Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
chapter up 006


__ADS_3

Bakh!


Bukkh!


Bagh!


Bukh! Bukhh!!


Greeph!


Di hantaman ke tiga puluh, Red Girl langsung menangkap busur si pemuda. Saking kuatnya mencengkram logam, si pemilik kesulitan mencabut senjata berkaret benang baja itu dari tangan korbannya.


Si tampan menginjak wajah dengan sepatunya sambil mengumpat. Dia memaki-maki karena busurnya sudah dikotori sang gembel. Namun beberapa kali menginjak, senjatanya tak juga dilepaskan korban.


Bukh! Beekh! Bukh..!


"Egh! Kotor tangan lo Buduk!"


Bukh! Bukh!


Tak lama kemudian, keduanya sudah saling baku hantam di pinggiran kedai mewah itu. Belasan pengunjung tampak bertepuk-tepuk tangan, mengelu-elukan, tertawa dan mengacung-acungkan tangan, memegang uang taruhan.


Lima menit kemudian lokasi berantakan, kursi dan meja dijadikan alat pukul. Mereka berbaju agak serupa dengan pakaian si pemanah, turut menggebukkan kursi ke punggung leadernya tersebut. Red Girl yang ngos-ngos menatap bingung.


Bruuakh!!


Pemilik kedai berteriak dengan megaphone mengomentari hantaman yang barusan menimpa punggung si gadis. Red Girl segera menginjak-injak kepala si tampan sebelum punggungnya kena "pecut" lagi. Komentator tampak semangat melihat keganasan si gadis, mereka yang menonton tak kalah nyaring, langsung menyuitkan bunyi mulut.


Begh! Bugh!


Red Girl jatuh ke lantai kedai karena kakinya dipegang dan langsung dibanting si tampan ke sampingnya. Lalu badannya ditendang-tendang membuat mereka berseru dan terus mensupport. Keadaan semakin riuh dan semarak atas perkelahian yang terjadi.


Gubragh! Bukh..!


Red Girl diangkat lawannya hingga di ketinggian tangan teracung itu badannya dibantingkan ke lantai. Red Girl kembali menerima balasan, wajahnya dijejek dan diinjak-injak hingga makin terbenam.


Bukh! Bukh!!


Blang!!


Kembali mereka berteriak kencang, bersaing dengan komentator melihat si tampan memegang bawah perut. Red Girl membuat lawannya merapatkan dua paha.


Semua pria berteriak puas dengan pemandangan yang ada sampai mereka ikut meringis.


Setelah bangun berdiri, Red Girl meloncat di sebelah lawannya. Suara retak terdengar ketika punggung si pemuda berhasil dihantam dengan gempal sepuluh jari, korban pun ambruk menelungkup.


Red Girl disingkirkan mereka, terdorong mundur.


Para penonton berebut bagian tubuh si tampan. Mereka mengerubungi loser bagai orang-orang kelaparan dan sudah mengunyah daging bagian leher. Yang lainnya saling tarik berebut kaki.


Red Girl yang masih terengah-engah segera pergi, sebelum nasibnya disamakan dengan si pemanah. Pemandangan tersebut sudah biasa baginya, tapi sifat merekalah yang tampaknya memilukan. Red Girl mungkin akan dipaksa mereka memakan daging sesamanya.


"Hhh..! Hhh! Hhh..!"


Sampai di persimpangan, Guide sudah tak ada di lokasi. Saat dicari-cari, sang lampu ternyata ada di jalan ke kiri, sudah bergerak lebih dulu sekitar semenit yang lalu.


Red Girl memungut akar kayu, lalu mulai menyeret tubuh Luna lagi ke belokan kiri, jalan yang ditempuh oleh sang lampu.


Greskkh! Greskkh..!


Grrrdddhh..!!!


Setelah berkelahi ini tenaga Red Girl terlihat meningkat. Tadinya menyeret sebuah tank, kini dia tampak mampu bergerak seperti menyeret mobil jip. Lancar tanpa terpatah-patah lagi, bunyi gesekan terdengar tanpa henti.


Rrddd.. dddhhh!!


Gedung demi gedung yang menjulang tinggi di sepanjang jalan tersebut telah dilewati. Bangunan tak terlihat utuh jendela dan kaca-kacanya. Banyak penghuni melakukan kerusakan tersebut demi melihat penguasa barunya.


Red Girl menapaki aspal dan terus bergerak mengikuti laju lampu penuntun. Matanya mengawasi orang-orang berdasi, para penontonnya tersebut berdiam diri.


Saat dilirik, mereka ada yang manggut-manggut sambil tetap menghisap cangklong.


