Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
Mercy


__ADS_3

Jihan dan Marcel lanjut berolahraga kaki walau waktunya agak telat.


Mereka berangkat dari pasar karena Marcel harus mengembalikan kunci rumah dan kamar pada sang ibu, pada entah siapa nama wanita dua karyawan itu. Keduanya berlari santai di pinggir jalan kota dibarengi acara lirik dan pandang.


Mereka memang aneh, seberapa pun lamanya bersama, bawaan mereka seperti sejoli yang baru jadian. Baru kenal kemarin seperti sudah jadi pengantin . Disebut akrab, tatapan Jihan seperti curiga. Disebut serius, pandangan Marcel berakhir senyuman.


Sepanjang jalan belum ada tanya jawab di antara mereka selain saling lihat dan heart stalk.


Selesai joging, di rumah Jihan, Marcel ada keperluan pada Heart. Mungkin ingin menanyai beberapa hal penting pada napi "kembaran"nya tersebut.


Jihan mengambil 'kompas' dari bahu "ajaibnya". Dia taruh di meja belajar. Jihan pun duduk dan diam.


"Lo ngapain bengong?" tanya Marcel usai menunggu agak lama.


"Surat nikah" kata Jihan, segera. "Lo napa gak pernah masuk ke mari?"


"Kuncinya?"


"Iya. Nih kuncinya. Trus kalo lo mau ke nomand, gue ikut. Pengen liat anak gue si Nature."


"Nebeng?"


"Iya. Nebeng. Khan gak bisa lewat Escort. Dia di abad dua puluh enam (26), jangkauan Spear cuma sampe dua-lima."


"Oke. Ya udah. Ayo kita onmind."


Ternyata Jihan juga ingin menemui anak tirinya, Nature. Jadi sekalian nebeng karena abad tersebut di luar jangkauan Spear yang hanya dapat mengantar sampai abad 25.


Maka di kamar Jihan ini Marcel yang menenteng sepatunya segera masuk wormhole. Mereka berpisah untuk onmind. Tapi baru lima langkah, si petapa balik ke kamar Jihan mengambil 'kompas' yang tertingal di meja belajar.


Jihan berdiri tapi hanya diam memperhatikan.


"Aneh khan kalo buru-buru gini? Padahal baru dibahas, ngadadak poho," kata Marcel mengamati benda di tangan.


Jihan menatap gadis di depannya, yang masih menenteng sepatu, diam tidak bicara.


"Lo masuk kamar pake jempol, trus gue pake yoyo nih?"


Jihan angguk-angguk.


Marcel mendiamkan kepalanya, pipi agak dimajukan. Dia ikut diam tak banyak bicara lagi.


Cwuuph!


"Hehe," kekeh Jihan yang ternyata ingin ci-pi Marcel.


"Hhh," hela Marcel. Dia balik badan dan berlalu sambil komentar soal diri mereka. "Duhai senangnya penganten baru. Duduk bersanding bersenda gurau..Tralala-lala.. Tralala-lala."


"..???" heran Jihan atas suara Marcel. "Kok cowok?"


Di nomand abad 26.


"Mamah bawa apa sih baunya enak sekali," komen Nature sambil mengeluarkan kemasan dari kantongnya.


"Masakan percobaan, Nat. Tapi bukan racun."


"Nature dikasih e*ek Rabbit ya?" tanya Nature.


"Lo parah gini sebulan gak diapel."


"Nature khan jelmaan Mamah Barbar."


"Mamah yang hobi baca, Nat. Kalo gue emak asli, kerja lo gak di sini, tapi di tempat jagal."


"Gak mau. Nature pengen kayak Mamah. Pengen jadi tukang puncung. Algolo, Mah."


"He, tuh bukan cita-cita, Nat. Tapi ati-ati ketemu orang. Kebales, kamu tamat lebih sadis."


"Hhss! Hhhs.." hirup si bocah bersetelan baju F1 ini, menyedot uap nasgor.


Jihan kacak pinggang menunggui juri masak ciliknya.


"Pacar aku mana?"


"Lo kok nanyain pacar?"


"Ya sudah. Nature gak bakal makan."


"Hhhh.."


Set! Zwiiitt..!


Gizi segera keluar dari badan Jihan, menampakkan dirinya.


"Jins!" seru Nature, datang dan mendekap Gizi. "I miss you."


"Hai Tuan. Demikian pula hamba."


"Jins, suapin Nature ya, Jins," pinta Nature .


"Hadeeh, dasar tengil," lemas Jihan melihat kemanjaan Nature lebih condong pada jins-nya. "Gue emang gak dianggap sama lo."


"Wuu.. wu!" ledek Nature memainkan wajah dan bibirnya.


