Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
chapter up 004


__ADS_3

"Feromon berhenti di sini, kita tungguin Gizi ngontek. Kali aja lagi sibuk sama Ratu, atau ketemu Jhid," alih Jihan, melihat Marcel malu-malu begitu, jadi tak tega untuk terus mendalaminya.


"Ya udah. Balik ke masalah kita," kata Nina, menyambut sambil melirik Marcel.


"Hhmm. Oke," tanggap Marcel. "Gue itung udah lewat tiga menit. Nih bukan sipil yang gue tembak tadi. Coba Han, sini batunya."


"Bentar lagi."


Plukh! Plukh..!


Baru saja dibahas, patung siluman Bison jatuh dalam bentuk bola.


"Ehh. Udah nih."


Pemampatan telah selesai ditandai jatuhnya dua benda ajaib. Satu bola berwarna ungu, satunya lagi alat yang tetap menyerupai senter mini alias gummer.


Feromon yang Jihan ikuti berakhir di tempat bertanda gelang. Mereka juga menemukan patung manusia Banteng.


Marcel sinari batu di tangannya dengan gummer.


Dengan memindainya, data-data batu ametis tersebut dapat dikenali oleh Pusat atau Server. Berhubung nomand Lectrin di abad "jauh", pembacaan makan waktu sedikit lama. Semenit kemudian selesai.


"Ametis nih. Tinggal lima biji lagi. Dibekuin enam taon yang lalu."


"Enam taon?" tanya Nina. "Apa artinya nih, Sel?"


"Rei udah turun duluan. Kemungkinan, dia yang bekuin nih parasas."


"Bukannya Gizi yang bius?" Jihan duduk di samping Marcel, lalu menatap mata si pacar.


"Bukan. Soalnya Ray belum ke mana. Kalo iya dibius sama Gizi, jari gue item," jawab Marcel sambil menunjukkan tangannya.


"Sini liat," Jihan pegang jemari Marcel, didapati kulit jempol dan telunjuk Marcel polos tak ada tinta pemilu, sementara jempol miliknya "tersegel".


Marcel biarkan Jihan memeriksa telapaknya, si teman membolak-balikkan dan mengamat garis tanganya. Marcel berikan alat pemindai pada Nina.


"Baca sendiri deh. Sepuluh lux nih lightnov-nya Rei, Nin."


Nina mengamati layar gummer setelah menerimanya dari Marcel.


Gliit!


Layar tranparan memancar dari badan senter. Di situ terlihat wajah gadis 24 tahun dengan mahkota mini di kepalanya, foto Reinita disertai teks HUNTER. Gliit!


Nina memadamkan layar. Tak sengaja dia menoleh ke sebelahnya. Tampak Marcel dan Jihan sibuk mengobrol soal garis tangan. Nina merogoh saku celana.


"Ramalan ya?"


Nina terdengar seperti punya ide. Ternyata dia mengambil buku kecil di sakunya. Persis miliknya Jihan. Nina tempelkan ke punggung tangan kanannya, buku tersebut berubah jadi 'kompas'.


Grrtth..!


Nina beranjak bangun, menempatkan 'kompas' ke pertengahan lingkaran-batu. Dia taruh dan mengamati semua jarum yang ada. Nina memanggil dua kisser yang sedang bercumbu, karena benda tersebut bereaksi.


"Napa Nin?" Jihan, terengah-engah. "Hhh.. hhh.."


"Hei, apaan?" Marcel, ngos-ngosan. "Hhh, hhh, hhh.."


"Bergerak nih jarumnya," jawab Nina, mengabaikan bibir dua temannya merah dan pink dan sudah segar-segar.


"Napa.. hhh, hhh.. lo gak bilang, Bonin?"


"Gue khan kambing congek di sini. Iseng-iseng. Eh beneran jarumnya gerak."


Jihan buru-buru merogoh saku piyama. Dia ambil lalu memberikan 'kompas' yang sama pada Nina. Jihan jongkok lagi memungut kompas yang-jarumnya-bergerak.


"Hhh, hhh.. Gue ke sini mau tanya soal diary ini, Bonin. Napa gak bilang.. hhh-hhh.. hhh.. dari tadi?"


