
Bregh!
Mercy menutup pintu setelah Erikarisma duduk dalam sedannya. Dengan segera, dia naik ke kap bagasi dan menyosorkan badan, quick way.
Sree.. deeth!
Mercy membuka knop pintu usai mendarat dari sleedingnya.
Bregh..!
Usai menutup pintu, duduklah Mercy di sebelah kiri Erika. Mesin segera menyala.
Brrmmh! Brrmm!!
"Pelan Bro. Anggeplah lo nih angkutan penganten," pinta Mercy, bicara pada dashboard mobil.
Brumh..!
Sedan menderukan knalpotnya, Bro Car juga dikawal oleh Rev-9 alias tukang parkirnya sekaligus.
Mobil melaju pelan. Tampak jalan sedang dibersihkan dari bangkai-bangkai jalanan. Rev-9 dengan mudahnya menendang "sampah" yang sekali gerak, kendaraan ringsek itu mental bagai drum kosong.
Set!
Whuung.. Brakh!
Set! Whuung..
Braagh!
Jalanan benar-benar disapu ala Satpol PP yang gajinya turun. Sekali pukul, kepala truk terlempar masuk rumah toko. Sekali ayun, kaki Rev-9 sukses mem-finalti tulang kontener sampai tembus gedung Billiar, bangunan pun roboh.
Ge.. bruuugh!
Sementara dua gadis sudah mengobrol dalam sedan yang dikawal di jalanan tersebut.
"Berarti dia (Rev-9) nih yang bunuh pasangan lo itu?" tanya Mercy membahas Juru Parkir mereka.
"Dia tadinya ngincer gue, terus Marcel.. hhh, gue gak sanggup cerita, Mer. Hiks."
"Sini deh.."
Mercy menarik tubuh Erika, yang dirangkul menyandarkan kepalanya pada bahu Mercy. "Lo boleh manggil gue pake nama apapun. Kalo seneng title Marcelina, anggep aja gue nih dia Erika."
Erika mengerutkan kening. Terpikir olehnya, baru sedikit cerita pendengarnya sudah tahu nama lengkap seseorang, yang hanya Erika tahu. Senyum pun mengembang di wajah si gadis, Erika telah menemukan orang yang dicarinya selama ini.
"Gue sama kayak lo nih sekarang, Eri. Nempuh jalan yang gak mudah demi nemu impian. Sampe gue gak sadar, udah gak kuat lagi nanggungnya, masih aja sendirian."
Erika duduk membetulkan posisi kepala, agak merapat, tangannya turut cari nyaman, melingkar di perut Mercy. Dia kembali memposisikan kepala dan segera betah.
Erika hirup udara sedalam-dalamnya, senyumnya mengembang atas suhu tubuh Mercy, menghirup keringat sang mafia.
"Sekarang, apa lo masih sendirian Mer?" tanya Erika usai menikmati udara favoritnya.
"Masih berdua."
"Napa tadi lo bilang sendirian?"
"Khan tadi. Sekarang udah sebelas-duabelas."
"Hhh-hhh! Lucu tau gak, ngomongnya."
"Gue gak niat gitu, nerangin apa adanya. Biar yang denger tambah cerdas."
"Tetep lucu gimana pun kalo seseorang dah seneng, udah sayang banget."
"Setuju gak ya?"
"Terserah. Hhh-hhh!"
Pundak Erika bergetar, menahan tawa seolah obrolan mereka hal yang konyol. Tidak ternyata, perjalanan mereka berisi kedekatan yang sudah lama dinantikan keduanya. Lihat saja di tempat lain, di sana sibuk saling tembak.
Tok! Tok!
Kaca jendela diketuk Rev-9. Mereka yang dituju segera berhenti mengobrol.
"Dah nyampe aja. Yuk ganti kursi," ajak Erika, duduk menatap.
"Kursi undangan apa pelaminan?"
"Hhh-hhh..!"
"Ayo deh mumpung gak ada Free Fire," kata Mercy beranjak membuka pintu.
Bregh!
Mercy tutup pintu sedannya. Dia melihat ke sekitarnya yang merupakan halaman parkir gedung PH tiga lantai, kosong tak ada mobil lain. Saat tengadah, Mercy lihat ada dua Rev-9 yang berjaga di atap bangunan. Mercy lalu menanyakannya pada Erika yang sedang memandangi.
