
"Selama di Seberang ini aku dalam karantina Anak Langit. Bahasa kalian aku mengabdikan diri padanya. Namun Yang Mulia Luna tak ingin memperbudak, bahkan hanya sedikit sekali memakanku.
Aku tidak percaya kalian benar-benar menerima kami yang telah membunuh Queen Laras (Indri)."
Nina mengamati 'kompas' di tangannya, jarum-jarum di situ berputar memancarkan segitiga mini.
Penunjuk bergerak ke kanan. Nina dapati, Pnin membungkuk di depan box shop.
Laki-laki tersebut membuka penutup kaleng membuat Nina ikutan minum juga saat menyandari pagar trotoar.
Pnin menghampiri Nina yang masih konsen dengan alatnya.
"Hari itulah aku tahu apa yang sedang menimpanya (Luna). Selama tiga abad, kalian belum dapat mengetahui penyusup-penyusup ini. Aku peringatkan Asma dengan guncangan karena Yang Mulai Luna ditidurkan para bawahanku. Mengapa kalian tak mengetahuinya?"
"Sampein mas Bro. Valid. Markas gue emang sempet gempa buatan. Karena si Judes lagi gak eling. Kami bersistem seri, gak separarel kalian kalo ngebaca plot atau alur kejadian."
Siang hari lokasi agak ramai dekat jembatan penyeberangan ini. Sepanjang trotoar hanya dibatasi barisan warung-pencet dan pagar pinggir jalan. Entah abad berapa, pejalan kaki sudah bisa videocall lewat kalung dibayangi layar dekat dagu. Nina sudah mengikuti trend dengan alatnya tersebut.
"Terima kasih kalian telah menjaga Yang Mulia. Kami telah mengakui tuhan kalian. Aku melihat tanda-Nya."
"Seperti?"
"Tak terduga. Temanmu yang kulihat, namun malah kau yang di sini. Demikian pula dengan pusaka Pnah. Dari mana kau mengetahui letak senjataku?"
"Aku hanya geram aja sama kak Judes. Pengen ngancurin batoknya, mas Bro. Tapi gak tau tanganku ngedadak ikut keras."
"Demikian tanda-Nya. Ada banyak sekali kulihat penciptaan Dia."
"Apa termasuk diari mas Bro ini?"
"Upaya kami. Bahasa kalian adalah barang yang berkah. Tentu saja termasuk diriku."
"Intel insyaf."
"Benar. Aku sudah mendengarnya dari Yang Mulia Luna," kata Pnin lagi bicara sambil memegang 'kompas' selayak mic.
"Luna emang pantomim legendaris mas Bro. Kalo lancar ngomong, dia bisa nyaingin cak Lontong."
Marcel meneropong keduanya di kejauhan, di seberang jalan dengan ketinggian berbeda, sisi sebuah taman renang apartemen. Jihan bersila di dekatnya 'mendengarkan' Pnin lewat buku kecil.
Jihan memang sedang baca buku aneh yang kertasnya terisi oleh ketikan komputer.
"Kalian berdua kuserahkan tanah kuasaku di sana. Kuharapkan tempat itu kelak dapat menyadarkan para kolonial (soloter) yang tak mengetahui apa-apa tentang kami."
"Sayang?"
"Ehh.. Iya, Beb?"
"Ganti coba ke bentukan awal," kata Marcel sambil menoleh. "Si Sanin nunduk mulu. Dia liatin apa gitu."
"Iya."
Jihan segera menempelkan buku tersebut ke perutnya.
Gliitt!
"Aku hamil, Beb. Hhh-hhh!"
"Iya aku juga," kata Marcel dengan badan tetap menghadap objek pantauan, kepala mengarah pada Jihan. "Kamu berapa bulan?"
"Bulanku ada lima Beb. Rupa-rupa warnanya."
"Ngidam balon."
Saat pundak bergetaran, Jihan kembali fokus. "Eh, ada jarum barunya, Beb."
Marcel mendapati keterkejutan Jihan, ternyata benar bentuk bawaan si benda memancarkan lokasi 'magnet'nya.
"Nih ge pe es juga kayaknya, Han."
"Iya. Nunjuknya agak ke bawah gini," intip Jihan sambil mengangkat kompas dan di ayun-ayun. "Jarum dalemnya muter. Tapi jarum luar gak rubah, Beb."
"Ada lagi kayaknya.."
"Yang Mulia Luna menyetujuiku, kemudian sampailah aku di hadapan Rei demi ijinnya ke Library. Namun aku dihadang Gizi seperti yang diberitakan olehnya."
"..??"
Jihan dan Marcel saling pandang.
"Giz?"
