buat gelar, Han," kata si pemuda selesai menaruh barang di meja Jihan. "Aku mau cocokin barang sama ukuran aslinya."


"Hhh," Jihan meraih buku Pnin, langsung dia taruh di perutnya. "Thanks dah ikut kepo."


Grrtth!!


Jihan menaruh 'kompas'-nya di dekat barang yang sama. Dia segera bersandar lagi. Jihan diam menunggu, penuh yakin di sebelah Gizi yang masih berseri-seri.


"Tolong ukur diameternya, Nops. Pake satuan mikrometer," pinta si pemuda pada bintik cahaya.


"Elo yakin?"


"Yakin dong. Telkin yang laen dah pada close-mind, Han. Tinggal lo yang masih ngalong."


"Nih aji mumpung dong, bukannya uji untung. Hei, apa beneran cuma gue? Gak ada Batman?"


"Tadinya mau ke rumah Luna aja, Han. Tapi khan liat.. dia masih hunt gini, lo masih income di sini."


Ddiit!!


Meja berbunyi begitu teks ONHUNT disentuh si Tesla.


'Kompas' Jihan masih dalam pemindaian tica, barangnya ternyata ditiru oleh anak snail. Jadi kini ada dua diary.


Tak lama bintik cahaya keluar dari dalam 'kompas'.


Titik cahaya berkedipan warna pelangi di depan majikannya yang sedang kacak pinggang menunggu. Si pemuda berdesah.


"Ahh, sial. Minus satu mikro."


Bintik cahaya kelap-kelip lagi membicarakan hal itu.


"Nops.. Nops. Oke, gak ada salahnya dicoba, Nops."


Lalu Tesla minta Jihan mengendalikan barang buatannya. Dia ingin Jihan menyalakan hologram lewat alat rumusannya itu dengan daya telekinetik persis tenaga Luna. "Bisa jadi itu yang nentuin daya tahan barang, Han."


"Bukankah masih lebih kecil dari yang seharusnya, Tuan Muda?"


"Iya lo yakin gak, nih bisa manteng?" tanya Jihan, menyambung kalimat Gizi.


"Gue bawa ke ruang tester sih emang ngeraguin juga."


"Khan.. Lo bikin lagi barangnya kalo gak yakin gini. Gue onmind kok, sore dan malem habis isya."


"Udah kamu puter aja dulu, Han. Jangan dijilat ya? Pasin sama daya telkin-nya Luna."


Rrrrrh..!!


"Hhh, ya udah. Terserah lo sih kalo emang maunya dirusak."


Seperti yang dipinta, agar tak terjadi debat, Jihan mendekatkan tangan kirinya ke 'kompas' yang ditargetkan, tangan satunya mencapit titik tengah kompas.


Gizi memberitahu nilai tenaga yang Jihan kerahkan.


"Naikkan, sekira kau menahan nafas. Tahan nafasmu sekarang, Tuanku."


Rrrrrh!!!


Gliitt!


Hologram memancar dari kompas buatan. Bayangan yang muncul dari situ adalah sebuah logo, yang tak lain planet Saturnus. Tapi Tesla minta Jihan menghentikan acaranya.


"Stop, stop..!"


Set!


Kompas langsung berhenti, jarum-jarumnya diam di akhir kata. Jihan taruh si benda dekat 'kompas'-nya, segera duduk bersandar ala dewa judi.


Objek yang Jihan taruh tersebut sedang ditatap oleh si pemuda tanpa kedip.


"Tiga detik.. empat detik.. lima detik.. enam detik.."


Bwuu... ushh!


"Aargh..!"


Pundak Jihan terguncang melihat ulah Tesla, si pemuda mengerang jambak rambut layak orang kalah taruhan.


"Hhh-hhh!! Gak apa-apa, lo dah hebat sampe bisa niru gini, Bro."


Tesla mengambil alatnya dengan badan lemas. "Hhh.. Belum. Aku belum mau ambil barangmu ini, Han."


