
Jihan menyimak Nina dengan seksama, dia biarkan nasinya, mendengarkan uraian serius dari sang gamer. Ketiganya sudah duduk dengan hidangan telah tersedia di antara mereka selayak acara keluarga.
"Nyam.. nyem.. gue nyimak, aja deh," kata Marcel, lalu mengambil goreng udang yang Nisa taruh. "Mantap, Nis. Nasgor kering plus seafood karatan."
"Makasih," ucap Nisa, kembali pergi meninggalkan taman loteng sambil membawa nampan.
"Nah. Kasus lo waktu di rumah Pnin tuh bukan gak direspon, Judes. Skripnya emang begitu. Jadi wajar kru syuting nyuekin. Biar seremnya dapet, sambil have fun."
"Hii.. pada pilih kasih. Padahal gue tokoh utama."
"Ya elo jangan sering-sering motong, Kak. Kalo cuma mengganggu plot sama fokus, lo jadi tokoh periklanan kayak pop-up di situs berita."
"Gue lagi nyoba-nyoba, bukan lagi sering-sering, Bonin," kata Jihan lagi, membela diri.
"Dah kali. Giliran gue nanya sekarang. Buat apaan sih nih skill pake dikebut?"
"Buat bangunin orang," kata Jihan. "Logikanya khan dalam syuting dia nih tidur panjang, terus anti-air alias masih ngebo, kalo bablas sampe beduk lebaran gimana?"
"Siapa sih?"
"Korban penculikan."
"Siapa yang nyulik, Kak?"
"Soloter. Dia kejebak.. di basetime, nyandera anak Snail."
__ADS_1
"Dah lah makan dulu Kak. Tegang lagi nih Internal kayaknya."
"Lo mau ikut gak? Ada tiga list, tugas-tugas berat buatnya," kata Jihan sambil gerak dagu pada Marcel. "Cuma beberapa orang yang tau masalah ini, hai Adek Tuan panitia Bukber."
Nguueng!
Seunit mini bus hitam melaju di jalan khusus, meninggalkan sebuah pintu rahasia.
Siang ini Trio Cetar kembali bersama dalam satu misi. Mereka saling diam persis sedang berkabung atau tampak on the way melayat.
Nisa asyik menyetir tanpa mempedulikan kebisuan yang tengah berlangsung.
"Aku ingin menjadi mimpi indah dalam hidupmu.." lantun Nisa, hanya sepotong tapi langsung diteruskan. "Aku ingin kau tahu.. bahwa kuselalu memujamu.."
Jihan menghela nafas, mencoba beralih pikiran, kalimat Nisa mendadak jadi pikirannya.
Di perjalanan, Jihan hanya bersandar melamun.
"Bagus gak Kak Jihan, suara aku?"
"He fokus."
"Iih.. kenapa sih, galak terus Kak Jihan tuh?"
Jihan diam tak menimpali. Dua tangannya masih terlipat, bahunya menempel di pintu mobil dengan wajah jutek. Sikap private-nya ini berhasil membuat Nisa menyanyi lagi.
__ADS_1
"Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang.. memanggil rinduku.. padamu.."
Jihan biarkan suara Nisa apa adanya, hal yang mewakili hatinya tersebut mendadak sulit untuk didebat lagi. Nisa tak hanya bisa masak, dia berbakat pula memanjakan kuping orang.
". . seperti udara yang kuhela kau selalu.. ada.. Syaa.. lalala.. la-laa..
Jihan mungkin sedang tak tahu pas atau tidaknya lagu yang dilantunkan Nisa, wajahnya tak berubah. Dia masih tampak gabut sekaligus meresapinya. Jihan melepas nafasnya.
"Hhh.." dingin Jihan. "Lagi dong, bagus kok suara lo Nis."
"Makasih Kak Jihan. Bagusan penyanyi aslinya loh Kak."
"Hhh.."
Jihan tak menanggapi selain jutak-jutek duduk, tak mau bicara lagi. Di belakangnya, tanya jawab sesekali terdengar lagi. Jihan bertambah gabut dengan diskusi yang ada.
"Mau lagu apa, Kak. Ntar aku puter, buka youtube," tawar Nisa, mencoba menghibur si judes.
"Gak..!"
"Biar gak jenuh Kak."
Jihan teruskan lamunannya di situ, menatap ke depan melihat jalanan yang masih lengang di jarak tiga puluh menit ini, raut mukanya seperti napi yang pasrah dipindahkan ke tempat eksekusi. Jihan silent mode.
-
__ADS_1
-
-