Di kediaman Luna alias stasiun Apik, dua sahabat duduk di tepian peron memainkan dua kaki dengan gerakan santai. Beberapa hari sudah berlalu, keduanya makin dekat.


Dan konon masa berkabung tuan rumah reda dalam 18 hari basetime. Saat-saat inilah yang sedang Jihan dan Marcel tunggu. Mereka ingin tahu kabar jins legendaris satu ini karena Ghost sudah diperkenankan masuk kamar oleh penghuninya; Luna.


Sambil menunggu Luna muncul, lusid dan astraler tersebut membahas piyama yang dikenakan si petapa.


"Marah gak nih gue bawa onmind?"


"Ng.. gak."


"Lo-nya ngumpetin kaos sama celana gue. Di Entrance khan banyak orang lewat."


Jihan diam dengan wajah bersemu merah. Dia biarkan Marcel menatap lama padanya. Jihan hanya senyum-senyum sendiri, karena ternyata Marcel mengunjungi kamarnya tiap hari.


Marcel mendorong pipi Jihan.


"Apa..?" tanya Jihan.


"Ngapain?"


"Hhh-hhh! Ada deh."


"Jangan bahas ronde. Awas deh, ada sangsinya."


"Hhh-hhh..!"


Marcel kembali melirik black marble yang mengambang di tengah rel, sebelah kanannya. Dia sengaja tak bawa senapannya karena onmind hanya untuk menjenguk Luna. Marcel dapati objeknya belum juga hilang, Luna belum juga hadir.


Awal bertemu gadis se-somplak Jihan karena desas-desus tentang Al Hood. Luna hilang, tak ada di kediaman. Isu tersebut membawa Marcel harus bertemu Jihan sebab Pnin terinject di tubuh sang lusid, dia bisa membangunkan Luna dengan stone yang ada di perut Jihan.


Jihan sendiri anak lapangan. Maka dia lebih utama untuk ditugaskan, diterjunkan dalam misi high risk itu ketimbang Nina yang anak kantor.


Marcel tak menyangka dirinya mendapatkan pengganti Lusi, dan Jihan bahkan bisa dikatakan bayangan barbar-nya.

__ADS_1


Sang petapa melamun, masih kebingungan. Marcel pun didorong pipinya karena tak menyahut-nyahut saat Jihan ajak bicara.


"Apaan?" tanya Marcel.


"Hhh-hhh! Lo napa diem? Firasat, amnesia, apa kebayang masa lalu?"


"Kasian Luna, gue ngerasain sahabat sejati tuh gimana. Trus, tiba-tiba harus beda jalan. Sesingkat itu keabadian."


"Aduh jangan dibahas ih."


"Haa?"


"Hhh-hhh. Iya. Lo gak tau.. apa, teriakan gue di area lima? Ngedadak Tarzan, manggil elo, keilangan piala. Lo gak nyaut-nyaut. Gue pikir mungkin tuh pesen lo buat gue. Gue sama Gizi tuh seneng kepadamu. Jangan pergi dulu."


"Wuu.. wuu!"


"Hhh-hhh!"


Jihan membenamkan tangannya ke wajah Marcel. Dia komentari gelagat yang ada sambil terguncang badan.


"Nih apaan, muka simpase apa simpanan lo? Hhh-hhh!"


"Swer, Han. Jadi semahhal (makhluk halus) Luna tuh gak mudah. Mana gak ada klinik lagi di sini, buat nampung keluhan psikisnya."


"Lagi coba wuwu-nya, Sel. Hhh-hhh! Muka uwu gue gak sehoror lo ini deh perasaan," gelak Jihan, masih terguncang.


"Kemaren-kemaren gue tuh ketemu Heart buat ricek soal Top Qarrat. Dia bilang Deyita terhapus, padahal gue belum bahas itu."


"Trus dia ngaku gak, gue pernah nginterview dia?"


"Ya dia ngejawab pertanyaan itu. Tapi dia gak tau kita kalo dateng bareng."


"Trus dapet apa lagi?"


"Kalo Heart tau soal ending Top Qarrat, dia juga tau dong kondisi Luna. Ya khan?"


"Terus?"


"Ya hari inilah Luna pulih, Han."


"Umm, gitu ya. Kiraen ngechek kebohongan. Dapet apa lagi tuh dalem ruang abu sono?"


"Hhh.. gue sama dia.. "


"Iya..? Elo sama.. Heart.. umm.. gimana?"


"Hhh, realitas gue banyak katanya, Han. Ini bukan info baru, gue udah pendam lama. Heart ngevalidasi prediksi mbak Enik soal habitat gue."


"Eh, gimana, gimana?"


"Gini yaa.. Gue tuh idup di sini sama di luar. Ada di lamsad dan badar secara bersamaan. Gue kusut. Di hutan waktu nonton orasi-nya Lidah Buaya syuting berhenti karena mata aktor kemasukan tinta. Gue juga bingung ada kawat tiba-tiba putus."


