
Seperti sebelumnya dalam perjalanan menuju ke tengah hutan, Jihan terus bekerja dengan hidung werewolf-nya. Dia sudah terbalut baju ABRI hijau dan membekali diri dengan botol minuman. Jihan memimpin perjalanan, dan sebenarnya dia bisa melayang seperti yang sedang dilakukan Nina, tapi dia lebih memilih jalan kaki demi hormon "pubertas"-nya.
"Napa sih lo kepo sama Gue? Hhhs-hhs!"
"Bukan. Gue nanya sama Gizi."
"Ohh. Hhhss..! Sama kali, dia juga ada libido tinggi, Jhid. Hhh.. sssh! Duh, nih bikin gue pengen deket-deket sama majikan lo, Jhid. Hhhs.. Hhhs-hhs!"
Jihan berjalan kembali setelah berhenti sejenak untuk memejamkan mata, menghirup dalam-dalam.
"Herannya lagi, gue baru liat paradok sama driver seintim ini. Dulu khan lo hobi banget nonjok idung dia nih Giz, ya?"
"Hhhs-hhs! Tak ada komentar.."
Di perjalanan satu jam ini, pukul satu siang, posisi mereka belum berubah, Hanjhid Nisel.
Nina melihat-lihat sekitarnya di ketinggian tiga kali badannya, masih belum bicara. Dia tetap mengambang di temani Kunang Kunang. Nina juga belum mau ganti pakaian, bodinya menggunakan skinchar gadis 24 tahun yang terbalut jas hitam ala MIB.
Sementara Marcel yang berada paling belakang, terlihat masih bugar mengingat dia seorang gerilyawati. Dia sedang pegang senapan, belum mendeteksi gerakan yang tak kenal. Marcel kadang menaruh bedilnya di pundak, ditanggung, dan dihand-walk lagi, memegang body Arc layak orang sedang mengawal tahanan di luar LP.
"Apa gue harus nyium feromon ratu dulu biar gak jomblo?" Nina buka suara.
Marcel yang diajak bicara, hanya menatap dan menyimak.
"Gue juga pengen nge-force," kata Nina lagi, dan wajar saja usianya memang sudah usia bucin generation.
Wangian yang Jihan ikut selalu berganti arah. Kadang di tiap pohon belok kanan dan belok kiri. Atau tiap ada di sebongkah batuan yang agak tinggi, arahnya ganti ke pukul 2 atau juga lanjut jalan ke arah jam 11.
"Sori ya, jalannya bolak-belok. Lewat sini. Hhhs-hhs! Lurus terus," pinta Jihan pada followers, melangkah lagi, padahal ingin melihat Marcel.
Tanda arah tersebut pastinya karena Reinita harus sembunyi-sembunyi dan sedang mengendap mengikuti buruan.
Feromon tersebut tidak tercium oleh Nina karena memang berbeda ratu, drivernya bukan bekas pekerja dari ladang sang alkemis.
Glu.. uukh..! Gluukh!
Jhid meneguk minumannya. Benda yang dipegang mirip wadah minum Citruz. Kotak, berlabel nama rasa, dan bergaris tengah. Jhid menutupnya lagi, membiarkan penutup tersebut auto refill saat menggantung di tali sabuknya, setengah wadah tapi isinya permanen.
"Emangnya wajib kalo bucin?" tanya Marcel, berjalan mengikuti Nina dalam jarak 2 meter.
Nina berhenti melayang. "Pas nge-force gitu, siapa tau gue bisa ngontrol Kak. Lihat kakak-kakak nge-kiss jadi pengen punya bucinan rasanya."
"Ntar hamil di luar nikah," kata Marcel sambil terus jalan.
"Bukan bahas itu."
"Bahas apaan?" tanya Marcel tanpa melirik lawan bicara, menangung Arc di pundak.
"Janda power," jawab Nina. "Gue udah yakin banget sama lensa gue Kak. Tapi speed dia (White Jihan) tetap aja gak keliatan. Gue pasti lebih cepet kalo lagi jadi janda."
"Lo udah janda, Sanin."
Swuutth!! Nina melesat dan langsung ngerem di udara menghadap ke arah Marcel.
Ckiiit!
"Iya Kak?"
__ADS_1
"Gak harus fokus di lapangan. Lo pilih lencana Library alesannya apa?"
"Biar bisa nyuruh dia (Jihan), Kak."
"Bagusan itu."
"Tapi pengen ngehajar dia juga."
"Alesannya?"
"Liat muka judesnya, bawaan gue gagah aja ngadepin anak lapangan, Kak."
"Apa mau nyuri trik, atau lo cuma pengen latian?"
"Dua-duanya mungkin Kak."
Marcel tak menimpali. Dia harus merunduk di depan dahan panjang yang menjulur datar di ketinggian kepala. Pasti bakal kejeduk jika terus menengok Nina.
Marcel lanjut menapaki tanah hutan dengan bedilnya karena sudah dituntun lagi oleh Nina yang mengawasi Jhid, si pikun sudah di jauh sana.
