
Nina belakangan ini sulit dihubungi. Secara WA dia itu silent atau ceklis abu. Dan di badar (bawah sadar) ini dia itu gelap, tidak bisa disorot kamera. Mungkin belum waktunya.
Tapi jam sepi berdentang. Melalui meja-catur gerbong, Nina sudah bisa dibidik dari jauh. Lewat miniature view, ternyata Nina lagi duduk di batu atap gua, sedang ngalong di abad Lectrin.
"Hii.. lagi ngapain juga lo di situ, Bonin?" komen Jihan duduk di depan meja Escort, permukaan meja men-tigadimensi-kan objek ala peta fisik.
Jihan membaringkan badan di ranjang gerbong. HP yang dia bawa sudah berganti bentuk, tersemat di jari manisnya sebagai cincin jejadian, Sorrow si robot office itu pasti ikut serta. Jihan segera merem.
Tapi baru saja menutup mata, sebuah kebisingan membangunkan.
Tzing! Tang! Dugh!
Tekh-tekh..! Tekk!
Tzang! Tzing! Dukh..
Takh! Tikh! Tikh!
Entah suara apa. Untitled sound.
Drred!
Sadar-sadar, badan Jihan tersentak dan membuka mata. Dirinya sedang berdiri memegang stenlis, dikurung gelembung bening. Jihan menarik-narik tangan kanannya, sia-sia.
"Spear, lo berisik tau ga! Baru ganti gendang, udah digranat. Pecah nih, bagus juga kerjaan. Gue kelupas ntar, mampus lo."
Tangan si gadis sudah menempel dengan logam mengkilap itu. Tak ada jawaban. Jihan pun diam. Dia tahu Spear benda mati, tapi kadang bisa menguasainya tanpa sepengetahuan.
Di luar kurungan, kegelapan yang ada lebih membisu. Mungkin memang tidak aman untuk ingatan dan kesadaran. Terlebih, Jihan sedang kuadrat-mind, tidur di alam mimpinya.
KM boleh dikatakan instant library.
Itu karena saat kuadrat-mind, lusid dapat hidup sampai beruban alias tua. Sebangun dari tidur, umurnya kembali muda tanpa kehilangan kenangan dan pengalaman.
Balon kurungan menembaki kegelapan. Gelembung masih diorbit banyak serpihan frame. Di luar situ, pecahan tersebut aneka ukuran, yang paling luas setengah jengkal.
Gelembung juga menampilkan sebangun kubus untuk menempatkan kepingan "puzzle". Selesai di empat dinding, sisa "cincangan" diarahkan vertikal menembaki frame atas dan bawah. Kedua belas rusuk kemudian hilang, bunyi dengung bergema.
Ngu.. uung!
Jihan masih diam berdiri di tempatnya. Spear mengantarkannya ke lokasi yang lapang dan berumput. Di sekitar hanya ada beberapa pohon. Jihan kacak pinggang menatap sebuah tebing yang letaknya agak jauh di depan.
Langit di sini cerah di malam harinya. Jihan melayang bak kuntilanak sambil tengadah. Dia tak melihat bulan.
"PMS kali ya, Giz?"
Hhh-hhh!
"Bagus khan, pas ngalong gini dicekam jam-nya manusia Srigala. Trus werewolf-nya yang rada umuran bocah. Kalo lebih galak, tinggal kresek-in, banting bolak-balik."
Hhh-hhh! Tak ada komentar
"Hhss!! Hhhs..! Wangi banget sih.. Sshh!"
Jihan berhenti sejenak mengendus harum yang tercium olehnya. Dia lihat ke darat, memeriksa tempatnya mengambang, tapi kosong tak ada siapapun di bawahnya. Jihan menengok kiri dan kanannya, area udara pun hening tak ada hembusan angin.
"Nih bulgari-nya Ratu gitu?"
"Aduhai apa beliau lakukan di sini? Hamba akan menyisirnya, Tuan."
Set!
Zwiiitt!!