"Kejadiannya kayak Sanin selesai ribut kemas Juned saban Minggu?"


"Hu umz."


"Gue juga masih absurd. Kata Heart, isi Kencana tuh bayangan kita. Kalo lo terus kepo, lo bakal senasib kayak dia. Bingung musti tidur di mana sama luasnya daratan Bumi."


"Jadi gue tuh ngambang gak sih, Han?"


"Gak usah mikirin otak si Raven."


"Gitu ya?"


"Kalo otak-otak di oven boleh dimakan pas laper. Artinya apa coba?"


"Cari tau yuk?"


"Di mana?"


"Di sini!!" ucap Jihan dan Marcel bertatapan sambil menarik kulit bawah matanya masing-masing.


"Ngomong apaan sih, Kakak-kakak?"


Jihan dan Marcel diam tak menjawab. Nina duduk di tengah mereka, lihat kanan lihat kiri menunggu jawaban. Mereka yang diganggunya cuek seperti dia yang tiba-tiba duduk nimbrung di tengah-tengah.


Mungkin posisi duduk Nina salah, jadi dia tak dapat jawaban.


"Sini duduk Bil. Nih dia kakak sebelas dua belas -nya."


Ternyata Nina tidak datang sendirian. Jihan dan Marcel kebingungan disapa lusid baru yang sedari tadi masih melihat-lihat. Jihan menyambut asongan tangan si gadis, begitu juga Marcel yang tetap duduk.


"Saya Billa Kak."


"Marcelina."


"Enak banget ya tempatnya, Kak. Bersih apik," komen Billa setelah duduk di sebelah Marcel.


"Welcome, Bil. Iya. Always."


"Di sini ya Anak Langit-nya," tunjuk Billa ke bola mini di depannya.


"Iya. Nih Laniakea. Bukan gugus galaksi yang di langit tapinya. Diemnya emang di sini."


"Pedangnya mana Kak?"


"Oh. Si Ray maksud lo?"


"Iya. Kakak tuh dancenya bagus, jago banget. Cepet, kombat sama nembaknya."


"Dia (Ray) lagi latian, Bil. Eh, skincare lo nih umuran kita, Bil. Marcel aja gapapa," kata Marcel, merendah.


"Aku temen sekolah Nina, Kak. Masih es em a, kelas sebelas. Kak Marcel udah lama banget. Katanya umuran tante-tante."


"Njir. Siapa nih yang ngomong?"


"Kak Nina."


Nina buru-buru mendesih taruh jari di bibir. Jihan ikut menyimak karena Marcel langsung menjelaskan maksud dari kata "umuran". Keempatnya tak tahu bahwa stasiun sudah di duduki belasan lusid. Mereka yang datang, muncul ala Antman alias "debu" yang membengkak besar. Muncul di posisi yang belum ditempati orang.


"Hhh.."


Seorang gadis dengan rambut sepundak memandangi layar di hadapannya. Mass foto tersebut memuat dirinya, berada di barisan depan bersama dua remaja kembar. Dirinya mengenakan piyama dengan warna yang sama ungu dengan gadis di sampingnya.


Gue kirim nih data dari valdisk home punya lo, Beb. Mulai di sini aja dulu. Foto nih diambil Kamis 21 Oktober 2021, di stasiun, waktu kita ngobrol nungguin Luna.


Luna tuh sosoknya ada di sebelah anak yang putih-putih. Dia dibuang lagi. Gue masih nyari masa-nya, dewan masih sangat sibuk nyisir juga.


Ya Allah. Sel. Gue ngandelin Heart, dia juga nyari elo. Dia yang nyuruh gue ngetik lewat 'kompas' ini. Moga kamu baca, ya. We are need you.


If your name is Mercy,


tanda berikutnya : 101-1-0100


Gliitt..


"Hhhh.. Plis."

__ADS_1


Dia keluar dari gudang tersebut. Dua orang yang dilewatinya membungkuk. Senjata di tangan mereka AK-47. Malam hari ini tak ada penjaga lainnya di belakang rumah besar nan mewah ini, mansion.


Si gadis menutup pintu. Dia menapaki lorong dengan dinding banyak lukisan terpajang. Seseorang tampak keluar dari salah satu ruang, dan lanjut memakai bajunya. Mereka berpas-pasan.


"Besok lu ikut kagak?"


"Gak. Gue masih beresin kawasan Barat. Kapan nih maling dateng?"


"Lo kenal?" tanya laki-laki ini sambil mengancingkan kemeja. "Tadi jam delapanan. Nyariin lo. Tapi tahu-tahu manjat lewat belakang. Gue bilang kagak ada nama Mercy, salah alamat."


"Dia ngikutin gue dari bioskop kayaknya."


