
Pnin sampai di tempat terakhir Knon terlihat, yaitu di jalanan yang sudah sepi agak jauh dari gedung supermarket. Dia mantan intel dan tak pernah dikendarai manusia secara aktif. Parasas ini sudah beriman alias tobat mengikuti Luna, maka dibiarkan keluyuran di Internal karena tidak membahayakan.
"Keluarlah kau, Knon. Sungguh kalian melampaui batas. Kembalilah jangan pernah kemari lagi. Ini pengampunan dari Yang Mulia Luna."
Bugh!
Begg! Bletakkh!
Gubragh..!
Tiba-tiba Pnin alias mas Bro ditendang perutnya serta ditampar tinju saat membungkuk menahan sakit. Usai kepala, kemudian tubuhnya ditendang dari samping hingga si mas ganteng jatuh.
"Knon.. dengarkan aku." Pnin segera bangun berdiri.
Penganiaya menatapnya, pria ini berjambang lebat, pipinya tersebut dihias rambut tipis dan mirip Arnold. Entah datang dari mana sampai serangannya pun tak terhindari.
"Penghianat!" seru Knon.
"Aku telah lama di Seberang ini daripada kalian, dan sungguh aku melihat kebenaran yang nyata."
Degh! Dugh! Bletakkh..!
Aksi serupa terulang dadakan. Pnin dipukul kembali, perut dihantam hingga dia bungkuk dan keningnya kemudian di-upper cut sampai Pnin tegak badan, kemudian ditendang, membuat badannya menabrak bodi mobil.
Brraakh!
Kendaraan tampak ringsek bekas hantaman yang begitu cepat, ditimpa material yang lebih keras.
"Beliau ada di sini. Kalian telah membuatnya murka."
Knon yang tengah menghampiri, berhenti mendengar kalimat Pnin. "Muka Haram! Bagaimana bisa dia (Luna) terbangun?!"
"Tuhan menolong kami. Tidakkah kalian melihat tanda-tanda Nya?"
"Jiwa itu akan bangkit kembali, Pnin. Tuhan baru kita adalah Yang Mulia Deyita."
"Dia bahkan telah binasa hari i.."
Djigh! Bugh! Bugh!
Bugh!
Degh! Djigh..!! Djigh!
Pnin yang tampak sudah lebam dikombo lagi dengan tumbukan kaki dan tinju gesit. Dia atasan Knon, tapi tampaknya Pnin sudah tahu bawahannya itu pasti murka pada penghianat. Pnin tak melawan karena masih ingin bicara, dan tentu saja harus menerima resikonya ini.
Dada Pnin ditabrak hantaman keras yang kali ini dari tangan Knon, dua kali lebih kuat ketimbang tendangan. Tebing pinggir jalan tak ayal hancur seketika tertimpa badan Pnin.
Di situ Knon menguras tenaganya lagi, Pnin dia angkat dengan satu tangannya. Dia tinju berulang-ulang wajah sang atasan.
Djigh..!! Djigh!
Bugh! Bugh! Dugh-dugh!
Djigh..!
Entahlah apa yang Pnin tunggu. Dia bisa menahan pukulan yang ada dengan tanganya yang lebih berotot. Kesengajaan dan diamnya tersebut membuat Knon makin kesal dan membabi buta, habis difinalti dihajar dan ditendang lagi.
Bruuaghh!
Badan dan wajah Pnin sedikit "berantakan" saat dia mencoba berdiri kembali di bawah puing runtuhan. Tubuhnya karet atau logam, tidak dapat diketahui hukum fisika di antah berantah ini seperti apa, penganiayaan yang terjadi di jalanan ini persis olahraga smackdown, yang penting penonton hepi.
Bugh-bugh.. !
Bletakkh!
Andai ada penonton pasti dia akan bersorak atas kekutan Knon memperlakukan sesamanya. Sorakan penjudi tentunya.
"Dia (Black Soul) binasa tapi kami (ajarannya) abadi.. Pnin."
DEJIGH..!!
Syuuutt!!
Tubuh Pnin yang telah lemas terdorong jauh menghantam mobil-mobil yang ada di jalanan, betapa singkat dan kuatnya jejekan yang Knon daratkan pada tubuh Pnin hingga kendaraan terpental-pental, beruntun hingga jadi mobil terbang.