Gizi langsung melayang ke Barat ketika sudah menjelmakan diri sebagai orang. Lalu Jihan agak berteriak padanya.
"Ntar kasih tau aku, Ndan!"
Jihan lanjutkan lenggang Sea Horse-nya ke arah gua. Dia melayang dengan lambat tanpa beralih mata. Mungkin sedang berpikir, atau mungkin lagi berharap Nina tahu soal diary Pnin, sedang menungguinya.
Dan begitu sudah dekat tujuan, Jihan dapati Nina masih duduk berteman sunyi di atap gua ini. Si teman belum terusik dengan kedatangannya. Nina juga tak mengenakan jaket, sepertiny tahan hawa dingin di malam hari.
Jihan pun mendarat.
"Bonin..??"
Nina hanya menggerakkan kepala, tak sampai melirik, tandanya sudah tahu siapa yang datang. Nina hanya menghela nafas.
"Hhh.."
"Lo ngapain?" tanya Jihan lagi.
Jihan duduk di sebelah Nina, tampaknya seperti hendak ikut menikmati pemandangan. Nun jauh di depan sana, ufuk Bumi dihias ekor Bimasakti. Jihan mendapati makanan di antara mereka, mencomot dan mengunyah camilan si teman, kraukh-nya sengaja dikeraskan.
GRAU.. UKKH! GRAUUKKH!
GRAUKKH!!
Jihan pandangi, Nina belum juga meliriknya. Dia akhirnya ikut diam menatap Bimasakti. Di sini Jihan dapat moment pas jika mau berbagi pengetahuan, astronomi adalah jurusan kuliahnya.
"Jumlah bintang lebih banyak loh ketimbang butiran pasir di Bumi, di pantai dan gurun, Nin. Deket gini, letaknya disengaja, trus bintangnya belum bisa keitung semua di Bimasakti ini. Gak percaya??"
"Gue kangen bumi Ultimate. Hiks..!" senguk Nina.
Jihan tak berkomentar. Hanya menatap Nina alias gondok. Dia kembali menatap objek malam mereka.
"Orang sekeras lo, sempet ngeraguin. Tapi taunya, lo yang paling mudah diajak, Han. Hiks..!" ungkap Nina, yang ternyata sedang sedih dalam heningnya tempat.
"Jadi.. masih belum ada lusid baru ya?"
"Iya. Hiks..!"
Jihan menarik tubuh Nina dengan rangkulan tangan, meremas bahu sang librarian.
Nina tidurkan kepalanya di bahu kanan Jihan.
"Apa menariknya kuantitas, Nin?"
"Hiks.."
"Banyak tapi gak padu, gak kompak, gak bersatu.. Nanti Internal jadi Raven Universe dong?"
". . . Uu-uuu.. Hiks!"
Mendengar Nina tersedu, Jihan tak melanjutkan bicaranya soal komunitas. Dia baru tahu, ternyata selain tengil, Nina pemendam rasa, si cengeng.
Saking bingung harus apa, Jihan tak sengaja melihat koin yang sewarna dengan batu, letaknya dekat kaki, di depan mereka.
Jihan segera ingat tujuannya datang. Mungkin benda di situ ada hubungannya dengan diary, dan pastinya milik Nina.
"Lo lagi apa ya, sebenernya, di sini?"
"Udah bilang.. hiks.. kangen, Han."
Gliitt!!
Tiba-tiba muncul bayangan di depan mereka, terpancar hologram Bumi.
Planet Biru terkondisi hitam nyaris ke garis tengahnya. "Pitak" tersebut Jihan kenali, itu tak lain adalah jejak asteroid, bekas batu besar yang sengaja tembakkan pada sang planet.
"Jadi lo pengen ngalong ke sini ya?"
"Iyaa.. Uuu-uu.. Hiks."
__ADS_1
"Tapi.." Jihan menghentikan kalimatnya. "Tapi udah gak bisa, Nin. Ditutup selamanya."
