
Mercy seorang intel, gerak-geriknya pernah berpura. Dia dapat tahu apa yang tidak orang lain pahami. Tapi bukan birokrat, dia bekerja buat dirinya sendiri sekarang.
Setelah ketemu senapannya, Mercy harus mencari Twen. Jins khodam itu yang menyembunyikan AE Marcel.
Saat ada barang yang hilang tanpa bekas, orang pasti mengandalkan ingatannya untuk mencari. Karena Marcel seorang astraler, dia gunakan simulator.
Setelah senapan ketemu, portal keluar belum juga terbuka. Artinya simulasi masih berjalan, ternyata AE tersebut bukan endingnya. Masih ada lupa atau beban mungkin pada Mercy, misalnya Twen sang jins khodam itu.
Mercy juga belum bisa melupakan Erika. Tapi cukup kepo pada Jihan. Artefak di kalung itu ternyata masih memuat mass foto, Rey mengajarkan cara memutarnya.
"Iya dia nih Giziania. Satu wajah banyak nama, hal yang udah biasa di Fanam. Muka gue malah bejibun di Snail dan Underground."
Mercy bertanya soal Jihan sesudah menatap lama wajah persis Erika di kalungnya itu, dan segera memadamkan artefak.
"Siapa namanya?" tanya Mercy selesai meditasi ini, beres showeran ini pakaiannya pun sudah casual, pakai celana jeans dan kaos.
"Jihan. Giziania lengkapnya."
"Apa sih beda Erika sama Giziania?"
"Ya beda nama aja, termasuk status sama skill. Yang gue tau tuh Gizi. Kalo sama lusidnya gue belum tau, belum pernah ketemu."
"Apa yang lo tau soal Gizi?"
"Dia mahhal kesayangan sodari gue. Tangan kanan Kak Rei."
"Lo juga khan Rey. Gimana sih?" tanya Mercy sambil kembali mengelap-lap senapannya dengan kain, kini dia sudah bisa memegang AE.
"Reyy.."
"Rei??" tanya Mercy, mengulang. "Apa bedanya sih?"
"Gini, Sel. Gue nginep di skin char tujuh belas (17) taun. Dia di skin char dua puluh empat (24). Umurnya samaan, dah ribuan (1000-9999) taun. Hhh..!"
"..?!"
Mercy kembali berkerut kening. Dia kembali mengamati AE di sofa ini, tak mempersalahkan umur Rey yang belat-belit. Dia membiarkan sang jins duduk lunglai dalam kegiatan "haji mabrur", meditasinya.
Mercy mencoba lensa AE, membidik mobil serta spion. Sedetik kemudian pindah sorotan ke tunas gandum. Dia melepas picingan matanya, karena heran pada scope bedil. Dari spion ke ujung tunas beda jarak tapi objeknya sama besar dengan spion alias auto zoom.
Mercy berdiri mencari sesuatu, adakah objek latihan di jauh sana. Ada. Dia lihat bebegig, disorotnya kemudian boneka seukuran nyamuk di skala jaraknya. Setelah terbidik, Mercy pun langsung menembak.
Clik!
Bruaakh!!
__ADS_1
Mercy terpental mundur menabrak dinding rumah, dilemparkan senapannya. Bahu kanannya didorong sesuatu.
"Lo mau tinggal di sini?" tanya Mercy, sambil pijat-pijat pangkal lengannya.
Keduanya berada di dekat mobil, siang hari ini cukup terik.
"Iya. Sampe nih kabut fungsi," jawab Rey memandangi gumpalan asap diameter ban. "Gue juga udah bikin transmisi di banyak tempat. Lo tinggal baca dan liat aja pesan-pesan terkirim. Gelang laennya pasti ada, nyambung satu sama laen."
"Gimana kalo portal exit gak fungsi juga?"
"Tergantung sama area lo ini, kalo masih betah nyidik Twen, mungkin lama. Tujuan lo sekarang khan nyari tanda lingkaran, ada kejadian atau laporan apa aja di luar simul. Kalo portal dah fungsi, mungkin gue yang harus ambil pilihan."
"Pilihan apa?"
