Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
chapter up 031


__ADS_3

Entah hal apa yang Mercy sadari. Apakah dia bertambah ingat siapa jati dirinya di simulasi ini?


Si roda empat meluncur bersama kendaraan lainnya di jalanan. Dia membawa Mercy ke arah Cikampek. Orang yang menumpanginya pun lalu sibuk membolak-balikkan AE, memeriksa dengan seksama tiap bagian yang ada.


Mulai dari gagang yang ada konten lucifer-nya itu, totor sandarannya yang ber-LCD ada nama target itu, status bedil, trigger, tali nano-tech, peredam built-in, prosesor teropong-nya, Mercy ricek sampai fungsi lock key dia buka.


Brurh! Brurh!


Senapan tersembur api semprot, panasnya diukur dangan telapak tangan Mercy sendiri, duduk memanggang telapak dan jemari.


Chups!


Mercy cium bawaannya usai diamati dan dianalisis.


"Welcome back."


Mercy taruh kembali benda wajib itu di kursi sebelah. Dia mengeluarkan kalungnya, artefak. Selesai dirogoh, dia tarik sedikit talinya kemudian putus dengan mudah hingga tergulung otomatis alias dihisap.


Mercy mendiamkannya ditelapak tangan, sepuluh detik kemudian sisi kawat benda tersebut menyala.


Mercy membalikkannya, lalu dibalikkan kembali. Dia seperti menginput sesuatu berpatokan dengan dua permukaan yang silang, bertepi light and dark tersebut.


Mercy tampak sudah menguasai dan mengenal apa sebenarnya artefak yang dia bawa.


Slggh!


Kesembilan jarum dalam 'kompas' tersebut berpadu jadi satu jarum, dan jadi penunjuk yang bergerak lalu menetap di posisi jam 11, berkedipan.


"Hhh.." hela Mercy. "Ya. Bentar lagi, sampe manteng nyalanya."


Mercy segera masukkan ke dalam saku celana bagian depan. Dia lalu membuka laci kecil dashboard, melihat kotak mini tempatnya menyimpan koin.


Duit logamnya masih banyak, Mercy segera menutupnya lagi.


Sllpph!


"Hoaam.. mm," nganga Mercy sambil menutup megapnya dengan tangan. "Ke market dulu, Bro. Haus banget.


Coba kalo elo udah ke-approve Server. Di luar, gue dapet skill telekinetik khusus roda-empat kayak gini."


Entah mengerti atau menurut, laju mobil agak bertambah, toggle kopling bergerak sendiri begitu Mercy selesai bicara.


Di kursi sopir itu, Mercy masih duduk bersila. Dia menopang kepalanya dengan tangan yang dia sikukan ke bibir jendela. Mercy amati jalanan demi menunggu mobilnya berhenti, bahkan senyum sendiri.


Di depan sana ada mobil truk pasir dengan pintu bak bergambar Erika sedang menopang dagu.


"Tunggu ya, Sayang. Gue harus bantu Rey keluar dari sini," kata Mercy. "Kenapa lo alesan pas gue ajak ketemu Hand of God nih? Dia bukan Raven. Hhh.. Gue gak mau maksain juga sih. Toh gue juga pernah jambak rambut si Hoax, gabut nyari-nyari paradok lo."


Mobil melaju pelan karena lampu rem milik truk menyala, dan sent kirinya berkedip-kedip.


"Hhh.. Iya, Han. Hhh-hhh! Kutunggu jandamu deh. Gabut gue kalo lo distatusin kayak gini. Belum nikah nih, apalagi pas nikahnya.. Hhh-hhh! Fans lo bakal ngamuk-ngamuk, nangis. Gabut njir."


Chuph!


Mercy memajukan bibirnya, truk pun keluar dari jalan raya memasuki tempat tujuannya: warteg.


"Hoaa..mm. Duh, ya Allah ngantuk gini."

__ADS_1


Mercy kembali menguap. Dia lemas bersandar. Setelah diam sejenak, dia segera bangkit dan merunduk melangkahi toggle kopling, pindah ke belakang lewat sela kursi depan.


Mercy membaringkan tubuhnya di kursi panjang, beranjak tidur membiarkan mobilnya melaju sendiri.


Apa alam abstraktal ini dunia mimpi, alamnya para dewa dan dewi berada? Sepertinya iya jadi-jadian. Karena tak cuma orang yang poligami, mahluk bernama Twen itu janda ke 20 mendiang bang Jali, bahkan bisa muncul di pagi hari tanpa efek vampir, mungkin Twen sudah pakai sun block hingga tak terbakar kepanasan.


Sore di halaman parkir sebuah toko terlantar, Mercy meneguk air mineral.


Bukannya dia minum bir? Tidak lagi mungkin.


Mercy mengamati jarum 'kompas', di situ jarumnya menyala persis LCD putih. Dia lalu jongkok dekat meteran PDAM, ada lingkaran di situ. Mercy tempatkan 'kompas'-nya pada meteran penutup water-flow tersebut.


Gliitt!


