
Hujan membuat tanah hutan basah, lokasi yang Jihan tuju cukup jauh dari villa. Dia sudah mengenakan sepatu damkar dan jas hujan. Di dekat sungai batu itu, Jihan membantu Marcel mengancingkan coat.
"Tinggal dasi nih Han, yang belum ada."
"Dasinya aku pake buat iket sendal Beb. Gantungan di panjat pinang itu."
"Ya udah, ntar gue beli tambang, sekalian kursinya."
"Asik. Tinggal ku pake kalo ntar kita cere, Beb."
"Putus asa tuh dosa, Han. Gue belanja tambang buat duduk bongkar seratnya."
"Kalo gitu belinya yang pendek, Beb. Biar kamu cepet beres."
"Gak, Hani. Biar gue mateng ngambil putusan pas mau beli tambang itu."
"Oh. Tambang emas maksudnya. Hhh-hhh!"
Jihan lalu mengambil ransel. Dia hendak menggendongnya lagi, Marcel menyetop.
Sementara itu, Nisa masih memasangkan tas ke punggung Nina. Dialah yang berhasil menyusul perjalanan sekaligus datang untuk membekali Nina yang lebih muda.
"Habis ini lo balik ke villa," kata Nina. "Taruh skinchar di tempat biasa biar aman."
"Kak Gizi khan ikut, aku juga mau dong kalo seru-seruan."
"Kita ngejar soloter di basetime orang. Tetep masih rawan."
Jihan dan Marcel nimbrung di situ, dan juga sudah beransel.
Usai menyuruh Nisa, Nina kemudian minta Jihan jalan duluan ke Utara untuk lanjut mencari mummy. Mereka belum menemukan objek "latihan".
Glu.. dugh..
Jihan sedang mengendap, lalu menemukan sepucuk bunga, sesuai dengan yang diberitakan Nina. Dia memeriksa pohon satu per satu. Agak jauh di depan sana objek lainnya didapati.
Jihan perlahan menyibak dedaunan di balik tanaman lebat beranting.
Glu.. dugh..!!
"Hhh.. dah berapa taun nih mayat nyander di situ?"
Jihan amati temuannya, mendapati jenazah kering yang pakaiannya sudah robek dan kusam, mengabaikan siraman air langit. Dia lalu menoleh ke belakang, ke tempat di mana Marcel dan Nina menunggu. Jihan kemudian mengangguk-angguk sambil berisyarat dengan tangan, jempolnya tertuju ke lokasi mayat.
Nina dan Marcel turut mengendap-endap, menghampiri Jihan, di mana ada bunga yang warnanya kuning cerah. Sesampainya di situ, Nina abaikan rare flower tersebut, dia ikut mengintip, menyibak ranting.
Marcel mengawasi belakang mereka, agak jauh posisinya dari bunga langka itu. Beberapa detik kemudian, dia lanjut bergerak dalam bungkuk badan melepaskan kesiagaannya.
__ADS_1
"Cuma Anakonda.."
Jihan memperhatikan Nina yang habis mengintip mencari-cari sesuatu. Didapatinya Nina kebingungan, dia lalu menyodorkan seekor keong pada si belia.
Jihan asongkan dengan wajar datar, Nina langsung heran menatapnya. Nina mengisyarat, menunjuk Bekicot tersebut lalu memperagakan ABRI mencabut granat serta melemparkan si benda. Jihan mengangguk sambil acungkan jempolnya.
Lungh..!!
Setelah menimpuk mayat dengan keong, Jihan jongkok tutup kupingnya.
Glu.. dugh..
"Perimeter ilang, Nin," kata Marcel yang terus mengamati lokasi objek, melihat pohon arah jam dua.
Nina tak menimpali. Dia masih berbahasa rungu pada Jihan, menggeleng-gelengkan kepala sambil membetot daun telinganya. Jihan menatapnya dengan beribu tanya sebab Nina menjulurkan lidah.
". . ??"
Langit memancarkan cahaya lagi di atas sana.
Glu.. dugh!
