
Marcel dan pencegat tampaknya baru bertemu, keduanya sama-sama masih berpikir, apa saja kemampuan yang dimilikinya dan yang akan dihadapi. Marcel siaga memegang handle dengan dua tangan, si pencegat mengatup graham ingin lawannya menyerang duluan.
Set!
"Diam di situ!"
Wuutts! Weetth!
Vantablack kedua muncul di belakang Marcel mengibas tongkat T dari atas dan samping untuk kepala target dan pinggang Marcel.
Trang! Teng!
Marcel menangkis seraya berputar badan. Ternyata sangat peka dengan serangan mendadak.
Wuth! Wutts!
Tang! Tang..!
Weetth! Waatth!
Trang! Ting! Ting-ting!
Tang!
Marcel sangat cepat juga dalam mengelak ketika ada kelebat dobel stik dari si pencegat. Usai berputar badan dia tekuk dua lutut hingga sebayang batang melesat di atas kepala.
Lawan yang datang menyerang kepala namun gagal dan langsung menarget pada kaki Marcel, sehingga stik logam tersebut bertumbukan dengan pedang.
Belum selesai dengan serangan si pencegat yang dapat celah, pemilik tonfa bergerak dadakan melancarkan ayunan logam pada bahu Marcel. Bunyi tangkis beruntun pula, trang ting-ting ting tang!
Marcel mundur demi keleluasaannya menangkis dua senjata yang sama-sama logam tandingan.
Marcel tampak kerepotan menahan kibasan kombinasi. Dua senjata para penyerangnya benar-benar menyerang dari atas-pinggir-bawah. Marcel tetap bergerak mundur dan tak kalah fokus.
Wuutts! Weetth! Wuut-wuut..!
Tang! Teng!
Taang-tang!
Gerakan tangan milik ketiganya sangat gesit. Kibas persis baling demikian tanda mereka sudah lihai memainkan senjatanya masing-masing. Dan tampaknya tangan Marcel ada empat, dia bagai drumer grup band, menangkis, menahan, dan menyambut serangan sudah di luar kepala, tinggal menikmatinya walau agak repot.
Marcel terus di buat mundur oleh tiga alat dari dua penyerang.
Waath! Waatt! Wutt!
Tang! Ting! Ting!
Wuutts!
Tang!
Teng! Tong!
Hanya badan di mana sedikit bergerak yang dapat ditonton. Sementara kaki-kaki vantablack sama cepatnya dan di gunakan untuk menendang kaki Marcel agar fokus si petapa kendor dan makin sibuk.
Marcel tetap bergerak karena konsennya diganggu kerjasama mereka. Mengelak si A, serangan B melayang dan terayun. Menghindari tonfu si B, senjata si A menyerang lutut dan pijakan kaki.
Sekitar 8 meter tampak di aspal terjejak gores-gores dobel stik. Sampai tiga menit ini, mereka belum juga berhasil menggebuk si petapa.
Bagaimana bisa ABRI maen pedang, dan dia perempuan? Padahal lawannya dua siluman kanibal, kenapa harus seserius itu Marcel bertahan?
"Hahaa.." tawa siluman genset yang menonton di atap bangunan.
Sebut saja dia King of Remote, karena senangnya bermain-main alat orang.
Tratetet.. tetet..
tling.. tling..! tling..!
Peluru memantul-mantul di permukaan kapal anti-peluru dari pesawat nirawak, dan bukan satu-satunya yang datang menembaki daratan parkir jet.
Traak.. trakk.. !
Ge.. trakh..!
Aspal bandara pecah-pecah di tumbuk logam-logam kecil milik lima wahana tak berawak.
Twi.. iing..
Kelima airship tersebut terdeteksi hingga menampakkan tanda seru dekat kepala Marcel di saat dia merunduk menghindari sapuan senjata di atas kepalanya.
Si dobel stik alias penyerang A meloncat ke atas, lalu kawannya melompat ke pinggir. Keduanya melesat pergi namun slow motion aktif kembali menyoroti keduanya sedang mengudara meninggalkan Marcel.
Zwtt.. Zwwtth.. !
Plakh.. plakh.. Aspal ditembaki butir-butir "cat" atau mirip tipe-x glowing.
