Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
chapter up 041


__ADS_3

Minggu ini lain dari biasanya, Jihan betah di Panti. Tiap libur dia rutin lari pagi, sekarang terkapar di kamar Mercy. Jihan malas gerak, Marcel jadi terbawa mager.


Marcel yang sedang konsen lihat monitor, mengambil ponselnya dekat bantal, benda itu bergetaran karena silent mode. Layar display atau nomer pemanggil menayangkan foto Nina.


"Ya Nin? What's up?"


"Kak, ada Kak Jihan gak di situ?"


"Ada nih, di kamar. Lo sini aja. Gue masih lemes."


"Huh.."


"Kok huh?"


"Napa gak bubar dulu sih? Lagi nyantai diajak santai."


"Ya ela, Sanin. Simpen dulu tuh surat. Siapa tau snailer masih butuh. Sini rame, gebak-gebuk, tebak-tebakan, jerat-jerit sepuasnya."


"Huh bukan santai. Tuh namanya panik Kak."


"Lo sumbernya, Sanin. Katanya lo lagi sante, kok ngajak ribut sih? Surat tanah aman?"


"Ini mau gue balikin Kak. Ngng.."


". . ??" Marcel diam menunggu, karena kalimat Nina pendek, baginya masih kosong dan putih, mungkin akan ada kabar buruk.


"Hhaha..!"


"Hah? Kok ngakak sih lo?" tanya Marcel.


"Bingung ya, napa dikembaliin."


"He, serius. Lo ngirim we-a, tapi kok selamat-Anda-menang-seratus-juta gini? Mana gue paham, Sanin."


"Hahah!"


"Ihh, tengil. Sultan mana sih lo, Sanin? Mau balikin alat sehepi nemu tambang gini?"


"Gue inget lo Kak, tidur dah kayak patah tulang. Manusia karet, kena cheat."


"Tengil. Kiraen ada apa."


"Hahaah..! An-jaaay, kena cheat. Kasian."


"Stop ah. Jangan keras-keras. Seneng amat sih lo, sama aib orang."

__ADS_1


"Maen sini Kak. Katanya mau nyidik sounder."


"Gini Sanin Solehah. Hah, hah! Abisnya, pernah ada kru syuting yang kesurupan, trus juga pernah kejadian, ngedadak tali putus. Skill elo belum familiar, bisa motong plot, nyetop cerita. Lo nge-cheat. Curang, bisa out of skenario."


"Anak library. Ayey..!"


"Preet!"


"Bukan rasis. Kuliklah suatu hal yang sederhana. Gue kena kepo intinya."


"Mmm.. Gue rasa lo kena stroke. Hhh-hhh!"


"Males gue soal teka-teki mah, Kak Titah."


"Iih, da.. Sia mah tengil, Nina. Makin stroke ngomongnya, ah. Apaan titah tuh?"


"Titah. Tidurnya patah."


"Parah ya?" tanya Marcel, mencoba antusias.


"Jadi gak nih datengnya, Kak? Gue juga males kalo lagi game ada tamu dadakan."


"Ya jadi. Anggep aja ada tamu siap kutuk."


"Eh tunggu, tunggu!"


Nuu.. uut! Sambungan ditutup.


"Iih.. si Sanin. Dasar tengil."


Marcel segera menyimpan smartphone di dekat remote, Nina membuatnya sebal karena belum selesai bicara sudah tutup telepon, dia tambah males bersosialisasi lagi rasanya.


Marcel mendapati Jihan sedang memotret-motret wajah. Dia langsung nebeng sebelum Jihan take selfienya, menaruh kepala di pelipis sang lusid.


Jihan lanjut memposisikan hape, layar pun muat saat menyoroti dua wajah di situ. Jihan dan Marcel senyum menunjukkan gigi putih mereka, kemudian..


Cekrek!


Marcel meniru Jihan membaui rambut, mengendus si teman dengan gemas.


"Han.. Lo ambil plot gue aja sekarang, ya? Mmmh!"


Cyiiuph!


Marcel mengecup pipi Jihan dengan lembab bibirnya yang lembut itu. Lalu mengendus-endus lagi hingga Jihan merapatkan bahu.

__ADS_1


"Ummh.. Getek, Bebeb," kata Jihan dengan mata setengah merem, Marcel mencium-cium kulit lehernya.


Jihan menaruh ponselnya dan memindahkan bantal. Dia berbalik saat Marcel sudah berhenti mengg*muli lehernya, menghadap si petapa yang menunggunya. Keduanya berhadapan, saling menatap wajah. Jihan menaikkan kakinya ke pinggang Marcel sambil terus tersenyum.


"Kalo gue main plot, ntar pindah judulnya ke buku sebelah Sel."


"Gak apa-apa kok. Gue sama lo khan sebelas duabelas, satu alam."


"Tapi aku ngebajak plot kamu."


Marcel diam tanpa lepas tersenyum. Dia rapikan helaian halus di kening si teman, kakinya sudah silang dengan kaki kanan Jihan.


Saling pandang begitu, mereka berada di tempat ternyamannya karena berduaan dengan orang yang disukai.


Marcel memainkan rambut Jihan, sementara sang lusid meraba-raba bibir si petapa.


Jihan mengemut jempolnya, lalu menggeser posisi badannya ke arah Marcel, merapat. Kakinya ikut bergerak, menekan sedikit.


Jihan melabuhkan mulutnya ke bibir Marcel serta mengul*m lembut apa yang ada. Dia kini bisa menikmati licinnya, tak hanya melihat.


Cyiiuph! Cyiip.. pph!


Marcel bergerak kepala, membalas ciuman yang ada. Dia menyambut dengan k*lum yang tak kalah hangat, bibir yang dielus-elus tadi dia padukan dengan bibir Jihan, mengambil sentuhan lidahnya.


Jihan yang tengah terbuka p*ha, membiarkan tangan Marcel memijat bagian "tengah itu". Dia agak mendongak menerima gerakan jari Marcel yang nakal.


"Mmmh!" lenguh Jihan. "Hhh.. hhh.. Geli.. Mercy.. Mmmh!"


Marcel melepaskan pijatan.


"Hhh-hhh!" getar Marcel, tertahan senangnya. "Impas."


"Hhh.. hhh.." engah Jihan, memegang tangan Marcel. "Hemat, Beb."


-


-


-


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2