Hujan tampaknya tak berhenti mengguyur. Rimbun pepohonan yang mereka lewati turut menyiram, namun tak sederas tetesan yang sedang turun. Gelegar yang ada, terdengar seperti berkala tiap dua menit, bunyinya mengiring perjalanan Trio Cetar.
Set!
Nina membiarkan sebintik cahaya menembus kepalanya. Butiran tersebut adalah Nisa, dan sudah tahu Marcel akan memiringkan kepala memberinya jalan.
"Cuma Naga.."
Di tempat bertanah genangan, agak lega, mereka menengok kiri dan kanannya sambil berdiskusi. Di situ juga ditumbuhi sebatang bunga tak jelas, mirip Mawar merah yang sengaja ditancapkan.
"Gak ada toko granat di sini ya?" tanya Jihan, entah bicara pada siapa.
Nina menjelaskan materi kursusnya lagi. "Gue salah bawa siswi jadi gak nemu gini. Yang ada, perimeter by one."
"Tahan ego lo, wahai Patkai. Kita telat dateng gara-gara topeng. Jadi buka sekarang biar sampelnya nongol."
"Sini, anak-anak. Dah gue bilang di sana," kata Marcel, pergi melangkah ke arah timur, arah depannya.
"Hai Mata Horus, kamu pasti tau isi hatiku juga khan..?" tanya Jihan yang langsung bergerak mengikuti lawan bicara.
"Cuma bahaya.. Han."
"Buaya gimana ah. Jadi kalo gue cowok, namanya apa?" tanya Jihan lagi.
Jihan tak peduli jalannya didahului Nina yang lewat meledek. "Namanya penghuni empang."
__ADS_1
"Gak ada typo. Apalah arti sebuah tanya? Ba.. ha.. ya."
"Biar kita pinter, Bebeb. Tangannya."
"Hhh-hhh. Iya, tapi nanya yang bener coba," kata Marcel, dia berhenti jalan untuk protes pada lawan bicara.
Nina sudah memanggil keduanya, Jihan yang hendak bicara jadi batal menggoda karena Nina menemukan yang mereka cari.
"Nih masih utuh, cepetan mumpung kalian ngobrol," pinta Nina lagi, sedikit mengulang kata.
Marcel segera mengajak Jihan. "Ayo Sayang. Bahaya ngelamun di sini."
Saat Marcel pergi dengan rona pipinya, Jihan menghela nafas. "Hhh.. gagal, deh godainnya. Dasar Bonin Jones."
Nina jongkok sambil membuka tudung, tangan meraba leher jenazah lelaki yang ditemukan Marcel lewat sepatunya. Jihan dan Marcel turut jongkok di situ. Nina berdiri, melambaikan dua tangannya menghentikan syuting.
"Kat..! Kat!"
Zllaaph! Belasan orang berjas parasut hadir begitu saja di sekeliling TKP. Ada kameramen, tukang siram, tukang payung, dan Asma yang tampak terjengah dekat tukang microphone.
Jihan dan Marcel turut bingung dengan lokasi yang mendadak reda karena ternyata bukan lagi hujan, tapi sedang di kebun, tiba-tiba pindah.
"Aarh!" jerit Jihan mendapati sang mayat bangun.
"Kalian bertiga. Sini," kata Asma. "Figuran gak dibayar buat gantiin kerja gue."
Asma berjalan melewati kru selang air.
"Figuran??" bingung Jihan.
"Udah Judes, Kak, kita udah masuk. Ayo ikutin director wilayah," Nina turut pergi dari situ sambil mengajak Jihan dan Marcel yang masih takjub dengan studio film yang cukup lega. "Siap diproses, stop protes."
"Ayo, Han. Kali aja nih mau tanda tangan kontrak kayaknya."
"Boleh deh. Laper gini, surat kontrak pun jadi, langsung makan."
"Jadi rayap."
"Maunya jadi buaya aja, Beb. Tinggal di empang emas milikmu."
"Hhh-hhh! Tambang emas, Anak Balong."
"Uwuw.. Mau!"
Dekat sebuah minibus hitam, Asma berdiri sambil kacak pinggang menunggui Trio Cetar. Di situ sudah sepi dari kru film, hanya Asma seorang.
-
__ADS_1
-
-