"Apa cuma tiga unit di luaran nih?"
"Tadinya semua ikut tempur. Gue bagi dua tim."
"Dua tim? Satunya lagi ngapain?"
"Jaga tawanan."
"Tawanan?"
"Hu-umz. Lima unit di permukaan, enam di bawah. Lewat sini kalo mau liat."
Selesai bicara, Erika berjalan ke luar halaman, menuju gerbang dan pos satpam. Mercy buru-buru mengikutinya, Erika berhasil menariknya dengan topik tawanan.
"Hei, lo khan artis. Jawaban lo barusan dah kayak perwira militer pake nahan perwira musuh. Berapa taon di Afghanistan?"
Mercy berhasil menjajari langkah Erika, keduanya berjalan melewati gerbang.
"Penasaran khan? Kerjaan gue emang di sini sebelum invasi. Iya sih gue bisa nangkep orang, tapi soal interogasi gue bukan ahlinya."
__ADS_1
"Lo tinggal tanya aja nomer sepatu dia, jangan tanya medsosnya. Mana dapet info."
"Hhh-hhh! Nomer sepatu ya? Mesra amit. Harusnya khan keras kalo dicuekin."
Mereka sampai di depan halte yang sedang di tunggui Rev-9 lainnya. Mercy agak bingung karena ternyata Erika tak ke mana-mana selain mengajak duduk di situ, tapi Erika masih diam tersenyum.
"Jadi kursi kita di sini?" bingung Mercy. "Bis apaan masih enjoy operasi pas jalanan dah kacau gini, Eri?"
"Bisa diatur."
Rggghh..!!
Saat menunggu jawaban serius, perhatian Mercy beralih ke saung halte di mana belakangnya sedang ditarik Rev-9 penjaga. Mercy menghela nafas mendapati way secret tersebut.
"Kiraen bis sikan gempa. Ini taunya, halte milyagirl. Lo artis gotham, taunya Ragnarok bisa lo ambil dari para Macan."
"Tadinya. Kalo sekarang sebelas-duabelas, Mer. Milik bersama."
Tanpa menunggu tanggapan, Erika segera menggandeng Mercy menuruni tangga yang sudah dibukakan untuk mereka, masuk ke lorong rahasia.
Mercy mendapati lokasi yang mereka masuki mirip stasiun bawah kota, tapi agak kecil.
Sampai di peron ruangan, Mercy lalu dibawa masuk ke gerbong tunggal.
"Duduk dulu, Beb. Mau gue alihin mesinnya ke autodrive."
Mercy duduk dan melihat-lihat. Dia berada di kotanya, tapi tidak tahu ada milyader yang ternyata dekat dengannya selama ini, tinggal di bawah tanah dengan sarana dan fasilitas yang cukup wah. Mercy bahkan baru sadar bahwa kursi yang didudukinya ternyata ranjang halus lagi empuk, dia mengusap-usap.
"Duh.. gue mau diapain sekarang.."
Jlegh..!
Gerbong bergerak. Mercy bisa merasakan lajunya di tepi ranjang. Dia juga bisa tahu, dan saat melihat ke jendela pintu, di luar sana sudah gelap.
Sllpph!
Tak lama pintu ruang masinis terbuka, Erika berjalan menghampiri Mercy dengan tangan sudah memegang lembaran arsip. Sesampainya di depan Mercy, data tersebut dia berikan pada tamunya.
"Gue gak bisa keras. Tapi kali aja mafia kenal dan bisa."
Erika duduk di sebelah Mercy yang sudah sibuk mengamati lembar demi lembar foto dan data yang ada.
Foto di situ seorang wanita yang pernah mencegat Mercy di ladang gandum. Dia berada di ruang khusus, mungkin penjara. Wanita tersebut banyak difoto dalam posisi sedang duduk memijat kepalanya.
"Nih mahluk, kapan lo tangkep?" tanya Mercy.
"Tiga taun lalu. Di markas Macan."
"Hah? Di sana? Gimana bisa?"
"Iya. Cewek intel yang nitip glow circle, yang nyuruh. Gak tau siapa dia nih. Dia sendiri lupa."
"Apa nama di punggungnya tuh?" sidik Mercy kemudian.
"Ehh, lo pernah ketemu juga sama si Fos-ronda?"
"Hhh.."
