Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
chapter up 011


__ADS_3

Jhid walau sudah tua dan pikun, bahasa gaul dan gaya bicaranya masih lestari, santai alias slank. Dikatakan tua karena berasal dari akhir jaman. Dikatakan pikun karena amnesia tanpa-sebab.


".. yaa kayak gitulah kira-kira."


"Denger-denger lo juga banci, Bang, kegadisan? Apa bener?" tanya Nina lagi.


"Iya. Tapi gak bisa terus-terusan khan..? Gue takutnya ditiru sama Ray. Bingung juga kalo ntar dia berkembang ke-kepo alat kosmetik tanpa nanya dulu apa tuh lipstik, bedak, eye shadow. Maka gue usul ke si Enik biar dibikin area enam buat perkembangan Ray."


"Trus apa bener teknologi akhir jaman tuh pake energi jin? Teknologi siluman Bang?"


"Iya. Gue kayak teka i (TKI) kalo kata jaman ini, tenaga kerja inside. Badan gue yang bisa imut amit-amit, dapet gantiin elektron."


"Kok dibilang akhir jaman, Bang? Itu bukannya era mutakhir atau millenium mesin waktu?"


"Ya karena kutub Bumi udah kebalik. Utara jadi Selatan. Selatan jadi Utara. Ingetan gue, rada error juga sih. Gak tau.


Seingwtnya aja ya. Jaman gue kerja, banyak negara bayangan diburu, dicari-cari. Peperangan berlangsung tiap hari gara-gara portal atau gate di mana gue berasal.


Negara Kencana yang pegang portal mistik tuh, adikuasa di akhir jaman.


Gue gak tau banyak. Yang gue inget betul, gue masih punya Liner, gue pengen ngumpan Kencana biar ingetan gue bisa balik.


Semua ada di ruang Asma itu. Buku utama dia Mirip-mirip Lauh Mahfudz-nya Allah, Liner bisa bikin skenario di buku tersebut."


"Nah ini dia, jadi Abang yang masukin gue ke dongeng lo ini Bang? Kenapa gue di-jomblo-in??"


"Ehh, apaan? Itu bukan Liner gue lagi, tapi udah kuasa si Aas. Jaman gue maen di Internal Nin, gue bikin musibah. Gak tau apa-apa. Lo jangan tanya gue. Sana tanyain si Aas lah."


"Ngomongnya kayak banci gini."


"Bingung gue musti jelasin dengan model apa biar lo ngerti. Pokoknya ke-cewe-an gue bih gak bakal sering-sering kok. Takut ditiru penerus gue. Makanya gue disuruh nulis terus sekarang. Gak boleh keluyuran lagi."


"Apa bener takut ditiru sama Ray?"


"Iya ih. Lo ini. Gue juga tau kalo tuh khodam lagi pake bra."


Tukh..


Sebuah kerikil kecil terlempar mengenai kepala Jhid. Nina menoleh ke sumber lemparan, kemudian Jhid ikut melirik.


"Lo bahas lingkaran aja sama catetan, Jhid. Pamali ngomongin pakean cewek."


"Oke. Bonin, denger gue. Tanda batuan nih koordinat tetap di pulau Jawa, atau daratan Bumi mana pun. Jadi boleh dibikin di mana aja, asalkan di darat," kata Jhid langsung menuruti permintaan Marcel.


"Biar apa Bang?"


Jhid tengadah ke langit, gelap sudah tiba alias masuk jam maghrib. "Biar kita bisa gampang pas nyari batu-batu ini lagi. Kayak bola naga tuh, Nin. Habis digunain mereka mencar.


Ayo. Dah waktunya kita berangkat. Ngekorin Rei. Dia keburu jauh ntar, dia nelusuri lokasi-lokasi elit spion berada."


Mereka yang di situ bangkit berdiri mengikuti Jhid.


Jihan dan Nina mengantongi kembali diary mereka.


