
Rey berteriak ala gadis rumahan, tapi Mercy tak peduli hingga peluru habis, handgun-nya mampat.
Ctiekh..!
Cliekh-cliekh!
Walau Rey golongan jins, histerisnya terdengar berperikemanusiaan, padahal Mercy hanya menembak benda. Rey membiarkan Mercy kali ini, tak bisa melarangnya beraksi.
"Hhh.."
Mercy agak mendongak beres menembak, dia atur nafas dulu menenangkan diri. Carry pistol pun lalu dikeluarkan, Mercy taruh ke saku khusus di bawah ketiak kanan. Dia ambil full carry dari saku amunisi dan memasukkan ke gagang senpi.
Sllpph!
"Siapa hantu itu?" tanya Mercy sambil menyelipkan kembali handgun-nya di bawah ketiak kiri. "Gue harus ambil kunci segel dari dia."
"Dia istri ke dua puluh, golongan pendukung Black Soul. Dia tuh jins khodam. Suaminya pernah duel sama elo di bandara."
"..??"
"Bukan Twen yang ngunci bren lo, tapi lo sendiri yang ngelock. Kalo dia yang ngunci, lo udah tamat sejak masuk simul nih."
"Siapa yang ngunci??"
"Elo, Sel. Kehendak lo."
"Gue?"
Rey mengiyakan dengan kepala masih mendongak pada lawan bicara, masih jongkok dalam obrolan serius. Dia pun kemudian bangkit karena ingat gadis tersebut seorang mafia, dalam simulator. Rey melangkah menapaki peti kaca karena Mercy terus menatapnya, sang killer sangat kebingungan.
"Ayo. Biar surat tanah aja yang jelasinnya."
Mercy biarkan Rey keluar rumah. Matanya kembali fokus pada AE yang terkemas kuat dalam bening persegi panjang. Instingnya masih betah di sini, tapi belum begitu paham untuk apa ke tempat ini. Mercy segera tinggalkan AE-nya.
"I'll be back..." kata Mercy, dengan satu matanya yang masih aktif itu, terkesan pantas berucap demikian.
- 😁 terminator mummy.
Di depan mobil, Rey dan Mercy diam mendengarkan seorang gadis berpiyama ungu. Pagi ini keduanya melihat layar yang terproyeksi dari artefak, menyimak Mercy versi intel. Tampaknya Mercy memang butuh pencerahan, Rey tak ingin kebingungannya jadi pemicu keputusan sang killer.
".. nih ngeresahin. Gak bikin gue tenang pas hunter itu dieksekusi si Epsi. Senjata dia ketinggalan, ada dalem skill Ray. Gue pengen hapus sisanya di area nih.
Maka kau kehilangan senapan.
Itu yang Heart bilang. Trus juga; kau akan mencari dan tertarik hadiah dari dewan Olive ini.
Jadi gue tafsir kalo hadiah yang dia maksud itu adalah Arc.
Data mbak Aas sendiri ngatain kalo gue pernah kepisah dari bedil, gak liat Arc di tempat biasanya. Konsis sama prediksi Heart.
Trus kayak biasanya, Ray ogah di Area Lima. Maka dia-nya gak ikut. Kalo gue ambil latian di Area Enam, itu gak rekomended. Ray bakal ngidap skill yang gak gue kenal dan kemuat garlic (kryptonite) di dalemnya."
Gliitt!
"Mana tutornya nih?" tanya Mercy saat rekaman telah selesai. "Hhh.. Dia rupanya yang kalian sebut Marcel. Alim banget."
"Gue baru tau malah ada kaum selaen lusid. Yaitu kalian nih, para petapa. Mbak Aas resmiin dengan sebutan astraler."
"Tapi gue tukang bunuh. Kok kalian ngasih senjata?"
"Nih laen. Bukan barang mekanik. Aneka peluru ada. Mulai dari padat sampe cair."
"..??"
"Olive yang ngasih ke elo lantaran value-nya seratus pas Marcel test. Kalo mau megang ada syarat yang gak mudah tapi cepat."
"Apa tuh? Saldo gue dua puluh satu em."
"Bukan dibeli."
"Ya udah bilang, diapain?"
"Ditenangin pake meditasi lo, Sel."
"Tanda beresnya gimana? Butuh berapa lama?"
Rey menyentuh-nyentuh ujung jari dengan jempol masing-masing tangan. Dia merasa gak tega Mercy terus-menerus bingung dan bertanya-tanya.