Erika beranjak ke tempat gelas di simpan. Dia mengambil wadah kemudian mengisinya dengan air-pencet, minuman. Erika kembali duduk dan mengasongkan gelas pada Mercy.
"Minum dulu, Beb. Kayaknya gue nyebelin, malah nambah masalah."
Mercy meneguk isi gelas yang diberikan, lalu mengembalikan wadahnya pada Erika. Dia banting tubuhnya, langsung rebahan di situ. Mercy memutarkan cincinnya, artefak pun muncul dan dia lihat jarumnya mengarah ke pintu, gerbong telah berhenti.
"Ada apa sebenarnya ya?" tanya Erika yang sudah duduk lagi.
"Tuh cewek samaan kejebak di sini. Namanya Reynita. Kita harus bantu dia keluar."
"Kejebak? Gimana Bisa? Apa gue boleh ikut lo?"
Mercy beranjak bangun dan memegang dua bahu Erika. "Elo remnant seseorang yang gue kenal. Lo harus ikut malah. Di mana lingkarannya? Gue harus baca laporan dulu. Ini alatnya."
Mercy mencapit 'kompas' di depan wajah Erika. Objek tersebut disentuh, lalu Erika mengecap ujung telunjuknya. Mercy heran, mengerutkan kening demi aksi Erika yang mirip polisi narkotik.
"..?!"
Sllpph!
Erika mengandeng Mercy keluar gerbong, penerangan di luar ternyata dari lampu lorong pendek yang serba putih. Erika mendorong rak buku, menggeser lemari kayu tersebut ke kursi baca, dia juga memberitahu bahwa lokasi adalah tempat penjaga kamarnya.
Mercy yang sedang memeriksa toilet, segera menutup pintu lagi. Dia melirik Erika dan bertanya soal ruangan di balik pintu seberang.
"Di situ kamar lo?"
"Iya. Kamar ke dua puluh satu."
"..?!" Mercy diam mendengarnya.
"Nih di bawah, sengaja gue umpetin. Lingkaran kayak gini bukan yang lo cari?"
Mercy mendapati tanda yang dibutuhkannya, dia mengiyakan lingkaran yang menyala tersebut sambil jongkok menaruh artefak. Erika turut nimbrung, mengamati benda yang dijilatinya ala shabu-shabu.
Glit!
Selapis layar memancar keluar dan memutar rekaman. Gizi melaporkan kondisi Internal seperti biasa. Namun kali ini berupa video, dalam tayang tersebut Ghost dilingkari Liner buatan Asma. Tubuh asapnya terisi visual dan padatan, menurut penuturan Gizi ritual tersebut protokol untuk "menukar" keberadaan, mirip jam pasir. Ghost yang dibekali cara pulang, berhasil kembali dari peradaban jauh yaitu abad 101. Sejak bangun tidurnya Luna langsung bekerja mengamankan ribuan Enfield, sekaligus sarapan.
Gizi juga mengabarkan soal Jihan, raut wajahnya tampak cerah karena majikannya berada di offmind selama ini.
"Siapa nih, kok kayak gue ya?" tanya Erika yang berpakaian pilot tempur ini.
"Dia Gizi."
Set!
Rey muncul di dekat mereka. Erika agak terkejut melihatnya karena sang jins membawa Twen.
"Makasih ya, Eri. Liat deh, Mercy pasti ke mari nyariin tanda transmisi ini. Gue gak boong khan?"
__ADS_1
"Hehe.. Datang tapi elonya pergi, gak bisa dikontek lagi. Gimana gue ngamin-nya kalo elo kabur gitu."
"Gue bilang khan nyari Mercy dulu. Tanya aja sama dia nih."
Mercy hanya menghela nafas.
"Trus, lo mau apain tuh napi?"
"Oh ya. Gue bawa Twen buat dipindahkan ke Circlet. Makasih ya. Gue mau pamitan sekalian."
"Iya. Gue juga udah dapet reward," kata Mercy.
"Hhmm.. Reward apa reward? Ya udah. Gue balik dulu ya, Sel. Assalamualaikum.."
"Walaikumsalam."
Zwiiitt!
"Jiah. Gitu lagi ilang sama datengnya," komen Erika. "Dia bilang Sel ke elo, Mer?"
"Iya. Gue.. Gue terserah sih. Lo mau manggil apa ke gue."
"Tapi Rey udah bebas. Gue masih boleh ikut lo tugas gak, Mer? Lo mau pergi juga ya?"