"Jhid, gue boleh tau?" tanya Jihan. "Buku apa nih sebenarnya?"

__ADS_1


"Selain daftar mata-mata, lokasi mereka, alat perang, buku ini sertifikat tanah di Eksternal."


"Sertifikat?"


"Iya. Baik, perhatian semua, masuk ke lingkaran halte."


"Nih dah kayak warisan buat lo berdua.." kata Marcel, menambahkan.


Mereka merapat, kumpul di dalam 'halte'. Fungsinya mirip 'keset' di Escort, walau diameternya berbeda, 'halte' juga katanya angkutan lusid generasi kedua.


"Dah, semua? Jangan ada yang nyentuh garis. Nih keset gerbong, tukang ngelas objek yang nyentuh garisnya. Masih liar, gak aman."


"Ke mana kita sih? Napa gak minta anter si Ray aja, Jhid?"


"Biar gak ketauan."


Bikin kusut


"Oke Ray. Tuh bener. Hehe.. Sekali lagi gue bilang. Gue harus nyusul Rei. Gue lupa gitu aja di mana Black Soul gue kurung. Rei tau gue ngidap apaan, dia tau gue harus dibawa ke mana.


Kalo gue terus nulis, kita bakal kaget. Gimana bisa Top Qarrat ujug-ujug ada dalam protokol Enik."


"Oh, jadi nih tanda-tanda Black Soul mau muncul?"


"Bisa dikatakan gitu. Siap ya? Kita berangkat. Ehem!!"


Zhhaang!!


"Naik buraq?"


"Nih dia halte turunnya," kata Jihan mendapati satu batu masih tergeletak di garis 'halte', permukaannya masih berasap dan ada tanda ukiran yang masih menyala glowing.


"Liat bekas luncuran batu yang lo taro nih, datangnya dari sana tanpa nabrak material dan penghalang. Arah jam setengah dua (timur laut)."


"Dua puluh satu (21) derajat. Iya, nih batu dari garis tugas gue. Tapi napa pindah ke derajat sini posisinya?" tanya Jihan lagi.


"Buat di bawa ke halte pulang, ke hutan yang tadi. Kalo mau pulang, kita tinggal nyari sisa batu lainnya."


"Kita udah sampe belum sih?" tanya Nina. "Kok pada ributin batu?"


"Nih tugas lo Han. Chek sana haltenya."


"Oke. Siap. Gue tercepat."


Swuutth!


Jihan langsung pergi meninggalkan mereka. Dia melesat lurus mengikuti jalur pulang, terbang melewati banyak pepohonan kering, menembus sebuah kawasan industri, lalu masuk area kota yang banyak bangunan dan orang-orang beraktivitas.


Set!


Laju Jihan tercekal saat mendekati pantai, bukan berhenti terbang, dia "nyangkut" pada sesuatu di ranah timeline nomand ini. Entah dicekal apa, yang pasti kakinya ter-sentrifugal oleh laju terbang, sisa gerakannya, ada hukum fisika di nomand ini.


"Di sini taunya."


Di antara pohon-pohon kelapa Jihan tidak menemukan apapun, hanya halaman trotoar di kawasan taman sebuah hotel. Jauh di sana dia melihat laut, Jihan tak tahu harus ke mana lagi.

__ADS_1


Jihan abaikan orang-orang yang sedang berkumpul di acara honey moon sepasang insan, yang berada di panggung kecil. Tak ada yang melihatnya karena Jihan berada di timeline nomand.


Hamba mencium jejak Sri Ratu dari sini mengarah ke pantai sana, Tuan. Benar, batu tadi berangkat di ketinggian darat setara tinggi badan Jhid.


"Nih darat semeter koma sekian di atas permukaan laut. Eh iya, aku khan belum nyalain intermate. Gak bisa berinteraksi dengan xmatter nomand."


