
Bregh!
Mercy menutup pintu mobil, tapi dia tak membekali dirinya dengan AE.
"Sana duluan, Bro."
Brrmgh!
Bro Car melaju kembali setelah menurunkan penumpangnya di dekat lampu merah.
Jalan Pantura di simpang masuk kawasan industri ini, orang-orang agak bingung mendapati jalanan sana mengepulkan asap kebakaran. Mereka berhenti beraktivitas demi mencari tahu dan menerka-nerka dengan terus menontoni. Salah seorang dari mereka balik badan menyuruh semua lari.
Om Skynet mengamuk di tengah jalan, dikeroyok warga yang mengejarnya. Perkelahian itu gara-gara sang hunter menganiaya pemilik rumah. Namun tak kunjung selesai.
Skynet lari usai melemparkan orang, dan diseruduk lagi oleh warga. Mereka menggebuk, menginjak, dan menghabisi Skynet saat berhasil tersungkur jatuh.
Skynet bangkit menyingkirkan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Dengan wajah dingin, dia balas memukul, menendang dan fatality, memecahkan kepala dengan ayunan kaki.
Para pengeroyok terperangah, terkejut, sadar melihat kegarangan sang hunter. Akhirnya mereka mencegah yang lain beraksi, membiarkan Skynet lari menghampiri Mercy.
Hunter mempercepat larinya. Mercy tetap tenang memperhatikan gerakan yang ada, maka begitu pemburunya lompat menerjang..
Set!
Mercy bergeser sambil merunduk dari tangkapan tangan Skynet.
Brughh!
Hunter jatuh tersungkur, merobek kulit pembungkus badannya. Dia gagal menangkap Mercy, hal itu pun membuat orang-orang makin penasaran dan diam menonton.
Hunter berdiri kembali, langsung mengayunkan tinju pada Mercy yang datang menunggu.
Mercy membungkuk lagi, kibasan tangan Hunter tampak terbaca olehnya. Dia juga menyampingkan badannya saat lawan mencakar dengan gerak vertikal. Mercy merunduk kembali menghindar ayunan kaki Hunter.
Takh! Takh..!!
Penonton bersorak saat Mercy sukses menangkis lutut dan tinju Hunter. Mereka bagai melihat terminator imbangan sebab tubuh Mercy ternyata sama kerasnya. Orang-orang tampak tak pedulikan cincin Mercy, langsung have fun dan riang mensupport.
Serangan demi serangan dapat Mercy elak dan tangkis. Si pemburu tak jelas dari mana disuruh siapa, dia ingin Mercy terluka dan mati. Usahanya yang nihil membuat dia tetap menyerang, tidak gabut maupun marah.
Jalanan agak luas, apalagi para warga menonton di jarak aman, hampir semuanya berada di pinggiran. Dua orang yang jadi objek mereka tampak leluasa bergerak, terlebih pembatas arus sudah rata bekas hantaman. Tak ada satu unit pun kendaraan yang berani melenggang, mereka antri terparkir alias macet.
Mungkin sang hunter dikirim organisasi rahasia, bisa juga dari lain mafia yang mengincar artefak. Entah di mana si pemotor Harley Davidson yang salah arah itu, dia anggota dari Macan di "Gotham" sana.
Mercy sengaja menikmati pertarungan karena sedari tadi lawannya tak juga putus asa pakai senjata api. Dia meliuk, meloncat saat kaki lawan menyapu. Mercy juga gemar menangkis serangan kombo sang terminator, hasta dan tulang kering kakinya tampak keras saat beradu, terjejak kilau "kaca".
Sadar atau tidak, kulit tangan dan kaki sang hunter tinggal jeronya. Isi tubuhnya besi logam fleksibel, sebab gerakan silatnya tersebut solid tidak kaku. Mungkin memang logam khusus untuk tujuan bela diri. Kulit dadanya tersebut terkelupas "karya" orang-orang yang mengeroyoknya.
Saat menjungkir badan, Mercy mendengar bunyi tembakan. Begitu pun orang-orang di situ. Karena meleng, Hunter berhasil menendang pipi Mercy saat melayangkan kakinya.
Bugh!
__ADS_1
Mercy terjatuh, tapi lagi-lagi dia melihat sumber tembakkan. Warga tengah berlarian saat sekelompok geng sudah berdiri di mobil, di jalanan, tersebar menembaki mereka. Kelompok tersebut memakai ikat kepala, entah mafia mana lagi, apa nama gengnya. Para Bandana ujug-ujug onar, sebab turut menembak Mercy dan Hunter.
"Duh, Snakes. Hhh.. hhh.. Kesumat lama. Taunya mereka yang megang Cikampek. Hhh.. hhh.."
Mercy sembunyi di beton forbidden jalan. Kelompok bandana tadi ternyata mafia yang boss-nya dibunuh Mercy.
Dhuargh!!
Saat mau mengintip lapangan, Mercy refleks tiarap, batal nongol. Dia pun langsung merayap ke menjauhi tempat awal sembunyi tersebut. Belasan detik kemudian, seperti dugaannya, usai pindah dari lokasi semula granat meledak lagi.
Dhuuar!!
Slurukh! Plukh.. plukh..!
"Hhh.. Hhh.. hadiah perpisahan."
Mercy beranjak jongkok di balik beton jalan, kuping-nya masih mendengar banyak tembakan dan erangan orang-orang. Di depannya sudah terkapar lima orang, dia langsung lari ke trotoar dan berhasil sembunyi di balik gerobak warung rokok.
"Hhh! Hhh..!"
