Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
chapter up 013


__ADS_3

Beberapa jam berlalu, Jihan ternyata ikut tidur. Dia duduk bersandar dengan lelapnya. Begitu pula dengan Marcel yang seolah berada di ranjangnya, pose tidurnya sudah tak jelas, sudah seperti tentara mabuk.


Hari sudah pukul empat sore. Jhid dan Nina sibuk makan singkong di depan bonfire. Keduanya membiarkan Jihan dan Marcel tertidur.


"Bangunin gak Bang?" tanya Nina setelah memeriksa leher dua kisser. "Mereka meninggal."


"Biar aja. Kalo laper pasti bangun."


"Abang aja deh yang gali kubur."


"Iya. Ntar habis bakar ikan nih dikubur."


Nina menepuk-nepuk pipi Jihan sambil ngemil singkongnya. Yang dibangunkan tak juga bergerak. Nina beralih pada Marcel dan dia sekaligus membetulkan posisi badan si petapa supaya enak dilihat. Dari pose penjahat jatuh ke pose Juliet berbaring.


Nina tepuk-tepuk pipi Marcel setelah kepala si petapa ditaruh di paha Jihan. Tapi sia-sia, Marcel belum sadarkan diri. Dadanya kembang kempis bernafas, tapi kepekaannya seperti hilang. Marcel mungkin memang sudah se-wafat Jihan, tak terbangunkan.


"Dah biarin aja, Nin. Bantuin gue manggang. Sini," kata Jhid yang duduk dekat perapian, sibuk menusukkan kayu panjang, sedang mensusuk ikan. Beberapa ekor sudah dia taruh di tengah bara.


Jhid bahkan sudah membuat 'halte'. Tentu saja dia tak mengerjakannya sendirian. Acaranya yang sekarang pun dibantu oleh Nina. Jhid mengajarkan Nina menyate ikan dengan kayu susuk, tapi tenaga Nina kegedean hingga tusukan jebol sampai susuk keluar melewati ekor.


"Waduh. Sori Bang.." kata Nina sambil memegang 'pedang' ikannya.


Pukul lima sore dua kisser di situ menunggu dikuburkan, ternyata belum bangun juga. Nina sampai harus mengibaskan asap ke arah mereka dengan memutar-mutar jas-nya. Saking kencangnya, baju jas dia terlepas dan mendarat di wajah Jihan.


Syuu.. uut.. Pleekh!


"..?!" tatap Nina. "Baru sekarang gue sekonyol ini, Bang."


Keempat penyisir makan bareng di situ. Jihan dan Marcel yang masih keliatan kusut tak peduli tatapan Nina. Kedua kisser khusyuk menyantap ikan bakar, konaen memilah-milah duri ikan di alas daun pisang. Rambut mereka tampak kusut, bahkan masih ada daun kering menempel di rambut Marcel.


Patung di situ jatuh jadi batu permata, dibarengi jatuhnya gummer. Nina yang menunggu pemampatan tersebut segera datang memungut dan kembali duduk bersama tim.


"Untungnya gummer lo lagi di luar Kak. Stone mahal nih," pamer Nina dengan jari terselap dua permata.


Acara makan selesai. Mereka kembali membicarakan misi di senja hari. Masalahnya ada belasan nomand yang harus mereka sisir, sementara bekal makanan tak ada. Akhirnya delapan ekor ikan yang masih dipanggang itu harus mereka tunggui matangnya untuk dibawa sebagai perbekalan.


"Ya udah. Kita mencar jadi tiga tim. Bangun halte, nyisir jejak, dan nyari permata."


"Plan dua. Kalo gummer gak nunjukin adanya stone, Rei ada di sana. Kita balik satu tugas dan fast search."


"Ya siapa tau Rei emang lagi dibekap. Gue bakal jamin Ray tetap sama elo, Kak. Dia (Ray) harus tetep berada di tangan lo biar Rei aman sentosa," kata Nina.


"Apa lagi kemungkinannya?"


"Kalo gue gagal, kemungkinan ada soloter yang ikutan bantu piaraannya."


"Kalo emang gitu Eks Nol Nol Satu (X001) udah berurusan sama dewan. Tumben peduli ajakan parasas."


"Maksudnya si Nolnol nih senior teratas para soloter ya?" tanya Jihan.


"Iya. Lo mau berbagi strategi soal penyisiran kita, Han?"


"Gue ikut taktik si Bebeb aja. Kita langsung ke halte semifinal dan bagi tugas jadi tiga. Stone kita ambil seberes misi."


"Iya gue juga mikir ke situ, Bang," kata Nina.

__ADS_1


"Baguslah gue gak perlu capek nerangin. Kalo gue terangin dengan singkat, padat, kalian gak bisa nikmatin perjalanan," kata Jhid. "Siapin diri aja buat ngadepin para kunti."


"Haa..?"


"Iya. Mereka nungguin gue juga. Mereka.."


