
"Hoam.. mm.."
Marcel menguap. Pagi hari dia malas-malasan duduk di depan meja yang sudah tersedia segelas sereal. Dia biarkan pembuatnya cebar-cebur di kamar mandi, di sana Jihan tak menutup pintu dalam kegiatan bersih-bersihnya itu.
Marcel menyeruput minuman tanpa peduli kusut di lengan piyamanya. Isi gelas itu menu irit, bukan favoritnya. Dia menanyakannya pada Jihan karena menyeduh sereal rasa Jeruk. Jihan mengiyakan tanpa memberi alasan jelas. Marcel pun lalu memberitahu minuman favoritnya apa.
"Gue sukanya minuman coklat, Sayang."
"Iya! Ntar beli deh. Gue juga doyan kalo sekarat mah, Sel."
"Cokelat..! Masya allah."
"Iya!!"
Marcel diam meniup-niup isi mug. Pandangannya lalu mengarah ke rak peralatan makan yang memang seruangan dengan meja makan, menatap gelas-gelas dan piring.
Marcel mungkin ingin protes juga, sebab biasanya wadah yang ada dia gantungkan, Jihan justru menungkupkan gelas-gelas.
"Dibilang gak usah beres-beres, malah dirapiin," komen Marcel atas keapikan yang ada.
Marcel beralih ke arah kulkas. Pintu di situ terdapat kertas-kertas pesan. Tak ada yang berubah, tapi sudah lebih banyak.
Marcel menyeruput kopi-paginya lagi.
Slrup..
"Sayang?" kata Marcel lagi. "Kamu ngabsen isi kulkas?"
"Iya, Beb. Tuh daftar belanjaan!"
Marcel tak menimpali, senyum sendiri. Mereka berdua sama anehnya jika diteruskan mengobrol. Mungkin dalam benaknya, Jihan terpikir sebagai sisi lain dirinya yang condong ke feminitas, menyuruh belanja bagi yang membaca pesan kulkas. Maka Ririn jarang ke mari.
Entahlah, kedua gadis tersebut jarang lama di saat gagahnya. Mereka dua perawan yang telah merdeka sepertinya, tidak memusingkan stok.
Marcel bangkit membawa mug, belum ingin menghabiskannya di situ. Saat melewati kamar mandi, Jihan keluar sambil gosok-gosok rambut seperti biasa. Marcel yang sedang lewat langsung dihisteris.
"Aaa, Bebeb udah bangun!"
"Idih. Trus.. Tadi lo ngejawab siapa emang?" tanya Marcel.
"Brr..! Dingin Beb. Cini minca.."
Jihan menaruh handuk di bahu. Dia merebut gelas dari tangan Marcel, kemudian menyosorkan bibirnya dan mel*mat mulut Marcel.
Marcel menyambut ciuman Jihan.
Cyiiuph..! Cyipph!
Usai saling k*lum, keduanya senyum menatap satu sama lain. Mereka tampak cerah setelahnya.
Jihan mengembalikan cangkir pada Marcel.
"Makasih.. Unch!" manyun Jihan pada wajah yang di depannya dengan merem centil.
Usai menj*lat bibirnya, Jihan melenggang ke arah kamar dengan tubuh masih berpiyama, lanjut handukan.
__ADS_1
Marcel memandangi sang lusid tanpa langsung bertanya, dia seperti baru melihat Jihan, bagai orang yang baru dicium sesama gadis.
Marcel kini duduk di depan monitor selesai menaruh kopinya situ. Tidak ada keyboard, Marcel juga bisa langsung menyalakan LCD dengan kode Morse -nya, menyentuh-nyentuh ujung jari.
Monitor menyala, menayangkan halaman login alias dua bar kolom isian. Di situ tampak titik-titik hadir mengisi. Tak lama layar berganti tampilan layar desktop.
Dii.. iit! Dit!
Marcel gunakan ujung telunjuk untuk menyentuh shortcut orang-bersila, ikon komunitasnya.
Didiit!
Tampaklah kini di layar beberapa folder dan namanya masing-masing. Ada satu shortcut berlogo lensa-kamera, judul ikonnya MY ROOM. Marcel mengetap pintasan tersebut.
Didiit!
Stream berjalan menyoroti ruang kamar si gadis. Tampak di ranjangnya, Jihan sudah terbaring dengan nafas teratur alias tidur.
Marcel menopang dagu, jarinya menggores-gores permukaan meja, memfokus sorotan pada wajah di situ. Dia mengendalikan arah kamera dan tampak sudah menguasai fiturnya.
Jihan menampar kulit tangan dan menggaruk-garuk bekas setelahnya. Dia berganti posisi tidur. Jihan gesek-gesekkan pipinya ke bantal yang dipeluknya, kemudian tak lama dia nyaman, diam tertidur lagi.
"Hhh-hhh! Sori.. Kebo juga nih orang. Ngajak joging malah ngorok."