Peluru berubah total materinya di radius tujuan, awalnya dari logam kini butir-butir tersebut menjadi pil-pil yang putih dan pecah-pecah menimpa aspal. Lux-nya Persis pancaran cahaya Rubber Glove milik Raven, tak lain cryptonite ray.
Blu.. wupph..
__ADS_1
Saat kubah sudah terkembang mengurung Marcel, dalam gerakan lambatnya Marcel dancing bulet menangkis butir-butir logam yang menghujaninya.
Tling.. tlang.. tlung..
Marcel menari pedang dengan anggun seperti menyambut peluru satu-satunya, tangkis kanan..
tlang..!
tangkis kiri..
tlung..!
tangkis atas..
tliing..!
Menyamping badan.. tleng!
Sementara pesawat drone yang menembakinya dalam formasi yang strategis juga, yaitu segi-sepuluh:
Kejadian tersebut bukan pengeroyokan lagi, Marcel dihujani peluru. Musuh tidak kalah teknis dengan fokusnya karena sudah tahu bahan yang tepat untuk membunuh si petapa yang tak lain pil "tipe-x".
Kembali ke 24 fps atau gerak normal.
Nguueng!! Oooung!! Bunyi kapal lewat.
Trang! Triing! Teng! Traang!
Trang! Treeng!
Tang-ting-ting! teng-teng!
Jree..eng!
Marcel diam berdiri di tempatnya berdansa. Dia dengan dua tangan sudah memegang pedang tersebut kini dapat disorot kamera, sukses menangkis serangan.
Tampak dua pedang yang dalam sorot dingin pemegangnya, sudah ditempeli banyak logam kecil alias peluru, terkondisi sebagai magnet.
Sluurukkh..!
Slurukh!
Butir-butir tersebut jatuh di dua titik melalui ujung-ujung pedang.
Saat menatap si genset, Marcel bergumam geram, berkomentar soal perih di dekat alisnya. Kulitnya yang tergores, tersayat laju peluru.
Tapi tak hanya Marcel yang mengumpat.
"Brengs*k! Mahluk dari mana ini!"
"Hhh, hhh, apa hanya (lecet) itu kekuatan kami?" tanya si dobel stik, memandangi Marcel di udara, sambil bersiaga karena dirinya paling dekat dengan musuh ketimbang dua rekan lainnya.
"Pantas (Ray) terus bersamanya. Ini pekerjaan mustahil untukku," komen si B, yang mengamati pedang dari di atap pesawat stealth, berada di atap kendaraan berikon merah-putih.
Apa yang mereka pikirkan baru saja terjadi. Marcel sulit dilawan, mati-matian menjaga pedang yang mereka incar.
"Aku baru percaya Hoax dan mutannya itu atas mahluk untitled ini."
Brugh!
"Akkh..!"
"Bang Jali!" teriak Marcel saat tali pengikat putus hingga aktor yang sedang diikat jatuh.
Marcel langsung menghampiri rekan kerjanya.
"Kat! Kat..!" kata Marcel lagi. "Medis..!"
"Eeuur.. sialan. Gue bilang nih tali ganti dulu. Mana tinggi begini lain. Hhss.. aakh," ringis sang artis.
Beberapa kru film datang menyusul dan ada yang membawa kotak PK.
Kolom komen di tiktok, akun A:
- 😁Ketawa tapi takut dosa
- talinya pake tali rapia!
- Coba pake tas roket terbangnya, Bro. Hahahh! Koplak syuting alatnya udah kadaluarsa gitu😆😆😆 anjay
- jatuh ke bawah udah gak aneh. aku juga jatuh sakit, merapat sini!
Kolom komen di tiktok akun B:
- aduh Sayang, namanya juga kerja. Banting tulang beneran😜
- PH-nya gak mau modal
- coba protesnya diperhatikan ya pak sutradara, kasian tiingginya tiga meter itu! Pak!
__ADS_1
- tenyata ada evakuasi di episode evakuasi ya😱 ngeri zekalee
Kembali ke Noveltoon. Bang Jali yang sudah mengudara lagi, mengepalkan tangan lebih kuat. Benda di tangannya yang berantaikan logam sampai gemericik atas geram yang ada. Geram karena Marcel tak mempedulikan keberadaan di situ.
"Serahkan pusaka itu!"