Sri Ratu tak memberitahuku bahwa Pnin adalah tamunya, Tuanku. Sehingga kudapati Pnin menghampirimu, Nay membawamu kembali ke kapal karantina
"Oh jadi waktu itu ada kamu toh di Alqalam?"
__ADS_1
Demikian
"Gue sama Gizi lagi marahan Beb. Pas waktu itu, gue lagi labil-labilnya, kayak si Lidah Buaya. Maka buat ketenangan, gue diamanin dulu. Gue belum konek banget sama Gizi."
"Hhh.. Gue juga kayaknya bakal labil, Han."
"Kayaknya gimana?"
"Masih ragu radiatif body gue."
"Radiatif body? Maksudnya.. umm.." gantung Jihan, ragu-ragu, karena dirinya pernah mewawancarai Heart.
"Hhh.. Ntar aja. Gue ceritain. Kita tunggu aba-aba Rei di sana aja, bareng mereka (Pnin dan Nina)."
"Sini dulu pipinya."
Saat hendak berdiri, Marcel batal dan langsung mendiamkan kepala. Jihan pun segera mendekatkan wajahnya ke arah Marcel.
Cwuuph!
Belum ada info mengenai waktu peradaban. Beberapa gedung menayangkan reklame iklan, baik dengan hologram maupun luquid crystal display.
Produk yang dikenalkan ada banyak macam, mulai dari kendaraan, pakaian, kapal laut pribadi sampai iklan dikontrakkan pun ada. Bangunan di sebelahnya bahkan berkalung proyektor bioskop menunjukkan waktu secara komplit: 13:34 WIB 17 OKTOBER 4022 MASEHI.
Swuutth! Swu.. tth!
Jihan dan Marcel melesat menembus benda-benda terbang di perjalanannya. Mereka meninggalkan taman atau balkon datar yang menjorok di permukaan gedung bagai laci meja saat di situ ada drone berpatroli dan menyinari air kolam. Jihan dan Marcel berinteraksi lagi dengan nomand atau lingkungan, mengisi opacity badan di balik dinding sebuah gang.
"Jaman drone apa abad layangan bulet ya?"
"Robot delivery."
"Masih sambungan jaman Lectrin gitu ya, di dunia yang udah bisa ngubah benda jadi data?"
"Iya. Internet Dua. Aman. Yuk!"
Marcel lirik kanan, lirik kiri mengawasi trotoar kemudian mengandeng Jihan keluar gang. Gaya intel tersebut selalu berhasil membuat Jihan kepo, padahal Marcel memang sedang hati-hati pada drone patroli, siapa tahu mengejar mereka.
"Emang suami kamu suka lewat sini, Beb?"
"Iya. Dibawa selingkuhannya sekarang."
"Hhh-hhh!" renyah Jihan. "Bisa aja ihh. Apa gak capek petak umpet gini? Lebih baik kita duduk depan penghulu, Beb."
"Iya sekalian melayat suamimu itu."
"Hai semua. Ratu masih di sana ya?"
"Akhirnya kalian datang juga," sambut Pnin yang sedang curhat sambil memandangi gedung perbelanjaan di seberang jalan. "Benar. Rei memahami informasiku dengan baik. Dia tak pernah tergesa-gesa."
Nina melepas sandarannya untuk mengasongkan sekantong minuman. "Curhat dan haus gak kepisah. Pegangin. Gue mau latian Pnah."
"Boleh gue minum nih?" tanya Jihan. Diambilnya satu kaleng, dia sodorkan pada Marcel.
Nina tak menimpali dan hanya menjarak agak jauh. Dia sudah memegang tongkat rakitan mas Bro. Tombak tipis tersebut membaling di tangan pemegang, Nina juga memindahkannya di balik punggung tanpa menjeda putaran.
Wuugh! Wuu.. ugh!
Set!
Tongkat akhirnya berhenti. Nina diam saat Pnin memintanya mendekat.
"Kalian berdua kemarilah, Nak."
Jihan dan Nina menurut dan segera menghadap Pnin. Sementara Marcel meneropong gedung supermarket yang berada di seberang, bedilnya masih mode stealth alias bening di punggungnya.
"Kurasa salah seorang dari kalian mengenal snailer bernama Tesla. Dia akan berguna."
"Tapi dia bukan pemimpi (lusid) mas Bro, penghobi listrik kalo gak salah. Ilmuwan," kata Nina, gamer tapi auto nyahut soal tokoh fisika.
"Saya tau dia. Apa ciri rambutnya kayak landak Bang?" tanya Jihan. "Tapi cuma tau nama drivernya. Kalo gak salah jins-nya si Tesla tuh Nos."
Klontang!
Jihan dan Nina kaget merapatkan bahu, begitu juga Marcel yang memang awas, langsung megang senapannya.