Tuung! Tang!
Whung! Whung..!
Teng! Tang!! Whung! Whuung!
Saat Pnin masih terdorong, Knon melompat dengan tangan sudah menangkap mobil dan..
Gucraat!
Knon hantam targetnya hingga remuk, sementara benda yang digunakan langsung dia buang, tanpa tahu bahwa korbannya melempar 'kompas' pada tubuhnya.
BRUAKH!
Mobil batu terselap di tebing jalan. Sekali lagi, patung mobil. Begitu juga senjata rahasia Pnin. Sekali lagi, rahasia senjata.
Knon panik melihat tutup-galon menempel di badan. Dia mencakar-cakar dadanya sendiri.
"Hhrrg.. Kau..!"
Krakh..! Badan Knon tiba-tiba membeku dijalari otot anehnya, langsung mengering.
"Aku bisa.. merumus lightnov.. Knon.." kata mas Bro dengan tubuh masih terbenam di legokan aspal.
Sebagai intel, kemampuan tempur dan kombat mereka memang mengejutkan. Jika diketahui musuh, tentu saja kesederhanaan tersebut jadi sia-sia. Pnin masih dapat beraksi walau hanya sekali.
".. membiusmu. Hahaa.."
Ngii.. iiiing..!!
Tubuh Knon disinari tutup-galon dan menerangi sekitar mereka. Kemudian setelah denging puncak tersebut..
Jeglubh!!
Plukh!
Batu permata jatuh. Di susul 'kompas' yang ukurannya memang mirip tutup-galon.
Klotakh!
Ckiiit!
"Mas Bro..! Syukurlah kau selamat. Ayo bangun, jangan jauh-jauh. Ada soloter di nomand ini."
Ghost berhenti berkelebat dekat Pnin, serta merta cemas dan khawatir. Sore hari ini tubuh asapnya agak tebal terlihat hingga wajah, dia Luna versi smoke. Ghost segera membantu Pnin berdiri.
Beralih ke stadion.
Selesai membenamkan anak buahnya dengan mind power, sang ketua melayang menghampiri. Tampak keduanya mulai tidak akur.
__ADS_1
Ckiit!
Rei berhenti berkelebat karena tak ada yang mengejarnya lagi dengan sorot mata. Dia mengamati seberangnya di kursi nomer 2022 ini. Rei kacak mendapati kelakuan musuhnya, di sana si ketua geng mencekik anak buah, dua kaki korban mengayuh sambil memegangi tangan pelaku.
"Piaran tak berguna.. bla. bla.." kata pencekik gelap.
"Hmm.. Apa benar kau manusia?" gumam Rei, bermonolog karena tampaknya kurang suka. "Ataukah seorang Thanos.. Kau soloter rupanya."
Siluet mencekik siluet, mereka serius tampaknya. Sang ketua melemparkan korban pada temannya dan langsung ditangkap.
"Apa yang kalian lakukan ini fusion?"
"Gunakan dia!" pinta si ketua, pasti selalu menyuruh-nyuruh.
Penangkap pun segera menyerap tubuh objeknya. Siluet tersebut mencekik lebih kejam karena ada sesuatu persis hidrolik dozer di telapak tangannya, kekuatan itu membuat tubuh temannya kempes dan tersedot masuk.
Grrlllph..!
Seperti yang diperkirakan Rei. Setelah menghisap, si pemilik tangan melesat pada pesuruhnya. Tubuh siluet tersebut tampak sedikit besar saat berkelebat.
Grrtth..! Grrtt..
Rei melayang pelan ke arah lapang. Objek yang diamatinya tengah menggelegak labil, volume tubuh sang leader pun meningkat alias tumbuh besar. Rei menghampirinya tanpa kesan alias santai.
Grrtth..! Grrt.. tekh!
Takh.. tekh! takh takh.. Braakh..!
Kanopi tribun robek, rangka-rangka penyangganya patah bagai batang es kering.
Brakh! Brukh! Bruukh..
Runtuhan atap menghujani kursi-kursi tribun.
Sluurukkh..!!
Pecahan kanopi pun jatuh menaburi tribun.
Siluet makin tinggi dan terus membesar skala tubuhnya. Mereka bertiga telah padu dalam satu kendali, sudah sinkron saat berproses jadi ultragirl. Berfusion.
