
Jihan turut diam. Kalimatnya tak ampuh, kepala pun digaruk-garuk. Dia tiba-tiba menepuk punggung menyuarakan balon ultah. Jihan menghela nafas sambil lemas badan, Nina masih diam bagai patung.
"Hhheu, heu.. Hhh-hhh!"
"Dih..?"
Pundak Nina bergetaran lalu minta stop. "Kat..! Kat! Dia nginjek gue.. Hhh-hhh!"
Nu.. uut!
Kame.. raa, spot.. eksyen!
"Sanin.. sadar dong. Jangan diem terus kayak gini. Sanin selesai ribut kemasin juned saban minggu.. Hussh! Huss!"
Jihan kebingungan hingga dia menggaruk kepala. Dia mondar-mandir, cemas, mengulang kata..
"Jangan-jangan.. duh, jangan-jangan.. Dar!"
Jihan tepuk bahu Nina, namun tak ada reaksi. Nina membisu hingga tak sadar-sadar diumpan. Jihan menatap bulu mata si teman, langsung mempertajam matanya.
"Haa??"
"Hhh-hhh..!!"
Nina menutup mata sambil menahan tawa, Jihan menghela nafas.
"Khan belum," kata Jihan sambil menginjak.
"Ahahaa!"
Nu.. uut!
Kameraa.. spot. Eksyen!
"Sanin.. sadar dong. Jangan diem terus kayak gini. Sanin selesai ribut kemasin juned saban minggu.. Hussh! Huss!"
"Hhh-hhh! Ahahaaa.. gobl*k.. Dia nginjek lagi."
"Lo-nya diem coba. Udah take sepuluh. Oke?"
"Jangan liat dulu. Lo bisa, gue kagak."
"Siap. Siap..! Diem yaa."
Nu.. uut!
Kamera spot.. Eksyen!
Jihan bermain kata dengan nama asli Nina yang dicampur nama-nama hari. Kalimat itu ditutup ucapan mengusir.
".. hush! Huush!"
Jihan kacak pinggang menunggu respon. Gadis yang dipandanginya tak juga mau bergerak dan menoleh, anti kepo. Jihan mencoba menyadarkannya dengan tepukkan di punggung si teman, bunyi balon pun sama nihilnya.
"Hhhh.." hela Jihan, tampak menyerah.
Tiup kuping-nya, Kak. Sekarang
Nisa turut membantu dari bawah sadar.
"Oh iya."
Jihan mendekatkan bibirnya untuk berbisik. Dia lakukan dengan singkat tiupannya di situ. Jihan mundur ke belakang, menjarak lagi.
"Hhh.."
"Yeaah! Yess..!"
Jihan sumringah melihat Nina lemas begitu saja, bertepuk-tepuk kecil. "Yuhuy.."
"Ganteng banget dia.." gumam Nina, dengan sedih hati.
"Dah lah. Diharamin maksa. Yang penting kita udah usaha, Nin. Diandra bilang, bukan salah siapapun. Dia (Cepak) udah dikasih tau. Itu aja yang penting. Allah yang nentuin."
"Hhh, sulit banget dia."
"Mudah diomongin."
"Apanya Judes?"
"Tadinya," Jihan berpaling sambil lipat tangan, pasang muka ketus.
"Huu kalo iya kita harus gelud."
Nina pergi sambil menantang Jihan by one. Namun baru dua langkah, tangannya dipegang, India mode. 😁
Slow motion . . bla bla bla.. Nina menatap Jihan pelan.
"Di mana?" tanya Jihan. "Ayo!"
"Kapan? Sekarang, hah..?!"
Nina bertanya sambil agak maju dan bersuara keras, akting nyolotnya keluar. Jihan yang memegangi tangannya, tak menjawab selain membelai pipi.
"Sel, i will always miss you.." pelan Jihan romantis. "Love you.. Beb.."
"Nghh.. euu.." sebal Nina, meringis.
"Hhh-hhh! Cengeng lo ahh," ledek Jihan sambil melepaskan tangan Nina. "Jomblo bukan berarti lo sendiri ih."
"Emang enak diginiin.. hiks! Huhuu.. uuu."
"Utu. tututuu.. tayangkuh, cini peyuk."
Jihan mendekap si teman dengan manja dan suka. Nina langsung berhenti merengek, balas memeluk Jihan, tepatnya terus bersedih. Jihan mengusap-usap punggung Nina seperti yang Bapak lakukan pada Romi.
"Hikh! Uhuh.. uu-uuu.."
__ADS_1
"Iya, ntar kita by one, Nin. Sabar ya."
"Hikk.. hikk.. " Nina taruh kepalanya di bahu Jihan, senyaman bantal tampaknya, dan terus terisak-isak.
Tanpa sepengetahuan Nina, Rei dan Marcel serta mahluk merah berekor menonton di udara. Ketiganya sudah menyimak sejak tadi, baru tahu Nina punya kemampuan menyetop syuting.
"Gue jadi pengen ikutan, Rei. Behind the scene." komen Marcel.