Drakh! Brukh! Klang!
Di depan box shop, siang-siang lima berandalan menggebuk-gebuk drone penjaga box shop. Kamera terbang tersebut tampaknya memperingatkan mereka yang memecahkan kaca warung-pencet, tapi dihakimi.
Tak lama berandalan kabur setelah mengantongi isi lemari meninggalkan 'petugas robot'.
"Ini valid dengan pengamatanku."
Swuutth! Set..!
__ADS_1
Sekelebat saja Pnin sudah mengais si robot malang yang penyok dan mengelus-elusnya bagai kucing ketabrak sepeda.
"Dia juga mungkin dokter hewan Bang," terang Jihan lagi, asal.
"Charger-ku terindikasi dipalsukan hingga dia (Tesla) seperti sedang menghubungiku. Tesla mampu meretas alat yang baru dikenalnya."
"Ya udah Bang. Sini gue anterin ke dia."
"Bukan engkau. Dia saja."
"Ehh, iya," kata Jihan dengan pipi sangat merah.
"Bawalah ini kepadanya karena dia terus memikirkan charger-ku. Dia akan senang mencari tahu pemilik drone ini berserta dasar jaringan alat," kata mas Bro pada Nina seraya memberikan 'kucing' tersebut.
Nina memasukan kompasnya ke saku jas dan segera meraih drone yang Pnin sodorkan.
"Sini deh. Dia cowok apa cewek Kak?"
"..??" Jihan diam mencerna. "Umm, cowok Bonin. Emangnya napa?"
Srtth! Srtt..thh!
Belum sempat Nina menjawab, segaris sayatan muncul di dekat mereka. Ternyata perbuatan Ray si ABRI gadungan.
"Lewat sini aja. Jangan nge-path Endfield. Capek."
Nina buru-buru masuk melewati Ray tanpa berterimakasih.
"Semangat betul dia," komen Jihan.
"Dia bawa drone, aku bawa ini Non. Suka gak?" tanya Ray mengangkat sekotak stone yang terselip gummer di sisinya.
Set!
Jihan langsung merebutnya dari tangan Ray. "Punya Ratu."
Praang! Prang!
Beberapa orang menghancurkan lemari jajanan di situ. Belum lagi jalanan mendadak kacau, mobil-mobil magnet yang tadinya lancar terlempar ke pinggir jalan dan kendaraan lain bertabrakan.
Bruakh! Blaang!
Klontrang..!!
"Duh, ada apa nih?" bingung Jihan sambil ikut melihat-lihat sekelilingnya.
"Sampein Pnin, lo udah tau banget pastinya," kata Marcel meraih Arc di punggung sambil terus mengawasi.
Ray lebih siaga di dekat Marcel dengan pedangnya yang dia siapkan di balik punggung.
"Mereka kelompokku, yang sudah kutinggalkan, dan tak menerima penghapusan Black Soul. Aku akan menghubungi Yang Mulia Luna."
"Kyaa.. aaa!" teriak wanita yang lari ketakutan saat turun dari jembatan penghubung trotoar.
"Mbaak! Woy! Napaa?!" teriak Jihan, tapi wanita itu lari seperti kesurupan. "Hhh.. Jadi kacau gini njir."
Orang-orang panik di semua tempat dan pinggiran jalan. Beberapa sudah ditabrak oleh drone dan kepalanya penuh darah.
Rei masih di supermarket. Saat sedang baca-baca cara masak mie instan, si lajang mendengar erangan di rak seberang. Rei segera meninggalkan tempatnya diikuti drone-keranjang.
"Aaa.. arhh! Aaargh!"
Seorang pengunjung pria terbaring memegang pundak kanan, lantai dipenuhi darahnya, tangannya diputus alias dicuri. Dua pengunjung lainnya di situ sedang pelukan tak berani melihat.
Gubragh!
Rei yang hendak mendekat terdorong hingga menimpa tubuh si pria. Dia disingkirkan oleh pemuda yang memasukkan makanan dan roti-roti lain, kerangjang belanjaan Rei sudah tergeletak dan dirusak. Setelah penuh, orang tersebut kabur balik lagi.
"Hhh, Hhh..!! Te ka, te ka."
- terima kasih, terima kasih
Rei melepaskan tangannya dari pundak si pria. Dia bangun dan jongkok mengambil sesuatu. Rei menunjukkan selapis kartu tranparan bergambar seorang pria.
"Ap di yang kaimu?"
- apakah dia yang melukaimu?
Si pria sudah duduk, dan mengangguk-anggukkan kepala dengan cepat sambil tetap memegangi bekas lukanya yang mendadak kering serta tertutup.
"Te ka, te ka.. Hhh! Hhh.. Hhh!"
-
-
__ADS_1
-