
Astraler memang agak sulit untuk menyesuaikan diri dengan alam mimpi, dengan Internal yang notabene dihuni oleh para lusid. Petapa hanya pengembara asing di alam abstraksi. Peralatan yang mendukung keberadaan dan aktivitas golongan ini masih sedikit, belum begitu komplit.
Marcel pernah terkondisi mandi darah dan banyak ditempeli serpihan daging musuhnya dengan kelelahan luar biasa, sudah pernah berusaha keras. Hari ini bukan hari ketakutannya, dia sedang berhati-hati atas apa yang dihadapinya. Yang belum terdengar adalah, apa dia pernah mati.
Belum ada kabar. Sekalipun Marcel dapat respawn, ressurec, atau semacam bangkit dari kematian, dia masih meragukan jati dirinya alam mimpi ini. Mengapa ada materi yang dapat melukai eksistansi arwahnya tersebut? Mungkin mautnya itu yang sedang ditelaah Marcel, dia kena pancaran sinar "galic", didekat cahaya kryptonite-nya saja sudah melelehkan mata, bagaimana jika nanti kontak dengan tubuh xmatter-nya yang rawan itu.
"Hhh," hembus Marcel. "Trims. Ya. Sialan, perih banget sumpah."
Usai menyeka mata dengan kain bajunya, Marcel bersihkan wajahnya dengan tangan.
Kita imbang dengan para musuh, Non. Hadeeh. Kecuali.. itu..
"Kecuali apa, Ray?"
Wani piro.
"Huh, bullshit. Gak ahh.. Wallahu alam."
Khan, bawel.
"Ntar ajalah. Takutnya gue labil nginang bodi gak dikenal."
Bukan keles, nih soal prediksiku
"Males. Bukan gak mau, bikin otak cepet kusut, Ray. Hhh, hhh.. hhh.. Lo mending ke Las Vegas sana."
Ya elah, itu maen poker mas rollet.
Pnin menjejek dada seunit robot. Bunyi ringsek terdengar keras, namun orang-orang yang berlari di sampingnya tidak peduli. Pnin kemudian mengerakkan tangannya pada belasan remaja yang sedang sembunyi dekat lubang selokan. Mereka segera melompati bangkai transformer di dalam gang.
Ghost menggiring warga dekat tangga masuk stasiun bawah tanah. Proses evakuasi tersebut diawasi bocah yang sama namun bertudung.
Luna melayang sambil melirik kanan-kiri di sepanjang jalan yang ditapaki para penghuni gedung trader. Dia menurunkan semua orang dekat stasiun bawah tanah, tapi tidak langsung karena banyak yang fobia terbang. Luna mungkin sedang mencari penyakitnya.
Bregh! Bregh!
Jihan berlari di kawasan Monas, dia orang terakhir yang meninggalkan lokasi, berada paling belakang dari segerombolan orang yang sudah lari agak jauh di depannya. Dia juga terus mengawasi tentara besi yang sedang mendarat di sekeliling tugu. Jihan melesat ke depan.
"Pat! Pat..! Mereka banyak banget!"
Jihan menggiring mereka lagi di pintu gerbang. Orang yang disuruhnya memang tertinggal dari yang lainnya karena sedang ruku terengah-engah. Beruntung dia melihat ke belakang lagi kemudian lanjut bergerak. Jihan pun sendirian lagi.
"Napa Monas dah kayak istana gini ya? Yang penting pagar kokoh.."
BRUUAGHH!!
Usai berkomentar, Jihan robohkan gapura yang persis peti kemas tersebut. Seperti yang dikatakannya, ada banyak "kontener" lainnya yang dijajarkan dua tumpuk sebagai pagar Monas. Entah apa sejarahnya dibentengi seperti demikian, apa benar bangsa monggol menyerang kawasan? Hanya di Indonesia abad 41.
"Hhh.. Oke. Sekarang produk dalam negeri tetep ada-ada aja masalahnya. Jadi gampang diretas begini."
Wuutts!
Jihan melesat menjejakkan bayangan baju ABRI-nya.
Bletakkh! Bletakkh..!
Gomprang!! Gubrakh!
Dua unit transformer berhasil tersungkur ringsek di bagian kaki dan perut robot. Kedua robot tersebut sedang joging menuju gerbang yang sudah roboh, tapi mereka berisik larinya sehingga langsung dirusak Jihan yang menolak peretasan.
"Sori. Kalian lebih baik bareng Optimus, jangan berisik."
Wuutts!
Bletakkh! bletakkh..!
Jihan melesat kembali untuk menendang pejoging berikutnya. Mereka menyambut kelebatnya dengan tembakan laser tapi kalah cepat, Jihan mem-finalti keduanya tanpa ampun. Tak ada pegal, sakit atau kram, Jihan yang memang lusid, bagai menendang bola.
