Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
Hari Minggu


__ADS_3

Fajar masih belum tampak, tapi Jihan sudah menggantungkan piyama lembab, jemuran terakhirnya, di pekarangan rumah. Beres itu dia menaruh ember dekat mesin cuci dan mencabut kabel. Sambil masuk rumah Jihan lanjut mengesek-gesek kepalanya dengan handuk.


Jihan naik ke loteng tapi di tengah tangga berhenti karena Mamah memanggil. Dia balik turun sambil menaruh handuk di pagar tangga. Jihan diminta bantuannya.


"Apa Mah?" tanya Jihan di kolong tangga, depan kamar mandi.


"Sini, bantu Mamah angkat gentong ke dapur. Bapak lupa kayaknya, gak isi sore."


"Selang kita belum dibalikin juga Mah?"


"Tau ah."


"Hhh.."


Dua perempuan segera mengangkut ember besar ke luar "gudang". Mereka membawanya perlahan karena khawatir tercecer. Untunglah dapur bersebelahan dengan kamar mandi, semenit kemudian gentong sampai di tujuan.


Jihan menjemur handuknya di balkon kamar. Dia memang tak pakai hairdryer tiap beres mandi, entah mungkin memang pilih kena angin. Jihan kembali masuk kamarnya.


Subuh ini Jihan main lagi ke Panti. Siapa lagi yang ditemuinya jika bukan Marcel. Tapi begitu tiba di tempat tujuan, si penghuni kamar lanjut tepar di pinggir kasur dalam balut mukena.


Jihan garuk telapak kaki Marcel yang bertengger di atas ranjang, gaya tidurnya memang agak preman dan lagak kuli. Marcel tak lama membuka matanya walau masih setengah sadar, dia juga malah bertanya. Jihan memintanya bangun, sekaligus sebagai jawaban pertanyaan Marcel.


Acara lari pagi, start-nya harus sembunyi-sembunyi gaya ninja. Hal ini di karenakan Panti terpisah dari basetime, jadi Jihan harus lewat wormhole lagi untuk balik waktu.


Di tepi keramaian pasar, tepatnya di belakang garasi truk sampah, Jihan dan Marcel jalan merunduk. Bak angkut di situ belum ada yang mengunjunginya lagi, belum ada orang berikutnya yang datang buang sampah.


Usai lirik kanan lirik kiri di lokasi tersebut, Marcel gandeng Jihan keluar dari perimeter wormhole.


"Gue rela dimasukin ke situ, Beb. Asalkan kamu yang buang," kata Jihan mengomentari bak sampah yang terus dipandanginya. "Auw..!"


Habis mencengkram lengan Jihan, Marcel masukkan dua tangannya ke saku sweater. Dia segera melangkah sambil mengamati orang-orang, tak peduli sedang membawa siapa ke tempat always on ini.


Jihan yang ditinggalkannya masih manja-manja ria atas lecet yang terbekas di tangan.


"Di mana kita ya?" tanya Jihan. "Gak ada hei kalo kios perbudakan tuh. Mending lo bawa aku ke tempat jagal."


"Bener gak ya?" tanya Marcel, santai dan kalem.


"Dih, serius. Di situ khan potong bebek angsa dikuali."


"Hhh-hhh! Rieut ah bicara jeung maneh mah."


"Ya udah kalo gak mau jawab. Ini tuh di pasar, Beb. Bener khan Mang?"


Jihan SKSD pada bapak yang sedang memindahkan keranjang dagangan, bahkan sambil tepuk pundak.


"Ehh, sayurna Neng? Bade? Soklah."


"Enya. Kin uwihna nya, Mang. Bade nganter heula rencang."


- Iya. Ntar pulangnya ya Mang. Mau anter teman dulu


"Wadul Mang. Sok pohoan si ieu mah."


- Bohong Mang. Suka lupa si ini mah

__ADS_1


"Aduh, alhamdulillah atuh diajak ngobrol ku nu gareulis geuning."


Jihan dan Marcel keburu jauh sebab antrian pejalan kaki sudah agak lancar di situ.


Di sebuah lapak, Marcel menciumi tangan si pemilik grosir, seorang wanita madya, tampak muda, usia 40-an. Jihan mengikutinya, menyalami sang ibu.


"Har ari maneh kadieu deui ning? Jeung saha ieu teh?" tanya si pemilik toko saat disalami Jihan.


"Temen Mah. Giziania."


"Ohh. Boga lakon oge, Sel?"


"Gak, dia lusid Mah," kata Marcel.


"Ooh. Sugan teh sarua kaum."


"Giziania. Fokus lapangan, Mamah. Fo.. kus lapangan," eja Marcel.


"Meuni herang kieu, Sel. Anak-anak sokem ieu teh?"


- amat bening begini, Sel


"Sos.. camp, Maaah. Sos-kemp."