"Hei.. Emang gimana sih caranya, jadi bisa keluar logo gitu, Bro?"


"Power di tengah tuh lampu, Han. Jarumnya gambar Snail. Udah tuh pas diputer jadi deh hololamp. Thanks."


"Hologram..!"


Tesla melangkah pergi dengan wajah galau, diikuti kunang-kunangnya.


"Iya sama-sama. Lo jangan nyerah yaa."


Tak ada sahutan. Jihan sudah duduk menghela nafasnya karena sama gabut oleh objek antik di mejanya itu. Dia benar-benar harus mencari penerjemah lain di saat Luna tak membuka kursus untuk bahasa anak buahnya yang abstrak seperti ini.


"Hhh.. bener-bener abstrak nih alam."


Tii.. lilitt!


Brugh! Jihan mengebrak meja. Dia menoleh saat tetangganya berkelebat masuk portal. Jihan tambah lemas.


"Dapet lagi si Mawar."


"Demikian income terakhir kita. Hoaa.. ammh. Hamba telah masuk waktu, Tuanku. Assalamualaikum.."


Gizi berjalan ke luar ruang tunggunya. Dia tak melesat saking berat kantuk yang dialaminya. Gizi pun menghilang dari pandangan Jihan.


"Iya, Ndan. Walaikumsalam.."


Jihan membuka laci meja, sementara diary masih tergeletak. Dia mengambilnya dan dimasukkan ke situ. Isi laci tampak seperti milik seorang klepto, ada kartu-kartu bergambar hidup, pulpen karet, gasing, atau mainan lainnya yang sangat disukai Jihan saat menunggu. Jihan ambil hapenya dan segera menutup laci.


"Matiin meja, Seed."


Dditt..!


Monitor kerja segera menurut, padam begitu disuruh. Jihan juga sudah meninggalkan tempat saat penerangan di ruang tunggu jadi gelap, padam sendiri.


Di Escort-nya, Jihan dapati pintu gerbong kamar masih terbuka hingga dia bisa melihat Gizi terbaring menyamping terpejam mata. Jins juga ternyata butuh tidur. Jihan segera memegang Spear di sebelahnya, close-mind.


Badan Jihan agak tersentak di ranjang kamarnya. Benda gepeng yang sedari tadi dipegangnya terbawa ke alam sadar. Jihan nyalakan dengan dua ketukan di layar.


Taph-taph!


Jihan mengetik pesan WA di nomer ber-picture huruf M, dua kakinya masih membelit guling. Dia mengirim ucapannya untuk nomer tujuan, lalu mengecup layar HP. Jihan segera tidur dalam balut piyama favoritnya.


Sore-sore pintu kamarnya itu terbuka, Jihan pulang kerja. Jaketnya langsung dia buka.


"Beneran gak ada yang ronda, War?" tanya Jihan lewat Gizi, intermate.


"Iya nih, gue udah dapet sebelas stone."


"Siap! Siap..! Gue baru di rumah. Baru pulang, War."


"Ya udah. Cepetan, ntar keburu disamber yang laen. Happy gebrak!"


Selesai menggantungkan jaket di balik pintu, Jihan langsung membanting tubuhnya ke kasur ala bocah mandi di sungai.


Hamam. Terbaca di punggung Jihan nama brand si SPG. Tapi pekerjaannya sudah bukan menjual produk lagi.


Jihan berdiri di atas badan kapal, di sebuah bandara, mencegat kanibal. Dekat ekor kapal, di depan sana, pun berdiri seorang pemuda berkemeja, yang masih mengunyah makanan. Jihan bertemu lagi dengan si Lidah Glowing, kali ini waktunya di pagi hari.


Kraachh.. kraachh..


Entah siapa, usianya berapa, tapi karena kepalanya cepak, maka sebut saja begitu. Bajunya terlumur darah segar, dan dia akan selalu lapar tanpa rasa kenyang yang demikian.