"The simple kids," ucap Reinita yang rambut digulung ala pramugari, tidak pakai mahkota saat tugasnya ini. "Pnin sebaiknya kita selesaikan pekerjaanmu."
"Kweaa.. aakh."
Mahluk merah berekor T-rex segera mengangguk. Dia turun di dekat kuburan dan menghamburkan batuan dari karung yang sedari dipikulnya.
Nina melepas pelukan sambil memperhatikan Pnin. Dia terdiam dengan penampilan manusia dino, tangan Pnin kecil, banyak gigi dan keningnya bertanduk, tapi pendiam. Dia baru melihat parasas dengan apa adanya.
Setelah Nina melihat Reinita dan Marcel, lalu kembali pada objeknya, manusia T-rex sudah berwujud laki-laki gagah, setampan seragam krem yang dikenakan.
Di lorong penjara milik Library, si pikun keluar dari sebulat lingkaran. Lusid yang sedang lewat searah, langsung ter-frame agak maju ke depan tanpa terganggu. Begitu Jhid sampai dia lemparkan pedang yang dibawanya ke lawang portal.
Swwrrrth! Ray muncul di muka wormholenya.
"Thanks Ya. Balik ke si Bos. Jagain dia (Marcel). Ini dunia dia juga."
"Cerewet.."
Ray berbalik.
"E-ehh.. Ray. Tunggu."
"..?!" Ray berbalik dan menatap Jhid.
Jhid menyodorkan gummer milik Jihan. "Nih. Sekalian ambil stone. Ntar timeline kusut kalo gak cepet diambil. Takutnya jadi isu harta karun."
Jhid menapaki bawah tanah perpustakaan yang memang rumah bagi para librarian, bukan penjara sungguhan. Lorong-lorong amat panjang dan berliku.
Jhid sampai di ujung belokan jalan yang sudah jarang ruangan sel-nya, dia menyentuh papan penunjuk dekat denah, terlihat dari peta mini tersebut dinding lokasi penjara yang seperti tembok-tembok labirin.
Blizt!
Jhid muncul di depan seorang yang sedang membidik pistol dual hand. Si baju pramuka langsung mengangkat dua tangannya. Enik hadir di situ memberitahu si penjaga.
"Maaf gue telat," kata Jhid.
"Iya gue telat," tanggap Enik, santai bersandar.
Si penjaga tempat, memutar senjatanya di batang jari. Dua orang berpakaian sama datang menghampiri. Balon di atas mereka sama teksnya, menandakan level defens: 60%
"Ada apa nih?"
"Hai semua, gue Jhid. Betul jins yang bikin Rey koma. Tapi gue bawa kabar baik. Dia akan sembuh, siuman."
"Kita hilang pekerjaan kayaknya, Fat. Kalo komandan sembuh, kami jaga apaan?"
"Umm, jaga-jaga."
"Maksud dia, kalian akan tetep sama Rey, Night," ucap Enik menerangkan dengan sederhana.
"Oh. Silahkan.." Night mempersilahkan dengan menggeser posisinya berdiri, pindah ke pinggir.
"Thanks ya."
Jhid berjalan masuk ruangan lewat lawang tak berpintu. Selapis kilauan menyala, menjejakkan indentitas Jhid di monitor luar. Terlihat ketiga penjaga saling toast tanpa suara, silent fun alias gembira.
"Rey.. udah lama sekali.."
Petikan gitar mengalun kala si pikun menatap gadis yang terbaring di depannya, di kasur apung. Wajah di situ persis Kisye, muda, lagi berkulit putih. Pakaiannya kemeja putih dilapisi rompi FBI. Namun di layar pemindai, darah yang mengaliri urat-uratnya menyala-nyala, dia pasien Reinita.
Ruangan banyak terdapat bunga dari para pelayat.
"Hhh.."
Jhid berkaca-kaca.
Set!
Enik hadir di bawah layar status, menyandari dinding bangsal. Diam mengamati raut wajah si pramuka.
Lawang pintu melebar, di lorong tersebut orang-orang berdatangan, ikut menunggu bersama kru penjaga. Mereka perlahan menyesaki gang.
"Sudah inget?" tanya Enik, suaranya pelan tapi seperti ada di sebelah pendengarnya.
"Udah Nik. Dia (Black Soul) ternyata di sini."
"Apa yang Rei omongin?"
"Hai, Nik. Hee, udah belum?" tanya Asma di sebelah Jhid.
"Umm.. iya bentar. Rei bilang ke gue, temui Rey di Library ikuti apa yang Luna lakukan saat kau di rumah Pnin. Gitu katanya."
"Ya udah lo napa bingung gini?" tanya Asma lagi. "Itu protokolnya. Dibacain sama si Uut buat dia (Rei). Apa Luna nempeleng lo?"
"Dih. Gak, As. Dia nyentuh punggung gue di sana, pas ngejemput."
"Ya udah. Valid. Lo mau gue tampar lagi gak?"
"Kalo dinikahin lo gue mau."
"Aish.. pede."
Asma bergerak ke samping kasur. Di situ sang dewan membetulkan kacamatanya, lalu mengangkat pundak Rey. Terlihat di punggung si pasien judul satuannya yaitu: FOS RONDA.