"Nyeret lo keluar. Biar gue yang terangin ending simul lo ini di basetime. Server lagi diincer parasas. Mudah-mudahan aja kondusif. Tapi khan kita butuh laporan sama beritanya dulu, dikabul gak, valid gak arepan kita."
"Ya udah. Gue bakal cariin."
"Hapal khan kode morse? Jihan gunain itu, cuma karena deket sama nama elo."
"Tapi gue Mercy."
"Iya elo Mercy, Sel. Hapal gak kode Morse?"
"Deretan nol sama angka satu tuh ngaran lo. Gue hapal. Di situ kodenya kalo ditranslate ada tiga huruf. Yaitu ngaran lo, Rey."
... gue ngetik lewat 'kompas' ini. Moga kamu baca, ya. We are need you.
If your name is Mercy,
tanda berikutnya : 101-1-0100
101-1-0100
Mercy terjebak di realitas maya dan mati berkali-kali saat masih remaja. Bahkan mungkin di hutan Pinus itu, Alan pernah berhasil membunuhnya. Rey punya riwayatnya di villa itu, tapi kali ini Mercy-lah yang berhasil menembak Alan.
Lingkaran yang Rey buat bukan petunjuk keluar dari simulasi, melainkan sambungan tranmisi atau siaran radio.
Rey telah banyak membuat koneksi di banyak tempat, lingkaran-lingkaran tersebut memang untuk Mercy. Tapi saking banyaknya, Rey lupa. Dia tak bisa keluar. Akhirnya Rey hanya bisa lanjut rebahan di sofa rumah dengan kegiatan "haji"-nya.
Ada beberapa lokasi terdekat dengan Purwakarta, yang masih diingat Rey. Ada lingkaran yang pernah dia buat di Karawang, Subang, dan Cikampek. Mercy pun tak perlu sapu-sapu, atau bersih-bersih sampah untuk mencari tanda transmisi tersebut.
Bregh!
__ADS_1
Mercy menutup pintu mobilnya. Dia segera meneropong langit dengan scope AE. Lensa tersebut dapat menyoroti laser vertikal yang panjang menembus atmosfer.
"Hhh.. Kalo gue pernah di sana, berarti pernah mati juga. Tapi masalahnya apa ya?"
Di pinggir jalan ini, Mercy melamunkan langit Cikampek sana. Dia berdiri di kap mobilnya, tanpa peduli klakson beberapa kendaraan yang lewat.
"Apa kalung gue objek, atau tema perang antar geng?"
Mercy melompat turun. Dia masuk kembali ke dalam mobil. Di kursi kemudi, segera nginput sesuatu, menyentuh-nyentuh ujung jari.
Tap-tap! Tip-tap! Tap-tip-tip-tap!
Kiri, kiri - kanan, kiri - Kanan, kiri, kiri, kanan
Gliitt!
"Yes!" seru Mercy saat mencoba mengakses Server sesuai yang diajarkan Rey, menyentuh ujung telunjuknya dengan jempol.
Selapis layar transparan terpancar dari kalung Mercy. Monitor udara tersebut menayangkan peta pulau Jawa berserta titik GPS. Entah tiba-tiba saja, muncul banyak titik lain yang beda warna.
"Hhh.. Masih jauh dari tanda paling deket. Udah gue kira bakal gini. Gue musti apa lagi ya? Nyesel gak beli auto-drive."
Clekh!
Saat Mercy melamun, terdengar bunyi pintu dikunci. Lalu..
Brrmm.. mmgh!
"..?!!"
Mercy tambah bingung mendapati kunci mobil bergerak sendiri. Pedal gas dan kopling turut jadi "robot". Bahkan saat dia melihat stir, sedannya sudah melaju, belok masuk jalan.
Gliitt!
Layar map padam, namun Mercy mendiamkan tangannya. Jari telunjuk dan jempolnya tersebut di pose membentuk huruf C. Mobilnya masih melaju tak berhenti.
"??!"
Mercy diam mengamati spedometer kendaraan dengan tangan masih mengantung. Dia pun lemas bersandar. Mercy biarkan sedannya meluncur menyalip mobil lain di 80 km/jam.
"Hhh.. Erika tuh ngaran gue, Mer. Hhh-hhh!"
Tubuh Mercy bergetaran, empunya menyadari sesuatu.
-
__ADS_1
-
-