
Tetra kembali mengintip objek yang ditembaknya, percikan di atasnya dia hiraukan sebab di garis depan ini memang ada perlindungan untuknya. Dia lihat patung ninja tak re-cures atau masih tak bergerak.
Tetra kembali bersandar mengamati 'batre' di tangannya. Dia kepal benda menyala itu dan segera dipasangkan ke rompinya, senapan dia lipat dan diselipkan di belakang.
Bruaakh!
Ninja mendarat di tempat Tetra sembunyi namun targetnya sudah bergerak lebih cepat. Satu tembakan dari arah seberang mengenai kepala ninja hingga assassin membeku. Lalu tongkat sang ninja menetralkan 'bius' tersebut hingga tuannya dapat bergerak lagi.
Set!
Ninja hitam mengayunkan senjatanya. Seketika tertahan begitu mengenai sasaran. Tongkatnya tersebut sedang menempel di udara dilingkari benang merah, di tahan oleh FinalCutter.
"Ya. Dia nih Epsi. Makanya kami berani ke sini."
Zzztt!
Tetra menembakkan sinar rompinya pada penyerang, musuh langsung diam ter-pause beku.
"Sekarang waktunya bagi-bagi rejeki."
Swuutth!
Selesai membius, Tetra langsung melesat pergi ke arah seberang menemui rekan satu timnya.
Ckiiit!
Tetra jongkok dipandangi anak laki-laki yang sedang tengkurap di taman.
"Update dulu, Ben. Lightnov-nya."
Si teman bangkit jongkok memberikan senapannya. Tetra segera mencabut 'batre' dari rompinya dan segera refill alias memperbarui amunisi. Sementara si teman sedang menutup satu kuping.
"Hakyiu! Untuk semua basis lucifer! Perhatian! Perhatian! Garis Depan minta posisi-bebas sodara sekalian dinyalakan. Gue ulang.. Nyalain ge-pe-es. Nyalain posisi sodara-sodari! Tetap defensif! Gue ulang.. Tetap defensif sampe Tetra datang ngapdet aer! Stay on hit! Stay on hit! Terus tembak dan hajar! Nyalain ge-pe-es! Radio out!"
"Thanks, Cap Ben. Nih. Tiga detik terpakai buat apdet," asong Tetra sambil memberitahu durasi recharge.
"Fast. Sebelum Luna nyuruh kita pulang."
Swuutth!
Tanpa menjawab, Tetra pun pergi berkelebat.
Sorotan teropong beralih ke tempat lain di mana Jired dan Jhid masih mengendap-endap. Sorotan tidak mendapati objek lainnya di sekeliling pagar gedung tersebut, rute yang Jired tapaki kosong dari parasas lokal dan assassin.
"Lurus, jalan terus dua belas meter lagi, Han. Perimeter aman."
Marcel meneropong sambil memegangi airdrop di telinganya. Dia berada di sisi atap bangunan balok, mengintip medan perang. Perutnya di lingkari laser merah.
Di atas gedung ini Marcel memperhatikan peperangan yang kian seru di bawah sana. Tempat ini di 'pagari' lingkaran tipis yang mengambang setinggi dada. Marcel berada di dekat sisi pagar tersebut membiarkan dua tokoh penting berdiskusi di belakangnya.
"Kita tungguin elit di sini aja. Kalo harus nembus wilayah sebelah, mereka (defenders) belum siap. Trus gue liat, elit sebelah masih fokus jaga tempatnya," kata wanita yang bersandar ini pada bocah bertudung nan pucat di depannya.
Luna menggerakkan tangannya, meliukkan jari, mengepal-ngepal beberapa kali. Enik tetap menyilangkan tangan, menyimak penyampaian Luna yang selalu menggunakan bahasa isyarat.
Walau Luna tidak pakai Sistem Isyarat Bahasa Indonesia yang baku, Enik cukup paham. Dan Luna tidak mengulangi gerakan isyarat itu.
