
Daratan di bawah sana kota yang terpuruk tidak apik dan tertata, lokasi penuh bangunan yang tak utuh. Mercy melihat-lihat dari ketinggian, kota tetangga Ragnarok tersebut telah jadi kuburan. Sepertinya sudah tak ada orang yang selamat, tak ada tanda Save Our Soul.
"Sejak kapan kejadian, senasib gini sama kompleks Pesawahan. Gak mungkin gara-gara undangan nikah."
Mercy mengambang dengan kecepatan 20 km/jam, atau speed pejalan kaki, "baling-baling bambu" di ketinggian 100 meter.
Setelah sampai di tepi kota, barulah pandangan Mercy beralih ke kota "gotham"-nya.
Di sana tampak beberapa bungbung asap mengepul, mungkin kobaran api dari heli yang nyasar menabrak gedung. Yang jelas ada aktivitas di sana.
Siapa saja orang-orangnya, para mafia ataukah alien, Mercy menerka-nerka saat melenggang di atas danau, melewati lokasi tempat villa berada, di situ masih ada dua mobil. Baru beberapa hari ditinggal, Ragnarok pun ikut sekarat.
"Sel..? Gue dah inget berapa kali lo mati."
"Oh lancar?"
"Persen portal naik. Lancar kok. Butuh sesuatu?"
"Stand by Rey. Sampe seharian nih Twen gak nongol-nongol. Kayaknya dia dah tau harus ngapain. Biasanya khodam gak sabaran, dia nih beda."
"Gimana emang perjalanan lo?"
"Hhh.. nganehin. Banyak tempat kosong. Peradaban Bumi nihil, ngeningkan cipta."
"..?!"
"Lapangan belum kondusif, Rey."
"Ya udah. Gue stand by kok. Satu transmisi lagi beres. Ati-ati."
"Iya."
Selesai bicara, Mercy mengebut terbangnya.
Swuutth!
Rambutnya yang sepundak berkibaran, seperti orang yang nongol di jendela mobil atau kereta rem blong. Kaos Mercy turut bergelombang diterpa angin.
Hanya beberapa menit saja, Mercy sampai di langit Ragnarok. Dia mendapati kondisi di bawah sana masih memanas. Baku tembak antar mafia, warga, aparat dan pasukan hitam. Mercy segera mendarat sebelum mereka tahu, mengintip di atap gedung.
Ada yang petak umpet, dua kelompok yang sedang kontak senjata di pertengahan kota. Dari sini Mercy mulai tahu kenapa banyak bangunan hancur, salah satu kubu punya senjata cukup damage alias basoka. Mereka yang hitam-hitam tampak terlatih, pindah bertahap mendekati persembunyian lawan.
"Siapa komplotan mafia ireng nih? Alien gitu? Mirip-mirip grupnya si Jali njir."
Salah satu pasus hitam sudah kontak fisik dengan seorang mafia bertopi. Sosok tersebut persis Venom -nya Edie Brook, makan dan mencaplok si penembak, langsung ditelan bersama pakaian korbannya.
Set!
Mercy sigap sembunyi ketika Venom mendongak. Dia hampir saja ketahuan. Atau mungkin mendeteksi "makanan".
Mercy segera menyentuh airdrop yang menyelap di kupingnya.
"Rey? Hakyu.."
"Ya?"
"Tetep di situ. Banyak aspal idup kayaknya di planet ini. Jaga home gue, mereka pinter ngendap. Punya skill garong."
"Punggung gue ada teks rondanya. Gue jagain kok home lo dari maling."
"Oh iya. Gue baru inget satuan lo di Pos Ronda."
"Gue bakal jagain kok."
"Makasih Bu Hajjah."
__ADS_1
"Sama-sama, Sel."
Mercy melihat jarum artefaknya, kemudian gelisah sambil memeriksa sekitarnya atap.
"Transmisi-nya ada di mana, nih. Jarumnya dah nunjuk ke sini. Apa di bawah tanah gitu?"
Mercy kembali menyentuh alatnya, lalu melesat pergi meninggalkan atap dengan tubuh transparan.
Di sisi kota, Mercy menapaki sebuah taman besar milik satu rumah mewah tapi separuhnya sudah rata dengan tanah. Di sedang menuju tembok pagar yang telah roboh, ke jalan raya sambil tengok kanan dan kiri, mengawasi sekitarnya.
"Hawanya gak enak gini. Kayak ada yang merhatiin. Apa Twen dah tau gitu, gue bakal ke sini?"
Mercy berjalan dengan perasaan was-was. Dia lari bagai bocah yang nyasar dan merasa diikuti banyak penculik. Mercy melompat melangkahi kawat berduri.