Mercy menggandeng Erika menuju gerbong. Dia memberitahu tentang simulator pada Erika. Mercy ceritakan juga soal kehidupan di luar simul.
Di dalam gerbong, keduanya duduk lagi di tepi ranjang. Mercy kini hanya bisa diam melamun. Erika tak juga berhenti happy day, menatap Mercy sambil senyum-senyum.
"Hei.. Marcel."
"..?!"
Mercy menoleh, bingung dengan panggilan tersebut.
"Nih elo khan yang heroik itu, yang ngorbanin diri biar gue gak ketembak?"
"Hhh.."
"Erikarisma tuh nama dancer favorit gue. Ngaran gue sebenernya tuh.. terserah sih lo mau manggil apa ke gue. Remnant juga boleh kok."
Mercy menghela nafas. Dia kemudian hanya mengiyakan saja, tapi sudah dengan sapaan berbeda.
"Iya, Han.."
Mercy kembali diam menatap pintu masinis di depan sana. Sebuah kecupan menyentuh pipi, dia membiarkan Erika bergeser merapatkan posisi duduk mendekatinya. Mercy sandarkan kepalanya kala Erika mengendus-endus rambut dan meng*mut kulit leher.
"Ummh..! Geli Hani. Ouuh.."
Mercy mendongak sambil melenguh saat dampal tangan Erika mengusap-usap ujung payud*ra-nya. Gerak putaran tersebut membuatnya lemas.
Saat Mercy rebah, tangan Erika membuat dua kaki si pemilik "itu" naik. Mercy merapatkan kedua paha, kemudian mendorong badan ke tengah kasur dengan kakinya itu.
Erika perlahan mendekati wajah Mercy, tubuh si gadis sudah sepenuhnya terbaring di ranjang.
"Sel? Nih emang kamu ya..?"
"Geli.. jangan dulu, Han," pelan Mercy, mata lemahnya menatap penuh harap pada lawan bicara.
"Kamu elok banget mukanya, Sel. Masih.."
"Gue virgin, Sayang. Ayo lagi. Sampe kamu hamil."
"Hhh-hhh..!"
"Kok senyum? Jadi naeknya gak?"
"Mau?"
Mercy menggangguk. Erika menyelapkan tangannya di bawah ketiak Mercy, mencium bibir sebayanya, tampak ada sambutan yang kemudian tangan Mercy melingkar di pundak Erika.
Cyipph..! Cpph!
Kedua gadis bercumbu lama, saling suka sejak berjumpa. Erika yang selalu mematai bibir Mercy, kini mendapatkannya, dia sedang menikmati kelembutannya.
Cyipph! Cyupph.. Cphh..
Erika memeluk Mercy, berguling ke samping memposisikan tubuh Mercy di atasnya. Nafasnya naik-turun, dia kini menatap mata Mercy. Erika biarkan Mercy terengah-engah.
"Hhh.. hhh..!"
"Aku dulu, Beb. Pliss.. Hhh, hhh..!"
Erika melepaskan pakaiannya, top-less. Dia merebahkan badannya selagi Mercy masih membuka dua kaki, di atas perut.
"Gue.. Hhh, hhh.. pengen duluan.." kata si pemilik gerbong.
Mercy menurut, segera melabuhkan bibirnya di tempat semula, beradu kembali dengan mulut Erika. Tubuhnya menindih dada, tangannya sudah menyelinap ke bagian "tengah", memegang milik Erika. Mercy balas diciumi Erika dan dinikmati bibir hangatnya.
Erika melingkarkan tangannya di leher Mercy.
Cyiiuph..! Cyipph.. pphh..
"Ummgh!!"
Tubuh Erika terhentak. Lalu terulang beberapa kali. Tubuhnya mengejang naik, membiarkan tangan Mercy mendalami "spot"nya.
Ciuman mereka berhenti karena Erika mendekap badan Mercy dengan cepat lagi erat. Teghh!
Badan Erika kembali tersentak, namun tak juga melepaskan pelukannya. Dia makin merapatkan badannya pada Mercy.
"Hhh.. hhh..! Lagi Beb," kata Erika.
Erika menaikkan dagunya, menahan geli yang amat sangat di bagian "bawah", seketika puncak terhentak.
"Uumhh!!"
-
__ADS_1
-
-