
Zlpph! Zlpph..!
Zlpph!
Asma menyamarkan penampakan tiga tas yang telah tertanam di tulang belakang pemakainya, menjadi tidak terlihat.
"Hii.. Kok diapus lagi sih Mbak?" tanya Jihan. "Udah bagus dipasang, biar kami keliat segeng, kayak regu ekspedisi."
"Bawel. Sengaja gue lock, biar gak ada yang nyopot. Dia yang mau nyopot wajib ketemu gue dulu, Han Han."
"Dua demonstran ketemu, pasti cekcok kayak gini, Kak," komen Nina, bicara pelan pada Marcel.
"Gak ada komen," kata Marcel.
Jihan memergoki Nina berbisik membicarakannya. Dia segera menyikut anak SMA itu.
Dukh!
"Diem, kalo mau gosip gue, ngumpet sana."
"Nah, gue mau lanjut nganalis sama nyisir riwayat temen kalian nih. Moga bisa ketahuan dengan nerjunin kalian bertiga ke sana. Met tugas," kata Asma, lalu menepuk bahu Marcel.
Asma memisah diri, dia langsung memanggil kru, melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda.
"Oke semua, kita lanjut. Tim hujan, tim dekor, periksa perlatan. Kita akan mulai take lima menit kemudian."
Orang-orang kembali bekerja, mengikuti intruksi Asma. Termasuk kameramen di situ, walau tak disuruh, dia inisiatif mempersiapkan alat dan membetulkan plastik pelindung.
Trio Cetar kembali ke seting semula, berlatarkan hutan yang tak begitu lebat. Anggap saja mereka tak diterima di studio, melainkan harus fokus di plot yang mereka jalani.
Latansa mungkin sebuah pulau, atau bisa juga merupakan basetime pertama, sebuah ruang-waktu di mana lusid generasi A berasal, atau "kampung" halaman empat dewan.
".. tentu aja banyak yang belum tau ranah Substansi. Soalnya nih takdir langsung dari diri kita sendiri, bukan lewat Indri. Yang belum gue tau, kenapa harus pake nama Latansa," pikir Marcel, di tengah bercerita tentang tempat tujuan.
"Buat apa musingin ngaran, Beb?"
"Gue mau bikin buku harian, ngeliat dari mata dari gue sendiri."
"Kalo gue namanya rapot, Beb. Si Sorrow yang bikinnya, dia juga dah jadi stunman (SPG) di Hamam. Aukh.. njir..!"
Jihan ke-anjlok kakinya, sebab menginjak batu.
"Perhatiin jalan, jangan liatin pacar," ingat Nina.
"Diem, bocah Asma."
Setelah keseleo, berhenti sebentar memeriksa kaki Jihan, Trio Cetar meneruskan perjalanannya. Jihan tak apa-apa katanya, dan masih sanggup menembus belantara di bawah siraman hujan. Ketiganya lanjut menapaki tanah hutan yang banyak batu alias sungai kecil mirip selokan, menuju pantai.
__ADS_1
Marcel diam sepanjang jalan, dia tak lagi menceritakan seluk-beluk Lantasa karena Jihan akan terus memperhatikannya ketimbang melihat jalan. Marcel biarkan Jihan memegangi tangannya.
Glu.. dugh..
Sampai di tepi hutan, hujan masih mengguyur Bumi. Tapi mereka tak terlihat lelah, dalam balutan jas hujan tersebut ketiganya berlari menuju dermaga. Ada kapal tengah menunggu mereka di pantai ini, tapi ketiganya harus terus bergerak karena The Boat itu cukup jauh letak parkirnya.
"Kita bukan mau nyeberangnya laut?"
"Bukan, nih angkutan portal. Ntar pulau ini lagi yang kita tuju, Han."
"Berarti pintunya ada di tengah laut gitu ya?"
"Iya. Gue dapet datanya dari arsip dewan."
"Gue gak nyangka bisa ikut tugas penting ini, jadi utusan dewan."
"Lo berdua manusia beton, Luna gak salah pilih kayaknya."
"Kalo gitu gue utusan jins ya?"
"Iya," jawab Marcel tanpa pikir panjang.
Kapal hitam di dermaga tersebut sama hitamnya dengan minibus milik Nina, mengkilat. Entah milik siapa, sebab Nina tidak langsung naik melainkan kacak pinggang takjub.
"He, kok malah diem di sini Bonin?" tanya Jihan yang baru sampai. "Napa sih emang kapalnya?"
"Gue bingung."
"Satu kata? Maksudnya gimana sih, Bonin?"
"Mana gue tau. Tanya dewan lo aja deh, Judes," kata Nina, lalu pergi mengikuti Marcel.
"Berarti mbak Een tuh gudangnya mantera, ya?"
Tak ada jawaban, Nina sudah naik tangga di sisi kapal. Jihan buru-buru menyusul begitu kupingnya menangkap suara petir yang cetar dadakan.
Glu.. dugh..
"Anggap deh iya."
Di dalam kapal, ruang penumpang, Marcel melepas jubahnya. Dia biarkan Nina masuk ke ruang lainnya. Lalu saat menaruh jas di dekat lawang, dia mendapati Jihan berjalan ke arah buritan.
"He mau ke mana?"
"Bunuh diri, Beb. Biar kayak Rose di Titanic."
"Masih banyak geledek Hani."
__ADS_1
Glu.. dugh!!
"Aarh!!"
"Hhhh.. dibilangin."
Jihan urung ke tempat tujuan, berhenti di tengah jalan. Dia pun mengiyakan larangan Marcel.
Jihan segera berlari masuk ke ruangan kapal yang ada sofanya itu.
Nina datang dari dari dalam.
"Gak ada orang di kabin sana. Kayaknya auto-drive, Kak. Nah, dah jalan nih."
"Ya.. Satu hari perjalanan. Sante aja sekarang mah, Sanin. Hoaam.. mm."
Nina membuka jas hujannya kemudian, lalu matanya tertuju pada Jihan.
Syuut! Jedukh..!
"Aakh!"
Jihan yang sedang lari, jatuh terpeleset di lawang masuk, kepalanya membentur lantai.
"Hani!" seru Marcel.
"Ahah..!" Nina ngakak melihat kejadian itu. "Ahhahha! Waras, lo Judes. Hahah! Gue dosa ketawa gini, nj*ng. Hahahh! Sokor!"
"Adu..uh. Hiks. Bukannya dibantuin. Pala aku sakit banget."
"Udah, udah.. Ayo bangun."
"Hikks. Huhu.. Bonin jahat banget sih lo, pake ketawa segala," umpat Jihan dengan pipi super merah, malu sekali.
Marcel membantu Jihan berdiri, pakaiannya jadi sedikit basah kehujanan.
"Udah takdir lo bakal gitu, Judes. Dasar centil."
Kapal seukuran kontener tersebut sudah meluncur ke tengah laut, membawa penumpangnya. Hujan tetap menyiram bersama angin yang agak kencang. The Boat tampaknya anti-badai, nekat aktif di kala hujan.
Malam hari, laju kapal sudah melambat, namun terus bergerak ke arah tujuannya. Dua penumpangnya sudah tidur di sofa juga di kasur, satu lagi masih terjaga, dia duduk di lantai menyandari sofa.
Srekh..!
Jihan membaca majalah, berjaga atau begadang, isi dari bacaan tersebut menarik perhatiannya.
-
__ADS_1
-
-