Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
chapter up 036


__ADS_3

Ketika tangan Mercy dipegang oleh Hunter, ada bata dilemparkan. Mercy menangkapnya.


Taph!


"Matatih."


Selesai bicara, Mercy daratkan bata tersebut pada kepala Hunter, tapi berhasil dicekal.


Teph!


Kraksh! Bata yang dicekal segera dihancurkan.


Mercy dongakkan badannya begitu ada pukulan dari samping, Hunter pun gagal dan hanya mengayunkan tinjunya saja. Mercy hampir jatuh di pose rawan namun segera menendang.


Takh!


Hunter alias Skynet menangkis kaki Mercy. Saat begitu, penyerangnya langsung dapat berdiri dengan tendangan tersebut.


Mercy merunduk demi kelebat kaki Hunter yang menarget telinganya. Dia mengulang kembali aksinya untuk tendangan susulan dari lawan, ada kombo kaki.


Saat tendangan ketiga dilayangkan, Mercy menangkis dengan hastanya.


Set!


Takgh!


Begh!


Mercy segera gepak dada Hunter dengan telapak kidal. Hunter langsung mental menabrak dinding gedung di jarak 10 meter sana.


Bruagh! Plurukh..!!


Serpihan tembok menaburi tubuh Hunter. Dia berhasil dijatuhkan kembali oleh buruan.


Saat rebah, Hunter mendapati Mercy diam di pose attack alias sedang kuda-kuda. Dia abai dan biarkan dadanya terbekas asap, jejak tersebut belum diketahui hasil tenaga dalam ataukah tapak silat syahbandar. Yang pasti tangan kiri Mercy tengah menyala akibat video efek terkait. Hunter dibuatnya terdiam lagi.


"..??!"


- apa ini, tangan besikah??!


Mercy bergerak mengganti pose, menaruh kaki kirinya ke belakang hingga jadi kuda-kuda kanan. IP Man mode mungkin, tangannya satu dikepal satunya lagi dibuka alias rapat jari. Mercy biarkan Hunter bangkit, objeknya tersebut lalu berjalan menghampiri dengan dua tangan sudah mengepal.


"Padahal gue dah ambil skill ngomong. Kok diem aja sih dia. Apa nih hawanya psikopat..? Hand Fire gue gak mempan gini njir."


Dengan tenangnya Hunter melangkahi puingan pagar. Wajahnya tetap dingin sebagaimana bawaan sikopet Jihan saat nge-force. Sejak awal bertemu di Cikampek dia belum berkata-kata. Jika dia manusia mungkin sedang bersama dendam yang dalam.


Selesai berjalan, Om Skynet berjaket hitam mengkilat berdiam diri di depan Mercy. Raut mesin terbungkus oleh kulit wajah, tampang killer-nya tampak masih jelas.


Mercy tunggu-tunggu, Skynet tak juga menyerang atau menendang. Hunter benar-benar tak bergerak bagaikan patung toko jaket. Mercy menegakkan badan, melepas siaganya, tapi Hunter masih diam membisu.


"So cool.." komen Mercy.


Set..


Seketika tangan Mercy lurus ke depan membidik pertengahan wajah Hunter dalam slow motion. Tangan putih nan mulus tersebut tampak berwarna senja dalam gerak lambat hingga makin menyala seperti bara. Hand Fire.


Tang!


Kepala Hunter terdongak 1 senti alias tidak efek. Damage tinju yang ada persis aksi degul kepala, tapi sekaligus membuat bunyi pekak. Hunter kembali menatap Mercy.

__ADS_1


Tang! Tang..!!


Teng-tang..!! Tang!


Traang.. tang-teng! Thang!


Mata Mercy sedikit membulat melihat hasil aksinya tak juga berdampak sekalipun dikombo dan diulang lebih keras. Hunter masih tak bergeming di posisinya, tak bereaksi terhadap kecepatan tangan Mercy.


Mercy menaikkan lutut mencoba menjejek bekas tapak Hand Fire-nya, namun begitu dilakukan, Hunter mencengkram kaki yang mengincar dadanya.


Mercy manfaatkan cengkraman yang ada sebagai pijakan kaki, segera menendang dengan kaki satunya. Tapi tanpa diketahui..


Syuuutt!


"Whua.. aa!"


Mercy diputarkan dua kali hingga berujung lemparan Hunter ke pagar gedung.


Bruuaghh!!


Kini Mercy kena giliran menabrak dan rebah.


"Ughh. Anjim..! Kaget anjrit sampe encok gini badan gue.. Ighh! Sshh.. Cakit, Om. Adu..uhh.."


