Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
chapter up 035


__ADS_3

"Hikk.. uhuh.. uuu."


Mercy menangis, tak bisa terus menahan. Dia baper, kangen luar biasa. Seharian ini belum lihat bintang iklan kesayangannya lagi sejak meninggalkan tol.


Rey membiarkan, mungkin di ladang sana Rey senyum karena akhirnya Mercy mau terbuka dan bagi perkara.


"Kiraen ada apa. Takutnya gue ngebebanin, Sel.. Jadi gue nanya."


"Ngga.. Uhu.. huhuu.. Gue kangen dia, Rey."


". . ."


Mercy teruskan curah hatinya tersebut, ganjalannya, kekhawatirannya, dia juga cerita bahwa Jihan bisa menghapus Lusi dari hatinya.


".. ke depannya udah bukan dia (Jihan) lagi, udah jadi paradok yang benci sama Gizi. Sepele cuma karena nila (qarrat) satu ini."


"Iya nih force-nya Black Soul. Bisa kok dicegah, asalkan lo netepin Jihan di sini sebagai Erikarisma."


"Gue gak tau Jihan lagi nangis-nangis waktu gue kebelet buang aer dulu."


"Sebagian imej dia masih di sini, kok."


"Gimana kalo orangnya sama sekali gak kenal gue, Rey?"


"Coba temuin dulu. Ragu gitu.. Ntar malah kejadian, ntar lo malah dikuasain balik sama simul. Reboot lagi."


"Gue boleh tau gak Rey?"


"Soal apa, Sel..? Boleh kok."


"Detik-detik akhir Internal tuh gimana?"


"Sebelum malapetaka, jauh-jauh hari gue udah ngedoa, minta disisain satu mahluk yang masih beriman dan bisa sholawat. Gue pasrah waktu Black Soul udah nyekal jantung. Habis sakitnya itu, gue langsung pindah tempat, batuk-batuk. Terus denger cerita dari para dewan dan Reinit.. kalo Black Soul udah dihapus, gue bobo sekian ribu taon. Lo datang ngenalin diri, ikutan bilang makasih. Jujur, buat gue semua nih masih ngebingungin, Sel."


"Protokol terakhir tuh udah ngelarang Black Soul ngehakimin lo khan, beres nge-close Kencana?"


"Udah disampein, tetap dia-nya ngerasa maha tinggi. Dia-nya nantang protokol itu."


"Apa lo ngerasa masih tidur, terus ngerasa bakal dibangunin lagi sama satu kejadian?"


"Gak tau. Gue belum ngerti definisi mimpi itu apa. Kami gak bisa ngalemin mimpi, Sel. Fokus dulu ke Erika. Ntar dikuping sama Twen."


"Ya udah. Iya."


"Jangan ngebiarin gue jadi jins khodam. Andai gue bisa liat surat, mending gue yang di lapangan. Masa iya, lo kalah sama portal tiruan?"


Mercy mengiyakan lagi dukungan Rey tersebut. "Iya. Ada jalan kok, Rey."


Marcel terjebak sebagai Mercy di simulator atau portal salinan, tercekal di realitas maya. Penyebabnya tidak ada feed-back yang mereka sebut healing, dalam game disebut check-point alias mundur beberapa waktu saat player gagal di perjalanan. Jadi sinyal SOS sebanyak apapun takkan terpancar ke luar simulator untuk ditanggulangi, terlebih level tidur Marcel ditingkat semi-permanen, dapat tidur bertahun-tahun.


Jika belum paham, Mercy dibiarkan mati.


Nyatanya tidak. Ada yang mengutus Rey untuk masalah death loop atau kematian yang berulang-ulang ini. Mercy pun tampaknya sudah jauh lebih sadar, apa dampaknya jika dia lama berada dalam "kurungan".


Banyak yang menginginkan kematian Marcel. Dan tentunya psikis Jihan pun jadi incaran, mungkin itulah yang membuat Mercy menangis. Tapi hanya Marcel sendiri yang bisa memutuskan jalan hidupnya, terus di simulator atau keluar agar bisa lanjut bereksplorasi di jagat Internal yang lebih rumit dan komplit sebab volumenya langsung dari portal original.


Hujan deras sudah berhenti. Sampai siang terik Mercy tetap napak tilas. Pakaiannya sudah kering, dia tak kunjung naik kendaraan. Bro Car tetap mengikuti di belakangnya sebagai teman perjalanan si petapa.


Mereka lagi-lagi menemukan tempat yang sepi dan hening, kota yang sudah ditumbuhi tanaman.


".. Maka Sri Ratu hindari pintu rawan ketimbang memperbanyak lusid yang terluka.

__ADS_1


Hampir semua Endfield aktif di tiap nomand. Demi menghemat xmatter sekaligus quickscan (analisa-cepat).


Beberapa layanan Server dibatasi untuk sementara, Tuan. Karena ada input yang terindikasi tidak disandikan terlebih dahulu yang semisal boarding Library.


Bila engkau Tuan Puteri Mercy,


tanda berikutnya: (di sandi dalam kode Morse)"


Tempat demi tempat Mercy datangi untuk sebuah tanda lingkaran. Setelah menerima tranmisi yang diterjemahkan artefaknya, Mercy akan tahu bagaimana dia "dijahili", dimatikan. Anehnya saat berjalan kaki, Mercy tidak mendapati adanya bahaya dari pemburu-hadiah.


