Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
chapter up 015


__ADS_3

Usai membanting Jihan, Cepak mengamati pakaian di tangannya. Dia bingung dengan apa yang baru dihempaskannya. Kain robek tersebut dari penutup pohon ataukah pakaian.


Cepak melirik bergantian dua objek yang ada di bawah dan di depannya.


"??!"


Dua gadis yang didapatinya sama-sama masih berpakaian loreng hijau.


Cepak juga lalu menoleh, mencari ke arah lain, kemudian menoleh lagi ke sisi kanan. Di situ tak ada orang selain mereka bertiga, dan hanya lapangan golf yang bertetanggaan dengan kota.


Gadis yang berdiri di depan Cepak diam menatap menyembunyikan dua tangannya di belakang. Satu lagi terbaring di legokan tanah dengan banyak serbuk yang menaburi pakaian.


Cepak menoleh kembali ke arah lainnya dalam ge.. ra.. kan lam.. bat..


"Bacain, Giz," pinta Jihan di posisi rebahnya, dalam jet lag-nya ini fram rate berlangsung normal, anggap masih 24 fps bukan 72 fps-nya.


"Driver yang diinanginya mengenkripsi indentitas, ada tujuh lapis namun dua elkey terakhir tak dikenali Seeder (pemindai), Tuan. Kurasa dia mengendarai parasas elit peliharaan seniornya."


"Bentangin daftar soloter sedapetnya, Ndan," kata Jihan lagi dengan mata sudah normal, warna ungu tadi adalah 'lensa' milik Gizi.


"Antara sembilan puluh hingga seratus empat puluh (90 - 140)."


"Pasti pake piaraan soloter generasi kedua. Seratus ke bawah udah soloter ultrahide, gak mau tau apapun. Si Cardi nih bocor banget soal Ekternal, apa dia lagi bohong, Giz? Atau ngarang cerita pas dia orasi di stasiun?"


"Dia akan ditambal oleh senior atas ketidaktahuannya."


"Berarti nginang parasas legendaris ya?"


"Dan ini makanan yang direbutnya dari para wrath, dia butuh asupan tiap lima belas menit. Atau seratus mili liter darah."


Jihan biarkan tubuhnya ditutupi bayangan Nina. Si teman yang sebenarnya sedang melesat otomatis mendengar obrolan tersebut.


"He Judes, gue pikir lo pingsan.."


Ge.. dubrakh!


Glutukh..! Glutukh!!


Glutukh!!!


Nina menerjang dada Cepak hingga jatuh bergulingan menimpa mayat-mayat di situ. Cepak turut mencengkram jas Nina hingga ikut berputar karena tak mau melepaskan.


Bughh!!


Bukh! Bukh!


Buu.. rururuugh!!


Saat keduanya berhenti berguling, posisi Nina yang beruntung dan langsung memberondong tinju-tinju ke wajah Cepak. Dia duduki tubuh Cepak tanpa menghentikan serangannya. Nina tampak sedang balas dendam.


Jihan yang sedang terbaring, menonton kejadian dengan tatapan takjub.


"Kaya gitu jadinya ya, kalo will beraksi?"


"Demikian. Nisa-lah yang mengerjakan keinginan tuannya," jelas Gizi yang sedang jongkok runduk dan turut komentar.


"Nisa?" tanya Jihan melirik sang jins.


"Driver Tuan Puteri (Nina)."


"Umm, gitu ya. Pantesan aku bingung. Pas waktu ngelawan birdy, pas mau ngebales Raven, aku kaya lupa mau gimana. Hawa kamu emang gak ada rupanya."


"Kau dapat menggunakan driver Server saat hamba tak menyertaimu, Tuanku. Selayak berkhayal."


"Aku emang paradok yang lagi hoki banget. Akhirnya bisa nafas, gak bisa sombong," kata Jihan sambil bergerak.


Jihan bangkit berdiri dan segera menepuk-nepuk pakaiannya. Di sebelahnya terdengar bunyi alat yang terselap di kuping Gizi. Jihan biarkan dan dia tak tahu posisi seperti itu rawan alias terbuka.


Swuutth!!


Seketika saat mengudara, Jihan mengarahkan dua tangannya pada tubuh Nina yang dilemparkan.


Set!


Tubuh Nina tercekal saat melesat.


"Ehh, Nin..?"


Nina menggeleng-geleng sambil mengerjapkan mata. Dia kucek-kucek penglihatannya demi mengusir suatu gangguan. Nina kemudian sadar kembali dari mabuknya. Tubuhnya yang masih melayang di situ segera melesat lagi setelah melihat Jihan, marah menuju Cepak yang juga sedang berkelebat ke arah mereka.


Swuutth!!


