
Malam kemudian datang. Setelah beberapa jam beristirahat, Mercy terjaga dari tidurnya lantaran suara batuk. Setelah memeriksa Rey lewat spion, dia menyalakan mobil tanpa peduli permintaan maaf si penumpang. Mesin pun menyala.
"Maaf ya bangunin. Haus nih aduh. Boleh minta gak jajanannya?"
Bbrmm!! Brrm..!
Mercy tak menjawab, selain diam dengan muka serius, dia memperhatikan belakang jalanan lewat spion-pintu sambil melajukan sedannya. Setelah satu avanza lewat, Mercy pun masuk jalur sambil merunduk dan melambai pada tiang reklame.
Mobil tersebut meninggalkan wanita iklan yang dipuja si pengendara.
Usia sang artis tampaknya sebaya dengan Mercy, dan mungkin memang sedang naik daun seperti ikon produk minuman di situ, Mercy cinta pada siluman ulat dan menyapanya saat lewat.
Tak lama sedan perak bebas lacak sudah masuk tunnel yang terus ternganga menelan kendaraan.
"Ntar kalo ada market, plis ya nyimpang dulu di rest area. Gue gak bawa duit cash."
"Gak bisa. Gue penasaran sama lokasi yang lo sebutin. Ambil deh kalo pengen minum. Jangan kaleng yang haram," kata Mercy memberi ijin.
Rey bungkuk berdiri dari duduknya. Dia mengorek-korek isi kantong belanja di kursi depan. Di situ memang ada kaleng bir, dia ambil yang bersoda. Rey duduk kembali sambil berterimakasih.
Mercy melanjutkan perjalanan bersama arus yang tak begitu ramai. Hari sudah menunjukkan pukul dua puluh saat Mercy melirik LCD-waktu kala santai menyetir. Laju gas yang diinjaknya berjarum 95 km/jam.
Kebanyakan mobil di sepanjang terowongan ini berada di garis lambat, ingin rasanya bertanya, tapi Mercy memilih waktu agar cepat sampai di tujuan mereka. Dia lirik, penumpangnya duduk khusyuk menghitung "bawaan". Mercy menghembuskan nafas.
"Hhh.."
Apa di Purwakarta ada iklanmu ya, Say? Aku ngarep banget dia nih orangmu. Pengen banget nanya-nanya dia.
"Hhh.."
Nguueeng!
Mobil yang ditumpangi keluar dari terowongan. Tampak seperti di sirkuit, berhasil mencapai finish dengan mobil top world yang meninggalkan perserta bermerk mobil-mobil ruwet. Mercy tak mendapat sorakan penonton, apa lagi dia juga tak melambat. Kepalanya berisi wajah artis, seorang gadis populer di kotanya beraksi.
Nyokap, sodara, keluarga gue dah gak ada Say. Kalo nyuruh orang, suruh dia to the point, biar gue segera jadi milikmu tanpa perlu bayar satu rupiah pun.
"Hhh.."
Nguueng!!
Deru sedan mendesing bagai peluru di rambu bergambar garpu-sendok. Jarak yang disertakan pada papan tersebut 2 km dengan anak panah mengarah ke atas. Bisa jadi restoran-nya ada di atas awan.
Mercy lewatkan area parkir dan pom bensin tol di jalanan sepi tersebut. Rey sendiri diam mengemil roti, tak protes karena Mercy memang membekali mereka berdua dengan makanan yang tengah dikunyah.
Dua puluh menit berlalu. Keduanya sudah sibuk kembali dengan aktivitas masing-masing, Mercy menyetir dibayangi artis, Rey bersandar menikmati pemandangan luar tanpa lepas berdizkir.
Di laju 70 km/jam, Mercy membetulkan letak spion karena Rey tak terawas olehnya. Ini lumrah bagi seorang killer macam Mercy saat sedang bersama orang baru. Namun niatnya urung, Mercy mendapati gerakan aneh mobil yang jauh di belakang mereka, lampu depan mobil tersebut ugal mengikuti gerakan.
__ADS_1
Taang!!
"Astaghfirullah!!"
"Runduk! Rebah!" pinta Mercy sudah lebih dulu melakukannya, miring badan karena masih menyetir.
Tzang! Taang!
Keduanya dibuat panik oleh timah yang mengenai mobil mereka. Ternyata bunyi tersebut butiran logam nyasar.
Mercy sambil terus fokus lihat jalan mendapati kendaraan lapis baja lainnya ditembaki sedan pengejar.
Trang! Tring! Tang-tang!
Bagian belakang Jeep tertutup itu memercik pantulan logam dihujani tembakan. Lajunya mendahului mobil Mercy sambil terus diberondong peluru, jeep diburu oleh dua orang pria ber-uzi yang menyembul di jendela sedan.
Tretatatat!!
Tratetet!
Drededed..! Dededd!!
Krii.. iitt!
Sedan depan menyingkir, dua penembak tersebut masuk. Mobil di belakang mereka melaju lebih cepat membuntuti jeep. Dua orang lainnya muncul dari jendela mobil melanjutkan serangan api.
Tratatat! Tatatat!!
Abad apa nih?😁 Sepertinya tak hanya Mercy yang sibuk menjauh dari kota "gotham", jeep yang dikejar geng tadi mungkin disetir Bruce Wayne lain yang harganya menggiurkan.