"Hiks.. Uuu-uu.."
Benar. Mereka sudah tak bisa lagi ke sana, ruang-waktu tersebut telah ditutup. Hologram tersegel sebuah "pita" dengan keterangan: OBJEK DI LUAR JANGKAUAN. NOMAND TUJUAN SUDAH DITUTUP. UNTUK KETERANGAN LANJUT, TEMUI DEWAN ASMA DAN OLIVE -MEDIUM AND TEAM
Jihan diam seribu bahasa. Objek di depan membuatnya cukup sesak. Bumi tersebut tidak dapat dipantau lagi kondisinya jika ingin melihat nasibnya sekarang. Dia gamang karena itu adalah "lapak" miliknya.
Jihan galau karena pernah kelabakan saat komunitas hampir "menolak"nya gara-gara brutal terhadap alam.
Gliitt!
Hologram padam saat Nina menegakkan badannya dalam duduk. Jihan segera melepas rangkulan dan diam menunggu, dia juga menoleh.
Nina mengusap mata dengan tisu yang dia ambil dari saku kemeja.
"Hikk.. Gimana nasibnya sekarang ya, Han.. Apa bener gak dapet pulih? Hiks, hiks.."
"Medium udah nyobain. Dia bikin banyak kemungkinan, men-simulasiin banyak dampak. Tuh daftar berisi banyak atmosfer yang ditargetin. Tapi semua kredibilitas itu nyatain hasil yang sama, kalo lapak tetep gak layak huni. Katanya bisa ngakibatin kiamat pas dipadu sama basetime."
"Iya maaf, Han. Gue itu yang ngawalin close-nya. Minta lapak lo cepet di-pregister. Gue salah, Han. Gak sabaran.. hiks. Uu.. uuu-uu.. Hiks."
"Whiiukh.. Kwiiuu... ukkh!"
Seekor 'ayam' Phoenix datang dan langsung bertengger di bahu Nina. Robot api ini menguik-nguik pada Nina. Tapi api yang berkobar di tubuh dan kakinya jinak, tak membakar baju.
"Kkwwiiuu..ukh! Kwii..ukh!"
"Hiks.."
"Ada apa ya Nin?" tanya Jihan berhasil kena kepo si robot unggas. "Dia laper?"
"Hiks-hiks..! Ada yang dateng Han," jawab Nina.
"Kwiiuu.. uukh!"
"Si Wallet bilang apa emangnya, Nin?"
"I-iya. Dia juga bilang lapar sebelum lapor, ngapain si Judes di sini."
Swu..uuth! Wrrhh!!
Yang dikepo sudah pergi meninggalkan mereka. Dia terbang dengan cara loncat, jungkir balik ala atlet loncat indah, mengepakkan sayapnya lagi ke arah dia datang. Ada jejak yang dia buat di udara, dan mirip markah jalan, "kelereng-kelerang" api.
Nina mengantongi alat yang dipungutnya, tidak bercerita lagi.
"Hhh..! Dia jago ngumpat juga, kayak lo, Bonin."
Nina balik badan, segera terbang melayang. Jihan membiarkannya pergi, tampak sedang menunggunya jauh.
"Masih banyak gini..?" gumam Jihan mengamati cracker, camilan tersebut dia pungut karena ditinggal pemiliknya.
Jihan menuangkan isi kemasan ke mulut. Setelah penuh, dia miringkan tubuhnya hingga naik dan melayang. Jihan kunyah makanan dengan posisi badan telentang. Terbangnya tersebut mundur karena pipinya yang kembung.
Bbraukh! Brauu.. ukh!
Di tempat yang Phoenix laporkan, di darat sana seorang gadis berseru dan langsung berdesing suara empat tembakan.
Dzing! Dzang! Dzung! Dzeng!
"Bagus gini deh. Ditraining langsung sama penyalin bedil. Gue lagi beresin final learn mereka."
Krauukh! Krauukh! Krau.. uukh!
