
"Kalian gak usah minta briefing ke gue. Jalan terus, lurus sampe ke pantai sana. Kalo mampir, gue jadi cemas sama plot-nya. Kalian mau pamit ke mana emang? Permanen gak pamitnya?"
"Siapa mau sungkem, orang lagi sounder walk Mbak," kata Nina, terdengar membela diri. "Di mana lagi lab-nya kalo gak di sini?"
"Diem dulu," pinta Asma. "Sebel gue dengernya. Lo suka gak jelas kalo belajar, sampe ada aspal sirkuit gitu di sono. Diemlah."
"Sstt..!"
Nina menaruh jari sambil memberitahu Jihan dan Marcel yang baru sampai.
"Ada apa Mbak?" tanya Jihan. "Siap. Laksanakan.."
"Tunggu bocah Enik, tunggu bentar."
"Maksudnya siap diputus kontrak. Apalah hebatnya amatiran macem gue, Mbak."
"Nah pamit khan kalian nih? Apa lobby lo, Mercy?"
Asma beralih pada Marcel, otomatis Nina dan Jihan turut melirik si petapa.
"Iya diem aja dia, padahal mah dancer heboh."
"Jihan," kata Asma, negor persis guru kelas.
Jihan menegak badan dan diam.
"Mmm.. bentar doang, Mbak. Mayat ini bisa mastiin data kayaknya. Pinjem bentar deh."
"Sana interview. Lo taro sini tasnya, bawa kuli angkut gak digunain."
__ADS_1
"Hii.. gue lagi kena receh."
Marcel segera melepaskan gendongannya. "Kalian tunggu di sini ya."
Marcel barbalik pergi usai menaruh tas. Langkahnya dibawa ke tempat temuan, di mana pemeran jenazah masih duduk membaca skrip menunggu Asma selesai.
"Stop ngeluh.." kata Nina. "Percuma jadi dewi."
Gwetth..!! blugh!
Nina biarkan bawaannya jatuh terlepas tanpa menyentuh tas. Dia lalu bergerak ke depan, membuka pintu mobil dengan cara menggeser. Nina minta Jihan membawa ranselnya.
Dengan mudah pula, Jihan memindahkan dua tas tersebut dengan telekinetiknya.
Set! Set!
Marcel sudah mengobrol dengan orang yang "dipinjami"nya, karena dapat ijin dari Asma. Lelaki tersebut melihat-lihat arsip yang diberikan Marcel, dan tampaknya sudah biasa menggunakan alat Snail, Marcel biarkan si aktor melepas airdrop.
Zwiiitt..!
Layar transparan yang dioperasikan lewat ear-plug, menampilkan wajah-wajah para X-sekian, nama sekaligus nomer urut soloter.
"Seinget gue, eks dua ribu. Gak tau yang lima ini siapa," kata si aktor.
"Lo kayaknya udah lama di sini."
"Gue seangkatan sama Gamma."
"Si Gamma? Dia di nomand abad dua-enam lho sekarang. Nungguin dan masih nyari drivernya. Tubuhnya ada di Panti. Tapi tubuh elo, belum ditemukan gini."
__ADS_1
"Gue emang lama nyasar di sini. Belum bisa balik, chaos onmind katanya. Pokoknya Eks Dua Ribu nih yang ngincer gue di pulau itu."
"Ya udah. Kami mau ke sana buat bikin perhitungan. Thanks ya."
Sang pemuda mengangguk, dia lalu mengembalikan plug pada Marcel.
Jihan dan Nina sudah nimbrung di situ dengan dua tas yang lebih kecil dan terlihat ringan. Juga ada Asma, yang rupanya sedang menunggu kedatangan Trio Cetar, sedang menjinjing tas gendong lalu diasongkan pada Marcel.
"Lho tas gue mana, Mbak?"
"Semua keperluan lo ada di mini-center ini sekarang, Wahid. Ada pesan buat Olive gak?"
"Makasih. Dia doraemon terbaik yang pernah ada, Mbak."
"Gue gak bakal bilang kalo dia kucing. Oke met tugas. Selamat datang di ranah Substansi. Ada kapal di pantai, lurus terus dari sini ke arah Utara sampe nemuin dermaga."
Marcel memasangkan tas ke punggungnya. Dia mengaduh sambil memegang kepala.
"Auuwh," ringis Marcel. "Nih tas apa urat baru sih? Apa otak gue dipindah?"
Asma menyentuh-nyentuh jarinya sambil menjelaskan perihal mini-center. "Gak dipindah. Kalo di Substansi tuh, kita butuh pakean ekstrem, biar pulang dari Latansa nanti lo-lo gak chaos."
"Iya. Kecuali udah siap jadi dewan."
"Pinter. Moga aja kalian siap. Soalnya.. kami juga masih bingung, di mana body ori-nya."
-
-
__ADS_1
-