Sepuluh menit kemudian, Jihan yang sedang duduk bersandar ke badan patung, menengok kirinya. Dia membiarkan Nina turun ke atas patung Bison yang disandarinya. Jihan diamkan matanya, tetal mengarah pada Marcel yang masih jalan.
"Bang Jhid ke mana Kak?" tanya Nina sambil mengawasi sekitar dengan kacak pinggang.
"Nyari batu lagi."
"Arahnya maksud gue."
"Ciee.." komen Jihan sambil mendongak. "Lo mau nanya-nanya apa lagi emang, Bonin?"
Nina diam dengan pipi agak merah. "Gue mau bantuin dia nyari batu, Kak."
Marcel duduk di sebelah Jihan saat sudah sampai, dan langsung meneguk air yang Jihan sodorkan.
Gluk! Glukhh..
"Iya arah mana?"
"Depan gue, Bonin. Sana lurus ke depan elo."
Swuutth!
Nina segera melesat di ujung kalimat Jihan.
Cwuuph! Jihan dan Marcel kiss meet.
"Patung lain masih jauh katanya, Beb?"
"Hmm..? Kita deket banget. Mau rapat?"
Jihan senyum ditanya si petapa. Saat bertemu Marcel lagi, dia memerah pipi, juga beralih pandangan ke depannya, melihat pohon. "Rapat soal apa ya? Hhh-hhh..!"
"Sini liatnya, Sayang."
Jihan melirik Marcel. Dia segera mencium bibir yang menunggunya tersebut. Kiss meet. Jihan tampak semangat, saking sukanya.
Cwuuph!
__ADS_1
Selesai dikulum sang lusid, Marcel menaruh bedilnya ke sandaran mereka. Duduk mengikang sambil menyatukan jemari, mengunci posisi lutut. Marcel diam, pandangannya turut mengarah ke pohon yang tegap di depan sana.
"Gue nyemasin si Nina, Han."
"Iya. Samaan gue juga, Beb," timpal Jihan ikut mematung, kedua lututnya agak rapat ditekuk. "Gue udah bawa dia sampai jauh ke sini."
"Dia liat kita bebas. Dia ingin bebas juga kayaknya, ngikutin objek yang diteriakin."
"Dia senior, tapi malah gue yang nyontohin gak bener, Beb."
Jihan keluarkan nafasnya. Ada raut yang sama di wajahnya dengan yang tampak pada Marcel. Sedih. Jihan menoleh, didapati Marcel sedang melamun.
"Beb.."
"Hhm?" sahut Marcel dalam diam. "Apaan..?"
"Liatnya sini."
Saat Marcel menengok, dia mendapati Jiham menarik bawah mata.
"Hhh-hhh!!" getar Jihan. "Mau gimana lagi kita, Beb. Orangnya lagi berkembang keras."
"Berkembang keras gimana?" tanya Marcel sambil melamun, menerawang dalam diam, entah mungkin memang sedang memikirkan Nina.
"Iya. Hhh-hhh! Berkembang keras."
"Tau dari mana? Dia (Nina) khan cewek."
"Ahahh! Sstt..!!"
Jihan tergelak, di pun segera menempelkan jari.
Gliitt!
Sebentuk bola hologram menampakkan dua titik bintang di pulau Jawa, Bumi kecil terpancar dari gummer yang Jihan pegang. Dua titik yang nyaris padu tersebut adalah lokasi patung.
Dua tanda tanya juga ada pada layar inset, tapi hanya satu baris keterangan yang sudah tertera sebagai berikut: LOKASI DIDAPAT. Baris yang satunya masih berupa angka longlat, koordinat GPS.
Gliitt!
Jihan menaruh senternya di sebelah usai dipadamkan. Dia taruh tanpa melepaskan pandangannya ke bibir Marcel. Ada helai rambut menempel di situ. Jihan meraihnya saat Marcel masih diam termenung.
"Kamu marah, Beb?" tanya Jihan sambil mencubit rambut, menyingkirkannya dari pipi Marcel.
"Hhh.." Marcel menempelkan tangan Jihan sejenak ke wajahnya, menaruhnya di pipi. "Pengen rebahan. Bantalin dong. Beresin rambut aku."
"Ya udah. Siniin," kata Jihan sambil menepuk paha setelah meluruskannya.
Marcel mengambil senapannya, dan dia taruh di tanah. Badannya segera dibaringkan mengikuti permintaan si teman. Marcel pun menaruh kepalanya di paha Jihan.
Jihan mengusap-usap kening si petapa. Marcel lanjut melamun sambil menaikkan kakinya ke lutut.
"Marah ya sama aku?" tanya Jihan lagi
Marcel tak menjawab. Dia menghela nafas. Wajah dan kulit tubuhnya tampak masih lembab dan hangat. Marcel memejamkan mata.
"Aku tiduran bentar."
__ADS_1
"Iya. Tidur aja, Beb," sahut Jihan sambil terus menyisir-nyisir poni Marcel dengan sela jemarinya, bergantian, di bawah bayangan patung.