Jihan diam tak ikut komentar, hanya pegang kemasan dan mengunyah isinya.
"Fitur sub-Arc mereka dah rada ningkat, Han. Tapi mendingan langsung full dari dia (Marcel)."
Di bawah ada empat pemuda sedang membidik aim-board. Target mereka ada di sebatang pohon. Lokasi latihan diterangi api kemah, target mereka di kegelapan. Pelatih mereka mendongak.
Sreekh!
"Thanks udah dibawain. Harusnya dia," kata Marcel menggerakkan kepala ke arah Phoenix.
"Nyaem.. nyaem.. Mauu," kata Jihan membiarkan camilannya disambar, matanya mengarah pada bibir lawan bicara.
"Jiah, nih dah abis aja," komen Marcel melihat isi bungkusan, tapi tidak dibalikkan. "Hei. Mau apa nih, ngomong-ngomong?"
"Pengen.. Uu..umm," gantung Jihan sambil menepuk-nepuk dua tangan, lalu mengusap-usap telapaknya ke piyama. "Pengen meluk, tapi ininya.."
Marcel float move menghampiri
Zwwuph..
Kepala Nina mengikuti saat Marcel datang melayang, hingga mencium pipi Jihan. Pipi Nina agak memerah mendapati dua kisser say-hello.
"Kwiiuu.. ukh..!" seru Phoenix, bertengger di bola buatannya, merentangkan sayap saat mendongak.
"Ogah!" ucap Nina, langsung melesat ke depan dan memeluk sang ayam. "Lo mending yang nyium."
"Wau.. uw," komen Marcel, sudah nonton sambil ngemil. "Intimate."
Krauukh! Kraukh..!
"Cohabitation laennya, nih. Hahaa!" gelak Jihan, kacak pinggang di udara.
Nina tak peduli dengan komentar yang ada. Dia tetap menggesekkan pipi ke leher robotnya yang sedang dalam dekapan.
"Kok ada di sini sih, Beb? Katanya gak boleh ngalong di jam tidur kita."
"Hmm.. Kayaknya se-title lagi kita, Han. Gue khan ngawas si Jhid juga. Dia belom balik. Dia ngeduluin kita, bisa baca tuh catetan."
"Catetan?"
"Iya. Sebelom Gizi, si Peot udah lebih dulu ke ruko itu. Dia juga bisa baca diary si Pnin, Han."
"Beneran?"
"Nah, ada sesuatu di balik niatnya tuh. Di belum juga laporan. Masih bolos nulis dan ngetik. Silent mode. Jejak dia juga ada di nomand ini. Wajib disisir nih, acara dia tuh."
Nina diam menyimak dua sahabatnya. Tatapannya tampak serius, terutama pada Marcel.
"Giz, lo situ?" tanya Marcel, dia langsung menunggu tanggapan.
"Ehh umm.. Dia nyidik feromon. Ada Ratu gue di sini kayaknya, Beb."
"Valid. Kalo Rei udah turun gini, berarti dah nyangkut keamanan Internal, Han. Tapi kita harus pegang si Peot dulu, ke mana dia pergi sebenernya."
"Kalo dia bisa baca 'kompas', apa mungkin udah jauh, ngikutin isi dari catetan? Kita harus minta Luna nerjemahin diary."
"Makanya gue tanya Gizi biar kevalid sama kesaksiannya juga Han. Di mana dia? Jangan biarkan Jhid m*rkosa jins lo itu."
"Tuh berarti m*rkosa gue juga ya, Sel? Gizi ke sana. Di daerah sana tuh gue nyium bau bulgari Ratu."
Jihan menunjuk ke sebuah pohon di pos jaga ini, arah Barat.
"Gue ikut, Sel," kata Nina, terdengar seperti memutuskan sesuatu.
"Oke. Gue pamit dulu ke mereka kalo kalian mau jalan sekarang."
Swuutth!
Marcel melesat turun selesai bicara. Begitu juga Nina pada robot-nya, dia minta Wallet tinggal sementara karena dirinya ada urusan. Jihan lanjut meneguk makanan.