Red Girl menelusuri keremangan jalan tanpa ada yang membuntutinya, para jutawan aneh itu membiarkannya lewat dan kembali masuk bangunan miliknya.

__ADS_1


Rddhh..!!


Setelah melewati perempatan jalan, masuk area pertokoan, orang-orangnya lain lagi. Mereka yang tadinya duduk main kartu, lesehan menghisap asapketawa, bersantai menduduki tumpukan uang, memanggang kepala di pinggiran toko, para wakilnya yang berdiri di trotoar menimpuk Red Girl dengan segepok uang saat dilewati.


Wrrss!! Bukh!


Red Girl membiarkan mereka melempar wajahnya dengan "upeti". Ada yang melempar kaki-bakar, daun-kering alias mariyuana, dan kebanyakan dari mereka melemparkan uangnya.


Mereka kembali beraktivitas dan lanjut berjudi.


Tidak ada yang datang menghalangi perjalanan Red Girl, mungkin kawasan tersebut masih teritori si pemanah tampan.


Red Girl tak lagi menghiraukan mereka.


Rrrddh.. dddhhh!!


Guide berbelok menuju ke jalan yang lebih kecil, masuk daerah pemukiman. Red Girl mengikuti sang lampu, turut ganti arah menapaki jalan selebar satu kendaraan roda empat itu.


Sekitar sebelas rumah dari mulut jalan, Red Girl sudah di nantikan dua preman. Dia berhenti melangkah saat salah seorang memintanya.


Red Girl diam menatap si pemegang kayu baseball. Mereka sama seperti si tampan, tak melihat Guide. Tapi mereka tampaknya tahu dia akan ke mana. Keduanya membelakangi sebuah persimpangan gang, memblokir jalan membuat pagar betis.


Red Girl membiarkan salah satu dari mereka melihat-lihat tubuh Luna. Apa yang dia tarik sepanjang jalan masih ditancapi panah bening.


"Lo congek? Kami bilang berhenti."


Red Girl diam mendengarkan orang yang ada di belakangnya tersebut. Si preman memegang pistol. Tampaknya sok keras.


"Elu ngapain pulang kampung Pnin? Ke mane bini lu? Dapet kaga? Hahaa."


Red Girl mengekorkan mata, kupingnya menangkap bunyi benda dicabut. Dia tak peduli dengan kalimat dan tawa barusan. Di sini juga ada bunyi lapisan berkerut, suara kesat yang agak berdecit.


"He, Pnin. Ade ape, haa?"


"Kayaknye die nih lagi demo Bang. Ngawalin rezimnya si Haram."


Red Girl sedikit bingung mendengar suara perempuan tersebut, sejak kapan datangnya. Ujug-ujug bicara politik.


"Hahaah.. hhaa! Pnin.. Pniiin.. Elu ngimpi apa gue kate? Hahaa!"


Tukh! Tukh..!


Red Girl agak geram saat kepalanya diketuk dengan anak panah. Lampu guide yang sedang diam menunggu di mulut gang, tampak meredup-redup seperti nyala lilin yang sedang dihembus-hembus angin.


Sedari tadi Guide baik-baik saja, aman dari "angin" atau gangguan. Jika si lampu padam, Red Girl akan ketahuan, alam parasas ini akan gelap gulita.


"Elu taro itu jenglot, Pnin. Elit kite udeh ganti haluan ke yang arahnye jelas. Para korup assassin itu yang sedang kite lawan."


"Elu ingetlah ame pengorbanan ras elu, Bang. Siape yang musnahin? Assassin. Mereka oknum ngomong oknum. Elu pulang buat ape sih, haa?" tanya Saripah.


"Udeh Pnin. Operasi elu di Seberang dapet jempol kite pada. Kandidet kite udeh di sini, hahaa!"


"Ratu Deyita berhasil elu giring, Bang. Die milik kite-kite sekarang, biar dia yang mimpin serbuan ke Seberang."


"Jadi Pnin, alesan lu ape? Ngapain elu pulang sebenarnye, haa? Hahaa!"


"Tawanan kite tinggal rebus aje Bang, otaknye. Bener kagak? Die lupa tempat Deyita dikurung."


Tukh! Tukh..


Saripah mengetuk-ngetuk kepala Red Girl. Ketukan tersebut membuat penglihatan meredup-redup. Sepertinya mereka sudah tahu Pnin yang mereka ajak ngobrol asli atau palsu.


Dua tangan Red Girl mengepal. Gangguan tadi mempengaruhi daya tahan lampu. Pancaran cahayanya berkurang, radiusnya kini hanya menjangkau sampai satu rumah, sekitar 5 meter.