Mercy meringis, tapi tak lama. Dia melihat Hunter berjalan menuju padanya. Mercy segera berdiri sambil terus memegangi punggung, tak dibiarkan lawannya bermanja ria. Mercy pun sigap menyampingkan badan karena Hunter langsung menyerangnya dengan kaki.


Set! Set!


Takh!


Mercy menangkis, tampak aksi tersebut lebih kuat dari serangan kombo-nya yang tak berefek. Dia membungkuk untuk mengelak ayunan kaki lawan. Mercy biarkan celah yang ada untuk balas menyerang, dan menangkis ayunan tinju Hunter.


Set! Shu.. uuff!


Shaf! Shuff!


Shaf! Shuff..!!


Blegh..!


Selesai back jump, Mercy balik fokus pada Hunter di titik darat kakinya.


Swuutth! Set!


Lawan ternyata berkelebat ke depannya, Mercy cepat mundur untuk mengelak serangan lutut, wajahnya lalu terjengah sebab Hunter menyerang "si manis".


Takh! Takh!


Hunter manfaatkan kelengahan Mercy dengan dua hit, pukul kanan pukul kiri, tapi dapat langsung ditahan dua tangan.


Mercy langsung pegang pergelangan tangan Hunter. Saat mencekal begitu tampak cincin jadi-jadian di jarinya menyala.


Mercy lemparkan sang Hunter ke bangkai mobil terdekat.


Whuung.. Bruaakh! Bruugh!


Mobil tersebut turut terpental saat dihantam tubuh Hunter, menumbuk mobil lainnya yang terletak di belakang "antrian".


Kulit dada sang robot, tampak sudah mulus. Hanya kaosnya yang terbekas Hand Fire atau bolong tapak lima.

__ADS_1


Wuutts!


Mercy melesat. Sesampainya di depan bangkai mobil, dia remas kerah Hunter. Keningnya segera beraksi, langsung menanduk kepala Hunter. Mercy finalti tanpa pikir panjang, hingga..


JEDUGH!


Hunter terdongak. Tat kala kulit keningnya sobek, tubuh sang robot lemas usai terpecik koslet di bagian rusuk.


Mercy jauhkan sedikit jarak Hunter dengan dirinya dan tangan kanan yang rapat-jari langsung mendarat di tulang jantung Huntet.


Dzigh!


Drrrghh!!


Drrtth..! Drrtth!


Tubuh Hunter mengelepar dalam cengkraman tangan Mercy, asam urat seperti disengat arus dalam, tampak "baterai"nya rusak dan kosleting.


Mercy jadi mengerikan saat sudah main "boneka". Si gadis tak kalah serius seperti wajah dingin "kawan"-nya tersebut. Brutal, cepat, dan mematikan. Entah tengkorak kepalanya dari tulang atau logam, mungkin pastinya dia punya kening sepertiga malam, alias tahajud action.


Bruu..ugh!


Hunter ambruk saat Mercy lepaskan, tak bergerak lagi di situ. Si pendek terkapar membisu karena berhasil Mercy "padamkan".


Sebintik sinar mengambang keluar dari kalengnya, mengedip-ngedip persis lampu sent, mungkin diam karena mau parkir penuh.


"Hhh.. pending. Gak apa deh, yang penting bisa langsung pake di sini."


Mercy lemas. Dia berhasil mendapatkan 'reward'. Tapi "pustaka" tersebut belum ditanggapi Server. Bila status approve, mungkin tandanya berupa: PAJAK UNDIAN DITANGGUNG PEMENANG.


Mercy mengetik, menyentuh-nyentuh ujung jari, mengakses alat bawaan, airdropnya, tak mungkin mengontak Sentral karena Server tengah darurat, masih rawan.


Set!


Bintik reward melesat masuk plug yang terselip di kuping kanan Mercy.


Mercy menggerakkan cincinnya, artefak pun muncul tergenggam di tangan putih itu. Saat dilihat jarumnya, Mercy melirik ke arah jam tiga di mana ada gedung lebar tujuh lantai, rumah sakit. Mercy tampaknya hirau, kenapa bangunan tersebut masih utuh.


"Ada orangnya gitu?"


Tzang!


Bangkai mobil bersuara


"Anjos! Fire Fire again."


Mercy kaget dan dia langsung sembunyi, merapat dengan bangkai kendaraan di situ.


Tzing-tzang..! Tzing!


"Duh, pada gak disun*t apa sih? Tau aja ada mafia Macan di sini."


Wuutth!


Mercy naik gaya roket, terbang meninggalkan TKP. Dia bukan takut, sudah lepas dari kelompok Macan. Namun Mercy tetap dimusuhi, ke manapun dia pergi sepertinya akan terus ditembaki.


- parah anak Fire Fire 😁 nih


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2