Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
chapter up 025


__ADS_3

Lima orang lelaki turun dari dua unit mobil. Mereka bersenjata dengan setelan mirip pakaian Mercy, celana panjang hitam dan kemeja abu berdasi. Topi yang mereka kenakan menambah kesan bahwa mereka koboy kota. Hanya seorang di antaranya yang berjaket dan tidak mengenakan topi ataupun membawa senjata, dia ketua regu.


Mereka menemui seorang pengendara motor yang lebih dulu berhenti.


"Iparmu baj*ngan. Akan kubalas dengan dua peluru di dahinya."


Si lelaki berjaket disambut kata-kata lumrah, dirinya tetap santai. Tidak terbawa umpatan, dia memeriksa kabel tercecer. Kotak elektronik di situ di amatinya. Benda-benda yang ada di tepian jalan ini adalah perangkat GPS yang dibuang Mercy semalam.


"Dia takkan ke mana. Berkomplot dengan Naga Selatan. Akan kubawakan kepalanya padamu. Tapi tidak dengan artefak itu. Jangan berharap bisa mendahuluiku."


Crwak! Brrummgh!


Dia bicara lagi, lalu motor HD itu dinyalakan. Suara debum mesin menggelegar. Si pengumpat segera meluncur pergi meninggalkan kawanan tersebut. Dia lurus ke depan arah melanjutkan pencarian.


"Bac*d kampret."


"Fu*k."


Dreded!!


Mereka saling ledek satu sama lain di situ saat dilewati. Salah seorang menembak udara, laku ketawa menatap preman HD tersebut tanpa peduli kepalanya dikeplak.


Plakk!


"Irit, Nyet! Kedenger pokis keder lo."


Mereka masuk kembali ke dalam mobil setelah si ketua datang bicara. Mobil paling depan itu memarkir arah, kemudian setelah menghadap jalan, kendaraan melaju berlawanan arah dengan si pemotor. Dan ternyata mobil kedua turut berbelok mengikutinya.


Krii.. itt!!


Suara ban dari mobil kedua tak kalah kencang memburu. Mercy dicari kelompoknya sendiri. Dia juga tampaknya diinginkan salah satu orang terdekatnya, entah memburu artefak ataukah nyawa si gadis. Mereka tampaknya dibayangi hadiah yang lebih besar dengan waktu yang sedikit.


Satu kendaraan terparkir di depan rumah tidak berpagar. Letak bangunan dua lantai itu dekat segenang danau, jika penghuni rumah gabut danau tersebut pantas untuk diamat di atap rumah. Namun tempat asri nan hijau ini tampak sudah sepi.


Mobil sedan di situ kendaraan semalam yang GPS-nya dicopot. Mercy berada di villa miliknya mungkin. Daerah yang cukup terpencil, tapi ada yang datang. Pagar kamuflase dekat pohon, ditabrak. Dan itu jalan masuk kendaraan ke tempat ini.


Bruakh!


Brruukkh!


Dua buah sedan berhasil masuk lake area usai menembus hutan yang menyembunyikan lokasi. Kecepatannya tampak tak berkurang ala mobil-mobil NYPD, namun tidak ber-tarzan. Mereka adalah kawanan yang di jalan tadi, ipar Mercy.


Ckii.. itt! Ckiiit!!


Bregh!


Pria berjaket menutup pintu. Hanya dia yang keluar dan mungkin tak ingin terburu-buru. Dia sedang mengejar orang yang amat dikenalnya, orang yang tidak pernah ingin ada saksi.


Lelaki tersebut diam mengamati sosok yang bersandar di beranda rumah, lalu melepaskan kacamata. Dia bingung dengan perempuan bersetelan agen FBI, hanya gadis itu yang menunggu mereka. Sang ipar berjalan menghampiri karena si agen berasal dari gudang markas dan masih terjejak memar di wajahnya.


"Jadi siapa Anda di sini?"