"Bukan. Orang ini mata-mata," timpalnya lagi sambil memantik korek.


"Pras, geng yang gue pegang, gak ada yang selamat. Nih saksi maksud lo?"


Si pemuda meninggalkan obrolan sambil menghisap rokok yang dia nyalakan di depan si gadis saat mereka mengobrol.


"Mau ke mana lo?"


"Make-lah. Sayang belum diapa-apain. Mumpung si Bos lom dateng."


"Oh ya, sini gue minta rokoknya."


Laki-laki tersebut balik lagi sambil merogoh saku baju. Entah kenapa, saat sampai di depan si gadis dirinya di-ketig bagian leher.


Bruugh..!!


Wu.. wiit!!


Di luar, si gadis memanggil penjaga gudang. Salah satu dari mereka segera berlari menghampirinya.


"Ya?"


"Lo tau obat yang dipake sama si Pras gak?"


"Kenapa?"


"Dia ode noh," kata si gadis yang masih berdiri di lawang pintu. "Kubur."


"Ck! Oke."


Pria tersebut menurut dan masuk melewati si senior, langkahnya pun diikuti.


Setelah memeriksa Pras yang dianggapnya mayat, dia kebingungan karena tak melihat mulut Pras berbusa, lalu saat mau memberitahu.


Ttziipp! Tziuph!


Bruugh!!


Si gadis datang kembali ke gudang. Dia menanyakan petugas satunya pada si penjaga.


"Mana dia?"


"Lho tadi bukannya sama Mbak?"


"Bukan set*n. Penyusup! Sana nyalain sirin!"


Bugh!


"I-iya. Siap, siap..!"


Sehabis ditendang, penjaga gudang segera lari ke arah pintu masuk. Namun naas, dia jatuh dan ambruk dengan dua lubang kepalanya. Si gadis menyelipkan kembali pistolnya ke belakang punggung setelah..


Getrakh!


Bunyi kamera CCTV.


"Belum diapa-apain, babak belur gini. Satuan lo aneh lagi. Malah nyasar ke sini."


Di dalam gudang ternyata tersekap seorang gadis, perempuan muda itu pingsan dan tangannya masih terikat. Di punggungnya, pada rompi yang dipakai terbaca FOS Ronda. Setelan yang ada persis seorang anggota polisi rahasia. Seperti katanya, mungkin nyasar.


Dalam ruang garasi, si gadis masuk menutup pintu sedan setelah memasukkan tubuh yang dipanggulnya ke bagasi.


Bregh!


Brrmm! Brrmm!


Di gerbang mansion, sedan tersebut menyalakan klakson. Pagar segera dibukakan penjaga pintu. Mobil pun melaju kembali tanpa kecurigaan.


Malam hari di jalanan yang sangat sepi, mobil yang dikendarai dipreteli bagian GPS-nya. Kendaraan tersebut meninggalkan sampah elektronik di pinggir jalan dekat hutan ini. Setelahnya tidak ada lagi mobil yang lewat.


Siapa sih ya? Kelihatannya seorang mafia pro, tangan kanan majikannya. Sepintas ada barang canggih yang dia bawa dan berhubungan dengan maling yang pingsan itu.


"Siapa lo? Napa bikin lingkaran?"


"Gue.. Rey.."


Si gadis menaikkan dua kakinya ke tepi ranjang, duduk menanyai Rey yang baru siuman. Pagi-pagi mafia muda ini masih melek, ada beberapa kaleng kosong di bawah kursinya. Dia juga memutar-mutar peredam hand gun.


"Apa lagi? Interpol satuan siskamling?"


"Sel.." kata Rey, suaranya agak berat.


Si gadis diam membiarkan Rey memijat-mijat kepala. Wajah penuh lebam itu meringis menahan sakit yang masih terasa.


"Ka-mi.. butuh lo.."


"..??"


"Lingkaran.. cari ling-karan. Gue.. pernah di sini.. i was here. Lingkaran di.. de-ket tangga."


"Tapi nih di kamar hotel."


"Tang-ga.. Cek.. Sel. Nih di ru-mah lo."


Si Gadis diam terpaku. Bukan hanya itu, Rey juga memintanya jangan terlalu banyak minum alkohol.


"..?"


Si gadis menurunkan kakinya.


"Apa lo juga ngejar alat gue?"


"Kami.. bu-tuh.. lo.."


"Orang-orang lo di kawasan Timur ini, lagi diserang sama kelompok yang dibayar dua milyar per minggu. Kalian bisa bayar gue enam kalinya kalo emang pengen lubang di kepala boss gue."


"Sel.. lo idup bu-kan.. buat bunuh.. o-rang."


"Oh ya. Gue Mercy. Yang kalian tawarin tiga em via pengedar itu."


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2