Cepak menikmati kegiatan makannya layak orang sedang makan ayam bakar. Padahal yang barusan dia gigit sepotong lutut manusia, bahkan masih ada sepatunya. Ceceran merah masih menetesi badan kapal. Di situ Cepak pilih menunggu serangan Jihan.


Jihan yang sedang memejam mata, segera menyentuh perutnya alias mulai kenshin. Ini karena Cepak masih saja keluyuran di tempat dan ruang yang terlarang untuknya. Pakaian Jihan berganti dirayapi outfit yang tebal dan merah tua.


Grrtth... Drrtth.. !!


Kita punya waktu tiga menit untuk mencegah efek makanannya


"Iya. Dia bakal jadi cepet kalo aku gagal nge-bius cardyceps-nya," kata Jihan dengan mata masih terpejam.


Biar hamba saja yang mengawasi waktu. Selamat bertugas, Tuanku


"Lapan enam, Ndan."

__ADS_1


Jreeng!


Jihan membuka matanya, berhasil menjinakkan rasa lapar yang berkecamuk di tiap sorenya inj, tiap pulang kerja. Sigap dirinya menyampingkan badan, Cepak baru saja melemparkan kaki bersepatu Adidas padanya. Jired pun segera jongkok karena Cepak langsung meludah ke arahnya.


"Heaaa!!"


Cepak lari dan sesampai di depan Jired, dia mengayunkan kaki. Jired loncat dari jongkoknya. Cepak segera memutar kaki, menendang Jired yang sedang meloncat.


Set!


Taagh!


Jihan berhasil mendorong kaki Cepak dengan dua tangan.


Bruugh!!


Cepak jatuh dengan punggung menghantam kapal.


Bregh!


Jired jongkok mendarat. Dia melihat lawannya masih terbaring. Jihan lari menghampirinya.


Cepak cepat berdiri dan mengangkat kaki karena lawan melancarkan serangan pada betisnya. Dia buru-buru mundur sebelum diserang kembali.


"Jrrierwgh.." tatap Cepak pada si gadis. "Kauwrgh bresrsmagh Prenin??"


"Ulangi. Gak jelas.." timpal Jihan, balas menatap.


"Heeaa!!"


Set! Sat! Syyu.. uut!!


Takh! Takh!!


Jired menangkis dua pukulan bertubi.


Swuutth!


Swaath..!


Set! Set!!


Kali ini Jired menendang gaya kayuhan saat meloncat.


Takh! Takh!!


Cepak sigap menangkis dua kaki Jihan dengan hasta.


Bregh!


Jired mendarat lagi, mata tetap mengawas. Dia mundur demi mengelak cakar yang diayunkan lawannya.


Set!


Set!!


"Heaaa!!"


Cepak segera menendang ke depan, namun berhasil ditangkis.


Takhs!


Beberapa petugas keamanan bandara bergerak merunduk menghampiri mobil pengangkut koper, mereka menghampiri komandannya yang juga pegang senjata. Pakaian mereka loreng, PDL untuk perang, entah negara mana. Begitu sampai, mereka langsung merapatkan badan ke bodi kendaraan.


Di situ juga sudah terparkir sedan bersirine, dan penumpangnya sedang berjaga sambil mengarahkan senapan ke kapal. Ternyata lokasi kapal sudah mereka kepung.


Set! Set!


Sat..!


Bukh!


Badan Jihan terhentak pukulan Cepak hingga terdorong.


"Heaaa!"


Cepak memutar badan dengan kaki terangkat.


Takhh!!


Jired berhasil menangkis tendangan samping musuhnya, lalu membalas tendangan.


Swuutth..!


Gubragh!


Cepak jatuh terjengkang saat memutarkan tubuhnya. Dia segera bangkit.


"Hhhh, hhh.. Heaargh!!"


Set!


Takh! Takh!


Set! Set!