"Gue, Reynita. Hhh, hhh.."


"Naga yang ngirim lo?"


"Hhh, hhh.. Hentikan seteru kalian di kota."


"Oh. Elo dari BIN (badan intelijen nasional)? Jadi lo mau nyerah juga kayak personel sama senior lo yang udah-udah?"


"Bukan. Gu-e.. hhh, hhh.. dari.."


"Baik. Kalo udah kirim info ke atasan kalian, giliran Macan ngirim pendatang ke neraka."


Pria itu mengambil pistolnya di bawah ketiak, senpi dari balik jaket hitamnya. Dia acungkan pada kepala di hadapannya.


Tanpa sepengetahuan, ada pengamat di tempat lain meneropong si ipar.


"Bangs*t. Apanya yang ngelindungi kaum cewek.."

__ADS_1


"Tem-bak.. gue.. Alan.. hhh, hhh.." kata Rey masih terengah-engah. "Sebe-lum.. leda-kan.."


"Dengan hormat, Petugas," jawab si lelaki tampan, membuka pemantik pistol.


Clikh..!


Wiiuuzhh!!


Sebuah kerucut besi melesat dari balik belukar.


Dhuaargh!!


Salah satu mobil di situ meledak dibasoka seseorang, membuat si pria teralih perhatiannya.


"Mercy!" panggil si pria mendapati iparnya lari menjauh.


Setelah memanggil, si lelaki kembali mengacungkan pistol pada kening Rey, menyelesaikan ucapannya.


Dor..


Blu..uugh.. Clakh..


Buncah dari moncong bedil tersembur keluar menampakkan sebutir timah mengkilap dalam gerakan pelan. Wajah yang dituju sang peluru diam mengamati lajunya. Terlihat dalam slow motion ini kembang-kempis dadanya berlangsung normal, menatap logam lancip yang menghampiri kepala. Tangan di situ dapat langsung ke sasarannya tanpa perlu tenang ataupun fokus.


Tapi begitu sampai di depan kening..


Krakh.. Butir logam kering hingga keropos mendebu.


Crratt!


Pintu rumah tersembur noda merah.


Brugh!!


Rey terantuk kepalanya hingga tubuh dia jatuh terkapar.


"Mercy!" teriak sang ipar, segera bergerak mengejarnya.


"Hhh.. Hhh.. Where.. human..?"


Grusakh! Ssrkh! Grusakh!


Lahan hutan yang sedikit lapang membuat gerak cukup lancar. Si lelaki berhasil menyusul Mercy yang masih berlari. Lingkungan yang terang tak menyulitkannya di medan dengan pohon-pohon Pinus.


Di tanah yang agak lega dan mungkin jalan untuk ke danau tadi, Mercy melirik si pengejar. Dia tetap lari dengan cepatnya. Namun pantauannya barusan tak membantu gerakan yang ada, justru si pria yang makin cepat hingga dapat menerjang


Brughh!


"Aaarh!"


Mercy berhasil ditangkap jatuh. Dia cekatan menekuk lututnya saat terbaring, menghantam dagu sang ipar. Erangan sakit terdengar dari si lelaki.


Mercy berguling menjauhi lawannya lalu berdiri selagi iparnya masih mengaduh. Dia datangi untuk menendang kepala, tapi Alan dapat langsung mengelak. Mercy buru-buru menendang susulan, barulah kemudian hantaman tersebut kena di perut Alan.


Begh!


Alan mengerang lagi. Dia cepat berdiri karena Mercy tak memberi jeda padanya. Tangan kanannya langsung menangkis pukulan yang datang. Lalu kaki turut menangkis serangan yang menyusul.


Takh! Takh..! Set!


Bughh!


Mercy terhantam perutnya karena serangannya yang terburu. Namun tak terasa dan tidak mengerang. Dia mengayunkan kakinya.


Bletakkh!


Brugh!