"Mereka napa?"


"Mereka pikir kita mau ngejajah. Trus provokasi itu gak bakal berubah. Kita emang dilarang ke You Forest. Gak boleh keluyuran di sini."


"Kita minta ijin lewat aja?" tanya Jihan.


"Gak usah," sela Marcel. "Mereka punya syarat yang main-main juga."


"Apaan emang syaratnya, Beb?"


Marcel bangkit berdiri sambil membuka kunci senapan.


Ge.. clickh!


"Darah sama daging orang."


Marcel bergerak menuju 'halte'. Jihan menengok pada Jhid dan Nina. Keduanya masih menatap Marcel.


"Dia gak mau syirik, Han. Percaya ma gue," kata Nina membicarakan sang petapa yang sudah menunggu mereka di lingkaran batu.


"Let's goes. Mari kita loncat ke semifinal. Halte delapan belas," ajak Jhid sambil bangkit berdiri.


Nina memasukkan ikan-ikan yang sudah mereka bungkus pakai daun. Dia tarik resleting tas selesai mengantongi bekal. Nina pasangkan ke punggungnya, lalu dia mengguyur perapian dengan wadah minum.


"Gue jadi tegang gini Beb. Mari cekok kuntinya sama ikan bakar," bisik Jihan disebelah Marcel.


Cwuuph..! Jihan mencium pipi Marcel.


Marcel melirik sambil senyum. "Iya. Lagi, Sayang."


Cwuuph..!


Setelah Nina datang dan memadamkan lampu di perutnya, Jhid mengaba-aba keberangkatan. "Oke. Dah ngumpul semua di sini. Jam di nomand tujuan berlawanan dengan jam di sini, di sana bakal jam dua belas lewat. Gummer siap?"


"Siap," kata Jihan.


"Bedil-yufo siap? Bekal siap?"


Nina dan Marcel tak menjawab.


"Awas perhatian jangan nginjek dan deket-deket batu bulat. Mari kita berangkat dalam hitungan ketiga."


Jihan, Marcel, Nina dan Jhid yang saling memunggungi segera merapatkan badan.


Hitungan pun dimulai, dan setelahnya Jhid lanjut dengan menyebut nama tujuan.


"Satu.. dua.. tiga.. Mgel!"


Zhhaang!!

__ADS_1


Seperti sebelumnya, tabung cahaya melesat ke atas dari dalam tanah saat dipanggil. Di situ datang satu butir batu ke garis batas dengan kondisi berasap dan mengering jadi granit lagi. Mereka membiarkannya karena sedang berada di kota mati.


"Mendadak hutan beton gini.." komen Nina ikut melihat-lihat sambil memegang tali ransel di bawah ketiak.


"Abad berapa nih nomand?"


"Tiga puluh enam. Perang lagi kayaknya," kata Jhid sambil mengamati hasta yang sedang ditulisi pulpen "hidup"nya. Di situ tertulis; NKRI 3567 MASEHI, PASCA PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI TENTANG PERHITUNGAN PILPRES.


"Keulang lagi gitu?"


"Baca apaan sih?" tanya Jihan sambil ikut membaca. "Kayak puisi gini."


"Bukan puisi! Dah lah. Gak usah baca. Nyalain intermate lo, Han."


Jihan melihat Marcel dan Nina sudah berada di 10 meter arah jam enam. Mereka sedang jongkok memeriksa sesuatu di balik mobil yang terguling gosong.


"Bentar."


Jihan meninggalkan Jhid sambil memberikan senternya.


Gliitt!


Jhid menyalahkan pemindai patung. Bola hologram terpancar ke udara sebagai miniatur Bumi. Inset data memberikan status hasil scan dengan teks: OBJEK TAK DITEMUKAN. HARAP BERHATI-HATI.


Gliitt! Hologram dipadam lagi oleh si pemegang.


"Baik, Server. Akhirnya kami sampe juga."


Trrrtthh..!!


Jhid memasukan gummer ke saku celana sambil mendongak kepala. Sebilah pedang muncul di depannya dengan posisinya horizontal. Jhid segera memegang handle Samurai tersebut.


"Lo bisa sabar dikit, Ray?


Ya Om. Aku juga bisa nyium feromonnya (Reinita)


"Iya gue tau. Slow.. Kita cari tau dulu apa yang ditemuin para gadis ini," kata Jhid sambil melangkah melewati mobil-mobil.


Itu makanan para wrath, Om. Wani piro?


"Tapi validasi penting Ray. Gak nyangka gue, lo bisa betah di area enam sampe berani judi gini."


Kalo boleh cerewet, ada tiga kunti di Timur, Barat sama di Utara


"Bawel.." timpal Jhid sambil menggesekkan ujung pedang ke aspal jalan.


Srrrkk.. kkh..!


Wauw.. Mereka tutup kuping Om. Gak tahan bising


Srrkk.. rrkhh..!


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2