Gubrakh!
Gubrakh!
Korban tiga dan empat jatuh dengan ringsek yang sama, mekanik tersebut bergerak-gerak untuk berdiri lagi. Tapi mereka bagai mainan, gaya sekaratnya bikin orang tertawa, sudah rusak masih saja bergerakan.
Dziiew! Dziiieew!
Jihan ditembaki selesai melumpuhkan pejoging. Dia melesat dengan mudahnya demi menghemat xmatter. Jihan pun mengulang aksi sesampainya di depan para penembak. Bletakkh! Bletakkh!
Gumprang! Gontrakh!
Jihan menyapu-nyapu sekitarnya dengan bodi transformer yang dia putar-putar.
Glutakh! Glutakh! Glutakh..!
__ADS_1
Ada puluhan robot mengerubungi Jihan. Percikan antar logam tergesek di situ, mengiring suara dan bunyi yang beradu.
Crakh! Crikh! Crakh! Crikh..!
Tang-tang! Tong! Ting! Tang-teng!
Jihan lemparkan badan yang diputar-putar itu.
Wruugh!
Klontang!
Lemparan tersebut menabrak robot yang baru mendarat.
Gubrakh!
Dziing! Dziiieew!
Dua tembakan mengenai kepala Jihan. Selapis perisai tampak di permukaan wajahnya kemudian hilang kembali jadi invisible. Jihan mencari-cari penembaknya, tapi saat melihat objek, dia ditembak lagi dengan laser untuk alien. Serangan ternyata dari seunit robot yang beda warna dan agak ramping. Jihan melindungi wajahnya dengan dua hasta.
Dziiieew! Dziiieew!
Dziing!
Jihan terdorong mundur, laser yang menumbuknya makin lama makin keras menghantam. Dia jatuh tersandung tangan transformer saat kesulitan melihat. Jihan hanya mengaduh karena kaget, bukan sakit.
"Akh! Anjrit!"
Robot lainnya yang belum Jihan hancurkan, ramai-ramai menembaki bangunan dan gedung-gedung di sekitar Monas. Mereka rame-rame naik dan meloncat untuk mendarat di pagar.
Transformers dalam negeri tidak begitu besar. Semua robot berukuran Ade Rai, dalam bentuk manusia dan semua part-part di dalam tidak ada yang organik. Ikon burung Garuda bersama mereka, tidak ada yang berlogo autobot atau deception, mereka ABRI masa depan mungkin.
Draakh! Takkh.. takh..!
Sebuah gedung retak penyangganya. Penghuninya yang bejubel berjatuhan bersama pecahan jendela. Jerit-jerit panik di bawah gedung makin banyak. Bangunan miring dan makin miring lagi.
"Hah? Aa.. aaa!"
Gucraat!
Sebongkah patahan mendarat menimpa mobil pemadam.
BRUUGH!
Gedung balok yang miring akhirnya roboh bagai orang pingsan. Jatuhnya menimpa stasiun Gambir. Jalur-jalur rel atau fly over lebar mendatar yang berada di situ turut hancur bersama bangunan stasiun.
Luna mungkin belum mengerti jaringan satelit karya anak bangsa, tapi melalui slow motionnya tersebut dia tampak tahu dan menunggu gerakan di balik api Tugu.
"Muka Haram..! Hhh, hhh.."
Sosok lain dari manusia genset menyembunyikan nomer punggungnya di balik logam Monas. Dia barusan mengintip dan nomer 61 ini langsung berkeringat, di kejauhan sana gedung-gedung lain tampak membungbungkan asap. 61 yang bertugas di Monas ini ketakutan.
Set!
"Amm.. am.. pun.. ampun Ratu.. hiks.."
Luna si anak vampir memandang dingin buruan, mengambang di depan Genset 61, muncul di atas Monas saat semua diam tak bergerak.
Sruuakh!
Jerit-jerit kalap kembali menggema di udara. Orang-orang seperti berenang dalam tali gantungan. Mereka masih panik karena mendadak ada di ketinggian. Sebagian kebingungan dengan cara turun, anak-istrinya, keluarganya ada di mana, bertanya-tanya atas gelang yang tengah mengikat mereka.
Di tempat lain, di atap sebuah gedung, sosok bernomor punggung 56 menyambar teropong yang disodorkan drone PRT.
"Kau lambat benar," kata Genset 56.
Drtth..! Drrth!
Entah drone bercelemek tersebut menyahut apa, peretasnya sudah mengintip tugu nasional di kejauhan ini. Dia punya rambut sejumlah angka di tubuhnya itu. Jika tak percaya hitunglah lampu dikepalanya yang sedang menyala.