"Bonin ati-ati!!"


JGEEERGH!


Terjadi luapan energi besar dari dua will yang bertumbuk keras. Guncangan tak kasat mata tersebut melemparkan mayat-mayat ke udara dan menghancur tanah berserta jenazah di permukaannya.


Sluurukkh!!


Serbuk-serbuk tanah menghujani tempat kejadian perkara, juga di susul dengan mayat yang berjatuhan.


Dugh! Digh! Dugh! Degh!


Brugh! Brugh!

__ADS_1


Brigh! Bergh! Brugh! Brugh!


Jihan melindungi wajahnya dengan batang lengan. Atmosfer tubuhnya tampak terlihat, tapi "jurus paku" tersebut hilang dan menipis kembali. Jihan intip, Nina dan Cepak adu jotos ala mesin jahit di atas kawah.


Trath! Treth! Traattt!


Tataaatataa! Tratata.. tata!


Tratata! Treth! tratt..!


"Nih pukulan sayap nyamuk," komen Jihan. "Lagi-lagi luar biasa si Bonin. Kemarahan tuhan sedang bersamanya. Ataukah ini hanya pemanasannya saja?"


Tak ada komentar


Jihan menonton ala suporter anime yang hobi mendramatisir situasi. Dia sedang menunggu giliran mungkin. Jadi bicara apa adanya. Jihan menyilangkan tangan, terinspirasi gaya Enik.


"Tak ada komentar ya?"


Demikian. Hhh-hhh!


"Umm.."


Nina menyampingkan badannya hingga tangan di samping kepalanya tampak. Dia juga merunduk hingga tampak kaki lawannya terayun di atas kepala. Nina terus mengelak serang-serangan Cepak di pertempuran udara ini.


Demikian. Tuan Puteri (Marcel) sedang membantu para angkatan di gunung sana. Aku terhubung dengan Speaker Sri Ratu.


"Apa di situ ada tawanan lain selaen Pnin, Giz?"


Ada Tuanku. Hamba mendengar topik terkait sebelum Sri Ratu berangkat ke gunung Jateng. Tawanan dikurung untuk..


"Dimakan? Para eks nih emang bukan manusia lagi. Aku boleh tau wrath tuh apa ya, Giz?" tanya Jihan, entah sedang berpikir kritis atau hanya ingin ngobrol.


Algoritma liar, kemarahan yang tak beralasan. Hamba setuju Tuan katakan bahwasanya mereka dedemit, ataupun kunti


"Habisnya mirip Ghost. Asap khan benda mati, lha dia idup, Giz. Bisa translate bahasa orang. Kalo kamu ganggu aku, bisa jadi kamu pun disebut kunti."


Hhh-hhh! Tak ada komentar


"Tuh portal apa ya Giz?"


Sri Ratu hendak membangun halte, beliau menggaris dengan menaruh gumpal demikian.


"Oh. Tanda bantu toh. Nih tahan cuaca juga. Manteng aja di situ, padahal kena ledakan aura."


Set! Sitt! Sut!


Nina mengibaskan kaki ke lutut Cepak namun lawan sama gesit. Tangan kanannya belum full power alias tenaga normal. Namun terlihat di pertempuran darat tersebut lawannya menikmati speed yang ada. Nina tak mau berhenti saat Cepak mulai menangkis dan terus mundur.


Begh!


Perut Cepak akhirnya kena tendang hingga terjejak gesekan kaki di tanah oleh tumbuk tersebut. Dia menahan dorongan yang serius sambil tetap menekan perut. Kemudian..


"Frrsshh! Hhh..! Hhh.. Set*n!" umpat Cepak dengan mulut berdarah. "Heaa!"


"Bay waaan!!" teriak Nina turut lari menghampiri.


Sat! Sat! Wuutts!


Bukh!


Kepala Cepak tergerak ke samping saat terkena ayunan sepatu Nina. Sampai terhuyung jatuh.


Bruugh!


Cepak terbaring dan agak menggelepar. Labil.


"Gerak lo dikit minus."


Nina menyapu pandangan ke sekitarnya. Dia masih melihat mayat yang berlimpangan dekat kawah. Beberapa onggok masih terlihat segar dan utuh.


"Judes! Sterilkan area! Dia lapar! Dehidrasi..!!"


Di tempatnya, Jihan dapati Nina mengawang bibir dengan tapak tangannya, berteriak dan mengulang kata: BERSIHIN AREA.


"Bersihin are.."


Bugh!


Syuu.. uung!


Bruugh!


Nina terlempar menjauhi zona kawah, tubuhnya mendarat di jarak 20 meter dari titik tendang. Dia lihat Cepak sudah berlari ke jenazah terdekat. Nina segera bangun.


Swuutth!!


