Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
chapter up 026


__ADS_3

Rey yang dikira mati, ternyata masih hidup dan sedang duduk.


Siang terus beranjak maju. Awan kelabu akhirnya mengguyurkan daratan. Tak ayal jalan aspal turut tersiram bersama kendaraan-kendaraan yang melaluinya. Kota terpencil namun ramai ini tetap sibuk, mungkin memang di tiap harinya.


Sebuah sedan masuk ke halaman pom. Tempat yang dimasukinya tidak begitu sibuk, hanya sedan mansion ini yang datang. Sementara air langit masih tetap turun.


Bregh!


Mercy keluar dari sedan tersebut memasukkan koin. Dia segera mengambil gagang selang di tiang pengisian bahan bakar ini. Mercy selapkan moncong nosel ke lubang tangki.


SPBU tersebut tampaknya sistem swalayan. Walau mirip celengan di Kidzone mall, mode pembayaran lain masih berlaku karena ada kotak berlayar di dekat lubang celengan. Sayangnya layanan tersebut tak digunakan si gadis.


Mercy memperhatikan depan toko, di sana terpampang iklan suatu produk. Kain spanduk mirip terpal penghalang terik matahari. Wajah bintang iklan di situ membuatnya teringat gadis dalam mass foto.


"Hhh.. Gue gak bisa nonton lo lagi."


Bregh!


Mercy tak hanya mengisi bahan bakar, dia juga membeli sekantong makanan dan minuman. Mungkin memang akan pergi jauh dengan bekal tersebut. Usai menaruh belanjaan di kursi sebelahnya, dia buka laci dashboard, menyimpan kembali koin celengan yang tersisa.


Cring.. cing! Sllpph!

__ADS_1


Si gadis menatap kaca spion tengah, di belakang itu Rey duduk menutup mata alias tidur. Mercy menstarter mobil, mesin pun menderu.


Entah di tol mana, sepanjang jalan Mercy menyetir sambil tetap mengawas penumpang yang tidur tersebut. Kecepatan mobilnya 80 km/jam. Dengan satu matanya yang terbalut perban itu dia tak berani santai, baginya Rey tidak mati ditembak, bisa jadi bahaya dadakan. Mercy tampak penuh curiga walau dia sudah tahu Rey hobi berdizkir, bukan merem tertidur.


"Hhh.."


Fans laennya gitu, pake ngikutin.. Apa gue mau direkrut ya, jadi bodyguard pengganti.


Mercy menepikan mobilnya ke lajur lambat alias markah kiri. Entah di kilometer berapa, jalan tol tersebut membelah hutan dan ada terowongan jauh di depan sana. Mercy menguap sekaligus langsung bergeleng cepat, mengusir kantuknya.


Sekalipun tukang langgar, si gadis tampak kalah dengan kondisi tubuhnya yang minta istirahat, diam bersandar menatap jalanan. Gelagatnya terlihat masih ingin terus menyetir.


"Hoa.. amm.." buka Mercy, menguap lagi. "Anj*ng.. Lemah gini gue. Hhh.."


Clekh!


Mercy putuskan keluar membuka pintu mobil. Dia melangkah ke depan sedan kemudian duduk di kap mesin. Mercy membuka kait kaleng minuman yang dibawanya, segera dia teguk isinya.


"Hhh.."


Tunnel di depan sana terus ditatapnya, apa boleh buat keletihan otaknya sekarang tak memungkinkan untuk menyetir.

__ADS_1


Klontang..!


Mercy lempar kaleng ke depan, bunyi kosong nyaring terdengar. Dia tampaknya dapat menghabiskan air sekali teguk. Mercy juga tak menyeka bibirnya, lanjut melamun di situ.


Seraut wajah di spanduk minimarket tadi terpampang pada tiang reklame pinggir tol. Pandangan si gadis mengarah ke situ. Masih ada mafia yang memperhatikan terowongan, sekaligus menonton iklan digital board.


Kegiatan tersebut berlangsung beberapa menit, Mercy mendadak harus masuk mobil. Duduk santainya di kap sedan harus pindah karena tetesan air hujan mulai turun membasahi.


Bergh!


"Hhh.. Love you."


Mercy harus menikmati pemandangan dari dalam, dia sudah parkirkan mobilnya di jarak nyaman ini sehingga tinggal bersandar. Namun..


"Hoaamm... mmh.. Duh, ngantuk akunya, Yang.."


Clekh!


Mercy segera kunci pintu mobilnya, tak lama kemudian merem menyandari kaca jendela. Segurat senyum tipis menghias wajahnya. Mercy tampaknya tenang usai turun hujan ini.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2