"Bah! Muka Haram rupanya. Apa-apaan ini? Kau lapar juga Muka Haram?"
Luna mengunyah-ngunyah "batre" tanpa peduli kilat-kilat memercik di pipi. Dia segera menelan makanannya, kemudian sendawa hingga keluar jentik-jentik koslet dari uap tersebut.
Tik.. tikh.. tlekh.. pritikh..!
Luna pun menoleh ke sampingnya perlahan-lahan, dia peka jika sudah memakan jenis parasas satu ini.
"Muka Haram sialan!"
Swuutth!
Usai mengumpat objek yang diteropongnya, Nomor 56 melesat kabur.
__ADS_1
Drtth! Drrth..! Getar drone PRT yang ditinggalkan pergi. Entah bicara apa, dia hanya bisa melirik dan bergetaran.
Bruakh! Bruakh..!
Rei berpindah-pindah, si lajang masih di stadion, dan hobi menghindar hingga kursi yang di lewatinya hancur dihantam angin, bukan dipijak.
Takks!
Selesai menangkis dan menatap penyerangnya, Rei kembali melesat, bergerakan. Dia diamati tatapan siluet yang mendadak muncul dan memukul.
Set!
Dekat jendela komentator, Rei kembali melipat satu kakinya menahan sleeding plus tendang yang muncul mencegatnya.
Takkh!
Swuutth!
"Apa yang kau lakukan..?"
"Hentikan dia!!"
Si pendengar menoleh pada ketuanya. Barulah dia sadar bahwa Rei tidak sedang dikejar olehnya, tapi sedang di-wanted sang leader yang kesulitan konsen atas gerakan Rei.
"..?!!"
"Cih!"
Brugh!
Si anak buah mendadak terbenam menimpa lantai tribun, serpihan kursi pun terhambur. Demikianlah nasibnya bila perempuan ditatap.
"Aku takkan mengulang kata," ucap sang leader, kesal dan melampiaskan diri.
Hari telah masuk petang, cahaya orange mulai terlihat. Tapi kekacauan masih berlangsung di Jakarta 41.
Bukan kondisi yang kondusif karena tampaknya masih ada gedung yang "ditebang". Kepulan debu ada di situ tanda tidak terpantau-nya kota secara merata.
Aman di Monas, daerah lainnya kena. Seperti situasi di Jaksel ini. Angkatan darat yang semuanya pakai ransel terbang sibuk melawan produknya sendiri. Robot-robot yang ada tidak setakut orang-orang, santai memberondong objek dan penghalang dengan laser-laser di tangannya.
Tieew! Dziiieew!! Dziw!
Tretetiiew.. tieew!
Dhuar! Dhuaargh..!
Jaman Skynet menguasai Jaksel ini dipastikan telah memakan korban puluhan jiwa. Para transformer lebih ganas dalam bentuk mini tank ketimbang bentuk walking-fire nya.
Tretetiiew..! Tiew!
Dhuar!! Dhuar!
Brugh!
Mobil magnet terlempar dan mendarat. Jalanan berantakan dengan unit-unit pasif tersebut. Sejauh ini mobil hanya dapat bersirine, siapa yang harus diserang oleh sound yang tak jelas. Pasukan Genset pastinya tak tertarik menyerang mental di daerah yang sudah jadi medan tempur fisik.
Diiew! Dziing!
Gtraakh!
Tembok hancur terkena laser, untunglah prajurit falcon segera mendarat dan rela ditaburi runtuhan tersebut.
Mini tank alias kendaraan-kendaraan mungil ternyata lebih tertutup saat ditembaki bagian vital dan sendi-sendi pentingnya. Mereka unit anti gores jika sudah beroda.
Seorang yang tengkurap mendongak ke langit, mendapati jet yang tampaknya berawak. Baru saja membantu dan menembaki zona tugasnya, jet itu meledak ditabrak drone yang lebih cepat.
Jeguurh!
"Hhh.. No way home.." komen si prajurit, tetap telungkup menatap mayat sipil di dekatnya, yang tergencet mobil.
Dhuaargh! Dhuar..!!
Begitulah sahutan yang ada di lokasinya, banyak ledakan dan kelebat laser-laser. Entah kenapa si prajurit tampak putus asa melihat warga banyak yang terbunuh. Tampaknya misi dia gagal dan sedang disesali, dirinya terlambat menyelamatkan orang yang tergencet.
"Help.. me..!"
Terdengar suara di dalam kendaraan tersebut, si penumpang mobil.
"To sa..! To saa..!"
- tolong saya..! Tolong sayaa..!"
-
__ADS_1
-
-