
Rei tiba di luar gedung dan di pintu masuk tersebut keadaan sudah ricuh. Para pengunjung panik masuk gedung begitu tahu drone mengejar orang-orang dan menghantamkan diri. Di sekitar Rei, para penjarah sibuk membawa barang-barang ke luar gedung.
Situasi di jalan seolah turut meramaikan. Para pengendara dan penumpang banyak yang keluar dari mobilnya yang tiba-tiba mogok dan bersirine. Bahkan sopir-sopirnya tetap ditembaki karet penampar oleh drone khusus preman.
Rei dalam mode transparan sehingga tak ada yang menabraknya saat diam mencari-cari Knon.
Karena sama-sama intel, akhirnya Knon keluar dari tempatnya mengintip, lari dari balik pot besar sambil menengok belakang membawa 'makanan'nya. Gerak kakinya makin cepat karena Rei mulai mengejarnya di jalan raya yang penuh mobil error.
"Evakuasi!"
Permintaan tersebut terdengar di kuping Marcel melalui airdrop, membuat Marcel segera menembaki drone-drone yang error kena retas.
Dziing! Dzaang!
Drakh! Trakh..!!
"Han! Beresin arah depan, save their! Drone pengantar dan sekuriti diretas!"
Dzing!
Kraakh..!
Dzaa.. ang! Trakh!
Marcel meminta Jihan beraksi sambil tetap menembak sana-sini.
Dziang! Dziing! Dziiieew!
Jihan mengiyakan dan berlari pergi ke arah gang tadi, segera meloncat terbang. Belasan wahana error ikut hanyut terbawa melayang karena Jihan bergerak sambil bertelekinetis.
Trakh.. takh takh!
Cetas! Cetash!
Getrakh!
Di ketinggian benda-benda bulat tersebut langsung pecah-pecah dan terurai. Di udara ini Jihan dapat melihat di bawah sana jalanan telah berantakan, di pinggir gedung orang berlarian membawa makanan dan istri-anak, dan sudah tak terlihat drone.
Pnin membuka penutup sewer atau selokan dan segera menyusul Marcel, tiga remaja pun datang memasuki lubang lewat tangga besi. Mas Bro membiarkan tubuhnya digelangi laser merah, dia meminta dua orang yang sedang berlindung di balik mobil masuk sewer. Pnin kembali mengejar Marcel yang sudah berada di pintu masuk supermarket.
"Wahid! Jagalah pusaka itu! Aaarh!"
Setelah berhasil menyusul Marcel, Pnin ditarik Epsi terbang menembus kanopi entrance bangunan.
Di depan lift, tiga orang sudah terkapar tak bernyawa. Rupanya ada drone berpeluru di gedung mall. Dua unit ini menahan delapan orang yang masih berada dalam elevator. Mereka yang disandery menangis karena terminator mengambang menyoroti laser.
Dziing.. Dzing! Trakh! Trukh!
Satu jeritan mengiring saat drone polisi tersebut pecah. Penembak segera datang, Marcel mengajak mereka keluar gedung. Tanpa ragu lagi mereka segera pergi meninggalkan lift.
Tinggal puluhan orang tersisa di lantai satu ini, mereka masih sibuk menjarah. Marcel biarkan karena dia harus fokus membersihkan kawasan dari robot error. Tapi dicari-cari di area hiburan anak ini, belum ada pengejaran lagi, di sekitarnya hanya arena bermain kids yang sudah kosong ditinggalkan.
Marcel bergerak menuju eskalator. Dia mendapati seorang pemuda sibuk turun sehabis melempar-lempar pengejarnya. Marcel percepat larinya sebelum nyawa pengunjung itu tamat.
Ckitt!
Saat sudah di dekat eskalator, Marcel berhenti lari.
Ada pemuda lainnya yang balas melempar, dan orang itu melemparkan benda mirip asbak pada pemuda pertama yang berhasil kabur. Marcel menghela nafas.
Rei berlari sepanjang jalan. Dia bisa terbang, dan itu bisa lebih cepat menangkap Knon yang masih terus bergerak. Mungkin belum terpikirkan.
Rei hanya menunduk saat Knon melemparkan tulang ke bodi mobil hingga memantul-mantul.
Tlang! Tluung! Tling!
Teng!
Set!
Rei berhasil menghindari "bumerang" lurus yang disengaja Knon untuk menghambat dan menghentikan kejarannya.
Lolos dari "tembakan"nya, buruan merembeskan badan ke dalam aspal dengan cara meloncat seperti masuk kolam.
Swung.. Zleebh!
Ckiiit!
Rei berhenti. Namun si lajang bukan kehilangan jejak, ada lima sosok bayangan datang, empat orang dari mereka lari menyerang. Kelimanya hadir dari lawan arah.
Rei meloncat menghindari sapuan kaki milik si pengebut sekaligus menangkis pukulan yang menunggunya di udara.
Takhh!!
Serta merta Rei memegang tangan penyerang. Dia lempar korbannya ke sosok yang masih melayang di ketinggian sama. Namun begitu mengenai target, tubuh terlempar dapat langsung ditahan.