"Hu-uh. Icing heula, ih. Kadie kadieu Neng. Pipilueun wae kolot, ah. Kadie Neng. Kadieu Giziania, dina iyuh."


Jihan senyam-senyum dibahas ibu-anak. Usai pindah ke tempat agak teduh, sebentar kemudian tanya-jawab berlangsung antara keduanya. Jihan mengangguk-angguk, karena ternyata sang ibu kenal tempat selain Panti walau garis besarnya saja yang semisal basetime, timeline, dan jins.


Marcel langsung rebahan di karpet rumah. Di pasar tadi dia hanya mengambil kunci serta membekal diri dengan jajanan. Ruangan tengah ini cukup lega Jihan dapati.


"Nih kak Irma ya, Beb?"


"Iya. Dia pernah akrab sama Hera, bukannya gue ade dia, tapi kayak ketemu musuh. Ngebawelin gue ritual. Ngutuk pokonya kalo gue meditasi."


"Karyawati juga ya?"


"Iya. Hanmarket-nya di deket sekolahan gue."


"Hera dan Irma deketan ya? Trus lo dimusuhin?"


"Katanya sayang, sih."


"Nah kejadian juga khan akhirnya, lo keluyuran dan jadi blueprint?"


"Iya, udah takdir kali."


Krauukh! Krauukh..


Marcel duduk bersandar sambil mengunyah camilannya. Seperti biasa, duduknya ala preman. Jihan lihat ke "situ" sebentar, kemudian melangkah lagi ke bingkai foto berikutnya, menatap bingkai yang terpasang memisah dan agak besar.


"Lo alumni smunti, Beb? Gak robah gini muka lo sih? Kayak foto kemaren."


Marcel menoleh. Krauukh! Krauk..!


"Lo awet gini. Aneh deh."

__ADS_1


"Bawa sini coba," kata Marcel menaruh makanan, bersih-bersih tangan lalu bersila saat meneguk minuman. "Bawa sini, Han."


"Bentar," kata Jihan sambil jungkit untuk mengambil bingkai-nya. "Ada gue gak ya, pasti di sebelah lo ini tubuh lama gue, Beb."


Marcel diam tak menimpali, duduk menatap punggung Jihan, menunggu dengan wajah sangat bingung. Pundaknya bergetaran. "Hhh-hhh! Sini gue bilang, pegel tau di situ mah. Bawa sini, Sayang."


Setelah duduk bersebelahan mengamati foto, Marcel menceritakan dua siswi yang mendampinginya di barisan itu. Salah seorang yang berada di kiri sudah menikah. Sementara siswi yang satu lagi, pendamping kanan adalah sahabat dekatnya yang juga astraler.


"Hah? Nih orang kita juga? Ada khan dia nih, di Panti? Apa udah.."


"Lusi nih tajir, punya lab di bawah gedongnya. Bantuin gue perang."


Jihan tak bicara, menatap Marcel dengan serius dan antusias. Tampak sedang bertanya-tanya, tapi bibir Marcel yang dipandanginya. "Terus?"


"Hhh.." hembus Marcel menatap pintu rumah, melamun dan menerawangkan ingatannya.


"Sel..?"


Saat Jihan tepis pipi Marcel, si petapa menoleh. Raut datar di situ masih melamun, Marcel belum mengeluarkan kata. Tampak ada gurat kenangan dalam matanya yang siap menjawab.


"Lusi khan, nama dia? Dia punya robot?"


"Oh iya," sambut Marcel, membuat Jihan menghembuskan nafas lega. " Iya, Han. Dia ngendarain alat Snail."


"Hhh.. Kamu suka keliat mau pergi jauh. Bimbang. Gak tau kalo gue keceplosan ngomong. Duh.. gimana dong?"


"Masa sih?" tanya Marcel, tak kalah serius.


"Iya, Sel. Maafin kalo aku aneh ya?"


"Hadeeh, Sayang. Gue emang ngalemin banyak kekerasan. Bukan nyalahin emak gue sih. Guenya aja ini mah. Lusi tuh.. eumm.. Lesbian. Kayak kita."


"Hhh.."


"Dia di sono (Panti)."


"Kiraen."


"Kamu mau ke dia?"


"Kamu.. Hhh-hhh! Apaan?"


"Iya kamu."


Jihan menggeser duduknya, tangannya segera melingkar di perut Marcel sambil meniduri bahu si teman. Dia so happy. Jihan senang sekali tampaknya Marcel mengganti sebutan.


Marcel bersemu merah, diamatinya bingkai teman sekolah, siswa-siswi satu kelas itu dengan kepala miring, meniduri kepala Jihan.


Entah tiba-tiba saja di situ hening. Yang ada gerakan-gerakan badan dan kepala mendiami posisi lebih nyaman. Keduanya sibuk menelusuri wajah-wajah dalam bingkai A3.


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2