Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
chapter up 014


__ADS_3

Jhid terus memantikkan ujung logam yang dipegangnya. Pergerakan kakinya diiringi percikan besi yang digerinda. Padahal dia sedang berjalan tapi bisa memarut logam.


Jhid juga tak pedulikan keunikan mobil-mobil di pinggir jalan. Walau sudah rongsok gensetnya, beberapa kendaraan masih bekerja menghidupkan kemogokan yang ada.


"Bajunya bagusan dia daripada pakean kita nih," komen Jihan di dekat mayat yang mereka visum tersebut.


"Nih abad berapa emang, Judes. Masa iya masih loreng ijo."


"Maksud lo negara kita nih udah di status negara maju, Bonin?"


"Negara majulah. Liat deh mobilnya merk lokal semua. Bemper mobil dah berlogo garuda semua. Apa bener, nih rombongannya presiden?"


"Tapi masa keemasan Indonesia nih kita masih ribut-ribut gini di rezim presiden yang ke tiga ratus tujuh (307)."


"Gak nyangka, udah tiga ratus presiden mimpin negeri kita. Perang masih aja ada."


Marcel yang sibuk memeriksa mayat, diam menyimak perdebatan yang ada. Dia tak bisa lanjut memvisum bila direcoki dua eling tersebut. Marcel lalu berdiri saat didatangi Jhid.


"Ini wrath food katanya, Bos. Kayaknya ada perang yang gak seimbang, dicampuri dedemit power."


"Gimana status stone, Jhid?" tanya Jihan.


"Careful."


"Berarti Ratu masih di sini."


"Iya. Ada satu halte lagi yang belum ke-ekplorasi, bisa jadi Rei lagi kesulitan di sini buat ke sana," kata Marcel.


"Bukan kesulitan. Rei sengaja nyisain kerjaan buat kita. Liat belakang gue.."


Jhid agak membisik pada ketiga gadis, mata mengekor. Lalu mendadak saja sosok besar setinggi hulk tervisual di depan ketiganya.


Swrrtt.. thh!


"Mgel..!!" seru Marcel melesat dan jongkok menodong di balik carry. Usai berkelebat dia langsung sigap mengintip scope bedilnya ke mahluk besar bercula.


Jihan dan Nina melakukan hal yang sama, melesat untuk sembunyi dan mengintip di balik mobil-mobil. Keduanya berpencar dari lokasi mayat.


Nina berada di jarak 6 meter di depan Jhid, tepatnya tiarap di atas kepala mobil truk.


Jihan merunduk di balik sedan yang terjungkir 180° hingga hanya bisa lihat kaki objeknya.


Di situ tampak bagian bawah kendaraan ternyata rata, tidak ada ban alias mobil era magnet.


Kepala Jihan menyembul di balik mobil magnet demi mengawas manusia Badak yang masih diam berdiri di belakang Jhid.


"Ratu di mana ya?"


Jihan juga memeriksa sekitarnya, dia berada di jalan layang, hutan tempat mereka berangkat, abad ini telah dikeruk rata jadi sebuah kota.


"Wanginya agak dekat sini, Giz. Hhssh!! Hhhssh.."


Beliau masih berada di belakang Mgel


"Di sana rupanya."


Jihan mendapati bagian bahu sosok berbaju krem, pakean tersebut serupa dengan yang dikenakan jenazah dekat mobil.


Tak hanya Jihan, Marcel sudah berdiri meminta Nina turun. Namun belum ada sahutan di atas truk tersebut. Marcel berteriak memanggil Jihan, menanyakan lokasinya.


"Han! Di mana lo?! Nih Rei, nyari Pnin yang dipenjarain Mgel. Ayo bantuin nginterogasi!"

__ADS_1


"Haa?" longo Jihan, mencerna kalimat Marcel sambil terus memasang kuping.


"Iya! Yang ngasih pesan ke kalian sedang disembunyikan! Gitu lho.. Pnin diculik!"


Dua orang laki-laki mendarat di kiri dan kanan manusia Badak. Alat terbang di punggung mereka terlipat bentangan bilahnya sehabis turun. Prajurit Falcon tersebut masih disorot Marcel sejak koprol-nya di udara.


"Mi di pi ka, Na Mu," kata si laki-laki sambil mengangkat tangan.


- Kami di pihak kalian, Nona Muda


Marcel langsung menurunkan Arc-nya, badannya ditegapkan dan menaruh tangan di dekat mata. Orang yang ditodong balas menghormat.


Marcel tampaknya mengerti kalimat yang didengar.


"Pas ma la," kata Marcel, dan langsung mendapat acungan jempol.


- Pasti mau laporan


Kedua prajurit membawa manusia Badak ke lawang portal. Mgel sudah terikat tangannya dengan borgol khusus. Sementara Reinita sudah duduk di tepi kap mobil, menceritakan apa yang sedang terjadi di tanah air.