__ADS_1
Rey ternyata sedang membuka wormhole.
Zhhapp!
Objek mirip triplek tapi tepiannya glowing muncul di dekat mereka. Lawang ke tempat lain. Mercy menyembunyikan tangannya, tapi urung karena tak ada bahaya keluar dari situ.
"Meditasi level dua di bawah air terjun sungai. Fungsinya buat megang xmatter atau objek selain badan. Juga buat redam sama ngendaliin detak jantung."
"Siapa mereka nih?" tanya Mercy saat lawang wormhole menyoroti batuan dan orang-orang yang bersila.
"Mereka nih astraler, udah onmind, tapi belum bisa keluar atau masih sebatas ranah panti eksplorasi-nya."
"Di mana sungai ini? Kita harus balik lagi ke kompleks vampir itu buat ke hutannya."
"Tenang, Sel."
"Hhh.."
Mana bisa. Gak ada air terjun di sini.
"Sel, iya gue tau gak ada air terjun. Tapi-"
"Ehh, tunggu-tunggu.. Mmm, elo.. nih.."
"Gue lanjut ya, plis tenang. Teknik kalian beda soalnya sama meditasi gue. Astraler punya level fokusnya tersendiri, tergantung jiwa atau will dia. Lo ada di level sepuluh, paling atas. Nah kalo gusar, makin tebal bebannya. Dalam rumah ada bak, cukup di situ aer terjunnya. Plis tenang dulu."
"Hhh.."
Mercy menghela sesaknya, lega mendengar kalimat tersebut.
"Level sepuluh. Cuma ada tiga orang di panti dalam level ini. Lo paling depan, ntar ditiru anak laen. Tujuh puluh persen anak panti belajar dari lo, sejarahnya di level tujuh, waktu elo dah mampu terbang."
"..?!!"
"Level nol, istilah buat petapa yang masih dicari, calon astraler ini banyak sekali dalam data hasil scan. Level satu, sebutan buat yang udah punya home dan badan di Panti, yang ditemukan petapa lainnya.
Panti adalah garis perbatasan. Lawang ini panti itu, Sel. Berbahan dasar dari lawang kereta Kencana.
Tapi Panti letaknya di tepi pregister bungsu dan di awal nomand, masih bagian Internal. Kalo Kereta Kencana adanya di Server, di pusat Internal.
Gue sama lo nih lagi di dalam simulator. Simul nih tujuannya buat latian, istilahnya tuh lab-nya para petapa.
Zhluubh!
Rey merubah bentuk wormhole jadi gumpalan asap bola saat dikibas hingga tangan menyentuh garis lawang.
"Dari bibit Kencana ini, Sel. Berasal dari salinan inti Server. Ladang, rumah, mobil nih xmatter, atom jadi-jadian."
"Termasuk si Twen absurd tadi?"
"Iya jins khodam nih, tugasnya observasi. Dengan apa lo mati, dia ekplorasi semua ruang-waktu yang ada, ngeliat-liat apa yang terkait kematian lo. Maka jins golongan ini bisa nyimpen data, benda, penyakit, dan waktu.
Twen bisa ngeduluin Izrail, dia datang waktu lo bunuh diri.
Makanya Twen bisa jadi pikiran lo sendiri. Kenapa gue bisa liat dia, will gue jenisnya pikiran, sama frekuensi, sama-sama penghuni Internal. Bahkan gue bisa nyetir will, mutusin pilihan tanpa sepengetahuan dan kesadaran lo.
Kami yang dibilang jins tuh, penghuni alam bawah sadar manusia."
Mercy diam menyimak, mendekap badan.
"Ada banyak jenisnya jin itu, Sel. Tapi balik deh ke level para petapa.
Para junior astraler, masih misterius manusia apa jins. Maka buat liatnya pake level dua, liatnya di sungai atau insting mandinya, pasti kalo manusia tuh punya tradisi mandi.
Level satu paling lama bertahan tiga bulan, gak ada yang betah sama level satu."
"Tapi gue mandi kok. Gue sibuk, otomatis kotor begini. Tadi khan-"
"Level dua, banyak di temuin di air terjun tadi. Itu simul standard buat semua level, tapi bukan di homestay. Itu di Homeless Panti, mereka tidur di situ delapan jam dalam siraman air terjun."
"Apaan tuh home stay?"
"Homestay tuh pekarangan rumah, tempat simulator diparkir," kata Rey membahas kabut yang mengambang setinggi dada.
"Apa gunanya level dua?"
