Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
chapter up 48


__ADS_3

Aku mau tulis uneg-uneg dulu, terutama soal ringkasan novel ini, anggap saja plot-nya mulai dari awal lagi, yaitu sebagai berikut:


awal:


Jalan hidup memelihara parasas (mahluk halus) yang haus darah dan daging manusia, amat bertentangan dengan aturan komunitas, namun para lusid tetap menyampaikan pesan-pesan bijak pada para soloter, tak ada yang menghakimi dan menindak mereka selama tidak melampaui garis batas konsumsi, dan aktivitas mereka akan terus diawasi ratu parasas Al Hood yang turut menentang tindak tak berperikemanusiaan tersebut.


perkembangan:


Demi sumberdaya, Al Hood pun dilumpuhkan dengan cara dibuang ke pengasingan, selalu dilakukan oleh anak buahnya.


*******:


Pengasingan sering kali menimpa Al Hood, maka dengan ketiadaan sang penetral, kamunitas manusia pun kembali berseteru, terjadi bencana dan kekacauan.


akhir cerita:


Berkat kegigihan para dewan serta kepatuhan para lusid, komunitas berhasil mengurung beberapa soloter ambisius di Latansa, lalu mengutus tiga orang karena para ambisius itu positif geng pembunuh dan akan di-warning untuk terakhir kalinya.


oke lanjut,


kame-raaa, eksen!!


"Ck! Dua barbar.."


Pagi-pagi Nina kacak pinggang mendapati Jihan dan Marcel patah-tulang di posisi tidur mereka.


"Pada smackdown gini begadangnya," komen Nina lagi.


Nina dapati satu tangan Marcel tertindih badan, leher dijepit kaki Jihan.


Kaki Marcel berada di kening Jihan, sementara dua tangan Jihan di bawah kepala lagak orang yang rebah menatap bintang.


Dua gadis yang pulas di sofa itu tak bisa dijelaskan lagi detail lekak-lekuk anggota badannya, boleh dikatakan boneka buangan.😁


"Mending sarapan. Ora urus lah."


Hari telah beranjak siang, kapal tetap berlabuh di dermaga, diayun-ayunkan ombak kecil. Tempatnya persis lokasi berangkat, di dermaga yang panjang menjorok ke laut. Pulaunya pun sama, dan mungkin masih ada Anakonda yang dikejar Naga.


Jihan masih mengunyah rotinya. Dia orang terakhir yang meninggalkan kapal. Si gadis memakai kaos putih dan celana jeans biru. Jihan pun tak membawa apa-apa selain makanan di tangan, yang sedang dihabiskannya.


Sementara Marcel dan Nina mengobrol lagi soal rencana dan tugas mereka. Keduanya memakai jaket, terlihat seperti mau berangkat piknik.


"Kalo gue terserah, Sanin. Mau lo yang spian-spion duluan, ya udah. Info gue dari kesaksian dewan. Ati-ati ntar, soalnya gue juga sama belum pernah ngalong di Latansa."


"Jadi gue sekalian mau nyari keparat ini. Ganteng tapi salah jalan, nanyain gue tapi pergi nyuekin."


"Ada belasan soloter. Gue gak yakin mereka kepecah. Pastinya barengan."


"Biar gue yang turun Kak. Kalo Kakak yang turun, geludnya dipastikan to the point. Mohon doa restu."


"Hai Beb, ke mana kita sekarang?"


Jihan datang dengan riang gembira, menaruh dua tangan sambil senyam-senyum. Marcel mengecup pipi Jihan, yang dikecup langsung lebay mengedip-ngedip dua mata.

__ADS_1


"Ke kantor Utari, studio lama. Kita masih di Substansi. Lo kalo udah siap, kita berangkat sekarang."


"Hhm.. jadi centil gini gue."


Ting! Ting! Ting..!


Jihan memainkan kelopak matanya lagi.


"Oke, Nin. Yuk?" tanya Marcel pada Nina, senyumnya tak kalah manis dengan milik Jihan.


"Dia kenapa Kak, gue ngarepnya ketiban Duren."


"Biasa.. Haha. Bisa aja."


"Siap ya?" kata Nina, diangguk oleh Marcel. "Gak usah mungut batu, langsung aja.. kat!!"


Zhhpp!


Pasir yang mereka pijak, hutan yang ada di situ, berikutnya laut, berganti jadi layar hijau di sebuah ruangan cukup lega, studio.


"Ehh, mana para kru-nya?"