Takh!


Keduanya kembali adu pukul, saling hindar, baku hantam tanpa peduli bidikan yang sedang mengarah pada mereka.


"Eerggh!!"


Jihan luruskan tangannya dan langsung tepat mengenai dahi Cepak, sasarannya.


Bwwusssh!!


Bola lightnov begitu rekat setelah dibenamkan ke dalam kepala si pemuda. Jired biarkan tubuhnya ditindih korban, karena sudah tak bisa melepaskan tangannya dari kepala si Cepak. Tak lama kemudian dia berguling ke samping sebelum tubuh Cepak jadi berat dan membatu.


Cahaya bola padam bersamaan membekunya tubuh si pemuda. Badan putih nan keras di situ tercetak sedang memegang tangan Jired si petugas.


Jired mengopacity tangannya hingga langsung dapat terlepas dari tangan yang membatu tersebut.


"Berapa waktu kita, Ndan?"


Tersisa satu menit, Tuan


Sww.. whhs..


Kepul asap putih melayang meninggalkan patung. Sesosok fatamorgana menyerap kepulan yang ada, perlahan-lahan semua asap dari patungnya membentuk fisik. Objek tersebut sedang mengambang di udara.


"Bener khan gue bilang, lo bakal keenakan jadi kanibal."


Si pemuda menepuk-nepuk tapak tangannya.


"Jangan balik ke sini kalo lo laper. Cobalah ke You Forest. Di sana ada makanan buat lo yang lagi ngidap parasas."


Si pemuda mengacungkan jari tengah. Dia berbalik, tak mau bicara sepatah katapun. Tak lama dirinya segera melesat ke dalam gumpalan kabut.


Swuutth!!


Jired diam menatap. Setelah sang lawan lenyap bersama portalnya, dia jongkok mengambil sebuah alat mirip senter. Jired menaruhnya di permukaan dahi si patung.


"Kalo gitu sama, gue juga laper."


Swwtth..!! Batu putih yang ada mendadak kenyal dan mencair dihisap "senter".


Plukh..!


Sebutir mutiara jatuh dari alat Doraemon tersebut.


Dzee.. aang!!


Takk..!


Bagai kena batu ketapel, kepala Jired agak tersentak saat ditembak. Peluru tersebut mental dan membuat Jired kaget mendapati sudah banyak orang di darat sana. Saat Jihan tengadah, dia sedang disorot lampu helikopter.


"Tudung Merah! Nenekmu dalam bahaya! Ada Srigala yang akan memakan Nenekmu! Pulang! Kamu harus pulang secepatnya!!"


- kira-kira begitu terjemahannya.


"Ngomong apa ya, gak ngerti gue.." komen Jihan sambil mengangkat dua tangan.


Mereka bicara dengan pengeras suara di sebelah petugas bersenjata panjang, sniper.


"Nenek dalam bahaya! Kamu harus pulang secepatnya!!"


Jihan dan Gizi melangkah bareng di Kafetaria melewati banyak orang dan beberapa meja kosong. Mawar yang sedang duduk, menyapa mereka. Jihan dan Gizi segera menarik kursi.


"Dapet berapa?"


"Tiga stone amber. Satu lagi, pearl. Dah pada dateng anak-anak, War."


"Mayan tuh totalnya, Han. Delapan ratusan. Gak usah ngandelin kelas pearl," komen Mawar di sebelah kembarannya yang sibuk menyentuh-nyentuh meja.


"Makasih ya," kata Jihan. "Lo udah, makannya?"


"Noh nunggu dia," jawab Mawar sambil menggerakkan kepala, menunjuk gaya sopir, santai tapi fokus.


"Hei.. Rose..?"


"Apaan?" jawab Mawar satunya, tak melirik alias konsen ngutak-atik menu di meja. "Bingung gue."


"Ya bingunglah, lo nya gak niat makan," komen Jihan sambil meraih piring yang Gizi sodorkan. "Mbak Canteen masih ngediskon kamu lho."