"Ini dia yang lo butuhin, buat megang dan berinteraksi dengan barang-barang Snail di dalam Panti."
__ADS_1
"Level tiga?"
"Tingkat fokus ketiga nih, sukma dah bisa berinteraksi dengan basetime, ikut umur Kencana atau realitas. Udah bisa beraktivitas di luar Panti secara sadar maupun proyeksi. Syarat buat ngajuin simul."
"Level empat?"
"Bisa makan dan minum di dalam simulator, termasuk sakit dan luka fisik."
"Level lima?"
"Jasad bisa tidur sebulan tanpa makan terlebih dulu, berbaring di ranjang alias mode kering. Punya sejarah hidup di basetime, mulai inget atau pulih dari amnesia."
"Level enam?"
"Dah bisa mengeksplorasi Server, SosCamp dan Library. Durasi tidur lebih panjang. Dapat kuota xmatter harian, satu kali berat badan."
"Level tujuh?"
"Dah bisa keluyuran di nomand. Durasi tidur dan kuota xmatter bertambah dari pada sebelumnya. Sudah bisa private skill, ada beragam kemampuan yang tersendiri. Kebilang nemuin jati diri, kerjaan, apa status dan fokusnya di Panti."
"Level delapan?"
"Hanya tiga puluhan orang."
"Level sembilan?"
"Ada belasan orang, ngajar, nuntun, jadi senior."
"Level sepuluh?"
"Nih dia. Patokannya sekarang, belum dibuat lagi. Masih yang lama. Sejauh mana tiga astraler ini dapat beradaptasi di banyak nomand, lama tidurnya berapa tahun, sebarapa kuat nampung ingetannya.
Kadang tiga orang ini ada di level lima, sepuluh, lima, sepuluh. Bingung dengan realitas dirinya. Skill-skill yang udah capainya jadi hilang gitu aja.
Tenang. Masih dipertimbangkan karena digadang-gadang sebagai cikal bakal lahirnya portal Kencana, internal ini.
Gue disuruh masuk simul elo, soalnya gak ada jins yang bisa ngejar will elo nih."
"..??!"
Mercy terpaku.
"Dah mulai siangan nih. Lupain dulu. Balik ke plot. Kalo portal dah bisa ngisep kita, berarti Arc dah muncul di home elo."
Rey bergerak meninggalkan Mercy. Gumpalan awal yang dinyalakannya tembus saat dilalui, tak berfungsi.
Di kamar mandi, Mercy duduk bersila. Rey membantunya mempersiapkan ritual meditasi di dalam meditasi. Shower pun dibuka dan siramannya langsung membasahi baju mereka.
"Kotak bedilnya ntar kempes ngikutin ketenangan lo. Tuh bukan kaca, dah kaya plastik. Gak perlu diambil, Arc lo datang sendiri nangkring di sini."
Rey mengusap-usap punggung Mercy.
"Beneran nih, tidur doang di pose gini?"
"Iya. Bayangin Erika aja. Ga apa-apa."
Gurat senyum di wajah Mercy mengembang. Pemandangan tersebut baru terlihat sekarang. Dua pipinya turut bereaksi atas hatinya yang selalu mewarnai nama sang bintang.
"Standar Panti. Sel-sel tubuh sama otak butuh update, nih standar pembaruan xmatter kaum petapa."
"Hhh.. Oke."
Mercy segera merem, membiarkan Rey duduk di tepi bahtub, di depannya. Air kran sudah menyiram seluruh helai rambutnya yang sepundak itu. Perban di kepalanya sudah dilepaskan, kelopak lebam bekas pertahanannya tersebut tak sia-sia. Mercy sudah bisa tenang melamunkan orang kesukaannya sekarang.
Srrr... rrhh!!
Dua pipi Mercy makin tampak merahnya. Entah apa yang dipikirkannya, dia bahagia sekali, senyumnya hingga lima menit ini terus berlangsung. Dua tangannya terdiam di kedua lutut.
Ssrr..rrhh!
Swwrrrth!! Sebentuk beningan muncul di punggung Mercy.
Mercy tetap bersila dalam happynya, dia agak mengangkat dagu saat menikmati siraman shower, seperi orang sedang mencium wangian, terpejam menggigit bibirnya.
Rey sendiri sudah rebahan di bak mandi. Dia menatap dinding kayu setinggi bahu. Rey menengok pada Mercy, kemudian melamun lagi dengan warna pipi agak berbeda.
-
__ADS_1
-
-