
Erika alias Remnant Jihan sudah bersila memangku Mercy, duduk dengan kepala menghadap dada tamunya. Dia mengendus-endus, menghirup suhu dan keringat Mercy, membiarkan si pemilik tubuh melepaskan kaos, baju singlet, lalu menanggalkan bra alias top-less.
Mercy labuhkan bibirnya sambil memegang kepala Erika, mengulum bibir si tuan rumah. Sementara Jihan mendongak supaya Marcel leluasa menjangkau.
Cyiiuph.. cyipph..!!
Tangan Erika mengelayap ke punggung Mercy. Gadis yang digerayangi tengadah, menutup matanya saat buah dadanya dik*lum Jihan.
Mercy mendesah, kemudian..
"Mmhh..!!"
Mercy alias Marcel tersentak pinggul, melepaskan p*ncak, lalu tampak gerakan sisa alias k*luaran dan luluhan.
Saat Erika hendak mencium lagi dan menyentuh ujung pay*dara, Marcel menjauhkan tubuhnya.
"Hhh.. hhh.. udah, Sayang.. Hhh, hhh, aku sayang kamu."
Mercy terengah-engah. Usai bicara dia mencium bibir itu, yang mampu membuat tubuhnya terantuk seketika.
Cyiiuph.. Cyipph!
Erika membaringkan tubuhnya, diikuti Mercy, menurunkan kepalanya.
"Hhh.. hhh.. Aku juga, Beb. Enak banget.. Hhh.. hhh."
"Gue basah.. banget.. hhh.. hhh.."
"Gitu ya..?"
Mercy angguk-angguk cepat.
Erika menggulingkan tubuh Mercy, mengganti posisi jadi yang di atas. Dia usap rambut halus di kening Marcel, mengabaikan tatapan pemiliknya. Erika jilat dahi putih mulus tersebut dengan lembut lidahnya.
"Hhh-hhh..!" getar Marcel. "Lo ngapain?"
"Aus, Beb.."
__ADS_1
"Diih.. Enak gitu?"
Erika menggangguk.
"Sini bagi.." kata Mercy.
Erika segera melabuhkan bibirnya, Mercy menyambut dan balas mengulum lidah si teman.
Cyipph.. pph..!
Mercy selesai memasang bra, kain singlet, berserta kaosnya. Dia mengipas-ngipas badan dengan tangannya atas gerah yang tersisa.
Mercy lihat, Erika masih sibuk memasukkan lengan baju. Tak lama si teman pun selesai menutup badannya lagi.
Di situ, keduanya telah usai bercumbu. Erika minta Mercy diam. Marcel pun merem menurut, Jihan mencimut bibir yang ada, menikmati kelembutan dan licinnya lagi.
Cyipph.. chhipp..!
Diam-diam Erika memegang bagian kenyal dekat bahu Mercy, benda favoritnya.
"Aaaa.. agh! Mmhh!"
"Aduh.. duh.." kata Erika, bingung ditindih lagi.
"Lets play.. again.." ucap Mercy, agak berbisik.
Cyipph.. pph!
Keduanya kembali beradu bibir dan cumbuan. Saling meng*lum, membalas, dan sama-sama suka. Mereka pun berpelukan.
"Hhh.. hhh.. hhh.. Sisain Beb. Perang udah reda, belum ada kasus besar lagi semingguan nih."
"Hhh.. hhh.. Iya."
"Hhh.. hhh.. Bawa gue keluar simul sekarang.. Gue lagi di poin of view. Offmind."
"Han..??"
__ADS_1
Erika tersenyum memandangi Mercy. Dia biarkan si teman berkerut dahi menatap penuh curiga.
Erika menyentuh bibir Mercy, menyingkirkan helaian rambut yang menempel di situ, di bibir Marcel.
"Ucapin.. Sel. Sisain, buat ntar lagi."
"Oh iya.. Mau sekarang log out-nya.
Erika mengangguk-angguk, mengiyakan.
"Ya udah kalo gitu. Gue mau ke toilet dulu."
Swwrrtt.. rtth..!
Tubuh Erika tiba-tiba menghilang berserta pakaian, tak ada bekas apapun di ranjang. Mercy sedikit terjatuh di situ hingga membiarkan dirinya tengkurap lemas.
"Hhh.. simul.. gini amat. Gak ada abisnya. Hhh.. hhh.."
Marcel mengistirahatkan lelahnya dia ranjang gerbong. Nafasnya yang memburu, dia atur dengan kepuasan yang ada. Marcel biarkan tubuhnya terkulai, karena lemas luar biasa.
Blupph!
Segumpal awan muncul dekat pintu gerbong, sayangnya Marcel tak melihat alias sudah pulas tertidur.
Set!
Seorang gadis berpiyama keluar dari portal. Dia mengerutkan kening saat memanggil. Segera dirinya naik ke ranjang dan menepuk-nepuk pipi Marcel. Si gadis menyelipkan tangan ke balik badan, lalu mengangkat tubuh Marcel, membopongnya turun dari kasur.
Dalam pangku tangan Jihan, Marcel bicara dengan mata masih mengantuk, dia memberitahu dirinya masih lemas dan minta dipindahkan ke ranjang kamar.
".. ntar auto close-mind, Han."
"Dah bobo dulu, Beb. Gak bakal gue taro di lahad kok."
"Hhh-hhh..! Bangs*t.. lo, Han."
-
__ADS_1
-
-