"Gue bingung nih diskonnya di-seratus persen-in, Han."


"??!" Jihan agak mengangkat dada mendengar keterangan Rose.


"Ya elo pilih satu, jangan semuanya Ros," kata Mawar. "Tiap sayur di-setia-in. Perut lo jadi galon ntar."


"Hhh-hhh!!" pundak Jihan bergetar.


Mawar bicara lagi pada Rose bahwa mereka punya waktu 15 menit sebelum datang waktu magrib. Jihan membiarkannya, dia dapati Gizi sudah mengunyah ketoprak di sebelahnya. Jihan pun pernah galak pada Gizi, tapi sekarang dirinya akan menangis.


Jihan mengaduk-aduk makanannya. Dia suap sesendok untuk perut yang ditahan-tahan selama income. Jihan lihat Rose sudah sibuk membumbui semangkuk sayur sop dengan merica.


"Dah beres maenan lo itu Han?" tanya Mawar tentang 'kompas' yang dia kepo tempo hari.


"Uumm.." Jihan menelan makanan. "Umh. Beres sih. Tapi baru mulai. Habis ketemu Olive tuh, gue nemuin Luna. Kemarin mau lanjut nyidik, si Bonin lagi private. Tinggal nanya dia, War."


"Eh ya. Katanya ada mahhal baru di rumah Luna. Bener ya muka dia (Ghost) miripan sama Al Hood?"


"Iya. Awalnya gue juga mikir kalo Ghost tuh sang legend. Tapi Olive minta gue gak berlarutan sama Ghost."

__ADS_1


"Napa tuh?"


"Olive deh, kayaknya yang lebih tau, War. Mungkin kalo gue yang deketin, Luna gak bakal suka ditemenin Ghost. Kata Gizi juga sih, Luna pernah makan koki-kokinya, yang direkomendasiin sama Scope."


"Uhukk! Uhuk..!!" Rose tersedak.


Mawar langsung kelabakan memberi jins-nya minum.


Rose segera meneguk isi gelas. Mawar taruh wadah tersebut ke icon tetes dekat tempat sendok, mengalirlah air bening didasar gelas, sedang refil.


"Lo fokus aja makan Ros. Gue setel film, kalo elo mau nyimak, nyambi makan."


Rose memegang tangan Mawar. "Dah gak usah.. Uhukk! Uhuk. Aduh.. Pedes..!"


"Hhh-hhh!!"


Jihan menahan senyumnya. Saat menoleh, dia menyikut Gizi di mana sedang anteng mengisi perut.


"Tak ada komentar, Tuan," sahut Gizi, kembali sibuk dengan ketopraknya.


"Ahahaaa! Top Rose! Liat muka lo merah gitu.. Hhh-hhh!!"


Jihan tutup bibirnya dengan agak bungkuk. Dia tak kuat hingga wajahnya yang meringis bagai udang rebus.


Rose tak peduli, dia menaruh gelas yang Mawar asongkan. Saat meneguk mangkuknya, saat itu juga tawa Jihan meledak.


"Hhh-hhh..!!"


"Sspruu.. uuutt!!"


"Ahahaaa!!"


Rose langsung semburkan kuah sop yang diminumnya ke depan meja. Di seka bibirnya dengan lengan baju, sambil meludah-ludah."


"Ahahaaa!! Haah! Haahaa..!!"


Beberapa lusid lain yang ada di sekitar situ terheran. Mereka penuh tanya atas tawa Jihan yang membahana. Lalu mereka melanjutkan acaranya masing-masing.


"Aduh iigh, berisik amat sih lo," protes Mawar. "Kayak baru liat aja."


Jihan duduk di kursi tunggunya. Dia sudah berpiyama. Ini artinya dia onmind malam, habis Isya. Jihan menggulit-gulir halaman chat grup. Saking banyaknya yang tidak pakai display picture, jarinya harus berhenti dulu di inisial M. Jihan balik ke page history, lalu ke page chat.