"Lo juga, napa diem aja megang ginian?" protes Nina atas 'kompas' yang dia terima dari Jihan.


"Ya udah. Kita liat, ada gambar apaan di sini. Hhh-hhh.. Hhh.."


Jihan yang sedang terengah-engah, segera menjepit benda X tersebut dengan jempol dan telunjuknya. Tangan kirinya bertelekinetis. Jihan memposisikan diri, bersila deni konsentrasi atas apa yang sedang dikerahkannya.

__ADS_1


Rrrh..


"Lah, kok masih bisa gerak Kak?" bingung Nina. "Lo iseng khan?"


"Hhh, hhh.. hhh.. Ssst..!"


Rrrrrh!!


Putaran jarum makin cepat, dada Jihan tak lagi kembang-kempis memburu. Dia sudah terfokus mata dan sedang diam menahan nafas.


Gliitt!


Sosok kepala bertanduk dan berkaki mirip paha Raptor menggerakkan tangan. Hologram tersebut memutarkan jari ke keningnya, tangan satunya berisyarat memotong. Si mahluk merah juga menghentak tangan ke bawah, tangan kirinya digoyangkan. Pnin menggerakkan kedua tangannya lagi mirip perahu terombang-ambing, mungkin dulunya dia dirigen paduan suara.


Rotasi stabil, namun "pesan" kembali ke putaran pertama. Bayangan merah menunjuk kepalanya sambil menggerakkan jari, diputar-putar, tangan kirinya naik turun.


Marcel dan Nina saling pandang. Marcel segera menggeleng kepala saat Nina berisyarat pakai mata ke arah 'kompas', meminta jawaban. Marcel beranjak berdiri, memeriksa sekeliling mereka.


"Guys.. Dia nemu patung juga," beritahu Marcel atas kepekaan dan instingnya terhadap sekitar.


Gliitt..!


Set!


Jihan berhenti dari aktivitas. Maka otomatis hologram padam begitu saja saat pengendalinya menoleh. Dia mendapati Gizi sedang melayang sambil memikul patung manusia Rusa di punggungnya. Jihan bangkit berdiri mengamatinya.


"Ck! Nih cewek apa Ade Rai?" tanya Jihan sambil memasukan kompas Nina ke saku celana.


Swuutth!!


Jihan melesat ke arah Gizi yang masih pelan melayang di jarak 20 meter itu, ada pohon yang akan ditabrak Gizi. Jihan langsung membantunya.


"Maaf Tuanku. Hamba terlambat datang dan kiranya tak memungkinkan untuk menghubungimu dengan pikulan yang sesulit ini. Sebagian tempat kelihatannya, tak menginginkan kunjungan lagi."


"Gak apa-apa, kita turunin di sini aja, Giz. Kita padetin dulu," pinta Jihan sambil memegang ekor patung, menjinjing di udara. "Aku juga minta maaf, nyelonong ngulum dia (Marcel) tanpa kamu."


"Ahh.. demikian. Andai hamba.. hhh.. tak terlambat.. hhh.. hamba kembali dibuatnya.. mabuk kepayang. hhh.."


"Aku tuh, tadinya.. lagi nunggu kamu. Gak tau, tiba-tiba aku malah duduk, nyamper si Bebeb. Lupa kalo aku udah ngasih kode, tungguin Gizi."


"Hhh.. Tuanku.." kata Gizi setelah agak dekat. "Sudikah.."


Jihan tutup kalimat tersebut dengan cara mengulum bibir Gizi. Dia melenguh memberikan kecupan pada jins-nya sendiri.


"Ummh..!"


Setelah Gizi tenang, Jihan lepas bibirnya, menatap sang jins sambil menunggu bibir di depannya itu tersenyum.


"Masih ada rasa buahnya dikit ya? Hhh-hhh!"


Gizi masih bersemu merah menatap Jihan. "Demikian. Umh..! Selayak sedang bersamanya, Tuan."


"Mu.. uuu," kode Jihan, memajukan dagu dengan fokus mengarah pada bibir Gizi. ".. ach!"