"Panitia (KPU) belum umumkan hasil pemilihan hingga lima bulan terakhir ini. Mengingat situasinya masih seperti ini, tidak memungkinkan para pendukung aman dari massa pesaing kandidat."


"Mgel punya massa? Mau jadi presiden?"


"Demikian. Mahkamah menolak semua laporan kubu Mgel. Seminggu setelah keputusan hakim, pendukung merusak gedung. Memerangi aparat. Sampai akhirnya wrath ini berhasil melumpuhkan semua petugas dan dapat membuat massa yang bersamanya makin anarkis."


"Gimana dengan kandidat pengganti, Ratu?" tanya Jihan.


"Tak selamat. Kemungkinan wapres yang akan menggantikannya."


"Tak selamat?"


"Rumah kediaman capres diamuk massa, Hani."


"Aku tidak bicara mengenai warga negeri ini, melainkan penebar isu (provokator), Mgel dan para wrath. Tanahnya ini telah digusur selama berabad-abad. Lihatlah karya anak negeri dirusak kembali oleh bangsanya sendiri."


"Yang jelas bukan sebab banyak sinetron. Watak anarkis kita emang udah gini," kata Marcel. "Kita ikut-ikutan."


"Tadi Mgel dibawa ke mana Ratu?"


Rei turun dari dari duduknya. "Dia akan diinterogasi lanjut di Circlet. Dua petugas tadi menemukan lokasi Pnin namun ada para wrath yang tak mungkin dapat dilawan angkatan."


Rei bersandar badan ke mobil.


"Para wrath? Di mana itu Ratu?"


"Gunung Jateng. Hhh.. Awalnya aku ke sana, namun aku mengabaikan suara Pnin. Aku hampir terlambat datang ke sini saat Mgel meluncurkan peledak benua milik negeri jiran."


"Kurang ajar.. Dia mau ngebom pulau jawa, Ratu?"


"Hhh.. Hendak mengadu domba. Mgel mengatakan padaku bahwa Pnin telah dia bunuh."


"Kita cari tau dulu, Rei. Nih mahluk pinter ngomong," kata Marcel. "Ngewa militer muyung gini. Ulah kabawa sakaba-kaba. Pnin hanya dua mautnya. Luna sama senjata dia."


- Tak pantas militer murung gini. Jangan terbawa yang tidak-tidak


"Baiklah. Yang aku tidak tahu, siapa soloter ini?"


Gliitt!


Selapis layar transparan membentang di atas mobil. Jihan, Nina, Marcel dan Jhid beralih pandangan, makin serius menyimak. Di layar tampak seorang pemuda berambut tipis sedang 'sarapan'. Ada segumpal portal di dekatnya, mengambang di atas mayat-mayat.

__ADS_1


"Nih si Cupu," sebut Nina.


"Lidah Buaya," kata Jihan.


"Eks dua ribu dua delapan belas (X2018)," ucap Marcel.


"Cepak," kata Jhid.


"Hhh.. Aku tidak tahu siapa yang menyuruhnya."


"Dia masih anak bawang kayak Jihan, Ratu. Mau aja disuruh-suruh."


"Anak bawang bagaimana? Aku pikir orangtuamu bukanlah bumbu dapur, Hani."


"Iya, Jihan masih anak-anak maksudnya."


"Kau anak lapangan, Hani."


Clekh..!


Rei melepaskan gelang yang dipakainya. Dia berikan pada Jihan.


"Ikuti saja bunyinya."


"Apa karena Ratu emang belum mau ngehit manusia?"


"Aku setuju dengan pilihan Anak Langit. Ada petugas yang lebih berhak dan segolongan. Untuk itulah Boarding SosCamp ada."


"Soal income gak ada kata bijak.."


Digh!!


Jihan mendarat di sebuah lapangan golf. Hijaunya serasi dengan baju yang dia pakai. Seragamnya ABRI tapi tangannya polos. Jihan hanya bawa jam GPS yang sedang bunyinya panjang mirip timer bom.


Dii. iiiit..!!


Klik! Jihan padamkan GPS tersebut.


Kraachh.. Krach..


Cepak memperhatikan Jihan sambil terus mengunyah. Dia sedang jongkok di antara puluhan mayat orang. Cepak mengenal gadis satu ini sehingga saking kesalnya, dia berdiri dan langsung membuang kepala yang sedang dinikmatinya.


Glutukh..!


"Heaa!!"


Swuutth!


Cepak sudah mencengkram kerah Jihan sekali gerakan. Tapi yang dicekalnya masih sengaja diam. Cepak gantungkan tangannya, menatap mata violet yang ada.


"Napa, diem?"


"Lo yang nerobos kawasan gue?"


"Tuh tanah gue sekarang. Bersertifikat."


"Set*n!"


Bruuaghh!!


Cepak membanting Jihan ke tanah dengan mudahnya. Tanah pun menyembur bagai air kolam. Tenaga Cepak tampak sudah meningkat.

__ADS_1


-


-


__ADS_2