Bintang Kecil yang sedari tadi bertengger di tepi meja, perlahan naik. Dia membesar jadi gadis berbaju F1.


Zwiiitt!


Gizi sudah duduk di tepi meja, posisinya ada di depan stand. Dia berjalan ke masuk ruang yang berupa rongga besar tersebut. Gizi duduk di kursi satunya, di kiri Jihan.


Alat yang terselip di kuping Gizi adalah Speaker satu antena. Fungsinya memprediksi suara atau bunyi yang akan terjadi di waktu mendatang.


Walau bisa "membaca" kejadian, untuk menggebrak meja, Gizi tidak pernah melakukannya demi income.


Jihan mengetik DIAMOND di page edit contact. Dia biarkan Gizi menyentuh-nyentuh table flat, membiarkannya turut mencari kesibukan.


Beres mengedit, Jihan senyum sendiri memandangi layar HP-nya.


"Liat Ndan," kata Jihan mengasongkan layar SosFlat, memperlihatkan Marcel yang tiduran di tepi got.


"Posts and photo. Kapan Tuan Puteri mengirimnya?"


"Tadi malem pas mau tidur. Hhh-hhh! Random banget nih orang."


"Demikian. Aku terus teringat rasa buah (lipstik) itu, Tuan."


Pipi Gizi sedikit berwarna merah. Dia menghela nafas. Dia lanjut mengecek suatu berita tanpa melepaskan senyuman. Kondisi yang sama terjadi pada gadis piyama yang duduk di sebelahnya.


Sedang asyik-asyiknya, meja Boarding bunyi. Gizi yang sedang melihat segera sigap mengambil kesempatan.


Daph!


Gizi seperti menepuk nyamuk di meja. Teks DUTY di situ berubah warna dari merah jadi hijau. Gizi langsung menyusut menjelma Kunang Kunang.


"Akhir nge-bon juga. Gebuk nyamuk, gebuk meja. Ayo seruduk apa yang ada."


Anak SosCamp memang dikenal sebagai si penggebrak meja.


Jihan bangkit berdiri setelah menaruh HP-nya di laci meja. Sedetik kemudian dia melesat masuk portal.


Swuutth!!


Jihan muncul di pasar, keluar dari sebuah gerobak. Orang-orang sedang berlarian menjauhi TKP, karena di hadapan Jihan ada mahluk bertangan besar sedang menginjak mangsa. Jihan berada di tengah kepanikan warga.


Big Hand mencabik mangsa yang berhasil diterkamnya.


Swreekk! Crakkh!! Crakh..!


Jihan berpaling muka dari objek, pemandangan di situ membuat darahnya mendidih lantaran mangsa si mahluk adalah dua orang anak kecil.


Sebuah hantaman membuat Jihan terpental ke belakang, barang dagangan, saung-saung sayuran, dan bangunan toko hancur diterobos punggungnya.


Gadis piyama terbaring setelah badannya terlempar cukup jauh akibat tumbukan yang amat keras. Jihan masih sadar. Tapi tak lama, diam-diam tangannya menghisap udara. Dia tidak kenshin ke bentuk Jired, namun masih bisa membuat bola lightnov.


Bola putih yang terpancar tampak membengkak dan benderang, cahayanya menerangi pasar. Namun, orang-orang yang melihatnya, langsung terpejam menutup telinga.


Ngiii.. iing!!


Makin lama suara denging di situ makin keras.


Mahluk pemangsa anak yang baru saja menelan makanannya, menoleh pada sumber suara.


Namun Big Hand mematung didatangi bola lightnov. Sekitarnya turut diam, hingga di situ ada orang yang lari dalam slow motion keluar dari persembunyian.


Bola cahaya menuju kepala Big Hand, kemudian..


GUCRAKH..!!