Marcel akhirnya beralih objek dari jam 11 ke arah jam 2, melirik sumber suara. Mendapati emosi Jali, dia lalu mem-padu-kan pedang dalam satu genggaman. Marcel tak mau menimpalinya.
Sehawa aura mengudara di tangan kanan Marcel, tanda locked. Marcel mengarahkan matanya lagi ke menara pengawas.
Wuutts!
Marcel mengebut ke atas menara tanpa peduli permintaan Jali. Otomatis si genset terkejut mendapati pedang yang mereka incar ada di depan mata, memercikkan listrik yang sama dengan miliknya di sepanjang bilah logam tersebut.
Pose Marcel dalam jet lag dan keterkejutan si target, melayang sambil mengayunkan senjata, jaraknya masih agak jauh namun hunus logam yang dia kibas dari punggung ke hadapan objeknya tak lagi berjarak, menghampiri leher.
Wrrik.. wrrik.. bunyi-bunyi kilat di badan samurai pelan-pelan mendarat menuju permukaan kulit sasaran hingga..
Swuutth!
Daph..
Gerak melesat kembali di perlambat dan tampaklah si tonfu datang menyeruduk temannya sekaligus membawa badan tersebut jauh dari serangan Marcel.
Wugh! Wugh..!
Set!
Marcel berhenti dari gerak gasingnya. Jika tak ada kelebat lainnya, dia berhasil memotong tubuh target dengan jurus baling-baling mencingcang timun -nya. Tapi si ketimun malang selamat, sudah tak ada di tempatnya, berhasil dibawa kabur temannya.
"Ke mana di.."
Tang! Teng! Tang..!
Tung! Ting!
Tang-ting-ting! Tang..!
Kelebat hijau dan hitam memisahkan diri, dua-duanya langsung menjarak di pertemuan udara mereka ini.
Beberapa bunyi tangkisan tadi memang terdengar di sekitar tubuh Marcel, sumber suara adalah gerakan Marcel dan benda logam yang tengah berputar di tangan bang Jali.
"Bac*t. Kau segan dengan Twin Hard-ku, Brengs*k?? Hah?"
Wugh-wugh-wugh!
"Anj*ng. Bilang kalo lo nyerang tuh."
"Hahaah! Seperti beritanya si kutil (Hoax). Kau mahluk pemarah."
"..?!"
Marcel ganti posisi, bersiap lagi.
"Hahaa! Benar, kau-kah petapa wahid dengan sebutan Mercy itu, Brengs*k? Hahaa.. Baiklah."
Wruugh!
Putaran mengencang hingga lingkaran tersebut bersinar glowing memancarkan cahaya putih.
"Lagi-lagi pecundang nih, Ray.. Hobi amat bikin garlic (kryptonite-nya) gue sih mereka nih. Anj*ng lah. Nyalahgunain fungsi bawang."
"Hahaah! Qarrat? Hahaa..! Internal memeliharanya untuk nyawamu, Mercy. Seberang yang menguntungkan."
"...??"
Marcel menyampingkan badan lagi, memicingkan matanya yang kini terasa perih. Marcel cepat-cepat mengelengkan kepala, cahaya "bawang" memang mempengaruhi kesadarannya.
"Ouh, benar. Dengan para qarrat di sini, kau ini hanya remahan paling Brengs*k. Dlang mengumpulkan hal penting lain. Benar. Tentangmu ini, Mercy si penjaga nisan. Hah? Kau siap, hah!"
Swuutth!
Marcel memilih pergi akibat kryptonite yang cukup mengganggu penglihatannya.
Jree.. reeng!
"Ck! Anj*ng lah semua pada curang gini sama gue.."
Di tempat sembunyi, di balik suatu lapisan pengubah peluru garlic, dua mata Marcel berdarah, menangis darah. Dua pipinya sudah terlumur cairan merah segar.
Marcel masih di udara, agak jauh dari menara bandara dan sedang mengambang dalam gelembung transparan, menyeka-nyeka mata dengan lengan bajunya.
Jali menyapu sekelilingnya. Dia mengumpat kesal karena tak tahu kemana Marcel pergi.
"Brengs*k! Serahkan pedang itu kepar*t!! Di mana kau! Bajing*n..!!"
-
-
-
__ADS_1