"Ah iya. Hamba.. temukan jejak Jhid dari sini, hingga ke sana. Namun sisanya telah dihapus. Hamba mencari jejak lanjutan, namun hanya menemukan bekuan ini."


Ckiiit!! Ckiiit..!


Nina dan Marcel datang, salah satunya memberikan gummer.


"Trims udah nungguin," kata Nina menggantungkan tangan kanan di depan Jihan.


"Eh iya. Tengkyu Bonin Tengil. Gue baru inget nih senter lagi dipegang elo. Hehe.."


"Han, pinjem bentar ya.." kata Marcel, tangannya sudah memegang pergelangan Gizi.


"Oke.." sahut Jihan.


Swuutth!!


Marcel dan Gizi melesat bersama ke arah cukup jauh, menembus sebatang pohon. Jihan segera meloncat turun. Huup..


Daph!!

__ADS_1


Jihan dapati, Nina sudah kacak pinggang mengamati telinga patung, sedang berpose sama seperti selfie sang manusia Rusa.


"Gede amat. Dapet di mana dia (Gizi), Han?"


"Gak sengaja nemu, katanya."


Clephh! Jihan langsung menancapkan gummer di kening patung dengan pose persis menggebuk bawah meja, juga agak terhalang oleh tanduk yang tumbuh di bagian poni.


"Dunia jadi-jadian.."


"Legend kayaknya nih batu, Han."


"Ya.. tapi bukan punya gue."


Nina merogoh saku bajunya. Jihan tak jadi berpaling, dia melihat lagi ke arah Nina.


"..??"


"Liat punya lo nih, huruf-huruf di halaman random, masih pada acak. Kita, mau gak mau harus ke rumah Luna biar ke-translate.." kata Nina memberitahu isi buku kecil pada pemiliknya. "Gue ingetnya, nih kayak daftar serial number sofware pembakar compact disc (Nero Burning)."


"Eh ya. Punya lo masih di gue," inget Jihan sambil mengodok saku celana, isinya segera dia asongkan pada Nina.


Setelah Nina pegang 'kompas'-nya, dia berkomentar. Jihan tak peduli karena sudah sibuk buka-buka halaman yang dikepo.


"Gue piki.. riiin terus, Han. Sampe gue begadang gak jelas, taunya bisa gerak nih barang. Hhh! Baru liat gue, ada gasing kayak Batman gini."


Grrekh!


Jihan yang sedang bingung dengan teks DGH EXJ KXJHRGV dalam diary Pnin, melirik ke arah tangan Nina.


"...?!!" Jihan makin kebingungan.


'Kompas' si teman mendadak jadi senjata rahasia, dapat merentang, kurang lebih seperti ini bentuknya: ((----(÷)----))


Keunikan benda tersebut membuat Jihan tak tinggal diam, langsung tertarik dengan objek yang ada.


Ternyata Nina sudah lebih jauh mengulik, mengotak-atik, berjibaku, rela kedinginan demi memahami dan mengenal produk UFO tersebut.


Jihan gigit 'kompas'-nya selesai dia kenshin lewat pusar.


"Eerggh!!"


"Inalillah.. Lo ngapain, Kak?"


"Uu.. mmh!!"


Beberapa menit kemudian..


Marcel dan Gizi datang. Marcel tampak terkejut, langsung bertanya pada Nina karena didapati menginjak leher Jihan sambil memegang tongkat yang menempel di gigi geraham temannya.


"Sanin! Gue tanya, kalian berdua ngapain sih??" tanya Marcel lagi, dengan nada agak tinggi.


Kedua "srimulat" yang sedang sibuk melepas 'kompas' di mulut Jihan sambil ahh-uhh itu, langsung diam mematung.


Nina terlihat psikopat dengan satu kakinya tersebut, ditambah dengan benda panjang yang sedang dipegangnya.


"Hia hahi hahut.. hihi hue.. Hel.." kata Jihan yang masih rebah, mencoba memberitahu Marcel. "Helouww.."


- Dia lagi cabut.. gigi gue.. Sel..


- Slow..


-


random eksib:



gabut eksib:



-

__ADS_1


__ADS_2