Demikian. Sebaiknya tidak sini mengingat perhelatan mereka masih berlangsung


"Pesta nikah nih ya?"


Honey moon


"Ouh. Madu bulan. Cakep bener cowoknya, Giz."


Tak ada komentar, Tuanku


"Ya udah. Aku juga gak naksir."


Swuutth!


Jihan melesat ke arah pantai meninggalkan taman hotel. Dia masih dapat menembus bangunan, tempat genset hotel di operasikan. Jihan pun sampai di pantai yang memang tak ada orang non golongan atau natural.


"Hhhs.. hhss! Duh wangi njir."


Jihan sudah menapak di tanah, dia juga sudah intemate jadi penghuni nomand. Jihan berjalan ke arah Barat usai mengendus-endus feromon Reinita.


Jejak kaki si gadis piyama terbekas. Siapapun dapat tahu jejaknya tersebut misterius, wajib dipertanyakan karena ujug-ujug ada tanpa sambungan sebelumnya. Simpelnya, mencari jejak lalu meninggalkan jejak.


Yang belum jelas, 'halte'. Karena Jihan masih menanyakannya lagi saat tiba di tujuan mereka ini.


Batu 'halte' mempunyai ukiran di permukaannya. Tanda-tanda pada tiap batu berbeda-beda, juga berfungsi sebagai penanda untuk pulang ke masa lalu.


Jika ingin pergi ke masa berikutnya, mereka harus membuat lingkaran dari batuan lagi, dan mengukir tanda pulang di permukaan tiap batu. Lama dan merepotkan karena harus tahu diameter lingkaran, ketinggiannya berapa di atas permukaan laut.


Tapi dua modal tersebut cukup untuk memanggil "buraq" datang, dan langsung dapat menumpanginya. Batu yang ditandai 21° tadi bukan batuan dari jaman ini, tapi material yang berasal dari masa lalu. Juga sebagai tanda bahwa mereka sudah turun dari kendaraan, sebab "buraq" tak pernah berhenti melesat.


Sementara itu mantra atau nama tujuan adalah "ehem" seperti yang diucapkan Jhid. Itu adalah nama gabungan dari dua parasas yang memata-matai Internal, yaitu Gweh dan Chem. Jhid mengambil akhir huruf vokal dari suku kata.


Jadi jika mereka ingin balik ke hutan, tinggal mencari batu timeline yang sudah mereka ukir dan tandai. Mantra pulangnya adalah "hutan", nama tempat tersebut. Bisa juga dua nama spion yang sudah dibius Reinita. Tapi Jhid tidak tahu, karena tak bawa gummer, alat anak lapangan, bukan alatnya.


Jihan sudah mencium jejak Reinita, misi mereka. Dia di hutan tadi mencari batuan dan mengukir permukaan benda berdasarkan yang disuruh Jhid. Detailnya, ada seratus batu yang harus dia tulis untuk mewakili derajat lingkaran. Kali ini tugasnya mudah, dan akhirnya tiba di sebuah pinggiran hutan. Jihan diam memperhatikan lokasi di pantai ini.


Swwtth!! Swwtth..!


Jihan biarkan Nina dan Marcel muncul di belakangnya, sedangkan Jhid tampak bergelantung, berpegangan di handle pedang, dia segera turun menapak di tanah pantai.


Nina menoleh ke sebelahnya, tapi kembali menunggu, diam berdiri di belakang Jihan.


"Ada apa lagi, Kak? Laper? Masih siang, jangan takut," ledek Nina.


"Nih nomand yang terdekat dengan abad Lectrin. Gue gak mau loncat acak. Ada batu mahal. Ayo cari. Gweh dan Chem mungkin masih dicariin sama Rei."


Jhid melangkah pergi setelah bicara pada Jihan. Akhirnya si gadis piyama bergerak lagi mengikutinya. Diikuti Marcel dan Nina. Jhid berjalan sambil meneguk air.


-

__ADS_1


-


__ADS_2