Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
chapter up 033


__ADS_3

Krii.. iit!


Bro Car kembali menambah kecepatan, entah sensornya di mana, yang pasti perjalanannya terganggu, ingin segera minggat ditembaki terus.


"Hhh..! Hhh..! Sori, Bro. Idup gue penuh resiko. Sabar ya."


Tzing! Tzang! Tang..!


Krii.. iit!!


Jdukh!


"Anjrit! Good job, Bro. Bukan lewat sini. Gapura. Gapura yang ada di Subang sekarang. Hhh.. hhh!"


Mobil menaikkan kecepatan hingga Mercy terjeduk, menikung di persimpangan. Manuver tersebut membuat kendaraan lawan arah kaget dan mengerem, di situ juga para pengejar bablas lurus sebab telat dua menit.


Nguueng! Nguueng!!


Agak jauh dari tingkungan jalan, Bro Car menyalakan lampunya yang tinggal satu.


Brrmm..!


Mobil penyok itu membawa Mercy sembunyi. Sejak Mercy mengatakan kata auto-drive, kendaraan ini mendadak jadi smartcar alias mobil jadi-jadian. Bro Car mulai melaju santai masuk jalan.


"Iya, salah jalan tapi nih aman. Lo mayan pas mikir bahaya sama keselamatan," komen Mercy di kursinya sambil memperhatikan jalan.


Malam hari di aspal tersebut sepi kendaraan, hanya satu-dua unit yang lewat. Padahal dua arus, kiri dan kanan. Mercy dapati waktu sudah menunjukkan pukul 22:40 WIB, mulai larut.


Nguueng!!


Perjalanan malam kembali berlanjut. Sedan "mata-satu" melaju membelah udara malam yang dingin. Satu lampunya yang sudah tak ada, tidak jadi "rengekan" ataupun mendadak rewel dan mogok minta "dipijat". Mobil 'impian' tetap meluncur melewati hutan di kala kendaraan lain sudah tak berani keluyuran di larut malam.


Mercy sendiri sudah santai bersandar. Dia sudah melengkapi diri dengan airdrop, alat komunikasi. Bekal pun masih sekantong, tapi Mercy hanya pilih minum.


".. gini emang simul gue, Rey. Keras. Toh body anak Panti belum support Server, masih ngandelin alat Snail, kolam Homeless. Ya latian sama belajarnya di simul ini."


"Gak apa-apa Sel. Sejauh masih diri elo, jangan sampe simul yang bawa lo, nguasai lo. Gue baru tau juga nih simul bikin gue lupa kalo gue dah bikin berapa tanda. Gue ngikutin respawn lo, kebawa reboot."


"Gue lagi butuh skill kombat trus baru keliatan objeknya tadi siang."


"Lo gak ngebunuh anak geng sama berandal elit..? Jadi gitu permainan sama aturannya buat munculin target?"


"Iya. Gak boleh mulai duluan."


"Tuh Om Om (Skynet) juga ngejar gue, Sel. Gue bilang ke dia, kalo nganiaya orang tuh perbuatan gak baik. Dia gak dengerin."

__ADS_1


"Mana bisa. Bukan rumusan tim dev."


"Pokoknya gue lupa, lo dibunuh di mana sama dia. Ada berapa hit yang dibuatnya pada memori gue."


"Ntar juga balik kok ke elo, Rey. Lo bakal inget lagi. Jujur, lo yang nerangin level astraler kemaren. Pokoknya ada sepuluh tingkat sampe sekarang."


"Astaghfirullah.. Itu bukan gue. Sebangun tidur, gue gak ke mana-mana, Sel.. masih di sofa ini."


"Elo Rey. Ya udah. Nih wajar ada di simul kalo multiplayer. Ntar gue kontek lagi, gue jelasin lagi. Tanya aja."


"Iya. Makasih ya Sel."


Nguueeng!


Purnama di atas sana menyaksikan sedan lapis baja untuk kedua kalinya, melihat bagaimana lampunya hilang saat Mercy kemudikan, Bro Car melaju mulus di pertokoan kota sepi.


Subang jaman kapan ini? Kota kecil yang matikah sampai-sampai bernuansa apocalypse begitu, tidak ada aktivitas sama sekali.


Brrummgh..!


Bro Car sudah berhenti, menderukan mesinnya, tapi Mercy masih di dalam melihat-lihat.