ZWAATT!!
Rei mendadak bengkak di tengah lapang dengan badan setinggi gedung.
"Ratu di situ taunya. Kiraen cuma ultramen yang gede, semut ireng juga bisa. Item bener lawannya Ratu."
Jihan melayang-layang di sebelah Monas, di kejauhan sana memang ada dua objek besar yang sedang berdiri empat mata.
Jihan tak lagi beraksi merusak transformer sebab teralih perhatian dan mereka yang tengah berbaris di bawahnya, mesin-mesin tersebut offline auto parkir. Jihan sudah menenteng pemimpin pasukan yang membajak Monas.
Di tempat lain, tapi masih di Jakpus, tepatnya di depan supermarket. Nina celingukan, dia datang lagi ke tahun 4022 ini membawa koper kotak. Di situ, pintu masuknya alias wormhole merapat sendiri dan diabaikan. Nina agak bingung melihat sekitarnya sepi dan berantakan.
"Woy! Ada orang gak! Di sini..!!"
Nina yang sedang teriak-teriak menunggu jawaban, menengok ke arah kanan jalan. Dia mendapati Ghost tengah melayang menjinjing pundak Pnin. Nina tambah bingung.
"Mas Bro..?"
Pnin tampak menutup mata dengan tubuh sudah lunglai, penuh memar dan legam.
Wuutts!
"Ghost yang laen mana? Jangan bilang gue telat," sergah Nina.
"Ahh.. kau sudah kembali, Nak," ucap Pnin dengan mata teler.
"Hei, turunkan aku. Sudah kukatakan aku cukup berat untukmu, Nak."
"Baik. Ini latihan terbangku mas Bro. Aku harus terus mengasahnya.
Ghost menurut setelah Pnin terbangun, melepaskan pegangannya.
Daph!
Pnin mendarat dengan bungkuk dan meraih kotak yang Nina sodorkan. Dia berkomentar soal tubuhnya yang Nina sebut sebagai panu. Pnin protes, jongkok membuka koper.
"Siapa tau kau gak pernah mandi mas Bro. Jadi gampang kena penyakit kulit."
"Apa yang kalian maksud dengan kata itu?"
"Menguyur badan pake aer dan dibersihkan."
"Kami tak mandi. Ahh.. Anak itu benar-benar membuatnya," komen Pnin melihat barang yang ditunggu-tunggunya.
"Tapi ini helm apa drone mas Bro? Aku kayaknya salah datengin orang."
"Tidak, Nak. Lihatlah.."
Kotak yang Pnin buka memang berisi benda mirip APD ojek. Nina sedikit melebarkan matanya saat melihat drone tersebut sudah bercincin. Ada benang merah yang melingkari sang "kucing".
"Ya elah.. Ngapain si Epsi?"
"Sebaiknya kita mundur sedikit."
Pnin bangkit berdiri meminta mereka menjarak dari kotak.
Rrrhh!! Kwetth!!
"Ngapain sih dia nih mas Bro? Apa yang terjadi di sini?" tanya Nina masih kepo.
"Mereka mengamuk tak dapat membawa makanannya pulang. Walau kami kewalahan menyelamatkan makanan, evakuator kita sudah jadi."
Srukh! Srakh! Srukkh!
Srakh! Sraakh!
"Widih..! Keren."
Isi koper disalin FinalCutter, lima unit pertama ter-paste, dan langsung aktif, lampu serta sensornya menyala. Dididit!
Trek-trakh.. tak!
Ada sayap dan lubang api yang mengembang dalam badan drone, kemudian ngebut jadi Ironball.
Swuutth! Swuutth!
Dua pergi, tiga drone lainnya melesat terpisah. Swath! Swuutth! Swett!
Drone yang awalnya digebuki berandalan itu selesai dirakit ulang, ditingkatkan oleh pusaka Al Hood, tepatnya diproduksi instan. Nirawak lainnya pun berhamburan dari koper yang ada.
WRRRRRGHH!
"Anjay!" seru Nina. "Kok dia nge-hack gini sih?" bingung Nina, rambutnya berkibaran akibat hembusan drone yang keluar bagai rangkaian kereta.
"Aku berharap hari ini sedang syuting," kata Rei sambil kacak pinggang dan menggaruk kebingungan.