Layar memancar dari artefak. Dan sekitar toko hanya jalan raya yang disibuki banyak kendaraan, dan tak ada pedagang atau pejalan kaki lewat melihat kegiatan Mercy, arsip berisi gambar artefak.


"Nih 'kompas' pernah ada sama elo, Sel. Lo pernah minta lagi buat patch Tester biar gak berkali-kali pake tiap mau nginep. Gue gak yakin masih lo bawa 'kompas'nya.


Luna belum ditemuin ada di nomand berapa. Ratu masih terus ngamanin perbatasan, dia seharian nge-hunt. Walau gitu toh Ray bantuin Ratu. Anak lapangan bergiliran nememin Ratu.


Mbak Enik belum denger lagi kabar dari Hand of God. Gue gak tau siapa mahhal nih. Kata Heart, dia pasien Ratu. Gue gak bisa ikut lo nengokin Rey, gue lagi betah nyiumin baju elo, Sel.. gak bakal gue balikin.


If your name is Mercy,


tanda berikutnya: 0-11-10-01-001"


Gliitt!


Dengan merah pipi, Mercy bangkit mengantongi kembali artefaknya. Dia masuk dan duduk di kursi belakang, minta Bro Car jalan.


Brrmm! Brrmm..!


Mercy mencabut kawat tipis di tepian artefak. Dia belitkan ke jarinya. Mungkin sedang membuat cincin instan. Mercy lepas benda di tangannya, 'kompas' pun kemudian mengantung dan berayun-ayun.


Snap!


Zwiitt!


Mercy jentik jarinya, artefak susut mengecil hingga hilang dari pandangan, membuat cincin talinya menyala kemudian padam.


"Hhh.."


Seorang mafia ternyata bisa me-life hack. Tapi baru saja hendak bersantai, bunyi logam mental membuatnya bingung.


Tzang! Tzing! Tzang-tang!


"Bangs*t..!"


Mercy segera berlindung, jongkok. Padahal mobilnya anti-peluru, kagetnya membuat dia kalap.


Thang.. thang! Mobil tersebut ditembaki.


Criikiit..!


Ban sedan mendecit karena langsung menyalip kendaraan di depannya. Gesekan bising tersebut sampai mengasap di aspal, menjejakan garis hitam.


Drededed!!

__ADS_1


Jreeng..!


Pria berkaca mata ini menyetir sambil memegang senjata dengan carry amunisi bundar. Gayanya meniru Arnold Schwarzenegger, dingin dan pembunuh gratisan. Dia menaikkan laju sedannya, belok mengikuti mobil buruan.


Drededed!!


Sang hunter menembak kembali. Mobil yang ditembaknya sedikit oleng meliuk-liuk membuat pemburunya tak berhenti mengganggu. Akibatnya tertipu, dia menembaki truk tangki karena sedan ugal untuk belok menghindar.


Krii.. iitt!


Tzing! Tang! Tang!


"Oke. Gue Jhon Connor. Elo Om Skynet."


Dhuuar!


Mobil tangki di belakang meledak. Mercy lihat jalan raya telah kacau hingga ledakan tersebut membuat masyarakat sekitar TKP berlarian karena ada mobil nyasar juga ke pasar.


Di jalur Pantura ini, Mercy juga lihat, jalan di depannya masih banyak kendaraan. Walau Bro Car berhasil sulap-salip kabur, Mercy dapati sedan Om Skynet masih utuh di belakang sana.


Kriitt!


Bro Car menyalip lagi. Mercy lihat mobilnya terus mengebut sambil ugal-ugalan di antara banyak kendaraan yang didahului, dia tetap bingung dengan mobil-mobil yang telah dilewati. Om Skynet melibas halangan yang ada di jalur, beberapa mobil yang ditabrak sang hunter sudah tumbang terbakar di tepi jalan.


Mercy berdiri agak bungkuk mengambil AE di kursi depan.


"Nih akibat masa depan lo suram."


Skynet berhasil menyusul Mercy, sedan sang hunter ternyata bukan kendaraan biasa, bemper dan kap yang sudah ringsek tak berpengaruh pada kinerja mesin. Saat mobil sudah hancur begitu, Om Skynet masih nekat mendekati dan berhasil bersebelahan dengan Bro Car.


Kemudian saat keduanya berdampingan di jalan lengang penghalang ini..


Kriitt!!


Skynet belok dadakan, menggencet laju Mercy.


BRUAKH!!


Krii.. iitt!!


Bro Car segera mengerem di kali kedua. Sedan yang hendak menyenggolnya terjerumus hingga tepi jalan dan langsung terpelanting menabrak pagar melintang.


Bragh.. Tuiingg!!


Mobil menjungkal ke udara, lalu mendarat di atap satu rumah warga.


BRUUGH!!


Mercy menatap objeknya di kursi belakang sambil tetap memegangi AE. Matanya menyipit, seorang penghuni mental keluar rumahnya, di sana juga melangkah Om Skynet, melirik jalan dan mulai berlari, lanjut mengejar.


"Berhenti, Bro. Giliran gue. Dia jadi curanmor kalo kita jalan terus."


Mobil langsung menurut, lajunya melambat dan tak lagi menyalip-nyalip kendaraan lain.


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2