Sgghh!!
__ADS_1
Rei tak peduli, penyerang ketiga sudah membuatnya sibuk meliak-liukkan badan. Lalu tanpa sepengetahuan, penyerang pertama yang paling ngebut itu loncat dan menangkap kaki Rei.
Swuung!
Rei terlempar di udara ini menuju gedung hingga.. Bruaakh!!
Jeritan dan kepanikan terjadi dalam ruangan yanh ditembus. Mereka yang sedang sembunyi menjauhi Rei dengan ketakutan.
GGGRRDH!
Pratakh! Prang!
Ruang kantor tiba-tiba bergetar. Semua kembali tegang dan memegang kepala sembari tiarap.
Set!
Rei teleport ke atap gedung. Sumber gempa ternyata di lokasi ini, ulah si ketua geng. Di posisi belakangnya itu Rei cengkeram pundak lawan hingga getaran gedung langsung berhenti. Si leader attacker benar-benar hendak merobohkan bangunan.
Bletakkh! Serangan mendadak kembali datang untuk Rei. Namun beruntung, Rei menjadikan ketua mereka sebagai tameng, maka kepala atau ubun-ubun Rei aman dari pukulan yang ada karena menghantam target yang salah, membuat leader mereka muntah kena pukulan di bagian perut.
Begh!
"Fruushtt!"
Swuutth!
Rei melesat membawa "tameng"nya. Empat bayangan hitam turut terbang mengekori mirip peluru balap, mengebut bersama. Rei berhenti di atas stadion milik kota yang kosong dari aktivitas manusia, empat pengejarnya mengerem.
Clekiiit! Ngebut bareng, berhenti pun barengan.
Bruugh!
Sang leader geng jatuh ke tengah lapangan, barulah satu anak buahnya datang.
Rei menatap tiga penyerang yang masih hitam-hitam. Mereka siluet tiga dimensi, Rei ingat tapi tak dapat dia kenali, soloter atau parasas. Ketiganya adalah sosok laki-laki karena memang tidak ada sembulan di dada seperti lead dan yang turun barusan.
Set!
Salah satu dari mereka teleportasi. Rei diam terfokus dan belum mau mengepal, tak ada kesiagaan ataupun niat melayani mereka.
"Tahukah kalian bahwasanya serangan ini amat berisiko. Aku menangkis dan terus mengelak untuk keselamatan kalian. Aku mewarisi kemampuan Mona, kalian hanya menyerang diri sendiri."
"Ambilkan aku batu nisan (samurai)nya."
Set!
"Cobalah menghitungku jika bisa. Kau baru.." sang siluet berhenti bicara.
Grrtth! Grrtth..!
Rei tercekal sesuatu hingga tubuhnya kaku. Di bawah sana didapati leader geng mengacungkan dua tangannya pada Rei, bertelekinetis.
Sementara di sebelah sang leader geng..
Set!
"Sampaikan," kata Rei yang sudah terpasang alat bantu di kuping-nya. "Apa itu remnant."
Swugh!
Sekelebat kaki melayang pada sasaran namun Rei telah membungkuk di depan si telkin. Rei mundur setelahnya karena jika tidak dia akan terbenam ke dalam tanah diinjak penyerang udara yang mendarat bagai pisau, tubuh si penyerang ternyata logam hidup.
Takh! Takks!
Rei langsung diserang dan cepat menangkis tendangan dari kanan kirinya. Dia melesat ke sisi lapangan dekat tribun dan cepat merunduk dilanjut meloncat sambil menoleh.
Braagh!
Seketika dinding pembatas tribun jebol terhantam badan siluet. Entah tersungkur atau terpukul, Rei dilihatnya masih sibuk meliak-liukkan badan.
"Sungguh aku butuh pedang itu," komennya, sadar siapa yang sedang mereka keroyok. "Aku harus menangkapmu, Lead."
Baru saja "dilirik" Rei, si penyerang ketahuan dan kena hantam. Dia ingin senjata yang tepat untuk melumpuhkan si lajang. Dia juga punya cara lain yang sama sulitnya karena masih kalah cepat.
Andai tahu fungsi dari alat yang dipakai Rei di telinganya tersebut, mungkin dia tak harus menunggu pedang android.
"Apa alatmu itu yang demikian keras? Incar Speakernya!"
Maka tak ayal, Marcel yang sering bersama Ray turut jadi incaran. Dia sedang berada di lantai atas gedung bursa saham yang bersebelahan dengan supermarket. Dia terpelanting ke luar jendela saat sibuk menggiring orang-orang di muka tangga darurat, sementara di sana ada mini tank alias transformer soldier yang sedang ditembakinya.
Bruaakh!
Tidak ada gedung di seberang jalan, tapi bunyi tersebut cukup keras melubangi badan airbus. Marcel terlempar hingga bandara dan masuk kapal.
"Hhh, hhh, hhh.. bangs*t. Beraninya ngumpet. Hhh.. hhh.." engah Marcel di kolong kursi, dengan nafas naik-turun bekas perangnya melawan transformer.