__ADS_1
"Eeaargh!"
BRUAAGH!
Semut Ireng mengayunkan tangan besarnya pada bangunan. Dia layangkan kembali ke gedung yang berada di dekatnya, mengamuk dan menghancurkan apa yang ada di depannya.
Ultragirl tak peduli ribuan drone masuk menyerbu semua gedung, saat dia robohkan. Terpencarlah balon-balon bening mengevakuasi 'makanan' bagai bulu dari bunga Dandelion.
"Ergh!"
BRAAGH!
"Sudahlah.." pinta Rei yang gabut karena tak dianggap, namun Ultragirl semakin jauh darinya meratakan daerah yang belum terjamah.
Di bandara.
"Mmm, gue pikir nih tempat gak bakal kesaing," komen Marcel melihat sosok raksasa sibuk mencakar-cakar beton. "Hhh... hhh.."
Marcel menatap kembali pada Jali yang tergolek di depannya, nafasnya naik turun.
Jali terbaring diam bukan habis jatuh, dia bertarung sendirian melawan si petapa atas tugas yang diembannya.
Lokasi terlihat sudah tidak utuh, jalan landasan banyak jejak goresan laser besar, kawah-kawah kecil di sana-sini, batuan di mana-mana, tak layak pakai lagi terutama hanggar dan isinya. Kapal-kapal yang tadinya berjajar sepanjang lahan parkir terpotong, remuk, mengepulkan asap dari yang kecil hingga bumbungan besar kebakaran, pecah-pecah lebih dari 15 unit jadi bangkai dan rongsokan bandar udara.
"..?!"
Marcel berkerut kening melihat tubuh Jali digelangi laser merah. Lebih dari tiga menit ini sang vantablack belum bergerak lagi. Tidak ada luka ataupun sayatan pada tubuhnya, entah mungkin memang pingsan. Hanya Marcel yang tahu, yang tampaknya masih pantang mundur saat PDL-nya sudah sobek jejak terbakar, kain lutut dan perutnya bolong, rambutnya awut-awutan banyak ditempeli serbuk tanah.
Wuutts!
Epsi membawa Jali keluar bandara. Barulah Marcel melemaskan tubuhnya, sudah aman. Tugasnya diambil alih oleh Luna.
"Hhh.."
WRRRGGH!!
"Sampe kapan tuh pancuran nyetok?"
"Tau deh, Kak. Gitu terus dari tadi," jawab Nina yang duduk menunggu di kap mobil, agak jauh dari 'pabrik' drone.
"Error gitu?" tanya Jihan lagi.
"Hhhh.." hela Nina. "Tanya sama mas Bro aja, Kak. Gue juga bingung."
Craang!
Jihan dan Nina mendongak. Mereka melihat Marcel yang baru saja menutup visual pedangnya, terlihat di punggung si petapa senapannya muncul.
Swwrrtt!
Jihan dan Nina tetap bingung dengan seragam Marcel yang bolong. Marcel tak peduli, matanya masih mengarah pada 'pabrik' drone.
"Lo gak apa-apa, Beb?"
"Gue ga papa. Tapi apaan nih?" tanya Marcel. "Evakuator?"
"Iya. Macet, Kak," jawab Nina.
"Macet banget ya?"
WRRGGH!
Rei sudah kembali ke ukuran normal, membiarkan dua tapak besar di lapangan, tapak sepatunya. Dia mengamati Ultragirl yang sudah jauh dan masih meratakan kota. Di sana objek sedang ditembaki angkatan udara dan angkatan darat yang berperisai gelembung. Rei kemudian melirik ke sampingnya, di mana Luna hadir.
"Bagaimana Knon dan Pnin?"
Al Hood menatap Rei sambil mengacung jempol.
"Syukurlah. Kondusif. Setelah bagianmu ini kau mungkin harus istirahat, Anak Langit. Atau, mencoba menu baru yang pernah kau minta. Hhh.. terserahmu."
Set!
Tanpa menimpali, Luna pandang objek Rei dan segera berpindah alias teleportasi.