Kepingan asing terhambur keluar dari kepala Big Hand. Serpihan tersebut bukan pecahan kepala. Mereka berterbangan diudara kemudian lebur menjadi asap putih.


Bruugh!!


Cakar Besar jatuh membatu. Patung tersebut membeku dipose menoleh. Warnanya polos mengkilat bak mutiara.


Set!


Jihan berhenti tanpa gerakan, diam menatap gumpalan asap yang tengah membentuk tubuh.


"Sampein ato pergi dari sini, cari di You Forest," kata Jihan dengan suara dingin.


"Aku baru melihatmu, Cupu. Siapa kau?" tanya sosok asap.


"Kalian udah tau."


"Giziania ternyata ya.. Dua ratus lusid mengenalku."


Swuutth!! Setelah sang asap menjelma jadi perawan cantik, dia melesat pergi menuju portal.


Jihan memandangi langit subuh. Dia baru melihat soloter wanita. "Dua ratus? Jangan-jangan lo si batu safir itu."


Jihan menyentuh bahunya, mengambil benda seukuran lilin. Senter tersebut masih tranparan penampakannya, namun sudah bisa digunakan. Jihan menempatkan alat hisap itu di kepala patung.


Saat senter sudah terfisik, patung yang diprosesnya mulai mengerut bagai karet. Makin kecil volumenya, makin encer. Dan ajaibnya tidak menetes, materi tersebut menggantung di ujung senter.


Plukh.. ! Plukh!!


Alat dan objeknya jatuh bersamaan ke potongan daging, di situ becek penuh darah persis meja pejagalan.


"Taunya bener juga. Nih emang safir-tus," komen Jihan atas batu yang dipungutnya.


Jihan bangkit berdiri sambil menyentuh bahu, menyimpan alat serta batu yang baru didapatnya ke situ.


Kebiasaan tersebut dapat dilakukannya tanpa oufit dinas.


Jihan mendapati lokasi telah hening dan sepi. Pasar begitu cepat mencekam di pagi buta ini. Jihan menyapu ke sekitarnya, tak ada satu bangunan pun yang dikenali, sudah tidak ada siapa-siapa.


"Mirip Senen pasarnya. Berapa sisa waktu kita, Ndan?"


Dua menit Tuanku


"Yuk, balik Ndan. Nih safir pertama kita."


Swuutth!!


Pasar yang mencekam ini mendadak dihisap oleh badan sang lusid. Tapi sebenarnya Jihan sedang melesat keluar nomand. Tugasnya sudah beres di peradaban asing.


Jihan yang masih melayang, menapakkan kaki sesampainya di trotoar dinding, di depan ruang tunggunya. Semua rongga kotak telah padam, hanya ruangannya yang masih menyala. Jihan sendirian di markasnya ini.


"Kamu ngantuk belum Giz?"


Hamba tidak mengetahuinya


"Tuh artinya belum ngantuk," komen Jihan, duduk membuka laci.


Tidak juga demikian, Tuanku


"Jam berapa sekarang?"


Pukul dua puluh satu lebih satu menit, Tuanku, waktu basetime


"Aneh sekali kamu masih melek gini."


Tuanku lebih demikian


"Iya. Aku kalong sejati. Mari kita cari tau soal Pnin."


Hamba yang katakan


"Ini dia."


Jihan duduk mengamati 'kompas' yang sudah berada di tangannya. Dia belum selesai dengan barang antik satu ini, jarumnya anti gerak.


Mari kita cari tahu mengenai pesan Pnin


"No commet."


Hhh-hhh!


"Seed, tolong lo matiin dulu mejanya ya. Kita tunggu elo kok di Escort."


Jihan melangkah pergi meninggalkan meja setelah minta pemadaman pada ruangannya. Kantor pun segera gelap.


Jihan sudah membawa HP-nya. Dia juga sudah simpan mainannya di saku piyama. Tapi di jadwal tidurnya ini, dia belum mau close-mind.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2