Untunglah bedilnya tak hilang terpisah, Marcel sudah mengikatkan tali senapan di pergelangan. Dia bukan sudah tahu, tapi memang ditendang tiba-tiba hingga Arc terlepas dari tangannya. Marcel sengaja ikatkan tali bedil di tangan berdasarkan pengalamannya.
__ADS_1
Sambil jalan di bawah kapal, Marcel pergi meninggalkan lokasi, mengabaikan dinding kapal yang bolong. Di aspal parkiran kapal tersebut dia melangkah menuju menara pengawas, menapaki luasnya lapangan.
"Hhh.. hhh. Hani, lo denger?" kontek Marcel sambil menyentuh airdrop.
"Srr.. rkk.. Iya .. Srrkh.. Beb?"
"Lo di terowongan?"
"Srrkh.. ya.. ssrkh.. gue.. srrkh.. diserang.. srrkh! robot.. srrkh! srrkh!"
"Hhh.. hhh.."
Marcel berhenti jalan. Terdengar suara runtuhan.
"Halo? Halo, Beb? Apaan? Gue lagi ngumpan tentara mesin. Udah gue kubur di sini. Mereka diturunin sama kapal gede yang lewat kota. Banyak banget."
"Hhh.. Hhh.."
"Ada yang ketembak, gue lagi kumpulin sama yang laen deket sini."
"Roger.. Terusin. Gue di bandara, ada yang mukul gue sampe sini."
"Ati-ati, Beb..!"
Saat diam begitu, Marcel memicingkan matanya, melihat penghuni gedung berterbangan. Karena letaknya cukup jauh, Marcel mencoba mengintip lewat teropong bedil, maka telihat ada lingkaran merah di badan orang-orang.
Saat mau menyentuh earphone, Marcel urung.
"Di sini Ghost, di sini Ghost. Luna lagi mindahkan warga kota. Jangan tembak, jangan hit. Kakak baik-baik saja?"
"Copy that. Yes i fine, Ghost," jawab Marcel. "Radio out."
Tratetet..!! Tratetet.. tet.. tetetth!
Marcel melompat saat mendapati jet nirawak terbang rendah menembaki tempat dan posisinya. Drone karya anak bangsa ternyata amat keras padanya. Padahal bajunya ber-flag sama dengan merah-putih di ekor wahana.
"Kebanyakan simulasi, gue jadi ancaman gini.. hhh, hhh.."
Marcel urung menembak di posisi rebahnya ini karena sang drone sudah jauh melenggang.
Marcel segera melepas tali bedil. Pemburunya serasa ada di mana-mana. Dia sudah jadi bagian penting di mata musuhnya.
"Gak bakal gue biarin nih biang kerok, bisanya cuma ngumpet si bangs*t."
Usai berdiri, Marcel lanjut berjalan merentangkan tangannya. Senapannya seperti dia selapkan pada sesuatu, menghilang begitu saja setelah ditinggalkan. Marcel hampiri bangunan yang agak menjulang dengan tangan kosong.
"Keparat, mengapa Muka Haram di sini?"
Saat mengomentari orang-orang yang terbang, sosok hitam tak sengaja melihat Marcel berjalan mendekati tempatnya menonton.
Kepala si komentator berambut aneh, ujung-ujungnya berpentol mirip korek kayu dan beberapa sedang menyala. Tebal rambutnya, yang kenyal dan lentur itu, setebal kabel casan. Badannya terpercik kilat-kilat listrik.
"Percuma sembunyi."
Swwrrtt.. rrth!
Si badan genset menampakkan dirinya siang hari ini. Dia berdiri saja di atap menara mengamati Marcel. "Carilah yang sebanding."
Bruugh!
Saat sedang tenang-tenangnya berjalan, Marcel berhenti di depan seonggok badan yang perutnya telah dikosongkan. Agak jauh di depannya mengambang mahluk serba hitam legam. Dia salah satu dari lima vantablack yang tadi menyerang Rei. Datang karena diutus untuk merebut logam android dari tangan Marcel. Entah kenapa harus 'sarapan' dulu, dan tidak dihabiskan, malah buang mayat.
Marcel menggesekkan jempolnya.
Trrrtthh..!!
Si pencegat diam mengepalkan tangan. Dia tampak tak ingin sengawur aksinya tadi saat menyerang Rei. Karena kali ini lawannya berjulukan Mercy.
Si petapa sengaja dipancing dengan kondisi mayat yang menggenaskan tapi gagal, emosinya tak naik, justru Marcel malah bertambah fokus.
Si vantablack akhirnya perlahan-lahan turun dan menapak di tanah bandara.
Marcel memegang pedangnya ke arah bawah dengan dua tangan, dengan tatapan masih mengarah pada si pencegat. Dia tampak mati, tak bernafas diumpan oleh gore. Marcel juga belum bekedip.
Mayat di situ kemudian batuk-batuk. "Uhukk.. uhukk..!"
"Hhh-hhh!"
"Kat..! Kat! Di sini banyak debu, Mbak."
"He lo khan bentar lagi kesorot. Hhh-hhh. Take lagi deh ahh.."
"Uhuuk..!"
-
-
__ADS_1
-