"Santai, Jhid. Ayo."
Jhid segera menempelkan tangannya di punggung Rey usai bismillah.
Wwhhss... hhhss..
__ADS_1
"Eugh.."
"Terus, terus jangan dilepas," kata Asma, lalu menoleh ke belakang. "Nik, bukain ventilasi."
Gliitt!
Langit-langit bangsal mendadak terang saat Enik mendongak. Dia sengaja tak berkata mengingat banyak lusid yang hadir dan melihat langsung pekerjaan sang dewan.
Kepulan asap hitam menguap dari tubuh Rey. Bunyi monitor pemantau mengiring proses penghapusan tersebut, Rey meringis namun masih menutup mata.
"Eeghh..!"
Shhs.. hhhss...!
"Di sini ternyata sisa tangan Top Qarrat."
"Iya. Gak cuma dalam otak," kata Jhid pada Asma.
Mendengar lenguhan Rey, Enik menghela nafas. "Sebentar lagi dia buka mata."
"Welcome back deh. Intel kita nambah kuat," kata Asma tak kalah senang. "Berapa detik lagi Nik?"
"Sekarang," kata Enik, pelan sambil melamun.
"Uhukk.. uhukk.."
Fruushtt!
Rey menyemburkan liur got-nya. Serta merta menguap jadi asap. Begitu juga saat tangannya menyeka dagu.
"Rey?" tanya Jhid. "Hhh..! Hhh, hhh.. Lo inget?"
"Bang Jhid.. Mbak Aas.."
Asma senyum saat dilirik si pasien. "Hai Rey.. hikh.."
Rey memeluk Asma dalam duduknya.
Jerit histeris dan tepuk tangan bergema di lorong. Beberapa dari mereka yang menonton menangis sambil pelukan. Kebanyakan orang berkaca-kaca, baik laki-laki ataupun perempuan, mereka memang telah lama menunggu momen tersebut.
Jihan mengendap dari pagar kayu menuju dinding sebuah kabin, turut sembunyi bersama Marcel yang lebih dulu sampai di rumah tengah hutan tersebut.
"Kalo ada di sini, gimana?"
"Sst..!" desih Marcel menjarikan bibirnya.
Marcel mengintip tempat atau samping kanan halaman rumah. Dia jalan merunduk menuju tumpukan batang pohon dan diikuti Jihan. Marcel pungut sepotong kayu.
Lokasi tersebut sejajar dengan pintu rumah. Sebuah lemparan mengenai penutup lawang dan berbunyi cukup keras.
Takkh!!
"Kita gak bakal jauh nyari-nyari spion," bisik Marcel. "Rei mau lihat dulu, sama soloter atau gak."
"Mumpung sepi Beb. Gak ada si Bonin."
"Hhh-hhh! Ssst..! Iya.."
Rumah dari batang kayu masih membisu. Lingkungannya terurus dan tampak belum ditinggalkan karena kapak menancap di nampannya. Suluh yang dilemparkan Marcel tak ada respon dari si penghuni rumah.
Di dalam kabin.
"Clear. Gak ada di sini juga," lapor Marcel sambil menyentuh airdrop di kupingnya.
"Apa dia udah tau ya?" tanya Jihan. "Trus kabur karena kita dateng."
Jihan melihat-lihat perabot rumah. Banyak peti berisi tulang-tulang manusia. Bau menyengat menusuk hidungnya. Jihan mengipas-ngipas udara lagi.
"Waktunya menyisir kota, Kak. Rei udah di supermarket. Jaga perimeter. Knon lagi dibuntuti."
"Oke, Nin. Copy."
Marcel menggandeng Jihan keluar. Jihan kebingungan tapi membiarkan dirinya dibawa. Marcel agak terburu-buru.
"Beb, apa katanya? Mereka disandera?"
Keduanya kembali ke penyimpanan kayu bakar. Marcel belum juga menjawab, dia membuang senapannya di depan Jihan. Dada naik-turun.
Cyii.. ipph..!
"Mmhh.."
"Ummh.."
Keduanya melepas cumbuan. Jihan pandangi Marcel sekali lagi. "Hhhh, hhh.."
Jihan masih terdiam di hadapan si petapa, menatap lebih serius, bibir di situ sedang menunggunya.
Marcel turut membalas tatapan Jihan.
Jihan raih bahu Marcel, dia luapkan segera sebelum si bebep berubah pikiran, langsung mengulum bibir Marcel.
Cyipph.. cyiuu..upph..!!
Ternyata benar, Marcel menunggu dan tidak berubah pikiran, memegang kepala Jihan.
Jihan mencium sambil merapatkan badan Marcel ke tubuhnya.
Cyii.. ipphh.. Cyuu..pph..
"Uumh!"
Sekian menit berlalu, Jihan dan Marcel sudah beralas kasur di tempat pemotongan kayu. Mereka selesai saling melepas rindu, tampak Jihan berbaring di sebelah Marcel dengan kaki dinaikkan.
"Mantap, Beb.."
Marcel senyum saat mereka saling menatap, membelai-belai rambut Jihan.
__ADS_1
-
-