Krauukh! Kraukh..!
__ADS_1
Malam hari ini banyak suara serangga, waktunya pun kian larut. Belantara tampak gelap, tiga dara terus menembus ke jarak yang lebih jauh. Penerangan mereka berasal dari senter senjata dan pusar perut kedua lusid, mereka mencari Gizi.
"Hhss! Hhhs..! Lewat sini," kata Jihan di dekat sebatang pohon.
Jihan berada di depan karena job-nya melacak. Dia lanjut melayang mengikuti wangian Reinita. Jihan tetap dikawal dua temannya.
Krii..iiik! Kriiik!
Wuu..ukh! Whhuk..!
Bunyian Jangkrik mengiringi perjalanan mereka. Terdengar suara burung hantu, menambah kesan liarnya tempat yang mereka lalui. Kulit mereka terkondisi lembab karena dinginnya hutan di setengah jam perjalanan ini.
Lokasi sudah sepi dan hening. Jihan terus melayang mengendus bauan yang dikenalinya. Dia juga ikut mengawasi sekitarnya. Mereka tak mendengar lagi suara satwa ataupun serangga.
"Huihi.. hihii.. hii"
Tzzeddh!!
Marcel refleks menjentik sumber suara di atas pohon. Gerakannya lebih lihai di flying stealth ini. Marcel tampak sudah tahu.
"Hempph! Emmph..!!"
"Hhh.. Ke mana dia?" tanya Jihan agak mendongak. "Lo denger gak Bonin? Dandanan-nya aja udah gitu, apa lagi polosnya coba.."
"Sipil," komen Nina menatap dahan pohon yang sudah kosong, tak ada objek. "Lo gak seneng apa, dapet follower?"
"Hhhs-hhs! Bukan gue takut, Nin. Niru youtuber gitu khan jadi serem. Hhss..!" timpal Jihan sambil melanjutkan aktivitasnya. "Hhss!"
"Youtuber yang mana, kak Judes?"
"Dia sendiri. Hhhs! Lewat sini."
"Origins. Bukan abal-abal."
"Gak. Gue mikirnya salah cetak ato gimana? Rawan body shaming gitu lho."
"Daripada lo salah skill gini."
"Njiir.. Nih bawaan. Hhhs-hhs!!"
Marcel belum bicara sepatah kata pun, tetap mengawas sekitar mereka bak pengawal presiden.
"Hhhs-hhs! Sini Beb, lurus terus."
"Hwaa.. hahaa.. ha!"
Tzziddh!
Sumber tawa melayang cepat di ketinggian. Ada jeritan yang terpekik panjang. Seperti denging namun hanya sebentar.
"Broken home," kata Jihan agak tengadah.
"Sok tau."
"Kalo gak dia, ya kita. Nih rumah hantu di pasar malam. Tempat piknik. Hhhs-hhs!"
"Dia bilang satu tembakan lagi lo dapet payung Sel. Good job."
"Marcel.. gitu lho," komen Jihan menambahkan kalimat Nina.
Di tempat yang sudah jarang dari pepohonan, Jihan berdiri menghadap Timur. Dekat lingkaran batu tersebut dia diam menunggu Nina dan Marcel, di sana keduanya masih memeriksa objek yang ditemukan. Jihan lihat tampaknya mereka sedang diskusi.
"Ngapain ya? Pada serius gitu. Kayak debat kusir."
Jihan tengok kanan-kiri, juga balik badan mengawas belakangnya. Di sekitar ada suara jangkrik namun sayup tak mengganggu. Jihan hanya mendapati tanaman Bala Kacida yang memblokade jalan setinggi lutut.
Wreeskkh!
Tak sengaja Jihan menoleh, dia mendapati Nina sudah menyeret sebongkah patung. Suara geseknya terdengar sejalan dengan langkah kaki-kakinya.
Wrreskh! Wreeskkh!