"Gak. Kawasan nih lumayan kok permatanya. Kami rasa cukup. Kita udah punya resep dan cara ngolahnya buat lo maem. Biar gak cepat kenyang."
Luna menyentuh-nyentuh perut, memotong-motong tangannya dengan sisi tangan yang satunya.
"Tentu aja gue tau jumlah lambung lo ada berapa. Ntar gue sidik dulu wilayah sebelah kalo emang udah ada persetujuan Asma."
Luna menggoreskan jarinya ke telapak tangan, mengepalkan tangannya sambil menggerak-gerakkan tangan satunya.
__ADS_1
"Resep masakan?"
Luna mengangguk-angguk.
"Siap deh tiap harinya bakal kami ganti dan atur lagi. Nanti gue serahin menunya sama Ghost."
Luna mengacungkan jempolnya. Bertepatan dengan akhir topiknya, Marcel datang dan berdiri di sebelahnya. Luna agak membuka dua kaki dan melipat tangan di belakang, pose istirahat.
"Kondusif?"
"No problem. Key di perjalanan balik, dalam kawal regu Zeta, Mbak," lapor Marcel.
"Valid kalo gitu omongan gue. Terus, nemu tanda elit?"
"Mmm.. No more."
"Gimana pendapat lo, Sel?"
"Kayaknya masih nungguin Jisas pergi. Atau Nisas. Atau keduanya tuh duel dulu, by one-nan di sini."
"Gimana kalo nyerang ke elit sebelah?"
"No data. Kalo Luna sih.."
"Dia udah minta ini. Kehubung belum ada persetujuan Asma, gue bisa apa."
"Ya sih, tanpa datanya kita bakal main judi, Mbak. Defenders pastinya bakal ada yanh nanya; apa masalahnya kalo kita harus agresi kedua? Anak lapangan sama lainnya harus prepare atau improvement di sini."
"Simpelnya?"
"Hhh. Kami belum siap.." Marcel menoleh ke sampingnya. ".. Luna."
Luna agak mendongak kepala menatap Marcel. Si pucat menyungging senyum dinginnya. Luna membuat badan Marcel agak lemas.
"Makanya gue perlu dia (Jhid), biar plot dapat cepet kebaca sama gue. Insyaallah keliatan bisa gaknya lo ngejinakin blueprint-murni."
"Hhh. Ntar ajalah, Mbak."
Gliitt!
Selapis layar muncul di pertengahan mereka. Tampilannya hanya teks, tebalnya mirip sampul atau jilid map, tepiannya bertekstur warna-warni. Terbaca di situ; INTERNAL.
"Tambahan ya, Mbak?"
"Apalagi? Asma gak mau lo salah paham atau semacam.."
"Mmm.. Amnesia emang plot pemalas juga emang. Elsidi di kamar udah cukup padahal, Mbak. Makasih banget. Sampein ke Mbak Aas."
"Kami gak mau lo ketinggalan perkembangan. Seharusnya lusid bukan?"
Yang ditanya diam, sudah sibuk sentuh-sentuh ujung jari. Tampak seperti orang sedang berhitung perkalian, manual tanpa kalkulator dengan trik cepat.
"Gunain sandi sebelumnya. Itu yang Asma sampein."
"Yup. Valid," timpal Marcel.
Dengan senapan di punggungnya, Marcel terlihat seperti prajurit bayaran, bahkan musuh yang mengenalnya memanggil dia dengan sebutan Mercy ketimbang mengakui keberanian si petapa.
Marcel tampak sudah biasa dengan layar yang ada. Beres mengetik, dia sentuh airdrop di kuping dengan jarinya. Garis tebal di tepian layar langsung menipis.
Marcel biarkan layarnya menyusut. Alat di kupingnya itu langsung menghisap file sampai si lapisan melesat, masuk ke airdrop tersebut.
Zweett!