Daph!


Baru saja lari 5 meter, pundak Cepak ditangkap. Dia pun di hempas langsung ke belakangnya. Nina tarik tubuh lawan ke bawah begitu tercekal.


Brugh!


"Ngapain lo?! Lapar? Haa!" tanya Nina menginjak dada Cepak.


"Erggh! Aarggh..!"

__ADS_1


Cepak memegangi kaki Nina. Kemudian menjambak kepalanya sambil mengerang. Cepak labil kembali.


"Huaarrgh! Huaa!"


"Diem!"


Nina menoleh ke kawah yang mana Jihan sedang bertelekinetis mengangkat semua mayat. Dia balik pada objek yang diinjaknya, tampak sang soloter masih meronta-ronta ditumbuhi daging-daging baru. Nina mengepal dan mengatupkan rahang.


"Huarrg! Hu.. aaarg!!"


Set..! Sat!


Sekerubung serbuk tanah mengudara di atas kawah, pengendalinya berdiri di tepian memainkan tangannya. Mayat-mayat berhasil Jihan kumpulkan ke lubang bekas kelabat impuls Nina - Cepak yang berdiameter sekira dua bus AKAP.


Bruu luuukh..!!


Jihan lepaskan tenaga 'magnet'nya hingga serbuk-serbuk jatuh menabur kawah dan mengubur mereka sudah yang tak bernyawa di bawah sana.


Blegh!


Jihan mengerakkan kepala, tunduknya membuat gundukan besar di depannya rapat dan mengendap keras.


Sshh.. ssh..


Tumor di badan Cepak mengepul dan melepuh kempes. Asapnya menggumpal di hadapan Nina.


Bruuaghh!


Nina mendadak terbanting ke samping. Pengempasnya mahluk yang dia injak.


"Bonin!"


Swuutth!


Sesuatu melesat pergi meninggalkan lokasi yang asapnya masih disedot oleh sosok fatamorgana.


Ckiiit!


"He.. lo ga apa-apa?" tanya Jihan begitu datang.


"Ugh, legend-nya kabur Kak. Gue gak sempet buka kompas. Kampret!"


Nina bangkit sambil meringis pegang rusuk.


"Lo yang pegang Pnah?"


Gumpalan asap ternyata si pemuda rambut tipis. Cepak pun masih berpakaian sama, kemeja dan celana jeans. Tampaknya fans berat T-rev.


"Heh, turun lo!" pinta Jihan. "Lo bakal beneran telat kalo dah bisa jinakin mereka (parasas). Sampein!"


"Hahah! Idiot ceking."


"Lo asep knalpot. Gue kurus, turunan."p


"Hhahaa!"


Jihan tak menimpali lagi, diam kacak pinggang.


Nina menengok bawahnya mencari batu, lalu memungut tulang jari. Dia lempar si pemuda yang menertawakan mereka. Nina kemudian kesal karena tulang tadi tembus mengenai kepala Cepak.


"Cepet masuk lahat lo sana. Sebelum lo sakau lagi. Tuh lapar pulih kalo nyarap di You Forest. Jangan di You City. Manusia bukan ayam ternak," kata Nina.


"F*ck. Gue dah gak makan nasi, Anj*ng. Cuih..!"


Swuutth..!


"Mau apa lo cari gue!!"


Cepak segera melesat begitu portalnya muncul di kejauhan. Nina biarkan keningnya kotor. Jihan inisiatif menyeka liur soloter itu dengan tangannya.


"Nin..? Bonin."


Jihan menepuk-nepuk pipi si teman. Sejak dahinya dibersihkan dari ludah Cepak, Nina masih menatap objeknya. Jihan menepuk-nepuk dan menjepit hidung Nina sambil digoyang-goyang.


"Lo napa sih? Jawab dong Bonin."


Nina pelan memucat.


"Ya Allah gue salah apa sampe dieman gini? Nisa lo denger gue? Majikan lo napa sih?"


Nina tampaknya menyimpan sesuatu. Jihan meraba-raba lengan dan wajah Nina ternyata sama lembabnya.


"Nisa?"


Aku gak tau. Mungkin harus terus gini. Aduh panas di sini juga Kak, dari tadi. Terus ajak ngomong Kak


"Sabar ya Nin. Iya nih salah gue. Kita ntar ekstraksi lagi, barengan lagi ngerekrut lusid baru."


Ada respon. Terus Kak. Kipas-kipas.


Jihan menaikkan turunkan tangannya, agar angin terhembus pada wajah si teman.


"Sanin.. sadar dong. Jangan diem terus kayak gini. Sanin selesai ribut kemasin juned saban minggu.. Hussh! Huss!"


-

__ADS_1


-


__ADS_2