Traang! Tang.. ting.. ting! Tzang!
Mercy merapatkan dua bahunya, ternyata ada tembakan untuknya hingga mengenai gerobak, pagar besi dan beton listrik. Dia ketahuan.
Mercy bingung, pagar ruko dikunci, warung terus dihujani timah, dia tak bisa memantau, tampak berniat kabur karena dirinya terus dibayangi oleh granat. Saat kalutnya melanda, seonggok tubuh menghantam pagar hingga Mercy menjerit kaget.
Bruugh!
"Aarrh!"
"Hadiah?"
Mercy tetap ditempatnya, dia mengintip jalan. Agak jauh dari lokasinya tersebut, para Snakes sudah sibuk menembaki Skynet, mereka sembunyi juga.
Mercy pantau sambil jongkok, beberapa Snakes menembak Hunter dari balik mobil, selokan, rumah, dan juga beton forbidden. Hunter tetap berjalan menghampiri selokan, melangkah ke trotoar di mana ada dua orang pria berbandana memberondong peluru mesin padanya.
Puluhan orang sudah bergelimpangan di tengah TKP, Mercy berdecak sebab tak menduga acara kombat-nya dapat gangguan dari para Snakes.
"Mumpung iklan," kata Mercy sambil menyentuh-nyentuh ujung jari, menginput kode lagi.
Zwiiitt!
Cincin di jari Mercy mendadak responsif, memunculkan artefak. Mercy genggam sambil mengacungkan tangannya ke atas.
"Sampe ketemu di Karawang, Om."
Swuutth!
"Whuaa.. aa!" teriak Mercy saat terbang dibawa tinjunya. "Pelan-pela.. aaan!"
Ngngng!!
__ADS_1
Tubuh Mercy kini ngebut di udara. Tangannya teracung ke depan, berpegangan pada artefak sebesar tutup galon. Dia membiarkan rambutnya berkibaran, kaosnya bergerakan, serta melindungi dua matanya dengan telapak tangan dari aeroflow, arus angin, di ketinggian 200 meter ini dengan kecepatan mesin F1, sekitar 350 km/jam.
Mercy tak lama kemudian slide down, mendarat ala tim SAR di sebuah lahan dekat pabrik, parkiran bus jemputan. Tidak ada siapapun di situ selain sedannya yang sudah lebih dulu sampai. Mercy melangkah menghampiri mobilnya, mengikuti petunjuk "radar".
Mercy memutari mobil untuk menuju tiang listrik di sisi lapangan. Entah kenapa Bro Car diam di situ, mungkin sengaja ada untuk menghindari perhatian orang lewat. Di bawah tiang, Mercy mendapati tempat duduk dari beton, menemukan tanda lingkaran alias transmisi mark.
Gliitt!
"Sel, kami liat area lima kamu aktif, tapi kamu gak ngasih pesan, atau ninggalin suatu yang penting buat kami. Apa kamu sakit ati sama seseorang sampe ngurung diri gini? Aku tau kalo ternyata orangnya tuh aku.
Seminggu habis kita foto bareng Luna, Ghost nyariin Luna di kamar, di kawasan, trus nemuin Olive ngelaporin hal itu. Dia ilang di jam berburu, anak lapang ada yang luka ngirain Al Hood bakal datang, tapi taunya ada soloter yang buang dia.
Ratu ngelaporin hal yang sama. Olive trus nerusin laporan ke mbak Een. Hari itu dewan langaung sibuk, biasanya ada protokol pas genting kayak gitu tapi, toh Pnin udah gak ada.
Aku ikutin saran Heart, kamu punya nama beda di tiap level simulasi.
If your name is Mercy,
tanda berikutnya: 001-10-1001-110-101-10"
Gliitt!
Nguueng!
Sedan meluncur kembali di jalan raya. Bagian depan alias bemper mobil tampak sudah penyok.
Mercy menyetir manual, dia kepikiran berita yang baru didapatnya. Dia terbiasa melupakannya dengan menyetir sepanjang perjalanan. Tapi saat ada mobil yang hendak berbelok dia agak telat mengerem dan menghindar sengolan. Mercy pun menepikan mobilnya untuk minta maaf dan mengurus kerugian dengan cara damai, membayar biaya perbaikan.
Waktu kejadian pukul delapan malam, sekitar dua setengah jam Mercy menyetir. Dia kini memilih duduk di kursi penumpang, memikirkan nyawa penonton, Jihan, dan penolakan ganti rugi dari si pemilik kendaraan.
"Hhh.. Twen. Lo beraninya sama yang polos. Gue emang banyak temen, tapi jangan mikir gue lagi ngediemin lo."
Mercy diam memandangi luar jendela sambil melipat tangan. Dia melamunkan banyak perkara dan urusan yang cukup pelik. Hari ini semua kendala itu belum bisa diselesaikan dengan cara bicara mau pun kesepakatan. Tapi tampaknya Mercy sudah tahu bila sudah menyangkut teman-temannya, dirinya harus apa pada Twen.
Mungkinkah Mercy harus mengumpan sang khodam keluar, memancingnya menampakkan diri?
"Hhh.."
Tzang-tang! Thang..!
"Anjrit..!"
Mercy terkejut oleh bunyi itu lagi, perburuan, kegiatan ala suprise ultah tapi mengincar nyawanya, bukan acara untuk menyenangkan hatinya.
Thang! Tang! Tzing!
"Aduh, gue Marcel! Bukan anggota Macan lagi! Gue Marcelina! Gue Erikarisma! Bangs*t!"
Tzang-tang..!!
-
__ADS_1
-
-