"Tadi kita lewat makam beton, apa nih.. Di sini juga gak ada orang, Bro. Kosong banget Subang-nya."


Mercy dibawa ke sebuah tempat yang ada gapura SELAMAT JALAN. Sejak di tengah kota hingga ke tempat tujuan mereka ini, belum ada manusia yang nampak sepotong hidung pun. Tak ada jejak perang ataupun tanda lain yang semisal spanduk demo minta truk dan bis angkutan.


Bregh!


"Jadi last girl on the Earth gini gue," komen Mercy lagi sambil memeriksa sekitarnya, masih diterangi lampu sedan di mana Bro Car parkir di tengah jalan, dan tempat yang disoroti cukup lapang.


Mercy jongkok saat menemukan tanda transmisi di beton pondasi.


"Hhh.. Ada kabar apa lagi sekarang," kata Mercy sambil menaruh artefak pada lingkaran di situ.


Gliitt!


"Sel, gue kepaksa harus jaminin diri buat bawa Heart ke home lo, biar dia liat sendiri kondisi lo. Gue keliat ngeruhin keadaaan kalo ntar Heart berulah lagi di nomand. Heart belum dibolehin keluar Cirlet. Gue arep Heart gak ngianatin, kalo dia kabur, nih pesan terakhir dari gue Sel. Kena jebak. Pasrah.


Gue bolos income tiga hari ini, boarding SosCamp terus padat begitu, nambah gabut. Server belum boleh dikunjungi sekarang. Gue juga masih terus nungguin hasil penyisiran, Luna belum ada kabarnya. Gue butuh lo, Sel. Senggaknya ada temen di perbatasan sana, jagain celah barengan.


If your name is Mercy,


Tanda berikutnya: 1001-000-1111-000-01"


Gliitt!

__ADS_1


"Hhh.. Pohon. Tuh tempat mayan jauh, arah balik ke Ragnarok City."


Bregh!


"Oke. Yuk.. ke Cidekat," kata Mercy usai duduk menutup pintu.


Brrmm! Brummg..!!


Krii.. iiit!


Mobil bergerak dengan decit ban berasap.


Kraatt.. ttekh!


Bunyi besi terdengar, Mercy melihat-lihat sekeliling jalan, namun tak ada yang aneh dan masih lengang. Dia biarkan sedannya melaju dengan terburu layaknya kendaraan Fast Furious di garis start.


Suara misterius kembali terdengar, sumbernya dekat. Saat melirik ke belakang, mata Mercy membulat.


BRUUGH!


"Aarh!"


Tanpa angin, tanpa hujan gapura besar tadi roboh menimpa jalan, dua meter di belakang Mercy.


"Njir.. aneh banget nih tempat," komen Mercy melihat palang gapura ambruk dan patah tanpa sebab hingga menutupi jalanan.


Nguueng!


Malam makin larut namun, Bro Car bagai mesin yang tangki bakarnya lama di garis surut. Dia melaju dengan kecepatan 90 km/jam di jalanan mulus. Jalur sepi dalam perkebunan teh ini membuat sang mobil bak lokomotif tanpa gerbongnya, tak ada halangan dan gangguan dalam perjalanannya, tampak dimanjakan.


Mercy duduk mengemil wafer sambil menatap layar apung. Peta di situ adalah monitor tracker GPS. Dia tonton dengan bibir dan lidah random alias mengunyah tanpa gigi. Mercy menghibur diri ala kadarnya bukan sedang gabut.


Si gadis hanya bisa menunggu. Twen belum menampakkan tanda-tandanya. Skynet pun mungkin masih melacak perginya Mercy di gapura tadi, hendak ke mana buruannya malam ini.


Pemandangan luar jendela mobil Mercy hiraukan. Padahal jika dia melihat, ada banyak dentuman bom di sana. Karena jauhnya jarak lokasi dengan jalanan, getaran ledak tak terasa.


Kresh! Kresh..


Mercy gigit wafer coklatnya dengan bibir, kemudian mengunyah dengan lidah agak terjulur. Dia jadikan layar di depannya kaca, bercermin sambil memainkan lidah. Sekali lagi bukan gak wajar ataupun kerena kesepian, Mercy manyun-manyun begitu demi menghabiskan waktunya yang di jalanan sunyi.


-


-


-

__ADS_1


Nb:


Ummh!😚pokoknya to bibir km DRE


__ADS_2