Di jalan raya, dengan banyak gelimpang mobil di sana-sini, Mercy memutari sedannya. Sampai di balik situ, dia menyembulkan kepala.
Mercy mengintip taman yang dia rasa ada pergerakan lain. Sejenak dia berpikir, karena lokasi yang dicurigai belum juga menampakkan tanda yang dirasakannya. Taman di sana masih tetap sepi dihuni pepohonan pakis.
Mercy tak tinggal diam, dibukanya pintu mobil dan segera mengambil AE di kursi sopir. Setelah itu dia balik badan, mengarahkan senapannya ke sumber bayangan yang sedari tadi melayang di dekatnya. Objek yang dia bidik mengangkat dua tangannya, perlahan turun mendarat. Mercy ikuti dengan bidikan.
Setelah mendarat, objek yang ditodong Mercy membelah diri di hadapannya.
Srrtt..! Drrtth!
Mercy kebingungan, membidik targetnya bergantian karena sudah jadi dua. Mana yang lebih berbahaya?
Swwrrtt..!
Sesosok tubuh menonaktifkan stealth, dari bening jadi fisik gadis, bahkan masih melayang.
"Stop! Jangan tembak."
Set!
Mercy mengenal orang yang dibidiknya tersebut, bahkan wajahnya masih terpasang di papan iklan dekat situ.
"Dont shot oke? Dia dah jinak, dah gue sabotage."
"Erika..??" tanya Mercy.
"Ehh, lo kenal gue?"
"Duh manis banget nih, namanya."
Erika lalu mengangkat tangannya, diam tak bicara lagi sebab Mercy masih membidik saat dia sudah turun.
"Hhh.. iya. Lo khan artis. Top famous."
Mercy melepaskan sorotannya sambil lega. Begitu juga Erika, menurunkan tangan dan menghela nafas, tapi pandangannya belum terlepas.
"Kayaknya gue pernah liat lo deh," kata Erika.
"Killer banyak diburu. Termasuk buronan pokis juga. Tentu aja. Kami nih khan para Macan Ragnarok."
"Bukan tau. Lo mirip mendiang."
"Gue mafia, bukan meriang. Plis.."
"Mafia tapi kok manis firasatnya ya?"
"Duh.. gue lemes. Plis.. mata lo."
"Jadi lo mau ke mana? Gue orang sini. Trus nih kota udah keserang mahluk asing. Bahaya kalo pergi sendirian. Ke rumah aku yuk? Tempatnya aman kok."
__ADS_1
"Lo yang bahaya. Oh ya. Ada berapa unit Rev-nine di sini?"
"Sebelas. Gue bahaya gimana maksudnya?"
"Danger kalo menjanda, bikin gue lemes."
"Lo kembarannya mendiang?"
"Gini Erika, gue lagi nyari transmisi. Bentuknya lingkaran. Lo pernah liat circle yang nyala-nyala kayak gitu gak?"
"Iya. Ada di tempat gue."
". . .?!"
"Umm. Mercy. Gue masih nyari para Macan yang selamet, tapi kelompok lo.."
"Dimakan?"
"Iya. Tapi kayaknya masih ada yang selamat. Tapi gue udah ketemu sama tujuan gue kok."
"Hhh.. Gue juga kayaknya. Gue nyari tanda itu."
"Ada di rumah gue. Swer. Kamu lucu kalo ngejawab. Tanda apa ya?" tanya Erika sambil menyelipkan rambutnya. "Katanya kamu, lagi nyari transtivi. Sekarang studionya udah keserang."
"Mmm.. Transmisi. Maksud gue."
Erika hanya senyum-senyum happy, tak melepaskan tatapannya. Dia memilih diam. Pipi Erika juga tampak masih merah merona.
"Hei Mercy.."
"Hhh.. Duh sumpah gue lemes banget."
"Ya udah. Kalo kamu nyari glow circle, tempatnya ada di bawah tanah. Rumah gue aman juga. Ayo deh, lewat sini."
Mercy memegang tangan Erika, mencegahnya pergi. "Hei tunggu. Naik mobil aja."
"..??" Erika diam menatap Mercy.
"I-iya. Masih jauh khan rumah lo?"
"Deket kok," jawab Erika.
"Jangan boong."
"Umm.. yang jauh tuh status jandaku."
"Lo bukan Panda."
"Diih.. Hhh-hhh! Jan.. daa."
"Ya udah. Naik, naik."
"Maunya naik kamu."
". . .?" giliran Mercy yang menatap Erika. "Naik aku?"
Erika mengangguk-angguk, sambil merapatkan bibirnya.
Mercy segera menuntun Erika, menggandengnya masuk mobil dengan pipi masih bersemu merah. "Bawa gue ke sana ya. Ada berita penting soalnya."
"Iya, Beb."
-
-
__ADS_1
-