Toweet!! Twwo..weeet!!


"Aa.. sasiin!!" teriak peniup terompet di atap rumah.


Twoo.. weeet!!


"Bangs*t," geram si preman. "Saripah! Ambil alih depan jalan!"


Yang disuruh mengangguk. Saripah meludahi pistolnya. Seketika benda yang dibasahi tersebut memanjang menjadi busur.

__ADS_1


Grrtth!!


"Assa.. siiin!!"


Toweet! Toweet!!


Orang-orang berloncatan turun dari atap. Mereka berdatangan dari kabut yang ada di tiap atap rumah. Entah rumah-rumah di sini untuk apa jika "pintu" keluar-masuk ternyata ada di genteng.


"Udeh! Sini lu! Tinggalin boneka dukun elu! Ikut gua!"


Kain bahu Red Girl dicengkeram si preman. Red Girl dibawa masuk ke dalam gang.


Lampu penuntun yang masih diam di muka gang secara otomatis mengikuti Red Girl.


Tiba di sebuah rumah, sang preman mendorong Red Girl ke dalam. Setelah memasukan tamunya, si baseball menutup pintu. Dia mengumpat-umpat.


"Elit kepar*t. Korup busuk! Kenape bisa gini ade situasinye. Anj*ng lah.. semua!"


Red Girl biarkan pria tersebut mengutuk-ngutuk. Kini dia berada di rumah bernuansa darah, red room. Semua dinding, lantai dan langit-langit diwarnai merah. Sebujur tubuh dia dapati siuman, kepalanya terangkat, wajahnya sudah penuh memar dan lebam.


"Jhid?"


Weeng!!


Suara barusan membuat si preman sigap melirik Red Girl. Sedang galak-galaknya menendang-nendang pintu, dia langsung berhenti, tersadar dari sesuatu. Ternyata ada manusia yang berhasil masuk ke alamnya.


"Emmph!"


Red Girl menutup mulutnya, menggeleng kepala. Sang preman sedang menghampirinya sambil memainkan pemukul. Benda tersebut bening dan sudah berduri permukaannya.


"Hahaa! Hai.. makanan.."


"Kat! Kat..! Stop..!"


"Haaha!"


Red Girl mundur dan terus menggeleng-geleng kepala dengan wajah sangat memelas. "Ja.. jangan.."


"Hahaa! Grrhh.." seringai preman dengan gigi yang terus memanjang, mulut dan wajahnya tengah menjelma jadi Sabertooth.


Deph..! Red Girl terpojok hingga punggungnya menyentuh dinding. "Kaat! Gue bilang! Kaat! Woyy! Kat, kat!"


Red Girl melambai-lambaikan tangannya.


GRRAUKH!


Gucraat!!


"Kyaaa!!" jerit Red Girl.


Kraakh! Krauukh..!


Red Girl menutup wajahnya, badannya terciprat cairan hitam. Dia perlahan melihat objek di depannya yang tengah asyik mengunyah. Kemudian Red Girl mendapati tongkat baseball sudah tergeletak di lantai, benda bening itu masih tergenggam lengan berbulu.


Srllpph..! Luna menjilati bibirnya yang berlumuran liur hitam. Lidahnya yang panjang dan licin membuat bibir si bocah cepat bersih tanpa noda makanannya lagi.


"Hhh.. Hhh..! Apa-apaan? Gue lupa di mana Black Soul."


"Buruan bangun! Lo dikibulin para kunti hutan."


"Kurang ajar.. Gue juga gak liat apa-apa, ditanya-tanya soal Deyita. Gue lupa. Hhh.. hhh.."


"Dah, dah. Ayo bangun.. Egh!"


Red Girl membantu Jhid berdiri. Tubuh jins yang diangkatnya cukup berat, hingga pemiliknya sendiri sudah terengah-engah. Red Girl tetap mencobanya mengangkat.


"Eerrggh..!" ringis Red Girl. "Lo ngelakuin apa sih sampe berat gini? Eerggh! Cepetan bangun, ihh.. Errrggh!"


Luna yang juga ada di situ, berisyarat pada Red Girl, menyentuhkan jari ke bibirnya. Dia segera jongkok meraba pundak Jhid. Luna salurkan energi miliknya untuk si pemuda, membantu mengeluarkan asap hitam dari tubuh penuh "dosa" itu.


"Hhh... hhh! Hhh..! Thanks.. Hood. Gue gak tau kalo larangan di gua itu dari lo. Hhh.. Hhh.. Akkkh! Pelan-pelan.. Hhh..! Hhh.."


"Sstt..! Dah lo, diem!"

__ADS_1


-


-


__ADS_2