Bahkan pemotor HD dan Om Skynet belum muncul mencegat. Mungkin karena alamat lingkaran sudah di-secret dalam kode bahasa buatan manusia. Terlebih diketik dengan benda 'UFO' alias Surat Tanah. Mungkin begitulah cara membingungkan pengintip ilegal.


Di sebuah kota yang berantakan, di depan rumah sakit tingkat internasional, Mercy jongkok membaca tramisi lagi dari Gizi.


Ternyata, perkembangan defens Server sedikit demi sedikit menguat. Namun kesibukan di Endfield makin ramai, dikarenakan dapat mendeteksi parasas dan soloter, jadi "hotspot". Banyak kanibal jejadian yang mencoba masuk ke Internal demi sesuap "makanan". Gizi bertugas mengisi lightnov defender tiap harinya, dia dan Nina jadi incaran karena membawa charger.


"Hhh.. gak jauh beda sama kondisi di sini," gumam Mercy sambil terdiam.


Bregh!


Mercy menutup pintu begitu duduk di kursi penumpang.


"Yuk ke Ragnarok sekarang. Di sono lebih kacau kayaknya."


Brmmh! Brumh..!!


Mobil menyala sendiri seperti biasanya.


"Tetep pelan-pelan, Bro. Ngebut udah kayak bawa nuklir."


Sedan menurut, roda pun bergerak dengan laju pelan. Mercy dibawa "perahu dayung" melihat-lihat TKP bekas suatu perang. Sejauh ini dia belum mendapati seonggok mayat. Walau lega namun masih kepo, siapa yang "mendekorasi" kota jadi Nagasaki dan Hiroshima ini, pihak luar atau bangsanya sendiri.


"Piknik tapi sedih gini gue. Moga serangan alien."


"Sel, lo denger?"


"Ehh, ya Rey. I hear always."


"Syukur deh dah ehem. Mau balik ke kota lo khan ya?"


"Iya. Gimana persen wormhole?"


"Lancar. Gue inget sesuatu Sel."


"Oh ya apa tuh?"


"Enkripsi darurat buat kirim pesan ke luar simul. Tapi bukan olahan gue. Nih pesan lo."


". . ??"


"Gue nemuin di lantai home lo. Kirim jangan?"


"Tunggu, tunggu. Lantai yang.. aduh.. lantai yang di kamar, apa?"


"Iya."


"Apa gue pernah nonton laporan gue sendiri, Rey?"


"Pernah. Tapi waktu mesin mobil mogok."


"Kirim, kirim. Aduh. Itu yang bikin lo dateng masuk simul."

__ADS_1


"Buat ngelunasin?"


"I-iya. Ada sebab, ada akibat."


"Ya udah. Gue setuju."


Mercy langsung lemas melepas semua nafas. "Hhh.."


Ada angin segar tampaknya, apalagi Mercy sudah di perjalanan menuju Ragnarok tempat tinggal artis pujaannya yang super kaya.


"Bertahan, Sayang. Gue tau nih plot sambungan jaman dua Srikandi merangin robot pintar. Lo janda kembang, Sayang. Gue belum mati, gue kebelet, ke aer dulu waktu itu."


Mercy berharap melalui Erika, Jihan akan minta maaf pada Raven, balik miara jins.


Mercy harus melaju dengan kecepatan kaki pegawai Tata Kota, kura-kura, keong, alias bersabar.


Digh!


Skill martial art alias Hunter jongkok mendarat di depan sana, mencegat perjalanan.


"Good job, Bro. Gue udah janji gak bakal bikin lo ringsek, gak mau lo jadi kesetnya dia."


Brumh!!


"Habis gue turun, lo mundur.. Ambil jalan muter yang deket patung Jokowi itu."


Bregh!


Mercy menutup pintu sekeluarnya dari sedan. Sesuai perintah, Bro Car cepat mendecitkan ban karetnya.


Krii..iitt!!


Mercy berjalan menghampiri Hunter yang masih diam menatap, tubuhnya telah beregenerasi hingga tak ada jejak luka.


Mercy berbasa-basi dalam pandangan dingin sang Hunter.


Mercy tampak berjalan santai seperti seorang presiden wanita yang ditunggu pembunuh antinego.


"Kawan Lama, kami masih sangat sibuk. Lihat tempat ini. Mungkin kau mau berbagi tugas dan masih mencari Mercy."


Wuutts!


Hunter melesat ke arah Mercy, namun hanya lewat karena mengejar mobil.


Saat rambut Mercy terkibar, pemiliknya menyudutkan dua mata, mengetahui dan sudah memegangi siku Hunter.


Brughh!


Pagar gedung di jauh sana mendadak mengepulkan debu, Mercy melesat untuk melihatnya.


Wuutts!!


"Tangan kosong, Om. Jangan pake senapan. Jalan kaki, jangan ngebut. Oke?"


Di depan Mercy, Skynet terbaring menyimak kata-kata sang speedster, dia bingung mendadak rebah di reruntuhan tembok.


"Iya. Gue yang lemparin lo. Mau lagi? Pegang tangan gue."


Mercy menyodorkan tangannya. Sang Hunter tambah diam menatap si petapa. Mercy hanya senyum menunggu sambutan.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2