Alan terjungkal ke samping menerima tendangan putar untuk kepalanya. Dia jatuh karena terbawa dorongan tumit sepatu Mercy. Bibirnya yang sejak tadi berlumur darah, segera meludah saking kesal terus-menerus diserang.

__ADS_1


Mercy mendekat seketika mengerang kena sembur tanah yang Alan lemparkan padanya. Dia hilang fokus atas gangguan yang ada. Mercy pun meleset saat menendang.


Alan yang sudah berdiri leluasa melancarkan pukulan dan balasannya. Dia berhasil meninju mata Mercy. Alan kemudian lanjut melayangkan kepal tangan sambil memutar tubuh.


Begh!


"Aaarh!"


Beugh! Bugh! Beegh!


Begh!


Dengan sangat brutal Alan teruskan aksi kerasnya pada Mercy. Dia tak menghentikan pukulan dan tendangan karena Mercy masih berdiri. Sekali dua kali serangan kakinya dapat dihindar, tapi tangannya sangat cepat menyerang.


Bugh! Bugh!


Takh!


Mercy kali ini dapat menangkis tangan Alan. Juga merundukkan badannya. Penglihatannya atau kedua bola matanya dibiarkan merah. Mercy sudah bisa fokus lagi, ini tampak disengaja agar Alan tak putus asa, atau mencabut senjata di bawah ketiaknya itu.


Set! Set!


Lagi-lagi pukulan Alan tak mengenai, Mercy lebih cepat mengelak saat diserang bagian kepalanya. Selasai memukul, Alan mencoba cepat menendang pinggang lawan.


Takh! Takh!


Saat itu tendangan Alan disambut tangkisan Mercy yang sigap menahan kaki dan pukulan Alan yang lagi-lagi mengincar matanya.


Bughh!


Serta merta Mercy sudah langsung menendang perut Alan. Tangannya yang saat itu beres menangkis, sudah memegang pistol. Namun belum ditunjukkannya, berpose usai menjatuhkan tubuh Alan.


"Bangs*t! Mati lo sekarang.."


Alan mengumpat sambil merogoh saku hand gun, lalu meraba-raba. Dia pun sadar, benda yang diambilnya sudah tak ada. Alan terdiam dalam baringnya.


Clikh..!


Mercy arahkan pistol iparnya ke si pemilik yang juga terengah-engah. Alan mengangkat tangan dalam posisi rawan maut ini.


"Kakak lo di Ibukota, Mer.. Hhh, hhh.. masih ada.."


"Hhh, hhh.." Mercy mendekat dengan todongan yang bergetar geram. "Ggrhh!"


"Please.. Irma masih idup."


DOR!!


"Fuuh!"


Mercy membuka amunisi, dia periksa isinya. Dia hitung jumlah peluru tersisa di telapaknya. Mercy lemas.


"Anj*ng.."


Grusakh! Grusakh!


Mercy lari menembus hutan, seperti diburu dan ditunggu timer bom. Dia mengejar waktu. Si gadis pun loncat dan lanjut berlari kembali.


Srakh! Srakh! Srakh!


Mercy melewati pagar kamuflase. Dia ternyata kembali ke villa. Mercy menghentikan kerja "lembur" organ jantungnya yang terus berdenyutan. Dia ruku agak jauh dari kepulan asap mobil, membiarkan Rey duduk di tepi beranda menyandari tiang kayu.


"Hhh..! Hhh! Hhh..!" sesak terus saja hinggap di dada Mercy. "****..!! Hhh! Hhh, hhh.. Ngapain gue.. hhhh. balik.. Mah-luk apa sih lo? Hhh.. hhh.."


Rey biarkan Mercy terengah nafas di depannya. Jari-jarinya terus bergerak menghitung butir-butir terselap dalam selingkar tali. Dia lebih hening dari orang yang putus asa. Rey juga tak menyahut saat Mercy meneriakinya.


"Woy! Hhh.. hhh..!!"


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2