Hari hampir gelap, seorang angkatan yang menuntun wanita bertanya-tanya. Banyak orang turun di sekitarnya dengan punggung terpasang drone, pemancar shield yang mengikatkan diri. Tiap orang memilikinya, begitu juga dia dan si wanita yang ditolong, berjalan diikuti dua unit 'layangan' bola. Prajurit terlihat senang kini saat dua robot tersebut tetap mengikutinya, menyinari jalan sebagaimana drone lain.
Di mana si raksasa hitam?
Semua tembakan laser berhenti ketika Ultragirl susut dan terpisah jadi tiga badan ireng. Luna ternyata teleport ke TKP tepat di muka Ultragirl dan langsung meninju mata ketiga di dahi si raksasa. Soloter yang mengendarai tiga siluet itu terpental melubangi belakan kepala, seketika tubuh Ultragirl mendebu. Kepulan awan tersebut mengejar empunya yang masih melayang, tersedot otomatis oleh soloter. Pelaku kabur di kejauhan sana lewat portal bulat.
Bugh! Bugh! Bugh..!
Luna membanting-banting sekarung batre pada papan persegi berukuran sedang. Di bawah situ, empat siluet, termasuk si tonfu dan manusia genset, digebuk bersamaan. Luna melakukannya di lokasi bangunan yang terakhir dihancurkan.
Krakh!
Papan pelindung patah dan pecah persis keramik. Luna berhenti dari kegiatannya, mereka yang mengerang-ngerang tetap menangis minta ampunan.
Saat itu semua prajurit yang sedang menonton serentak membidikan senapannya lagi karena empat ireng bangun. Luna mengangkat tangan kiri, berisyarat agar mereka tak menembak.
Salah satu siluet menunduk sambil simpuh nekuk satu lutut di depan Luna, diikuti yang lainnya. Dia bicara bahwa dirinya dan geng hanya mencari makan. Luna segera menyerahkan karung batre tersebut, dan berisyarat agar mereka melihat isinya.
Setelah masing-masing melihat isi karung itu, mereka menunduk-nunduk berterimakasih pada Luna atas pemberian itu dan berjanji hanya akan makan daging satwa di You Forest.
Di hutan atau mungkin daerah Bogor, Ghost memeluk Pnin. Kemudian diikuti Jihan, Nina dan Marcel. Mas Bro telah selesai menemani Luna sampai akhir pengabdiannya tersebut valid digantikan Ghost.
"Ini janjiku menyerahkan wilayah pada kalian. Maka tanah kami itu sudah sepenuhnya milik kalian. Sudah waktunya kalian kuat di luar sana."
"Gue baru tau kalo Luna notaris berwenang. Kok bisa ya?"
"Ranah Eksternal miliknya, Han. Dia ingin di sini demi ketenangan, rasa lain dari bisingnya masalah sengketa. Sampai ada bisikan buat nyari lahan baru di sini. Padahal, Bumi hanyalah titik debu dalam Ekternal."
"Yang bener nih? Eksternal seluas itu?" tanya Jihan menunjuk ke sisi atas, ke awang-awang alias langit.
Marcel anggukan. "Mmm. Alam semesta."
"Hee, jangan berisik," pinta Nina, mengamati 'kompas'-nya.
Pnin menekuk satu lutut di depan Luna. Dalam bentuk human ini, dia menaruh tangan kanan Luna di kepalanya. Dan itu berulang kali, sebab Luna belum menginginkan. Walau tak bisa menangis, hal ini sudah mengisyaratkan air mata Al Hood.
Rei sendiri sudah terurai tetes matanya. Dia belum bicara sejak berada di sini. Rei tampaknya paling mewakili emosi Luna.
"Yang Mulia ingatlah di mana pendahuluku mengatakan tentang Ghost, dirimu sendiri. Sudah waktunya Yang Mulia, bahkan kau lebih mengetahui aku daripada diriku sendiri. Bawa aku ke alam ras-ku berada."
Pnin menaruh kembali tangan Luna di ubun-ubunnya. Lagi-lagi Luna menjauhkan FinalCutter dari Pnin.
Pnin tetap mengulang aksinya di kali ke 200 ini.
201, 202, 203...
Skip
😞 entah, mas Bro emang takkan muncul lagi jika will atau kehendaknya itu dieksekusi oleh Luna. Sudah lama sekali masalah satu ini ditunda, gara-gara tanah dan maut Al Hood yang tak kunjung datang.
-
__ADS_1
-