Wreeskkh..! Wreeskkh!
Marcel sudah mengalungkan Arc-nya di punggung, itu tanda mereka sudah aman dari pengintai. Tapi dia masih membahas sesuatu. Marcel bicara soal patung yang mereka temukan.
".. soalnya yang gue tau, parasas ini udah jarang ada di daftar onhunt. Dah jelas, pasti jumlahnya udah dikit."
"Han lo bawa gummer khan?" tanya Nina sesampainya di depan Jihan, menaruh bawaannya, kulit tangannya langsung berubah warna, dari merah jadi kulit Sawo.
"Always lah. Sini, gue padetin."
Jihan segera mengurus pekerjaannya sebagai lusid lapangan, jongkok mengambil alat di bahunya. Dia hanya mencengkram daging bahunya, gummer yang dipinta sudah terpegang di tangan. Jihan abaikan teman-temannya lanjut mengobrol.
Nina dan Marcel duduk di batu-batu yang sudah berjajar melingkar sejak mereka datang. Nina biarkan perutnya terus menyala, gadis berkemeja ini memang manusia jadi-jadian.
"Catetan yang tadi kalian bahas tuh apa sih? Apa fisiknya bulet, trus kayak tutup galon khan?"
"Gue belum liat barangnya, Nin. Bisa jadi sih kayak gitu. Gak pernah liat gue, soalnya masih ada di tangan dia."
"Udah belom Kak?" tanya Nina, tapi dia juga bertanya pada Marcel. "Belom liat gimana?"
"Hhh, ya udah. Tunggu dia beres. Kita liat, dibekuin sama siapa nih parasas."
Kedua gadis segera memperhatikan acara pemampatan patung yang berlangsung di dekat mereka.
Jihan yang sedang jongkok di sebelah patung, menoleh pada Marcel. Dia kembali fokus menunggui pemrosesan permata itu dengan wajah agak berseri. Jihan jadi terlihat sedang kepedean.
"Nih gesture elo Han di pinggir balong..?"
"Hhh-hhh! Kurang ajar.." pundak Jihan bergetar, cara jongkoknya pun segera berubah, menjungkitkan tumit kanan.
Setelah Jihan mengganti pose jongkoknya, tak ada lagi komentar terdengar. Namun di keheningan tersebut, Jihan tetap kena kepo si petapa, meliriknya lagi.
Marcel diam menatap sang lusid.
"Apa si, iih.." kata Jihan dengan pipi merah pipi hijau, nyengir dan bingung.
"Ciiee.. ee.." elu Nina, turut "menyerang" Jihan dengan satu kata berisi komentar yang memojokkan tersebut.
Jihan tampak salah tingkah dipandangi Diamond-nya. Untunglah dia sudah bisa tenang dengan aksinya menyelipkan rambut. Jihan gigit bibirnya, satu detik kemudian melirik Marcel, lagi-lagi bibir tipis itu yang dilihatnya, pandangan pemilikinya diabaikan.
"Hee.. gak usah diliatin gini, Sel. Lamar dah. Swer, nih udah ijo banget," bujuk Nina, tigabelas-nya mereka, mendorong lutut lawan bicara.
Marcel tak juga bicara.
Jihan biarkan Nina berkomentar, tapi Marcel memang tak kunjung teralih pandangan, membuat dada orang bergemuruh saat matanya membidik.
"Ehemmh!" goda Marcel, akhirnya bersuara juga.
"Tuh khan.. Ii-iih.. Apa? Sih.." keluh Jihan makin kebingungan, warna pipinya sudah terlihat merah, bahkan kelap-kelip.
"Kangen gue gak sih..?" tanya Marcel, terdengar penasaran.
"Tuh khan," jawab Jihan. "Kangen."
"Apanya?"
"Rondenya!" tanggap Jihan, begitu saja. "Hhh-hhh!'
Pundak Jihan bergetaran melihat pipi Marcel langsung bersemu merah.
-
-
__ADS_1