Beres mengisengi Jihan, Marcel menggerakkan jarinya lagi. Layar live tergeser ke pojokan monitor. Marcel menaruhnya di situ dalam minimaze screen, tetap terpantau.
"Bukain chat room grup dong."
Diidit!
Sepuluh juta pesan belum dibaca. Apakah Anda akan membacanya nanti?
"Arsipin, Mbak. Kalo udah gak muat, beli ruang baru pake saldo profit."
Riwayat diarsipkan
"Hhh banyak orang, masih deras gini chatnya. Mbak, puterin dong file upload si Mustang nih. Bahas apaan sih mereka sekarang?"
Diidit!
"Udah. Sodara-sodari, celah udah kami tambal, ditutup sesuai protokol Server. Warna ijo ini adalah titik kebocorannya. Berasal dari Eksternal di koordinat xyz : xyz (sekian-sekian, dikodekan dengan banyak angka dan hanya dimengerti pembacanya). Jadi aman sampai sekarang. Bang Scope yang teken sendiri kok. Gak usah diributin lagi, siapa soloternya."
"Hhh.. Nih ulah Eks Dua Ribu," komen Marcel, tampak lebih hapal. Entah dari mana kesimpulan tersebut, mungkin sudah pernah melihat kasus serupa.
Di layar itu, inti Server bocor.
Ada banyak nomand berhasil di-sumpal oleh Enfield. Juga ada laporan milik snailer lainnya, bahwa Enfield sedikit error saat menerima suplai xmatter dari Snail. Tim dev Endfiel berterimakasih atas laporan yang mereka terima, dan masih bekerja mencari kelemahan dari rumus baru.
Semakin ke sini, publik chat makin deras. Seratus pesan per menitnya, itu berarti hampir dua chat muncul tiap detiknya.
Marcel mengamati segumpal awan grafik atau portal Kencana yang dimodekan komputer Server. Kabut itu adalah realitas mereka. Tidak bisa dikendalikan, diprediksi, maupun dibaca selain oleh dewan Indri. Bisa juga disebut sebagai masa depan, kejadian nanti di hari esok bersumber dari Kencana tersebut.
"Harusnya lo udah ngerti ini, Han. Raven tau elo belum paham soal realitas kita," gumam Marcel sambil menatap layar CCTV kamar. "Makanya dia manfaatin ketidaktahuan lo itu. Gak bijak dikasih fasilitas, emang ngelunjak juga sih, Han. Si Raven ini. Hhh.."
Marcel diam bersandar, dia memperhatikan Jihan. Si teman masih terlelap memeluk guling kamarnya.
__ADS_1
"Buka file.. anjrit!" jengak Marcel, terantuk dalam duduknya, pundaknya ditepuk seseorang.
"Sori.." kata wanita usia 40-an, mengasongkan paper-glass, monitor transparan ukuran A4.
"Hhh.."
"Asese di sini, Bu. Slip gaji plus tugas baru. Sehat?"
"Ya," kata Marcel meraih benda yang disodorkan, tampak masih dag-dig-dug, tapi disembunyikan. "Alhamdulillah, Lus."
Marcel menempelkan jempolnya di ikon sidik jari. Dia juga melanjutkan kalimat yang sempat terpotong tadi untuk LCD-nya. "Buka file boarding, Mbak."
Diidit!
Monitor menurut, menampilkan tiga baris misi yang salah satunya bergambar portal Kencana, portal yang sedang viral di chat room tadi.
"Thanks. Iya gue baik-baik aja kok, Bu."
"Welcome home. Jangan lupa ngunci pintu."
Set!
Wanita bersetelan kantor tersebut berteleportasi, membawa paper-glass yang memerlukan fisik Marcel alias tanda-tangan.
"Move ke valdisk kamar, Mbak."
Memindahkan
"Habis ini, matiin aja desktopnya."
Menyimpan perintah
Marcel berdiri meneguk sereal Jeruknya. Dia habiskan hingga ampasnya.
Kemudian sampai di dapur, Marcel menaruh mug kosong di wastafel cuci yang bersebelahan dengan rak.
Marcel berjalan menuju kamar. Dia masuk dan menutup pintu dari dalam.
Clekh..!
Marcel lalu mengambil remote di bawah big LCD dinding.
Tubuh bongsor nan putih terbalut piyama itu dibantingkan ke ranjang, Marcel lalu menaikkan kaki kirinya ke pinggul Jihan. Dia menekan remote, mengarahkannya ke layar gepeng yang terpasang di tembok kamar.
Didiit!
Marcel menggerakkan badan, bergeser sedikit hingga tubuhnya tersebut menempel di punggung Jihan. Kaki turut bergerak dan membelit di lutut si teman yang tengah tidur.
"Aku mau baca tugas dulu, Sayang."
Marcel menyimak uraian tugas, kakinya mengusap-usap betis Jihan. Yang diganggunya memegangi kaki tersebut, tak terganggu alias diam digaruk-garuk sambil megang paha Marcel.
-
-
__ADS_1
-