Jejak pengejaran tercipta di gerbang tol, pos bayar tertimpa mobil yang dikobar api. Sedan penembak lumpuh satu.
Seorang penumpang yang berhasil keluar, tergeletak tanpa nyawa karena sudah lama terbakar.
Di tempat kejadian perkara ini tak ada orang selain gerak palang pintu yang naik-turun, error.
Gtraakh.. Gtrutuk!
Mercy masukan koin payment tol-nya tanpa mempedulikan kondisi mesin palang yang sedang "koslet".
Set!
Palang pintu diam teracung, mendadak fungsi begitu saja. Kendaraan yang menunggunya pun segera bergerak meninggalkan kotak bayar, melaju pergi meninggalkan kobaran yang ada di jarak 5 meter.
Mobil dengan gores dua timah itu masih meluncur di jalanan, arus jalanya tiga unit perjam. Malam hari terbilang sepi di sepanjang jalan. Untunglah Rey tak hanya mampu pegang tasbih, dia juga dapat menyetir alias pegang stang.
Mercy yang tengah rebahan di kursi belakang, segera menyelipkan handgun-nya di belakang kursi. Benda tersebut pengganti ponsel saat dia menunggu, tapi di perjalanan yang panjang ini ada barang yang baginya bisa membuat dia diam berlama-lama. Mercy keluarkan tali kalung dari balik kerahnya, diamati "liontin" UFO yang disebut artefak itu.
__ADS_1
Nguueng!
Rey sama kencangnya menginjak pedal gas. Kendaraan yang disetir belum bermasalah sampai saat ini. Melaju dengan luncuran lancar di aspal yang benar-benar sama mulus dengan jalanan lain. Tampaknya dirancang oleh arsitek yang ahli dalam membangun sirkuit, markah menyala, rambu-rambu penunjuk enak dibaca dari jauh, tingkungan jarang, ada pagar di tempat seharusnya, yaitu di arah laut dan sorot mercusuar.
Entah ke mana arah perjalanan panjang mereka. Purwakarta yang mana di abad Naga dan Macan berperang ini. Mobil melaju seperti menunggu bahan bakar kosong, dibawa pergi bersama para gabuter. Entah, seolah musik telah musnah dalam hidup mereka.
Nguueng!
Sedan perak kini meluncur sendirian di tengah pesawahan luas bak kereta dalam relnya. Rey yang giliran santai dapat melihat pemandangan malam sebuah kota di kejauhan sana, terlihat bak pernak-pernik permata dalam gua tambang.
Entah kota dan kampung apa di daratan sana, tempat tersebutlah yang sedang menonton "kuburan" berjalan.
Sampai daerah jalan kampung pun aspalnya masih mulus, mesin masih lancar. Tapi sayangnya, pesawahan dilewati saat malam hari. Bahkan lampu-lampu nun jauh di sana tersaingi terangnya oleh..
Blumh..!
Dentum ledakan terlihat di seberang sana. Hal ini membuat Rey menggendik. Kemudian memposisikan duduknya ke depan, menggeser menjauhi jendela. Dia menutup mata agar kembali tenang atas objek yang barusan terjadi.
Daerah pesawahan bertetangga dengan hutan dan komplek perumahan yang membentang lebih lapang. Pemandangan pun berganti jadi bentang bangunan kembar. Beberapa kendaraan lain turut melintas jalan. Sepanjang pemukiman belum terlihat pedagang kali lima berkeliaran, dan mungkin sudah "punah" jaman mobil lapis baja ini.
Di persimpangan jalan, Mercy menurunkan laju mobil. Mereka telah sampai di gerbang masuk kompleks, keluar dari kawasan.
"Ambil kiri," pinta Rey.
Mobil perak tersebut segera berbelok ke arah yang disuruh. Mercy bisa langsung memutar stir tanpa perlu berhenti, karena jalan di situ seperti tidak ada penggunanya selain mereka, kosong.
Setelah jauh dari perumahan "bisu" tadi, perjalanan mereka malam ini berada di hutan rimbun. Lebih gelap dari pesawahan, embun pun masih memburamkan kaca-kaca mobil.
Mercy membunyikan klason dengan santai saat sosok putih menunggu mereka di tengah jalan. Dia justru menyapa tanpa menurunkan laju gas mesin mobil. Mercy tampaknya sudah sering melihat.
Sebuah SPBU dengan papan rambu berikon kasur alias penginapan ditemukan di perjalanan. Mobil berbelok memasuki halaman dan bergerak menghampiri lemari counter, fuel alias minyak bakar. Akhirnya si perak berhenti juga di lokasi favorit.
Bregh!
Mercy keluar dari mobil dengan gaya sama, langsung tutup pintu. Bawaan seorang mafia memang tak terhapuskan dalam jiwanya. Mercy segera mengambil nosel usai memasukkan koin payment-nya, perban di kepalanya masih melilit menutupi kelopak kiri.
"Mau nginep dulu gak?" tanya Rey. "Ganti plester lo itu."
"Gak. Nginep gak bakal sampe. Ambil giliran sono."
Rey pun membuka pintu, sengaja tak lewat dalam. Dia pindah kursi alias giliran. Rey hanya tinggal buka pintu mobil dan kembali duduk.
Bregh!
Mercy masukkan nosel ke lubang tangki, tangan dinginnya segera mencengkram stang dan menguncinya. Clekh!
-
__ADS_1
-
-