__ADS_1
Tak lama setelah masuk, kelebat output keluar menimpa telunjuk Marcel yang sedang menampankan tangannya. "Plester" segera dibentangkan dan akhirnya Marcel sudah bisa mengakses atau membaca file yang diberikan.
Zwiiitt!
Video yang dipinta menyala otomatis alias auto play.
"Kraach! Kraachh..!" pemuda berkalung busur mengunyah makanannya tanpa peduli dagunya yang basah telah oleh darah, kakinya langsung menginjak kepala yang sudah hilang bola matanya.
Krakkh!
"Gak pedulilah mau peringatan ke dua puluh, tiga puluh.. Fuuh!"
Si tampan pemanah meludah ke depannya. Dia masih memegang sebatang kaki di antara mayat dan 'makanan' yang dipilihnya. Lokasi dengan banyak bus yang terparkir, tak lain terminal sebuah kota.
"Gua kaga takut. Kalean pade mo datengin kawasan gua? Dateng sekarang! Gue tungguin! Gak usah banyak b*cot lu pade.
Gua yang kuasa di kawasan Pnin. Kalo lu pade gak dateng, gua ambil nih nomand.
Ade yang enak, ngapain gua harus makan di sono (You Forest). Heu..?"
"Lo beruntung Luna gak ke sini," kata anak laki-laki sebaya, membiarkan pelipisnya diinjak.
Si tampan kembali bicara keseriusannya mengambil timeline atau sumber makanan. Kemudian terdengar teriakan panjang dari orang yang tengah diinjaknya.
Zwiiitt!
Marcel langsung menutup layar.
"Siapa nih soloter-nya, Mbak?"
"Yang terakhir, eks dua ratus tiga puluh satu (X231)."
Kawasan kota telah sepi dan hening. Beberapa bangunan rusak, retak dan berpuing runtuhannya. Jalanan dekat pertokoan pun berantakan dengan daun-daun pohon pinggiran. Terlebih lokasi pertokoan, yang tampak parah didemo defenders, kini membisu tak ada aktivitas lagi.
Semalaman ini satu kawasan di Eksternal berhasil diserang dan dilumpuhkan.
Di stasiun terlantar, defenders menyebar bersantai-santai. Ternyata perang sudah selesai. Mereka bercanda bersama regunya masing-masing sambil ngemil makanan ringan. Ghost berada di tengah mereka dan masih mencari-cari yang belum kebagian snack bawaannya, Ririn membantunya mencari.
Jihan duduk di besi rel bersama Nina dan empat sekawan. Mereka menertawakan ayamnya Nina yang gagal mematuk makanan karena tangan Jihan lebih cepat. Jihan menjerit kaget saat tangan satunya dikepak sayap Wallet dan langsung lanjut ketawa.
Marcel dan tim Alpha alias garis depan, sibuk mengobrol tentang info yang baru diterima sang petapa.
"Dia suka ngasih makan di terminal emang."
"Ck! Nih elit piaraan si Dua Ratus, napa dibuang gini. Apa Durati Pusa (dua ratu tiga puluh satu) emang disuruh seniornya, Mbak?"
"Senior soloter yang ngebantai ras-nya si Pnin."
Marcel bingung harus mendengarkan siapa di antara tujuh lawan bicaranya. Dia kacak pinggang karena di situ mereka masih saling berkomentar atas video yang ada.
Marcel tetap menyimak di kemumetan yang melanda. Padahal dia hanya menanyakan nama seorang lusid, korban yang dianiaya si tampan, mereka malah meributkan asal-usul pelaku. Marcel tampak betah dibuat kusut seperti itu, diam menyimpan kesimpulannya bahwa mereka tidak mengenali korban.
Setelah semua diam dan durasi video habis, tak ada file lain yang bisa diputar, Marcel mengulang pertanyaannya.
"Jadi ada yang tau nama korban gak?"
Mereka menggelengkan kepalanya bersamaan.
-
-
-
__ADS_1
-