"Met datang rumah Utari, Judes," kata Nina sambil pergi meninggalkan mereka.


"Haa? Di kantor Utari katanya, Beb?"


"Hu umz," jawab Marcel.


"Kok gak gelap ya?"


"Berarti.. kita di dalem inti Kencana?"


"Buat gue sih, di depan Reinit. Gak ada dewan yang bisa tinggal di inti Kencana. Apalagi kita. Latansa tuh gue pikir mungkin lautan samudera kali. Kolam Server, tinta buat nyetak naskah-naskah. Gak tau deh, apa namanya."


"Berarti kita nih di luar pengawasan Server dong?"


"Ya."


"Aku kursus kilat deh soal Latansa ini, Beb."


"Ya udah, yuk di ruang siaran."


Jihan dan Marcel berjalan melewati tripod robot yang terus melirik mereka hingga keluar dari studio. Peralatan yang ada di ruang ini anehnya luar biasa, lampu, gantar microphone, serba gerak tanpa pemegang. Sayangnya, dua aktris tidak tertarik dengan studio self-taking ini, sudah ada yang lebih canggih mungkin.


Di ruang kedua, lantainya masih sama luas dengan lega studio. Ada sofa tunggu beserta meja dan dispenser. Namun dibungkus plastik yang berdebu.


Jihan dan Marcel melangkah melewati ruang kunjungan.


"Ini kamarnya?" tanya Jihan di depan pintu, di gang kamar.


"Iya. Ntar kita beresin," kata Marcel sambil membuka pintu ruang penyiar. "Ruang depan sana dapur sama kamar mandi. Terus buka pintu lagi ada ruang meja-office sama tangga buat turun keluar."


Mungkin simpelnya lantai ini mirip hurup H, garis tengah tersebut adalah gang kamar dan ruang broadcast. Studio green dan waiting room, ada di bagian kiri. Tangga dan kantor ada di bagian kanan.

__ADS_1


"Napa di sini bersih? Kayak masih dipakai ruangannya, Beb? Bukannya nih stasiun radio? Kok mirip secret room-nya Pentagon ya?"


Di ruang penyiaran, Jihan terus bertanya-tanya. Sementara Marcel sudah duduk dan langsung menyalakan monitor besar di depannya.


Gliitt!


Tayangan menyala, menampilkan peta dunia. Tapi judulnya: LATANSA 2021.


Jihan mencari sesuatu, matanya langsung tertuju pada pojok dinding. Di situ memang tak ada perabot lagi selain kursi, intrumen broadcast, dan monitor. Jihan membuka garis yang ada di dinding, wajahnya cerah seketika sebab sesuai otaknya, ada kursi di dalamnya.


Jihan menarik keluar roller chair yang ditemukan. Marcel hanya memperhatikan kegiatan si Judes. Jihan posisikan kursi itu di sebelah Marcel kemudian duduk.


"Oke. Narasumber siap ditunangkan."


"Hhh-hhh!"


"Nina lagi di lapangan sekarang. Investigasi."


"Gue ngapain ntar, Beb?"


"Tunggu laporan aja. Kalo emang nemu soloter, kita culik dia."


"Kita mau nyulik?"


"Hu um. Aktivitas kita langsung kecatat di sini."


Marcel meraba punggungnya. Lalu dia melanjutkan briefing dan topik seputar Latansa, termasuk Utari.


".. dia pernah di sini. Makanya masih bersih. Cuma kalo Uut balik lagi ke mari, kayaknya kita bakal langsung kena sounder Asma yang senior, balik ke kapal."


"Kok bisa gitu?"


"Gak cuma lo yang punya paradok, dewan juga punya."


"Pasti berantem juga."


"Demikian. Alam Utari tuh gelap, dikondisikan tak terjamah manusia atau mahhal."


"Kita gak bisa ketemu si Uut dong Beb?"


"Gak bisa, dia sama Asma harus tetap yang terbaru, best-fresh. Harus jadi senior dari semua paradok mereka."


"Ribet juga ya jadi dewan."


"Caranya gak susah sih, mirip mekanisme estafet. Jadi kalo protokol gak diteruskan, pas dipegang sama Uut misalnya, maka Asma dari masa depan, atau bisa juga Enik future, bakal ke mari menggantikan Uut dengan manual broadcast. Reset pabrik di sini."


"Haa? Balik ke awal?"


"Iya. Gue gak bakal ngebiarin Black Soul berikutnya masuk plot."


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2